Sabtu, 25 Juni 2011

"Saya Ingin Ibu Dibebaskan..."

Sudah tak kenal ayah sedari lahir, Ali Ridho pun terancam kehilangan ibu, yang tak dilihatnya selama 12 tahun. Remaja 16 tahun itu gelisah menahan kerinduan yang tersumbat. "Saya ingin ibu saya dibebaskan, supaya bisa kumpul lagi sama keluarga," kata Ali di rumahnya di Desa Mertajesah, Kecamatan Kota, Kabupaten Bangkalan, Madura, kemarin. Harapan Ali mungkin terlalu melambung. Soalnya Siti Zaenab, sang ibu, justru menghadapi hukuman mati di Arab Saudi lantaran membunuh majikannya. Mestinya Zaenab dipancung pada 1999. Eksekusinya tertunda karena anak majikannya belum akil balig, jadi belum bisa dimintakan pengampunan.
"Kalau anaknya tidak memberi maaf, bisa habislah dia," kata Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi, Gatot Abdullah Mansur, di Dewan Perwakilan Rakyat pada Kamis lalu.
Ali dan keluarganya tak ingin Zaenab senasib dengan Ruyati, tenaga kerja yang dieksekusi pada Sabtu pekan lalu. "Kami berharap pemerintah segera memberikan bantuan hukum," kata Mohammad Hasan, sepupu Zaenab.
Kegelisahan juga menyeruak di antara anggota keluarga Hasyim dan Sabatun, dua terpidana kasus pencurian emas di Arab Saudi. Kedua orang asal Madura itu sedang menanti eksekusi potong tangan.
Demi pembebasan dari hukuman itu, keluarga siap menggalang dana tebusan sebesar Rp 250 juta. Tapi mereka meminta pemerintah bergerak cepat menghubungi mahkamah karena diduga Hasyim dan Sabatun akan segera dieksekusi. "Mereka sudah memindahkannya ke penjara gelap," kata Ajum, adik ipar Hasyim, gelisah.
Setelah kasus Ruyati, kegelisahan keluarga tenaga kerja Indonesia memang memuncak. Bukan hanya keluarga mereka yang menanti hukuman, tapi juga keluarga tenaga kerja yang nasibnya terkatung-katung di negeri orang.
Salah satunya adalah Bejo, lelaki 32 tahun asal Madiun, Jawa Timur. Sudah tiga setengah tahun dia berjuang memulangkan istrinya, Susianti, 26 tahun, dari Arab Saudi.
Empat ekor sapi sudah dilego dan jutaan rupiah dikeluarkan untuk membiayai perjalanan bolak-balik Jakarta-Madiun untuk menemui perusahaan pengerah tenaga kerja serta Badan Nasional Perlindungan dan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia. Hasilnya nihil.
Bejo khawatir istrinya gelap mata dan terlibat kasus seperti Ruyati, lantaran gajinya belum pernah dibayarkan sejak berangkat ke Arab Saudi pada Desember 2007. "Yang penting cepat pulang dan saya sarankan tidak usah kembali jadi TKI di Arab," katanya, gelisah. MUSTHOFA BISRI | FRANSISCO ROSARIANS | ALWAN RIDHA RAMDANI | ISHOMUDDIN | DEDDY S

0 komentar: