Selasa, 23 Februari 2010

Desa "Seribu" Usaha

Angen kering bulan Februari berhembus di Dusun Lembung, Desa Jaddih, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, Selasa pekan lalu. Kepulan asap hitam pekat dengan bau menyengat menyembul dari Tomang tempat pembakaran batu kapur milik Jauhari, mencemari udara.

Sapu tangan penutup hidup tak kuasa membendung bau asap. Tapi bagi warga Desa Jaddih bau asap menyengat tak ubahnya bumbu penyedap dalam hidup keseharian. "Kalau asap tomang tidak ngebul, dapur juga tidak ngebul," kata Jauhari, 60 tahun.

Tempat pembakaran batu kapur atau Tomang dalam bahasa Madura mudah dijumpai di Desa Jaddih. Hampir setiap rumah memiliki tomang. Bentuknya bulat. Tinggi rata-rata tiga sampai empat meter. Biaya pembuatan satu tomang berkisar antara Rp 3 sampai 7 juta tergantung besar yang diinginkan.

Usaha pembakaran batu kapur ini, kata Jauhari merupakan warisan turun temurun dan menjadi penopang utama ekonomi mayoritas warga Jaddih. Bahan baku diperoleh dari pengepul di Dusun Jekan, disana ada gunung kapur yang sudah sisa separuh karena hampir setiap hari dikeruk. Puluhan truk dan pickup hampir tiap hari lalu lalang mengangkut batu kapur.

Bisnis kapur, bisnis mahal. Modal sekali pembakaran bisa mencapai Rp 5 juta rupiah. Harga satu pickup batu kapur Rp 500 ribu. Jauhari mengatakan yang paling mahal dan sulit didapat adalah kayu bakar. Biasanya kayu yang digunakan adalah kayu sisa-sisa proyek pembangunan, Satu truk harganya Rp 2 juta rupiah tergantung jenis kayu. biasanya kayu mudah di daerah Surabaya.

"Untungnya lumayan, jika sedang laris bisa capai Rp 3 juta sekali bakar," katanya.

Sepuluh meter dari rumah Jauhari. sepasang suami istri, Rasimin dan Homyati tampak sibuk menghaluskan roji atau potongan bambu kecil diteras rumah. Berbagai jenis senjata tajam berserakan, sampah bambu memenuhi halaman. Kesibukan serupa juga terlihat pada beberapa tetangga Rasimin.

"Bambu ini untuk buat sangkar burung," katanya.

Selain membakar batu kapur, Mayoritas warga Jaddih dikenal sebagai pengrajin sangkar burung yang handal. Dalam sepekan mereka menghasilkan 30 buah sangkar burung. Harganya perbuah Rp 15 ribu untuk kwalitas biasa dan Rp 350 ribu untuk kwalitas super. Kurung biasanya dipasok ke daerah Malang, Bali dan Jogjakarta.

Rasimin mengaku saat ini pasar kurung sedang sepi. para pedagang besar di Jawa mengurangi pesanan sejak merebak penyakit flu burung empat tahun lalu. Ia memperlihatkan tumpukan kurung sipa jual yang memenuhi seluruh ruangan di rumahnya. "Sudah sebulan tidak pasok karena tidak ada pesanan," katanya.

Tapi yang paling identik dengan Desa Jaddih adalah salak. Jika anda berkunjung ke Madura dan lewat penyebrangan ferry Kamal Bangkalan, salah satu jajanan yang ditawarkan pedagang kaki lima adalah salak. Salak tersebut berasal dari Jaddih dikenal dengan "Salak Bangkalan".

Centra produksi salak ada di Desa Jaddih Barat. Salah satunya Dusun Jekan. Uniknya, salak tidak ditanam di kebun khusus melainkan di halaman rumah dan dipinggir jalan menyatu dengan tempat pembakaran batu kapur.

Pohon salak di Jaddih terbilang produktif. Panen bisa dilakukan hampir sepanjang tahun, hanya pada bulan Januari hingga maret berhenti berbuah. "Kami sulit memasarkan salak," kata Manudi, 40 tahun, warga Dusun Jekan.

Sejauh ini, salak yang diproduksi dijual murah kepada pedagang di terminal. Satu karung ukuran 25 kilogram dihargai Rp 50 ribu. Ditangan pedagang, harga melambung mencapai Rp 20 ribu perkilogram. "Yang penting laku," ujar Manudi.

Pasca beroperasinya jembatan Suramadu, pemerintah kabupaten Bangkalan telah berencana menjadikan desa Jaddih sebagai kawasan agribisnis terpadu. Dengan salak, mangga dan rambutan menjadi komoditi andalan. MUSTHOFA BISRI

Tidak ada komentar: