Sabtu, 12 Maret lalu, saya ke Petung Sewu. Letaknya di lereng gunung kawi, Kecamatan Dau, Sekitar setengah jam dari terminal Arjosari, Malang. Guna menghadiri undangan pelatihan wartawan lingkungan yang digelar SIEJ dan ProFauna Indonesia.
Saya naik sepeda motor dari Bangkalan, Madura. Sampai di terminal Bungurasih, menitipkan sepeda di tempat penitipan sepeda 24 jam. Biayanya Rp 200 perjam. Lalu melanjutkan perjalan dengan bis patas menuju terminal Arjosari Malang, sekitar dua jam perjalanan.
Naik bis patas (AC) lebih baik dibanding naik bis biasa (tanpa AC). Selain harganya murah, bungurasi-arjosari cuma Rp 15 ribu, bus patas tidak pakai ngetem. Berbeda dengan bis biasa yang sering ngetem menunggu penumpang. Membuat perjalanan lebih lama.
Sampai di Terminal Arjosari, saya naik ojek menuju Terminal Landungsari, disana ada sopir yang menjemput. Disini harus tawar menawar ongkos ojek, biasanya pengojek minta Rp 25 ribu, saya tawar Rp 15 ribu. Sebenarnya ada angkutan kota ke Landungsari, namun karena baru berangkat setelah penumpang penuh, sementara saya terburu-buru, saya pilih naik ojek.
Jarak landungsari ke petung sewu 30 menit, melewati jalan sempit padat perumahan. Jalan berkelok. Tapi pemandangan indah sekali, sawah terhampar mengikuti lekuk bebukitan, petani panen kubis, masyarakatnya ramah.
Di puncak bukit, di petung sewu, ada pintu gerbang bertulis Petungsewu Wildlife Education Centre (P-Wec). Ini adalah "anak perusahaan" organisasi ProFauna Indonesia yang berpusat di Malang. P-wec adalah kawasan konservasi binatang liar yang hampir punah. Disini hewan langka seperti Lutung Jawa sitaan dari pemburu, dirawat dan kembang biakkan sebelum dilepas ke habibat aslinya.
Asep Rahmat dari ProFauna mengatakan P-Wec berbeda dengan kebun binatang. Dalam istilah ilmiah, lokasi konservasi binatang liar disebut In Situ, sedang kebun binatang disebut ex situ.
Lokasi P-Wec sangat unik, bangunan dibentuk mengikuti bentuk bebukitan. Isinya, ada kandang lutung jawa, asrama, kantin, tempat kemah dan outbond. Pelatihan ini diikuti 18 wartawan mulai dari cetak, online, TV dan radio. Mulai Dari Madura sampai Jember. Kami diberi materi tentang satwa liar oleh Asep Rahmat dari ProFauna dan bagaimana menulis masalah lingkungan oleh IGG Maha Adi, mantan Wartawan Tempo dan Editor di Majalah National Geographic.
Ada catatan penting dari pelatihan ini. IGG Maha Adi bilang, media di indonesia masih belum pro lingkungan. Indikasinya jarang sekali, ada halaman khusus soal berita lingkungan, singkatnya isu lingkungan bukan berita menarik.
Sejumlah wartawan juga mengeluh, tulisan mereka soal lingkungan sulit dimuat. Solusinya, IGG Maha Adi berjanji akan membolehkan anggota SIEJ untuk menulis di situs SIEJ.
Hari minggu, hari terakhir pelatihan, diisi dengan melihat langsung lutung jawa. Saya beruntung karena enam hari lalu, seekor bayi lutung jawa lahir, diberi mendi. Warganya orange, setelah enam bulan akan berubah hitam sepeti induknya.
Setelah puas melihat lutung, kami ngopi dikantin lalu outbond. Dan foto-foto berbagai pose di berbagai lokasi sebagai kenang-kenangan. Satu yang kurang saya suka dari Petung Sewu. Udaranya dingin sekali. Air kamar mandi seperti es. MUSTHOFA BISRI
Selasa, 15 Maret 2011
Petung Sewu
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
2 komentar:
hai... salam kenal tampilan blog yang sederhana , apik dan rapi... namun sarat ilmu dan kaya informasi... maukah anda berbagi... gimana ya cara membuat read more karena saya sudah mencoba di blog saya kog g bisa yah...
waalaikum salam... Terima kasih dh mo membuka blog saya dan maaf sy baru membls komenx krn sy sdh lm tdk mantau blog ini. Soal readmore sy agak sukar menjelaskannya krn sy kurang memahaminya. Tp sy berhasil buat readmore di blog sy setelah saya mengikuti beberapa cara yg dijelaskan di dalam alamat blog ini "kolom-tutorial.blogspot.com" biar mudah mencarinya klik google tulis trik mudah membuat readmore di blog. Lalu ikuti caranya, harus teliti.... Selamat mencoba.......
Poskan Komentar