Selasa, 24 Mei 2011

Ternak Ayam Bangkok

Lima bulan belakangan, orang-orang di kampung saya, di Desa Jeddih, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan, "gila" ayam bangkok atau ayam laga. Hampir semua orang memelihara ayam tarung yang konon berasal dari negeri gajah putih Thailand. Hampir tiap hari juga ada orang ngabar ayam. Apa yang membuat orang begitu gemar ayam bangkok? Tergelitik oleh rasa ingin tahu, saya akhirnya minta bantuan teman membeli ayam bangkok. Saya dibawa ke sebuah peternakan. Alamak harganya mahal sekali, perekor berkisar antara Rp 500 sampai 1,5 juta. Saya batalkan membeli, harganya bagi saya terlalu mahal untuk penggemar baru ayam bangkok.
Beberapa hari kemudian, saya mengantar istri saya ke pasar. Saat menunggu istri diparkiran, ada seorang tua menawarkan ayamnya kepada saya. Dia minta tiga ekor ayam seharga 250 ribu. Saya menggeleng. pak tua itu pergi dan menawarkan ke yang lain. Mungkin karena tidak laku, dia kembali ke saya, melihat keringat bercucuran saya jadi iba. Saya tawar tiga ekor 150 ribu, dia pun mengangguk.

Sebelum pergi pak tua itu bilang ke saya, ayam ini ayam bangkok. Hasil silangan antara jantan bangkok dan betina pilipin. Katanya ayamnya bagus, hanya kurang dirawat, dari menetas sampai umur tujuh bulan diumbar begitu saja dan cari makan sendiri. Hanya karena dia bukan peternak, ayamnya sulit laku dan dianggap jelek karena bukan diternak dengan perawatan khusus.

Sampai di rumah, beberapa kawan datang melihat ayam yang saya beli. Hampir semua menilai ayam saya jelek, postur kecil, jengger lepek dan tidak gambar. Saya tak peduli, saya tetap pelihara. Karena tak punya kandang, ayam saya tidur di pohon rambutan.

Suatu hari ada kawan hendak ngabar ayam, saya kecewa, abaran pertama ayam saya lari setelah beberapa saat bertarung. Anehnya, meski lari, saya ayam lawan ditangkap, ayam saya kembali mengejar dan ingin bertarung lagi. Sepekan kemudian ada tukang sabung senior baru beli ayam, dia ingin tahu daya tarung ayamnya dan dibawah ke rumah untuk abar dengan ayam saya. Kejadian serupa terulang, ayam saya lari lagi tanpa bunyi keok. Setelah ayam lawan diangkat, dia kembali lagi seolah mau bertarung.

Menurut penyabung senior ini, gaya tarung lari ayam saya istimewa. Sepanjang dia menekuni sabung sayam, gaya tarung lari sangat jarang ditemui.Pukulannya bersih. Dia pesan, kalau hendak dijual dia berminat membeli ayam saya. Ternyata tiga ekor ayam saya, semuanya gaya tarungnya lari lalu memukul dan lari lagi.

Ucapan penyabung senior ini menyemangati saya. Saya lantas bikin kandang, saya mulai merawat ayam saya, memberi makan yang baik, memandikan dan menjemurnya. Sebulan dirawat dengan baik, membuahkan hasil. saya abar ayam saya dengan punya teman, tak sampai 10 menit ayam teman saya roboh dipukul dari belakang. Harga ayam saya naik fantastis karena ayam dikalahkan itu sudah menang delapan kali. Ayam saya ini saya lepas Rp 500 ribu.

Keuntungan ini membuat saya terpacu untuk belajar ilmu merawat ayam bangkok, saya datangi puluhan peternakan di empat kabupaten di pulau madura. Saya belajar ilmu beternak ayam bangkok, target saya bukan menang diarena tapi saya ingin menciptakan ayam-ayam jawara. Sebagai indukan, saya beli ayam indukan milik pak tua yang pertama kali menawarkan ayamnya pada saya.

Ini beberapa ilmu merawat ayam bangkok yang saya dapat, semoga bisa bermamfaat.

1. Ketika anak ayam menetas jangan langsung dipisah dari induknya. Biarkan anak ayam beraktifitas di tempat pengeraman, tujuannya agar kaki ayam tetap bagus, lurus dan mekar dan tidak bengkok saat dewasa.

2. Untuk pakan anak ayam, bisa langsung diberi pakan pabrikan vur 511 dan air yang cukup. Cukup dua kali sehari, pagi sekitar jam 6 dan sore hari jam 4. Vur 511 ini diberikan harus menggunakan takaran, tidak boleh terlalu banyak, jangan terlalu sedikit.

Vur 511 ini diberikan secara rutin sampai usia ayam tiga bulan. Baru beralih ke vur 591 dan dicampur beras jagung, ini diberikan selama satu setengah bulan. Setelah itu, beralih langsung ke vur 593 dan diberikan selama satu setengah bulan. Saat proses pemberian pakan vur berakhir, usia ayam sudah enam bulan. Setelah itu, bisa diberi pakan biasa, seperti bu'u atau dedak halus yang dicampur dengan nasi basi, bisa juga langsung diberi jagung.

Saat usia ayam enam bulan, ayam usahakan selalu diumbar. Sebab ayam yang baru lepas pakan vur, daging tubuhnya belum pangset atau belum kenyal. Umbaran akan melatih otot ayam. Menurut saya, anak ayam tidak perlu diberi susu bubuk karena kandungan vitamin pada pakan vur sudah komplit. Pabrikan juga lebih tahu apa yang dibutuhkan ayam.

3. saya juga mencoba komposisi lain cara memberi pakan vur pada anak ayam supaya ayam bisa memiliki postir ideal dan berhasil. Caranya yaitu anak ayam yang baru netas diberi vur511 sampai berusia lima bulan. Setelah itu diberi vur593 selama sebulan lalu bulan berikutnya diberi vur594. Dengan cara ini, ayam wiring kuning saya memiliki postur ukuran 9.

4. Untuk mulai merawat ayam bangkok agar bisa diabar. Lihat kokok ayamnya. Jika kokoknya sudah sempurna dan bulunya sudah sempurna tidak ada bulu muda, ayam bisa mulai dirawat. Seperti dimandikan, dijemur, dilatih dan diberi jamu atau vitamin.

Saya masih pemula, semoga sharing ini mamfaat.... Salam

4 komentar:

okelah mengatakan...

bisa di kasih tutorialnya g?

Anonim mengatakan...

bs pesen aymnya ndak?
saya jg gek mulai tertarik nih...thanks

MUSTHOFA BISRI mengatakan...

bagi yang minat ayam ternakan saya,,, bisa lihat dulu koleksi ayam saya di www.ayambangkokmadura.com... saat ini saya punya enam lancuran,,, usai lebaran sudah bisa diabar, usia 7 bulanan... harga murah tidak perlu jutaan,,, rata-rata Rp 300 ribu... sy tidak jual anakan....

Syam Kill mengatakan...

Senang baca pengalaman anda