Selasa, 26 Juli 2011

Wanita Tua Tinggal Satu Atap dengan Itik

TEMPO Interaktif, Pamekasan - Mistani, warga Desa Murtajin, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan, terpaksa harus tinggal satu atap dengan itik.Selama bertahun-tahun, wanita 90 tahun ini harus berbagai ruangan dengan sepuluh ekor itik miliknya. "Itik-itik ini tidur di bawah ranjang saya," kata Mistani, Rabu, 20 Juli 2011.

Semua bermula dari keinginan Mistani ingin hidup mandiri. Dia yang tinggal sebatang kara, sejak suaminya wafat dan anaknya pergi meninggalkannya, tidak ingin tergantung terus dengan tetangga-tetangganya.

Namun, tubuhnya yang renta tak memungkinkan dia bekerja. Ide pun datang, yaitu memelihara itik. Bagi Mistani, memelihara itik bisa menghasilkan uang tanpa memerlukan banyak tenaga. "Saya jual telur itik, lumayan uang buat kebutuhan sehari-hari," ujarnya.

Karena tak punya kandang, Mistani tak punya pilihan lain. Dia harus berbagai ruang dengan itiknya di sebuah gubuk reot berukuran 3x4 meter.

Di gubuk yang dibangun dari bantuan warga itu, Mistani menghabiskan waktunya bersama itik-itik kesayangannya. Ranjang, tempat baju, dapur, hingga kegiatan buang air menyatu dalam gubuk yang terbuat dari bambu tersebut.

Mistani tak hanya berbagi tempat dengan peliharaannya itu. Bila pakan itik habis, dia bahkan rela memberikan nasi jatahnya untuk itik-itik itu. "Kalau itik lapar, tidak bertelur, saya jadi tidak punya uang. Jadi yang penting itik kenyang, saya lapar tidak apa-apa," ujarnya.

Bila melihat kehidupan di sekitarnya, Mistani mengaku ingin punya rumah yang layak huni. Namun, kini ia tetap bersyukur dengan apa yang didapatnya. "Tapi hanya gubuk adanya, tidak apa-apa," katanya.

Mistani juga beruntung karena dia bertetangga dengan orang-orang yang baik dan peduli. Wati, 55 tahun, misalnya selalu mencucikan baju Mistani. "Saya membayangkan dirinya. Kalau sudah tua, anak-anak tidak peduli, saya takut. Makanya saya iba sama Bu Surya (Mistani)," ujarnya.

MUSTHOFA BISRI

0 komentar: