Senin, 27 Juli 2009

Khanduri Laot

Oleh Novia Liza

SENIN, 3 Maret 2008. Sepeda motor yang saya tumpangi melaju pelan melewati acara khanduri laot di desa Lampageu, kecamatan Peukan Bada. Genangan air masih terlihat di aspal, membuat jalan licin.

“Singgah,” ujar beberapa warga yang berlindung di bawah tenda, sambil melambaikan tangan mereka.

Seorang lelaki mendatangi kami yang berhenti tiga meter dari tempat tersebut. Dia menyapa saya dan Maina, teman seperjalananan saya, sembari memberi dua bungkusan yang masing-masingnya berisi nasi, kari daging kerbau, dan segelas air mineral.

“Jak keundurie sama-sama (Ayo kenduri sama-sama dengan kami),” ajaknya, ramah.

Lokasi khanduri laot (kenduri laut) tersebut terpisah dari permukiman warga. Ada dua tenda besar dan satu tenda berukuran sedang yang didirikan khusus untuk tamu penting.

Beberapa lelaki setengah baya, umumnya berkulit hitam terbakar matahari, tampak duduk bercengkrama sambil melepaskan lelah. Ada delapan kuali besar berdiameter kurang lebih 90 sentimeter bertebaran di tanah. Sebagian masih menyimpan hangat tungku. Kuali-kuali ini lazim dipakai untuk memasak daging di pesta orang Aceh.

“Hari ini kami syukuran,” ujar Zaini, terseyum. Bahasa Indonesianya kaku.

“Tanyoe na rezeuki, ya ta bagie,” ujarnya. Dia tersenyum-seyum lagi. Namun, perkataannya kali ini lebih terdengar mantap.

“Apa kendurinya buang sesajen ke laut?” tanya saya.

“Oh, tidak,” tukas Zaini. “Kita buang kepala saja dan yang tidak terpakai, tidak buang daging.”

Zaini meyakini bahwa membuang daging adalah tindakan mubazir. Dan memberi persembahan adalah syirik atau menyekutukan Allah. Syirik dipercayai sebagai dosa besar dalam agam Islam. Segala tindakan yang mengarah kepada menyekutukan Allah dengan mempercayai dan tunduk pada kekuatan lain selain Allah digolongkan sebagai syirik.

Pernyataan Zaini didukung teman-teman , sesama nelayan.

”Tidak ada kepercayaan (kepada kekuatan lain), itu kan syirik. Tanyoe (kita) kan cuma syukur,” sahut Abdul Andib.

“Tadi kita masak daging ini rame-rame,” ujarnya menjawab pertanyaan saya soal siapa koki kari kerbau itu. “Enak, kan?” Dia balas bertanya.

“Dia yang mimpin masaknya,” kata Andib sambil menunjuk ke arah Zaini. yang terseyum malu.

Zamzami, sekretaris desa Lampageu, mengatakan bahwa khanduri laot ini adalah kehendak untuk membina kesatuan dengan mugee (penampung dan penjual ikan) dengan nelayan.

Mereka baru setahun lalu kembali ke kampung setelah tsunami melanda Aceh pada Desember 2004. Sebelumnya mereka mendiami barak penampungan pengungsi tsunami.

“Ini inisiatif dari nelayan untuk mempererat hubungan mereka dengan mugee. Inilah cara yang paling bagus,” katanya, seraya tersenyum.

Hari itu Zamzami mengenakan setelan jaket biru dan celana jins biru. Rambutnya hitam legam, begitu juga kulitnya. Bicaranya lembut dan pelan, jauh dari kesan orang pesisir yang bersuara besar dan kasar.

Zamzami mengatakan bahwa lebih kurang Rp 10 juta dihabiskan untuk khanduri laot ini. Dana dikumpulkan dari nelayan dan mugee di mukim tersebut.

“Untuk mugee, sumbangannya Rp 90 ribu dan nelayan, Rp 100 ribu.” Dia tertawa.

Ada juga bantuan dana dari Yayasan Lamjabat dan peternak unggas yang kantor dan tempat kerjanya berada dekat pusat acara ini. Salah seorang penjabat Aceh Besar yang berkampung halaman di desa tersebut ikut pula menyumbang.

“Warga biasa tidak dikenakan pungutan sumbangan,” kata Zamzami, tegas.

Mukim Lampague ini membawahi empat desa, yakni desa Lamgureun, Lam Badeuk, Lambaro Neujit, dan Lampageu.

“Acara ini sebenarnya untuk satu mukim, tapi kita buat (pusatkan) di desa Lampageu,” ujar Zamzami, sambil membakar rokok dengan pemantik berwarna hijau.

Dari dana yang terkumpul, mereka membeli seekor kerbau jantan besar. Kerbau itu disembelih secara dan dimasak menggunakan bumbu kari khas Aceh dalam beberapa kuali hitam besar, menggunakan kayu bakar. Inti batang pisang yag lembut dijadikan sayuran untuk kari tersebut dan bahan ini lazim dipakai untuk kari Aceh dalam upacara besar.

Zamzami menyatakan bahwa lebih kurang 1000 bungkus paket makanan disiapkan untuk mereka yang hadir dan 200 paket tambahan disiapkan khusus untuk tamu tak terduga.

“Siapa saja yang lewat sini kita panggil semua,” kata Zamzami.

Persiapan acara telah dimulai sejak kemarin pagi, antara lain dengan membersihkan lahan dan mendirikan tenda.

Lokasi yang dipilih tak jauh dari Ujung Pancu, wilayah pemancingan yang terletak di ujung desa. Tenda-tenda didirikan dekat jalan aspal desa dengan pemandangan langsung ke laut lepas. Tak hanya panorama indah laut saja yang dapat disaksikan dari lokasi itu, juga pegunungan. Mukim ini terletak di wilayah pegunungan yang “bersentuhan” dengan pantai.

“Keesokan hari (hari acara) kita sembelih kerbau, masak kemudian berdoa, buang kepala kerbau ke laut lalu makan bersama-sama,” tambahnya.

Untuk hewan yang dipotong, menurut Zamzami, memang tidak ada syarat tertentu. Tapi kerbau yang disembelih biasanya kerbau jantan.

Khanduri laot ini tidak mempunyai waktu khusus. Ia lazim dilaksanakan setahun sekali atau maksimal, tiga tahun sekali. Pelaksanaannya tergantung pada kemampuan ekonomi warga setempat. Ketika dalam satu musim hasil tangkapan dinilai banyak, maka dilaksanakanlah khanduri tersebut.

“Thip thon lageenyan, leh peu nyan hom lah (tiap tahun begitu tapi apa itu entahlah),” kata Nursalamah, salah seorang warga yang datang. “Tapi enak juga karena makan-makan gratis.” Tawanya meledak.

“Galak lon jak cara lagenyan, ayeuu that (suka saya pergi acara seperti itu, enak sekali). Apalagi saat lihat kepala keube ( kerbau) nya dibawa ke laut. Tapi tadi saya tidak lihat kepala keube karena hujan,” kata Nursalamah, lagi.

“Mirip dengan praktek hajat laut di Pulau Jawa ya?” tanya saya kepada Zamzami.

“Kami tidak percaya ke situ. Kami cuma buang kepala, tulang dan kulit saja, sedangkan dagingnya bisa dimakan untuk anak yatim dan tamu, jadi ndak ada yang mubazir. Kalau kita buang daging itu kan istilahnya sudah mubazir,” sahut Zamzami.

Prosesi pembuangan kepala kerbau tersebut dengan cara mengumpulkan tulang, isi perut yang tidak digunakan (dimakan) dan kepala, dibungkus dengan kulit kerbau. Bungkusan tersebut dibawa ke lokasi yang sering dilalui nelayan setempat saat melaut dan dibuang di situ.

“Han teungoh that, han bineh that (Tidak terlalu ke tengah, tidak terlalu ke pinggir). Ada doa bersama juga sesudah boh ulee nyan (buang kepala itu). Ya… doa sekedarnya,” jelas Zamzami. Sesekali dia menghisap rokoknya dalam-dalam.

Dalam rombongan pembuang kepala bungkusan tersebut ikut seorang tengku (ulama) atau orang yang dituakan di kampung.

“Tadi yang mengantar ada lima orang. Lon hana ikut meuno (saya tidak ikut tadi), terlambat. Hehehehe…. Ujeun (hujan),” jelasnya.

Di Pulau Jawa, tepatnya di Laut Selatan, terdapat prosesi adat laut yang dinamakan hajat laut. Pada acara itu seekor kerbau atau kepalanya beserta sesajian lainnya dihantarkan ke laut.

Hakikat hajat laut di jawa adalah ungkapan rasa syukur dan pengharapan kepada Tuhan atas tersedianya sumber kehidupan di laut dan keselamatan bagi para nelayan. Sebagai masyarakat yang hidup di tengah mitos Laut Selatan, ada pula yang menyatakan rasa syukur kepada ‘penguasa’ Laut Selatan, yakni Nyai Roro Kidul.

Upacara itu selalu dilaksanakan pada hari Senin atau Kamis menjelang Selasa atau Jumat Kliwon pada bulan Muharam (Suro). Selasa dan Jumat Kliwon dianggap sebagai hari naas sehingga nelayan tidak boleh melaut.

Ketika sesaji menyentuh permukaan laut, belasan orang melompat dari perahunya dan menyerbu sesaji. Mereka berebut menciduk air laut di bawah dan di sekitar sesaji untuk disiramkan ke perahu masing-masing. Mereka percaya bahwa dengan menyiram perahu dengan air itu akan mendatangkan berkah berupa hasil tangkapan ikan yang berlimpah dan dijauhkan dari malapetaka saat melaut. Uba rampe (materi isi) sesaji ternyata juga dicari orang. Konon, itu juga menjadi perlambang murahnya rezeki bagi yang mendapatkannya.

Itulah pemuncak acara hajat laut yang ditunggu-tunggu para nelayan di kawasan itu.

Lain di Jawa, lain di Aceh.

Zamzami menyatakan bahwa khanduri laot juga berlangsung untuk membentuk panglima laot tingkat teupien.

“Jadi ketua teupin itu semacam cabang. Paska (pasca) tsunami ini baru terbentuk. Kampong lain sudah terbentuk bahkan sebelum tsunami. Mungkin desa kita yang terlambat,” katanya.

Menurutnya, jika ada panglima teupin maka pengaturan dan pengorganisasian nelayan di mukim tersebut terarah dan lebih efektif khususnya dalam mengurus bantuan nelayan di tempatnya.

“Alhamdullilah saya sekarang selain sekdes (sekretaris desa) juga menjabat ketua teupien di sini. Tadi baru dicetuskan,” ujarnya, malu-malu.

Teupin adalah tempat nelayan mendaratkan boat-nya.

Sebagai salah satu pusat kegiatan nelayan di saat pulang melaut, penggunaan teupien diatur dan dilindungi adat.

SANUSI M. Syarif dalam buku Luen Pukat dan Panglima La’ot menulis bahwa khanduri laot sebenarnya mempunyai demensi yang lebih luas dari sekedar makan dan berdoa. Dalam praktiknya, terutama di Aceh Rayeuk, khanduri juga menjadi media bagi panglima laot se-Aceh untuk melakukan kunjungan dan bersilahturrahmi. Ini membuat mereka lebih mengenal sesamanya dan mengetahui seluk-beluk adat laut di wilayah panglima laot lain. Momen ini nantinya akan sangat membantu panglima laot saat menyelesaikan sengketa antar nelayan dari wilayah adat laut yang berbeda.

Selain itu, khanduri laot juga menjadi fungsi sosial, seperti bagaimana nelayan mampu menyantuni anak yatim, sebagai wujud rasa syukur atas rezeki yang diperoleh melalui laut.

Iskandar Ahmad, mantan kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh periode 2005 – 2006 mengatakan bahwa khanduri laut merupakan ajang menyelesaikan bermacam masalahan menyangkut kerja mereka.

“Saya lihat khanduri itu juga sebagai rapat evaluasi mereka. Di hari itu mereka berkumpul bersama-sama. Selain euforianya, tapi mereka sebenarnya duduk rapat,” kata Iskandar kepada saya.

Kesempatan itu bisa terlaksana dengan banyaknya tokoh masyarakat yang hadir bersama nelayan yang setiap hari menghabiskan sebagian besar waktu di laut. Dengan pola tersebut, mereka memiliki satu hari khusus untuk duduk berkumpul dan membicarakan nasib mereka.

Menurut Iskandar, selain hari pantang melaut pada acara khanduri laut dan hari besar agama lainnya, pada hari Jumat juga tidak ada nelayan yang melaut di Aceh.

“Kami memanfaatkan hari Jumat itu sebagai hari ramah lingkungan. Kalau dihitung-hitung, di Aceh dalam sebulan itu (ada) empat hari tidak melaut. Kalau satu hari itu ada sejuta ekor yang tidak tertangkap dan dia bertelur itu berapa (jumlahnya)? Maka secara tidak langsung, di Aceh isu ramah lingkungan itu sudah jalan dari dulu,” katanya, bangga.

Di tempat terpisah, Zamzami berkata kepada saya, “Saat kenduri laot nelayan dilarang melaut, sampai tiga hari.”

“Kita umumkan kepada nelayan untuk dapat mengindahkan peraturan larangan melaut,” tambahnya, seraya mengambil kertas pengumuman dan membacakan isinya dengan keras. ”Tidak boleh melaut selama tiga hari tiga malam terhitung hari ini. Tidak boleh melaut pada hari jumat…”

“Kalau tidak ada kenduri ya tidak ada larangan tiga hari itu. Cuma setiap hari Jumat saja kita pantang melaut karena itu hari besar Islam,” lanjut Zamzami, tersenyum.

Wakil sekretaris panglima laot Aceh, Miftachuddin Cut Adek, juga melihat pantangan tersebut punya makna kurang lebih sama dengan yang diungkapkan Iskandar Ahmad. Saya menemuinya di kantor panglima laot se-Aceh di daerah Darussalam, Banda Aceh, pada suatu siang.

“Kita eksploitasi setiap hari ikan, sehingga perlu di istirahatkan,” katanya.

Dia mengatakan bahwa batasan lautnya sekitar lima mil dari darat. Selama acara kenduri ada pengangkatan bendera putih menandakan di laut sudah terjadi prosesi doa dan melempar kepala kerbau. Selama bendera putih itu dikibarkan nelayan tidak boleh masuk ke area tersebut.

“Orang di laut itu angkat bendera bahwa di laut telah dilempar kepala kerbau, itu berarti orang darat sudah boleh menyantap makanan yang disediakan. Kalau belum diangkat belum, boleh makan orang darat.” Dia menjelaskan sambil tertawa.

Kalau ada yang melanggar hari pantangan melaut tersebut maka sanksinya hasil tangkapan disita dan boat-nya ditahan panglima laot setempat selama tujuh hari.

Panglima laot adalah adalah pemimpin nelayan di suatu wilayah lhok atau wilayah penangkapan ikan dan berdomisili. Panglima laot berfungsi dan bertugas melestarikan hukum adat, adat-istiadat dan kebiasaan dalam masyarakat nelayan Aceh serta bermitra dengan pemerintah dalam pembangunan perikanan bila diminta.

Menurut Miftachuddin, pemilihan hewan seperti kerbau untuk disembelih di khanduri laot itu punya nilai spiritual. Selain kerbau, hewan lain tidak diperkenankan.

“Mengandung hikmah kerbau itu darahnya dingin dan darah nelayan itu panas makanya dalam kenduri perlu dinetralisasi dengan menggunakan kerbau,” jelasnya.

Di masa lampau, ketika nilai spiritual tadi masih kental dalam upacara pelemparan kepala kerbau, ternyata ada aturan khusus dalam memilih hewan kurban tersebut. Ia harus kerbau jagad (kerbau berbulu pirang), juga harus berkelamin jantan.

“Jantan itu kan lambang kekuasaan, keperkasaan biasanya itu kan identik dengan keberanian. Dan kerbau jantan itu banyak yang suka dagingnya, daripada kerbau betina. Dagingnya agak gimana gitu… coba potong aja lembu perempuan,” tuturnya, tanpa memerincikan kekurangan kerbau betina lebih rinci.

Ia kemudian mencontohkan reaksi orang dengan mimiknya, seandainya itu kerbau betina. “Nyoe keubeu inong (ini kerbau perempuan)? Ya, Allah….” Raut wajahnya terlihat tidak senang. “Memang dagingnya kurang lezat dibandingkan daging kerbau jantan,” lanjutnya, mengomentari daging kari yang disuguhkan.

Awalnya praktek khanduri laot di Aceh mirip dengan praktek hajat laut di pulau Jawa. Tujuannya menghormati penjaga laut.

“Itu saat Aceh Islamnya belum kental ya, sekitar ribuan tahun lalu, saat nilai magic-nya masih kuat,” jelasnya.

Miftachuddin mengatakan bahwa saat itu ketika kerbau hendak disembelih, hewan tersebut dilepas dan dikejar sambil disayat-sayat.

“Supaya darahnya menetes di pinggiran pantai. Itu menurut kepercayaannya untuk penjaga laut,” ujarnya.

Kini ritual tadi diganti dengan membuang kepala dan isi perut kerbau yang dibungkus kulit ke tengah laut, sekitar dua mil dari pantai.

“Di saat pelemparan kepala kerbau, diiringi dengan doa,” tuturnya.

Sejak itu ucapan terima kasih kepada penjaga laut dan hantu laut berubah jadi rasa terima kasih kepada Allah.

“Ini diisyaratkan sebagai adat laut dari nenek moyang yang dilestarikan,” tambahnya.

“Terakhir berubah lagi, nah….” Ia nyengir.

Sampai sekitar 90 tahun ini ritual itu terpelihara. Namun, baru-baru saja, berdasarkan keputusan panglima laot se-Aceh yang mengadakan pertemuan di Sabang, Pulau Weh, upacara membuang kepala kerbau itu tidak dibolehkan lagi. Alasan mereka, hal itu merujuk pada penerapan syariat Islam di Aceh. Kenduri cukup dengan doa bersama. Keputusan rapat tersebut tidak tertulis. Andai kerbau kepala masih dibuang ke laut, maka itu bukan lagi sebuah persembahan.

“Hanya sekedar nilai budaya yang dilestarikan dan sebagai sisi pariwisata,” tutur Miftachuddin.

“Ini kan pesta masyarakat nelayan, tapi penuh nilai budaya,” lanjutnya, lagi.

KEPALA Majelis Adat Aceh (MAA) Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Badruzzaman Ismail, mengatakan bahwa sejarah perkembangan khanduri laot pada awalnya untuk membangun satu potensi masyarakat supaya mereka bekerja dan berekonomi.

Seremoni tersebut dianggap sebagai sarana untuk memanggil orang agar berkumpul. Lewat makan bersama, akan lebih mudah menyampaikan sesuatu dan melakukan pendekatan sosial.

“Seperti publikasi dan lobi-lobi yang saat ini sering dilakukan lewat makan di restoran. Jadi dengan dibuat begitu, dengan terbuka seperti di sawah ada kenduri blang, begitu juga di laut ada kenduri laot. Jadi begitu ada upacara diberitahu supaya mereka masuk ke alam ini, tidak hanya di darat tapi juga di laut. Itu intinya,” tutur Badruzzaman.

Bagaimana dengan pelemparan kepala kerbau ke laut?

“Soalnya pada awal lahirnya belum ada alat yang bisa memberitahukan di mana sumber ikan yang banyak. Orang coba analisis salah satu cara yang sensitif (bagi) ikan itu adalah darah. Oleh karena itu kepala kerbau dibawa ke laut, dilepas. Darahnya dibawa air, kemudian ikan menciumnya. Itu kan awal lahirnya kebudayaan tersebut. Sebenarnya tidak ada hubungan dengan kepercayaan lain, kecuali itu semata-mata,” jelasnya.

Ketika khanduri laot tidak diadakan dan ikan sedikit, maka orang pun langsung menyalahkan absennya acara tersebut sebagai penyebab.

“Sebab kenduri juga tergantung pada kemampuan masyarakat. Sama juga ada Maulid (Nabi) di kampung-kampung. Terkadang tidak ada kenduri, karena masyarakatnya tidak mampu, begitu juga di laut,” katanya.

Dia menjelaskan bahwa inti dari kegiatan tersebut bukan untuk memuja sesuatu. Meskipun ada yang mengaitkannya dengan ajaran Hindu yang erat dengan sesajian atau persembahan.

“Ada kemungkinan, kita tidak tahu persis apakah awalnya ada pengaruh Hindu. Karena saya melihat, kalau saya analisis ya… hampir semua kegiatan di dunia beracara dan terjadwal dan ramai disaksikan orang. Kepala dibawa ke laut dan satu keasyikan juga memandang laut sembari melaksanakan prosesi buang kepala kerbau tersebut. Timbullah semangat. Kalau tidak, kan cuma lempar gitu aja. Tapi ada nilai khidmatnya,” jelasnya, panjang lebar.

Bagaimana dengan konteks syariat Islam yang sekarang tengah dihubung-hubungkan dengan berbagai aspek kehidupan orang Aceh?

“Ulhee keubu ta meutagun (kepala kerbau mau dimasak) silahkan, mau dibuang silahkan, selama niat kita untuk umpan. Jadi itu cuma simbolis. Soalnya kita butuh suasana yang meriah,” kata Badruzzaman.

Dia menganggap khanduri laot tak bertentangan dengan Islam. Semua itu tergantung niat.

“Tidak keliru, asal jangan salah niatnya, (seperti) untuk minta rezeki lebih banyak dari kekuatan lain. Itu salah, syirik (menyekutukan Allah),” katanya, lagi.

“ Kalau itu salah tentu dia (ulama) tidak mau memimpin doa di situ kan.” Ia mempertegas penjelasannya.

Menurut Badruzzaman, kalau khanduri laot ini bertentangan dengan Islam pasti sudah sejak dulu dilarang. Hukum Islam sudah berabad-abad diterapkan di Aceh, sejak masa Kesultanan dulu, meski tidak dijadikan hukum negara dan tak tertuang dalam qanun macam sekarang ini.

Muslim Ibrahim, pemimpin Majelis Permusyawaratan Ulama atau MPU, menyebutkan bahwa khanduri laot dianjurkan dalam agama karena pada praktiknya ada perteguhan silahturrahmi dan nilai berbagi.

Selain itu, menurut Muslim, kepala kerbau yang dibuang itu berguna untuk memberi makan ikan-ikan.

“Selama hikmahnya besar, tidak ada unsur pemujaan, itu hukumnya boleh atau jais (tidak dilarang) dalam Islam,” jelasnya.

Dia menyatakan bahwa maksud khanduri laot tersebut bisa dijelaskan saat acara berlangsung.

“Pada momen pidato dari pemuka desa, agama dan nelayan bisa disisipkan penjelasan kedudukan kenduri tersebut sambil menyisipkan nilai ketauhidan (ketuhanan). Agar pada prakteknya dikemudian hari tidak melenceng,” katanya kepada saya.

*) Novia Liza adalah kontributor Pantau Aceh Feature Service di Banda Aceh. Ia mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Ar Raniry.

Read More......

Melepas Jerat Racun Rokok Anak Indonesia

oleh:Astari Yanuarti

Nada bicara Widyastuti Soerojo terdengar getir dan penuh rasa prihatin. Ia tengah menyampaikan hasil penelitian terbaru tentang paparan rokok pada anak dan remaja jalanan. "Sebanyak 61% dari responden adalah perokok. Ini menyedihkan sekali," ujar Ketua Tobacco Control Support Center (TCSC) Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) itu kepada Gatra.

Riset yang dilakukan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia itu melibatkan 400 responden di 25 titik sepanjang jalur kereta api Jakarta-Bogor. Batas usia remaja yang mereka pakai adalah di bawah 18 tahun. Hasil penelitian yang baru dipublikasikan Rabu pekan ini juga menunjukkan anak jalanan usia SMP (13-15 tahun) yang merokok mencapai 41,3%. Jauh lebih tinggi dari angka perokok aktif pada kelompok remaja laki-laki (13-15 tahun) nasional sebanyak 24,5%, sesuai dengan Global Youth Tobacco Survey 2006 versi WHO.

Anak-anak jalanan itu rata-rata mengisap enam batang rokok per hari. Mereka harus merogoh kocek hingga Rp 4.300 tiap hari. "Angkanya tinggi karena mereka bilang, kalau kami tak merokok, berarti bukan anak jalanan," kata Widyastuti, masygul.

Hasil riset itu makin menambah panjang potret buram anak-anak Indonesia yang terpapar asap rokok. Sebelumnya, data TCSC menunjukkan kenaikan jumlah perokok pemula di Indonesia kategori usia 5-9 tahun. Terjadi kenaikan empat kali lipat, dari 0,4% pada 2001 menjadi 1,8%, tahun 2004. Angka ini menunjukkan betapa rokok sudah meracuni anak-anak sejak taman kanak-kanak.

Jika data itu masih juga dipandang belum memadai, tengoklah temuan Koalisi untuk Indonesia Sehat (KuIS) yang dipublikasikan Februari silam. Sebanyak 77,8% anak perempuan berusia 13-15 tahun terpapar asap rokok di rumahnya dengan intensitas sering dan sesekali. Meski tak merokok, mereka terpaksa menjadi perokok pasif.

Menurut Ketua Dewan Eksekutif KuIS, Firman Lubis, hasil riset itu juga menjadi bukti kurang pedulinya perokok atas dampak asap rokok pada kesehatan anak. Padahal, sebagai perokok pasif, pertumbuhan paru anak-anak bisa melambat, mudah terkena bronkitis, asma, dan infeksi saluran pernapasan. Yang lebih mengkhawatirkan, gangguan kesehatan usia dini ini akan berlanjut hingga dewasa.

Tak hanya di rumah, anak-anak negeri ini masih dipaksa menjadi perokok pasif di luar rumah. Sebanyak 70% responden penelitian KuIS terpapar rokok dalam berbagai kegiatan, seperti olahraga, konser musik, hingga acara di sekolah yang disponsori perusahaan rokok.

Lebih parah lagi, sebagian responden mengaku ditawari rokok gratis oleh penyelenggara. Padahal, tindakan ini jelas melanggar Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19/2003 tentang Pengamanan Rokok bagi Kesehatan. "Ini terjadi karena penegakan hukum belum optimal, sehingga perlindungan anak dari bahaya asap rokok sangat kurang," kata Firman Lubis.

Promosi gencar iklan rokok pun mendorong anak-anak menjadi perokok. Menurut data Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), sepanjang tahun 2007 ada 870 kegiatan olahraga yang disponsori perusahaan rokok. Dukungan serupa ada pada 378 pertunjukan musik rock, jazz, pop, hingga dangdut.

Masih ditambah dengan 60 kegiatan seni dan budaya yang didukung produsen rokok. Catatan memprihatinkan menyeruak dari sektor kegiatan agama, yang seharusnya mengharamkan rokok. Sebanyak 24 kegiatan keagamaan berjalan dengan sokongan industri rokok.

Tak mengherankan jika Komnas PA mencatat, 92,4% anak-anak dan remaja Indonesia melihat iklan rokok dalam acara olahraga, musik, dan kegiatan remaja lain. "Ini memberikan pengaruh buruk bagi anak-anak dan remaja di Indonesia. Kami sangat prihatin," ujar Sekretaris Jenderal Komnas PA, Arist Merdeka Sirait. Mereka, lanjutnya, terdorong untuk merokok. Bahkan remaja yang telah berhenti terdorong untuk kembali merokok.

Padahal, kandungan nikotin pada rokok bersifat adiktif. Ini membuat perokok mengalami kesulitan jika ingin berhenti merokok. Global Youth Tobacco Survey 2006 menemukan, pada anak-anak sekolah usia 13-15 tahun di Jakarta, terdapat 20,4% anak yang jadi perokok tetap. Dan 80% di antaranya ingin berhenti merokok tapi tidak berhasil.

Promosi, iklan, dan sponsor kegiatan anak muda oleh perusahaan rokok begitu gencar menyerbu kalangan muda Indonesia, karena memang tak ada yang melarang. Bersama Kamboja, Indonesia menjadi dua negara ASEAN yang masih membebaskan sponsor rokok dalam acara olahraga, konser musik, hingga pesta jalanan.

Bila ditelusuri lebih jauh, kebijakan Indonesia yang masih teramat longgar pada industri rokok bermuara pada Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). Negeri kita mencatat rekor sebagai satu-satunya negara Asia yang belum meratifikasi FCTC. Konvensi ini disetujui 168 negara anggota Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Mei 2003 dan menjadi hukum internasional sejak 2005.

Substansi utama FCTC terletak pada enam pokok pikiran pengendalian dampak tembakau di seluruh dunia. Dimulai dengan pengendalian harga dan cukai rokok, dilanjutkan dengan pelarangan iklan, promosi, dan pemberian sponsor. Ada pula peringatan dampak rokok pada kesehatan dengan gambar di kemasan dan pemberlakuan peraturan tentang kawasan bebas asap rokok. Yang tak kalah penting adalah pengaturan kandungan tar dan nikotin rokok serta pengaturan penjualan rokok.

Menurut Widyastuti Soerojo, ketiadaan kemauan politik pemerintah membuat negara kita tak juga meratifikasi FCTC. Sejak dulu, masalah pengendalian tembakau ini tak pernah menjadi prioritas dibandingkan dengan program kesehatan dan sosial lainnya. "Pemerintah selalu melihat segala sesuatunya dalam jangka pendek. Padahal, masalah rokok ini seperti bom waktu, terlihat dampaknya 10-20 tahun lagi," papar Widyastuti.

Ketakpedulian pemerintah ternyata sejalan dengan mitranya di Dewan Perwakilan Rakyat. Draf RUU Pengendalian Dampak Tembakau pada Kesehatan yang muncul sejak 2004 mentok. Meski sudah diusung 226 anggota DPR, draf RUU itu gagal masuk Prolegnas 2007. Badan Legislatif DPR menilai masalah tembakau belum menjadi urgensi nasional. Apalagi, regulasi ini dinilai bisa merugikan industri rokok, bahkan membuatnya gulung tikar. Sebab sumbangan cukainya pada negara sangat tinggi dan menyerap banyak tenaga kerja.

Sikap DPR dan pemerintah itu mendapat kecaman keras dari Indonesian Tobacco Control Network (ITCN). Menurut Tubagus Haryo Karbyanto, salah satu Koordinator ITCN, pemerintah lalai melakukan kewajibannya melindungi kesehatan penduduk Indonesia dari serangan penyakit akibat rokok. "Kami akan menggugat keduanya melalui Pengadilan Negeri Jakarta Pusat," kata Tubagus.

Gugatan publik ini akan dilayangkan bertepatan dengan Hari Anti-Tembakau Dunia pada 31 Mei nanti. Tuntutan yang mereka ajukan sederhana tapi sangat substansial: menuntut realisasi ratifikasi FCTC dan pembahasan RUU Pengendalian Dampak Tembakau pada Kesehatan.

Sembari berjuang di sisi hukum, ITCN melihat perlu strategi baru untuk mencegah pertambahan jumlah perokok di Indonesia. Mereka tak lagi fokus memberikan penyadaran bahaya rokok pada perokok. Kini kampanye bahaya merokok lebih ditujukan pada anak, remaja dan perempuan. "Karena sebagian besar dari mereka belum terjerumus merokok dan mereka generasi penerus yang harus diselamatkan," tutur Tubagus.

Puluhan lembaga yang tergabung dalam ITCN pun mulai aktif menggerakkan kampanye anti-rokok pada anak, remaja, dan perempuan. Misalnya, Wanita Indonesia Tanpa Tembakau (WITT) yang lebih menyasar penyadaran bahaya rokok pada perempuan bekerja. Atau gerakan pramuka yang membuat gerakan tak boleh merokok dalam setiap kegiatan kepanduan. Hingga Komnas PA yang rajin memberikan kampanye "Tampil Keren Tanpa Rokok" di sekolah-sekolah.

Namun gerakan ITCN itu bakal menghadapi ganjalan besar dari produsen rokok di Indonesia maupun dunia. Laporan terbaru WHO berjudul "WHO Report on The Global Epidemic" yang dirilis Februari 2008 menyebutkan, sampai kini generasi muda dan perempuan di negara berkembang menjadi target utama industri rokok dunia.

WHO mengutip data internal perusahaan rokok kelas kakap dunia, Phillip Morris, yang dirilis pada 1981. Perusahaan ini menyatakan, remaja adalah pelanggan reguler masa depan dan mayoritas perokok dewasa mulai merokok sejak remaja.

Berbekal riset internal itulah, Phillip Morris dan perusahaan-perusahaan rokok lain gencar menyerbu kalangan remaja. Mereka membuat iklan-iklan dengan tema yang sesuai dengan jiwa dan perilaku anak muda yang bebas, gaul, kreatif, dan berjiwa petualang.

Di Indonesia, kita bisa melihat iklan Marlboro yang bernuansa petualangan alam liar. Ada pula LA Light dari Djarum yang membuat seri menggelitik dengan tagline "Enjoy Aja". Juga Sampoerna Mild dengan slogan "How Low Can You Go" atau geng hijau Sampoerna Hijau yang mengusung "Nggak ada loe nggak rame".

Selain iklan, perusahaan rokok memakai musik sebagai pintu masuk ke kawula muda. Sebab musik terbukti menjadi bahasa, sumber ide, dan tren anak muda. Tak mengherankan, mensponsori pertunjukan atau festival musik menjadi kampanye below the line ampuh andalan perusahaan rokok.

Buktinya, ribuan konser musik dengan sokongan perusahaan rokok digelar di Indonesia sejak era 1980-an. Mulai era Djarum Rock Festival hingga yang paling baru semacam ClassMusic dan A Mild Rising Stars.

Tak berhenti di iklan dan musik, pintu lain yang juga terbuka adalah olahraga. Malah, sampai kini, hampir tiap jenis olahraga populer identik dengan sponsor rokok. Contohnya, Gudang Garam yang menjadi tulang punggung operasional Persatuan Sepak Bola Kediri di Kediri, Jawa Timur. Djarum membuat klub bulu tangkis di Kudus, Jawa Tengah. Plus stempel Liga Djarum dan Copa Dji Sam Soe untuk kompetisi sepak bola.

Semua pemaparan tadi membuktikan, meski sudah berusia 27 tahun, dokumen internal Phillip Morris ternyata masih menjadi panduan bisnis industri rokok. Perusahaan rokok pun terus berkilah bahwa sasaran iklan, promosi, dan sponsorship mereka adalah kaum muda di atas 18 tahun, bukan anak-anak dan remaja.

Toh, WHO tetap melihat industri rokok di banyak negara, baik secara terang-terangan maupun terselubung, menyasar pasar remaja plus perempuan. Tindakan ini tak lain karena pasar di dua segmen itu masih bisa digelembungkan.

Maklum, prevalensi rokok di kalangan remaja dan perempuan, meski meningkat setiap tahun, masih sangat rendah dibandingkan dengan prevalensi rokok di kalangan laki-laki dewasa. Ambil contoh di Cina sebagai negara dengan jumlah perokok nomor wahid. Jumlah perokok laki-lakinya mencapai 54,5% dari total populasi lelaki. Sedangkan perokok perempuan "hanya" 3,7% dari jumlah total perempuan Cina.

Di Indonesia angkanya tak beda jauh, 63,2% untuk perokok lelaki dan 4,5% untuk perokok perempuan. "Industri rokok berhasil menghilangkan image tabu pada perokok perempuan," ujar Widyastuti.

Data statistik itu tentu mengenaskan. Apalagi, selain buruk bagi kesehatan, merokok juga terbukti memicu beraneka penyakit sosial lainnya, seperti penggunaan narkotika, tindak kekerasan, bahkan HIV/AIDS. Tambahkan dengan masalah kemiskinan dan kebodohan yang menjadi ciri utama negara berkembang. "Maka, lengkaplah roadmap menuju hilangnya sebuah generasi," kata Ketua Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Farid Anfasa Muluk.

Read More......

Uang Diambil, Bukti Tilang Tak Diberi

Oleh: Musthofa Bisri

Senin, 27 Juli lalu, aku ketiban sial. ketika sedang melintas di kawasan perumahan elit Balikpapan Baru Ring Road Kota Balikpapan, kena tilang polisi karena tidak punya SIM. Puluhan pengendara roda dua dan empat lain juga ikut terjaring.

Aku yakin lolos pemeriksaan. sebab, SIMku masih dalam proses pembuatan dan sedang diurus oleh seorang petinggi Polantas, lewat jalur tidak resmi yang disebut "bantuan". Untuk itu, aku membayar dua kali lipat dari harga biasa.

Aku diperiksa seorang Polantas bernama Iwan. Aku beritahu dia, bahwa SIMku sedang dibuat oleh seorang petugas polantas atasan mereka sebut saja Adi. Jumat pekan lalu, Adi bilang padaku "kalau kena razia telpon saya saja" maka itu nota pembuatan SIMku tidak diberikan.

Iwan tidak peduli, karena tidak punya tanda bukti pembuatan SIM. aku tetap ditilang. aku pasrah saja. Sementara Adi kutelpon berulang-ulang, tapi tidak diangkat. aku mengumpatnya dalam hati.

Disebuah modil polisi, tiga petugas pencatat dikerubuti puluhan orang. ada yang membayar sesuai denda, ada juga yang melobi dan bicara empat mata. Denda tilang di Balikpapan sangat mahal, SIM misalnya mencapai 150 ribu, padahal biaya buat SIM baru dengan jalur resmi hanya 75 ribu rupiah.

Uang diakntongku belum cukup membayar tagihan, hanya ada 100 ribu. Aku pun melakukan lobi. Seorang petugas menolak, dia bilang, "sekarang tidak ada lagi lobi-lobi, semua harus sesuai aturan".

Tapi ketika saya berutahu, bahwa pembuatan SIM saya lewat jalur "bantuan" dalam istilah polisi. petugas itu melunak. ia kemudian memintaku bersabar.

"kamu mau bayar berapa, 80 ribu ya, saya bantu aja?" katanya menawar denda tilang.

Saya menolak, aku hanya punya 50 ribu, ia mengangguk, kemudian memintaku menandatangi denda tilang. Tapi, setelah uang kuberikan, bukti tilang tidak diberikan. Menurut, cerita beberapa orang, uang itu bakal masuk kantong sendiri.

Keesokan harinya, aku datang ke Satlantas Balikpapan untuk mengambil SIM. Jam 8.30 sampai. aku langsung menelpon Adi, seorang petinggi polantas yang membantuku membuat SIM. ia mengarahkan aku melapor ke loket 6.

Disana, aku diminta menunggu untuk foto pembuatan SIM, kurang lebih setengah jam. aku kira setelah foto selesai, maka SIM langsung keluar. ternyata tidak, aku masih diminta foto ulang dengan biaya 15 ribu, kemudian diambil sidik jari dengan biaya 10 ribu.

Setelah kupikir-pikir, biaya membuat SIM tidak semudah dan semurah yang digembar-gemborkan polisi yaitu 75 ribu rupiah, sehari selesai. faktanya, aku menghabiskan dana 250 ribu rupiah, karena banyak proses yang tidak seluruhnya di gratiskan.

Read More......

Meno Kaya Tidur di Selokan…

Matahari baru menyingsing di kota Mimika, Kabupaten Timika, Papua. Tiga orang “meno”masih tergeletak di depan toko di Jalan Yos Sudarso. Botol-botol minuman keras berserak di samping mereka. Ketika sinar matahari menerpa wajah mereka, seorang di antaranya kemudian terbangun dengan limbung. Dia berdiri di depan konter anjungan tunai mandiri atau ATM dengan kebingungan.

(hand phone) saya. Hanya Rp. 400.000, “kata salah satu meno, sambil menyodorkan > small 2 small 0 < seri terbaru kepada seorang pemuda yang baru saja keluar dari ATM. Di toko, >smaal 2smaal 0< tersebut bisa berharga lebih dari Rp 3 juta. Meno merupakan panggilan akrab, bermakna sobat, di kalangan orang asli Papua dari kawasan pegunungan. Namun, panggilan ini di Timika sering kali dipakai untuk orang asli dari kawasan pesisir juga.

Pemuda dari suku Kei, Maluku, yang diajak bicara memeriksa >smaal 2smaal 0< tersebut. Kemudian segera mengeluarkan uang. “ Saya hanya punya uang Rp 300.000, untuk beli >smaal 2smaal 0< ini, meno. Ini saya tambah, Rp 50.000 untuk naik ojek, agar meno bisa pulang. Bagaimana ? “kata pemuda Kei itu sambil menyodorkan uang.

Sang meno bergegas menyerahkan >smaal 2smaal 0< - nya, dan mengambil uang dari tangan pemuda Kei. “ Terima kasih, kakak, “kata sang meno, sambil menyalami pemuda Kei dengan salam khas, yaitu menjepit satu jari kawan dengan jari tengah dan telunjuk sehingga menimbulkan bunyi “ceklok”. Dia bangunkan kedua meno lainnya. Lalu, ketiganya memanggil ojek, dan pergi.

Kisah di atas bukanlah rekaan dalam film parodi. Kisah meno yang mabuk-mabukan sampai kehabisan uang dan harus menjual barang-barang miliknya yang tersisa hanya untuk pulang ke rumah adalah realitas keseharian di kota emas Timika, Provinsi Papua. Mereka hanya pulang dan tidur di rumah ketika uang sudah habis. “Dorang kaya tidur di selokan, dorang miskin tidur di rumah.” Demikian mop atau olok-olok khas Papua, yang mereka ciptakan untuk menggambarkan diri mereka sendiri.

Para meno ini adalah para pendulang emas di sepanjang Sungai Aghawagong yang menjadi aliran pembuangan tailing PT Freeport Indonesia (PT FI). Dalam sehari mereka bisa memperoleh uang hingga Rp 2 juta dari mendulang tailing. Bahkan, jika sedang beruntung bisa mendapat Rp 10 juta. “Tailing emas itu tak hanya merusak sungai kami, tetapi juga mental masyarakat. Sungguh, kami tak mau hidup seperti ini,”kata Gergorius Okoare (35), tokoh muda Kamoro – suku asli di Timika.

Okoare menyebutkan, dari tahun ke tahun, jumlah pendulang yang memanfaatkan remah- remah dari PT FI kian bertambah. Mereka berasal dari suku-suku di dataran tinggi (highland) Papua, dan juga pendatang dari luar Papua. Forum Pengendalian dan Pembinaan Pendulang Timika – forum dibentuk oleh masyarakat pendulang dari tujuh suku terdiri Amungme, Kamoro, Moni, Lani, Damal, Mee/Ekari, Nduga – mencatat, pada tahun 2006 jumlah pendulang mencapai 13.000 orang. Padahal, pada tahun 2003, jumlah pendulan masih 1.086 orang.

Masing-masing suku memiliki daerah tambang sendiri. Misalnya, Suku Moni Ugimba biasa menambang di Mil 72-74. mil 69-Utekini Lama dikuasai pendulang asal suku Dani, Moni Utara, Damal dan pendatang luar. Di Kimbeli Area, rata-rata yang mendulang adalah warga suku Damal. Adapun Banti didominasi pendulang-pendulang dari suku Amungme dan sebagian Moni Selatan.

“Untuk menambang ke Banti butuh modal. Dari Timika ke Tembagapura kami harus membayar mobil sewa termasuk membayar aparat Rp 700.000,”kata Frederick Waker (35), seorang pendulang.

Pada pendulang ini biasa turun gunung guna menjual serbuk emas ke toko-toko emas di Timika seminggu sekali. Hampir tiap sore ada meno yang turun gunung. Yang paling ramai adalah hari Sabtu sore. Rombongan meno ini membanjiri kota, dengan gaya khas. Bersepatu bot, layaknya kartawan pertambangan PT FI. Bercelana pendek selutut, seperti gaya bule. Juga bertopi gunung dengan warna-warni khas Melanesia : merah, kuning, dan hijau terang. Yang juga tak ketinggalan kalung dengan liontin taring babi. Noken atau tas berbahan akar-akaran, ukuran kecil yang berisi telepon genggam merek terbaru, juga tergantung di leher. “Saat hujan deras seperti ini, biasa tailing akan banyak yang hanyut. Kami akan panen emas, tapi kalau tak hati-hati bisa hanyut juga. Banyak yang mati,”kata Waker.

Waker mengisahkan, setelah mendapatkan uang dari hasil menjual emas, mereka biasa menyewa mobil. Mengajak teman-teman dan saudara. Minuman keras dibeli banyak-banyak. Bisa beberapa krat, hingga mobil penuh sesak. Lalu keliling kota sambil minum. Pesta biasa diakhiri di Kilo 10 (lokalisasi di Timika).

Zulkifli (32), sopir mobil sewaan di Timika, mengatakan, kebanyakan sopir sangat senang jika mobilnya disewa para meno yang pulang mendulang emas. “Mereka sangat pemurah. Hanya saja kadang-kadang kami ikut pusing, maunya jalan sambil kaca mobil ditutup rapat. Bau minuman bercampur keringat. Lebih parah kalau mereka sambil makan pinang, bisa-bisa mobil belepotan ludah merah mereka. Kalau sudah mabuk, sopir yang nakal terkadang menurunkan meno itu di jalan, akhirnya mereka tertidur di selokan sampai pagi,”cerita Zulkifli.

Kebingungan

Gaya hidup itu tak hanya ditopang dari uang hasil mendulang. Namun, sudah merasuk ke dalam gaya keseharian mereka, tak peduli uangnnya berasal dari mana. Bahkan, uang beasiswa dari PT FI untuk anak-anak suku Kamoro dan Amungme – dua suku asli di Timika dan Tembagapura – juga sering digunakan anak-anak untuk mabuk-mabukan dan ke lokalisasi. “Beasiswa diberikan enam bulan sekali, sebanyak Rp 600.000. Biasanya, setiap kali menerima uang langsung habis untuk paku-paku (ke lokalisasi) dan minum-minum sampai mabuk,”kata Franky (20), remaja Kamoro.

Menurut pengakuan Franky, hampir semua teman sekolahnya sudah pernah ke Kilo 10 dan biasa mengenal minuman keras sejak sekolah menengah pertama. “Awalnya kami mau coba-coba perempuan dari luar. Banyak yang bilang, orang Manado dan Jawa, boleh…,”kata Franky.

Vikaris Jenderal Keuskupan Timika Vincentius Suparman CIJ menyebutkan, emas telah menjadi kutukan di Timika. Dimulai ketika PT FI membuka kotak pandora, ketika mereka menambang gunung Ertsberg – dalam bahasa Amungme Dugu-dugu – yang menurut kepercayaan Amungme merupakan tempat peristirahatan kepala ibu (ninggok), tempat arwah mereka kembali setelah kematian. “Mereka sudah kehilngan orientasi spiritual, ketika tempat-tempat sakral mereka hancur akibat ditambang atau karena limbah. Nilai-nilai mereka runtuh. Mereka kebingungan bercampur marah, “kata Suparman.

Tokoh masyarakat Kamoro sekaligus komisaris PT FI, Titus Octovianus Potereyauw, mengatakan, dalam rapat-rapat dewan komisaris PT FI di Jakarta, gegar budaya yang dialami penduduk asli ini sering dibahas. “Tapi kami juga bingung, belum ada solusi, “kata Titus, yang pernah menjabat sebagai bupati pertama di Timika ini.

Semua bingung, tetapi adakah jalan keluar ?

Sudah lebih dari pukul 23.00 malam. Hujan deras mengguyur Timika. Franky masih berdiri di sudut podium lapangan kota Timika, ditemani seorang kawannya yang enggan menyebutkan namanya. Tangannya bersidekap menahan gigil dingin. Sebotol bir yang telah kosong tergeletak di lantai podium. Di sudut lain podium itu, dua lelaki dan seorang perempuan asyik ngobrol. Juga ditemani botol minuman, sesekali mereka tertawa dengan riuh. Suara mereka bersaing dengan derai air hujan yang memukul atap podium.

Malam itu, Franky hanya pesta kecil. Tidak sampai mabuk-mabukan. “Lagi tidak ada modal. Belum menambang lagi, “kata Franky, yang baru saja menamatkan pendidikannya dari sekolah tekhnik mesin (STM) ini.

“Tapi, sebenarnya, mau berhenti menambang. Saya mau lanjutkan kuliah dan berhenti minum-minum. Teman-teman lain juga banyak yang sudah berpikir sama, kami harus sekolah baik-baik. Tapi, apa bisa?”tutur Franky.

Kami menepuk bahunya dan menyalami, ingin menguatkan tekadnya. Lidah terasa kelu, tak sanggup berkata-kata lagi. Dan, malam semakin larut. Hujan semakin deras. Pagi harinya, kami meninggalkan kota Timika, dengan perasaan menggigil…(LUK/ROW)

Penulis : Kompas / Ahmad Arif

Read More......

Pendidikan Keagamaan, Politik Pendidikan Penebus Dosa

Nasib pendidikan keagamaan sudah lama menyimpan memori panjang diskriminasi anggaran. Negara lebih memanjakan pembiayaan sekolah umum dan mengabaikan sekolah agama. Belanja negara dialokasikan secara tidak berimbang antara lembaga pendidikan negeri dan swasta. Sialnya, sebagian besar lembaga pendidikan keagamaan berstatus swasta.

Lengkap sudah nestapa pendidikan berbasis agama yang berlangsung sejak dahulu kala. "Sekarang negara harus menebus dosa dengan menunjukkan pemihakan pada pemberdayaan pendidikan keagamaan," kata Menteri Agama, Maftuh Basyuni. Sebab para pendidik dan anak didik di lingkungan pendidikan keagamaan juga warga negara yang sama dengan anak didik dan pendidik pada umumnya. "Mereka sama-sama mendedikasikan diri untuk pendidikan anak bangsa," Maftuh menambahkan.

Awal tahun anggaran ini menjadi momentum penting untuk menguji apakah politik anggaran negara sudah menunjukkan aksi nyata "penebusan dosa". Perangkat regulasi sebenarnya sudah kian lengkap. Pada penghujung 2007, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan Peraturan Pemerintah (PP) 55/2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan.

Beleid itu mengukuhkan kebijakan pendidikan dalam Undang-Undang 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bahwa pendidikan keagamaan adalah bagian integral sistem pendidikan nasional. Undang-undang ini menjadi tonggak penting politik pendidikan yang menghapus diskriminasi antara sekolah negeri dan swasta serta antara sekolah umum dan sekolah keagamaan. Alokasi anggaran pun, menurut Pasal 12 PP 55/2007, harus adil antara sekolah negeri dan swasta.

Pendidikan keagamaan merupakan wujud orisinal pendidikan berbasis masyarakat di Nusantara. Mereka tumbuh dari, oleh, dan untuk masyarakat. Di lingkungan Islam terdapat pesantren, madrasah, dan diniyah. Di Katolik ada seminari.

Di Hindu ada pasraman dan pesantian. Buddha mengenal pabbajja. Konghucu menyebut shuyuan, dan sebagainya. Tumbuhnya pendidikan keagamaan dalam masyarakat sebagian justru akibat kebijakan negara yang buruk dalam mengelola pendidikan agama.

Pendidikan agama kerap berjasa menampung anak didik yang kurang mampu, sehingga tidak terwadahi di sekolah umum dan negeri. Banyak di antara lulusannya yang kemudian menjadi tokoh penting dalam sejarah nasional. Jumlah mereka tidak bisa dipandang sebelah mata.

Di lingkungan pendidikan Islam saja, menurut data Departemen Agama (Depag) tahun 2006, ada 2,67 juta anak didik yang menempuh pendidikan di 14.700 pondok pesantren. Hampir sama dengan jumlah mahasiwa di 2.800 perguruan tinggi negeri dan swasta di bawah Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), sebanyak 2,69 juta orang.

Yang bersekolah di 27.000 sekolah diniyah ada 3,4 juta orang. Setara dengan siswa pada 9.000-an SMA negeri dan swasta se-Indonesia, yang juga berjumlah 3,4 juta.

Peserta pendidikan dasar sembilan tahun di lingkungan madrasah dan diniyah mencapai 6,1 juta murid. Seperenam dari total peserta pendidikan dasar sembilan tahun ada di lingkungan Depdiknas, yang mencapai 36 juta murid.

Sebagian terbesar (lebih 80%) jenjang pendidikan agama di lingkungan Islam, mulai level taman kanak-kanak (TK) hingga perguruan tinggi, adalah swasta. Bahkan, menurut data Depag tahun 2005, sekitar 17.000 raudhatul athfal (TK), 14.700-an pesantren, dan 27.600-an diniyah adalah swasta.

Di Nusa Tenggara Timur (NTT), 90% SD hingga SMA adalah sekolah Katolik dan berstatus swasta. Dari seluruh pendidikan Katolik itu, 60% sehat, 30% sedang, dan 20% hampir sekarat. Sekolah Katolik yang sehat ada di Flores, sedangkan yang sulit berkembang terdapat di Sumba.

"Pada masa Orde Baru, di sini pun sekolah Katolik swasta jadi anak tiri," kata Ludo Taolin, Wakil Ketua DPRD Belu, NTT. "Padahal, sekolah Katolik banyak berperan mendidik kalangan menengah ke bawah," katanya. Baru setelah reformasi, menurut Ludo, insentif guru untuk sekolah negeri dan swasta sama. Pemerintah daerah mulai membantu dengan menempatkan guru negeri di sekolah Katolik swasta.

Wajah politik anggaran pemerintah pusat dalam bidang pendidikan berbasis agama dapat dilihat dari anggaran Depag. Tahun 2008 ini, ada peningkatan persentase alokasi untuk "fungsi pendidikan" ketimbang tahun 2007.

Pada 2007, dari total anggaran Depag Rp 14,5 trilyun, alokasi terbesarnya (49,5%) adalah untuk "fungsi pelayanan umum" (Rp 7,2 trilyun). Porsi anggaran pendidikan di Depag pada waktu itu hanya menduduki pos kedua, senilai Rp 6,6 trilyun (46%).

Tahun 2008 ini, di satu sisi, anggaran Depag meningkat 20,9%, menjadi Rp 17,6 trilyun. Di sisi lain, alokasi terbesar bergeser dari fungsi pelayanan umum ke fungsi pendidikan. Gelontoran dana pendidikan meningkat lebih dari dua kali lipat dari tahun lalu, menjadi Rp 14,3 trilyun (81,4%) --macam-macam alokasinya lebih rinci, lihat tabel.

Tidak hanya di tingkat pusat. Wajah lebih ramah pada pendidikan agama juga ditampilkan sejumlah pemerintah daerah. Namun kebijakan anggaran APBD provinsi dan kabupaten/kota sempat tersandung Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Moh. Ma'ruf, Nomor 903/2429/SJ tanggal 21 September 2005 tentang Pedoman Penyusunan APBD 2006 dan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD 2005.

Surat itu oleh sebagian kepala daerah diartikan sebagai larangan alokasi APBD untuk pendidikan keagamaan, karena bidang agama tidak mengalami desentralisasi. Sehingga anggarannya diambilkan dari belanja pemerintah pusat di APBN, bukan dari APBD.

Hal itu, misalnya, dilakukan Kabupaten Aceh Barat. Dana kesejahteraan guru hanya diberikan kepada guru di lingkungan Depdiknas, tidak diberikan pada guru agama di madrasah yang berafiliasi ke Depag. Akibatnya, seluruh guru madrasah se-Aceh Barat sempat melakukan aksi mogok mengajar pada Agustus 2006.

Hingga 2005, sejumlah gedung madrasah di Kabuaten Tangerang, Banten, rusak berat dan tidak segera direhabilitasi. Menurut anggota DPRD Tangerang, Imron Rosadi, kepada koran lokal, itu terjadi karena APBD Kabupaten Tangerang tidak mengalokasikan bantuan. Baru pada 2007 anggaran perbaikan dan pembangunan gedung disediakan APBD.

Efek surat edaran Menteri Dalam Negeri (Mendagri) itu menyulut tuntutan berbagai kalangan agar surat tersebut dicabut. Wakil Ketua DPR pada saat itu, Zaenal Ma'arif, sejumlah anggota DPR, dan Menteri Agama Maftuh Basyuni minta surat edaran itu direvisi karena bisa menghadirkan kembali politik anggaran yang diskriminatif.

Banyak kepala daerah dikabarkan gelisah. Di satu sisi, tak mau salah dalam mengalokasikan anggaran. Di sisi lain, tak ingin berkonfrontasi dengan para elite agama. Pada musim pemilihan kepala daerah secara langsung sekarang ini, hal itu bisa berdampak buruk pada popularitas para tokoh politik lokal. Berbagai proses politik, lobi, dan manuver di balik layar pun ditempuh untuk menyetop berlakunya surat Mendagri itu.

Tapi masih ada beberapa pimpinan daerah yang tidak memedulikan "larangan" surat edaran Mendagri itu. Misalnya dilakukan Bupati Pekalongan, Gresik, dan Banyuwangi di Jawa Timur. Di Banyuwangi, surat Mendagri itu hanya sempat jadi pembicaraan singkat, tapi tidak mempengaruhi alokasi anggaran.

Menurut Arifin Salam, anggota DPRD dan Ketua Lembaga Pendidikan Maarif Banyuwangi, APBD setempat tetap mengalokasikan bantuan pada seluruh siswa pendidikan swasta Rp 20.000 per bulan secara adil. "Sekolah umum dan madrasah punya hak yang sama," katanya.

Sekolah negeri tidak memperoleh bantuan karena sudah mendapat anggaran operasional dari negara. Tahun 2008, anggaran pendidikan di APBD Banyuwangi mencapai 23%. Bujet buat pendidikan keagamaan semacam pesantren dan semua lembaga pendidikan agama di luar Islam meningkat pesat.

Bila tahun 2005 hanya Rp 3 milyar, tahun 2008 ini mencapai Rp 18 milyar. Sampai-sampai, anggaran dinas lain, seperti peternakan, dikurangi. "Komitmen kami pada pendidikan agama sangat kuat," ujar Arifin.

Di Langkat, Sumatera Utara, bantuan APBD juga tetap lancar, tak terganggu oleh polemik surat edaran Mendagri. Ustad Muhammad Nuh, pimpinan Pesantren Al-Uswah, Langkat, pada 2007 masih mendapat bantuan dari APBD Sumatera Utara dan APBD Langkat. Namun sifatnya bantuan insidental, tidak tetap. Setahu Nuh, pesantren lain juga masih mendapat bantuan APBD.

Bagi Hidayatullah, anggota Komisi C DPRD Sumatera Utara, kalaupun surat Mendagri itu betul-betul melarang karena kendala ketentuan desentralisasi, semestinya pemerintah daerah tidak kehabisan akal untuk membantu pendidikan keagamaan. Yang penting, ada kemauan politik. Sebab bantuan untuk pendidikan keagamaan masih bisa disalurkan lewat pos bantuan sosial. Hanya, kelemahannya, bantuan tersebut tak bisa rutin dikucurkan.

Sebagian daerah lain meresponsnya dengan membentuk peraturan daerah (perda) tentang madrasah diniyah. Misalnya Banjar, Indramayu, Cirebon, Pandeglang, dan diperjuangkan beberapa daerah lain, seperti Tangerang dan Majalengka. Dengan perda diniyah itu, APBD berkewajiban mengalokasikan anggaran tetap. Apa pun bunyi surat Mendagri tidak berpengaruh.

Lima bulan setelah surat edaran Mendagri beredar, pada Februari 2006 Dirjen Bina Administrasi Keuangan Daerah Depdagri, Daeng M. Nazier, membuat surat klarifikasi bertajuk "Dukungan Dana APBD". Surat yang ditujukan ke gubernur, bupati, wali kota, serta ketua DPRD provinsi dan kabupaten itu menegaskan, "... sekolah yang dikelola oleh masyarakat, termasuk yang berbasis keagamaan seperti madrasah,... dapat didanai melalui APBD sepanjang pendanaan yang bersumber dari APBN belum memadai."

Daeng M. Nazier juga membuat klarifikasi lewat keterangan pers. "Akhir-akhir ini berkembang penafsiran yang salah terhadap isi surat edaran Menteri Dalam Negeri," katanya. "Seolah-olah Menteri Dalam Negeri melarang/tidak memperbolehkan dana APBD digunakan untuk mendanai program/kegiatan sekolah-sekolah berbasis keagamaan."

Nazier menyinggung adanya daerah yang menyetop pendanaan dari APBD untuk kegiatan madrasah ibtidaiyah, tsanawiah, dan aliyah, dengan alasan urusan agama tidak diserahkan kepada Daerah. Padahal, konteksnya berbeda. "Yang tidak menjadi urusan daerah adalah urusan keagamaan, sedangkan urusan pendidikan sudah menjadi urusan wajib pemerintahan daerah."

Ditegaskan pula, "Seharusnya pemerintah daerah tetap memberikan alokasi dana APBD yang seimbang kepada sekolah-sekolah negeri dan sekolah-sekolah yang berbasis keagamaan." Sehingga tidak menimbulkan keresahan dan menjaga keberlangsungan proses belajar-mengajar di tiap-tiap daerah.

Surat itu segera diimplementasikan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam untuk meredam aksi mogok para guru madrasah. Namun disinyalir banyak daerah lain tidak mau merujuknya, karena surat itu hanya ditandatangani direktur jenderal. Perlu ada ralat langsung dari Mendagri. Tarik-menarik di balik layar pun masih berlangsung kencang.

Maka, pada Juni 2007, Mendagri ad interim Widodo AS (karena Moh. Ma'ruf sakit) membuat Peraturan Mendagri Nomor 30 Tahun 2007 tentang Pedoman Penyusunan APBD Tahun 2008. Peraturan ini menekankan dilarangnya diskriminasi dalam alokasi anggaran: "Dalam mengalokasikan belanja daerah, harus mempertimbangkan keadilan dan pemerataan agar dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa diskriminasi pemberian pelayanan."

Empat bulan kemudian, Oktober 2007, lahir PP 55/2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan tadi. "Dasar hukum dukungan APBD pada pendidikan keagamaan, seperti pesantren dan diniyah, sebenarnya sudah sangat kuat," kata Amin Haedari, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Depag.

Namun Amin mengaku masih saja ada daerah yang bertanya, minta kepastian, tentang boleh tidaknya APBD membiayai sekolah agama. "Baru-baru ini, ada DPRD dari Bangka Belitung yang juga bertanya," kata birokrat yang banyak membuat terobosan pemberdayaan pesantren itu. Pasca-keluarnya PP itu, semestinya politik anggaran untuk pendidikan keagamaan lebih mulus berjalan.

Tapi mantan Wakil Ketua Komisi Pendidikan DPR, Masduki Baidlowi, menilai diskriminasi anggaran daerah sampai saat ini masih berlangsung. Diskriminasi itu bukan hanya dalam bentuk tidak dialokasikannya anggaran sama sekali. Ada yang memberi alokasi tapi dengan jumlah yang tidak sebanding dengan pendidikan umum. "Itu juga diskriminasi," katanya.

Masduki menyebut kasus tunjangan guru di DKI Jakarta. Guru di lingkungan Depdiknas mendapat tunjangan Rp 2,5 juta sebulan. Tapi guru madrasah hanya memperoleh Rp 500.000. "Semestinya justru dilakukan kebijakan afirmatif. Perbandingannya, tiga buat madrasah, dua buat sekolah umum," katanya. "Karena dari awal posisi sarana-prasarana madrasah sudah tertinggal jauh."

Seretnya alokasi anggaran buat pendidikan keagamaan di tingkat dearah mendorong perencana anggaran tingkat pusat lebih meningkatkan pasokan anggaran. Gelontoran anggaran yang paling besar sejak akhir 2007 adalah diberikannya tunjangan untuk 501.000 guru non-PNS yang mengajar di semua jenjang sekolah agama Islam. Mulai tingkat RA sampai aliyah. Tiap bulan, per orang memperoleh Rp 200.000. Total dalam setahun Rp 1,2 trilyun.

"Ini sudah menjadi tunjangan tetap tiap tahun," ujar Achmad Djunaidi, Kepala Biro Perencanaan Depag. "Karena banyak guru swasta di madrasah yang sudah mengajar belasan tahun tapi dengan imbalan di bawah Rp 100.000 sebulan." Tidak mudah, katanya, mengupayakan golnya alokasi tunjangan ini.

Namun, seberat-beratnya memperjuangkan anggaran, menurut Djunaidi, ada hal lanjutan yang jauh lebih penting dan berat. "Yaitu memastikan bantuan pendidikan itu tepat sasaran," katanya. "Semua orang tahu, birokrasi kita masih korup." Alokasi dana buat murid dan guru harus betul sampai di tangan mereka. "Jangan sampai mengendap di kantong ketua yayasan atau kepala sekolah," ujarnya.

Asrori S. Karni, Wisnu Wage Pamungkas (Bandung), Rosul Sihotang (Medan), Wayan Bakori (Denpasar), dan Antonius Un Taolin (Kupang)

Read More......

Roger, Roger, Intel Sudah Terkepung

oleh:Budi Setyarso

Sidang peninjauan kembali kasus Munir bakal menyeret petinggi Badan Intelijen Negara (BIN). Polisi akan menghadirkan sejumlah saksi kunci yang memastikan keterlibatan lembaga spion itu. Di depan hakim, para saksi berencana membeberkan pelbagai skenario untuk melenyapkan sang aktivis. Pelan-pelan keping demi keping misteri itu terkumpul. Tapi bisakah puzzle raksasa itu akhirnya utuh dan sang dalang diseret masuk bui?

DUA pria itu berbeda latar belakang. Yang satu mantan direktur utama sebuah perusahaan milik negara, yang lain bekas aktivis yang mengaku pernah jadi fotografer. Datang dari "gunung" dan "laut", keduanya pada Kamis pekan lalu bertemu dalam "belanga" bernama Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Di ruang tunggu lantai III mahkamah itu mereka dikelilingi enam polisi berpakaian safari dengan senapan M-16 terhunus: dua menjaga pintu, dua berdiri di tengah ruangan, dan dua lainnya mengawasi tangga. Puluhan anggota Satuan Tugas Antiteror bersiaga di luar ruang.

Pria pertama adalah Indra Setiawan, mantan Direktur Utama Garuda Indonesia. Di usia 56 tahun, wajahnya segar dan badannya tetap tegap meski sejak April lalu ditahan di Markas Besar Polri. Yang lainnya, pria gering 35 tahun, bernama Raden Muhammad Patma Anwar alias Ucok. Kepada polisi, ia mengaku sebagai agen muda Badan Intelijen Negara (BIN).

Sidang peninjauan kembali perkara pembunuhan aktivis Munir, yang digelar satu lantai di bawah ruang tunggu itu, rencananya bakal mempertemukan Indra dan Ucok dalam satu panggung. Keduanya sama-sama menyebut peran BIN dalam operasi pelenyapan Munir, 7 September tiga tahun silam. Sayang, menjelang makan siang, hakim menskors sidang atas permintaan tim pembela. Di bawah kawalan ketat polisi, keduanya digelandang meninggalkan mahkamah.

Pengakuan keduanya menjadi dasar Kejaksaan Agung mengajukan peninjauan kembali atas perkara ini. Sebelumnya, Oktober tahun lalu, Mahkamah Agung membebaskan Pollycarpus Budihari Priyanto, pilot senior Garuda terdakwa kasus ini, dari hukuman 14 tahun yang dijatuhkan pengadilan di bawahnya.

JULI 2004, dua bulan sebelum Munir mangkat. Di Restoran Bengawan Solo di lantai dasar Hotel Sahid, Jakarta, Indra Setiawan yang baru saja bertemu dengan beberapa kolega bergegas menuju meja Pollycarpus. Keduanya lalu bersalaman. Ia punya janji bertemu dengan sang pilot yang dikenalnya sejak 2003 itu. "Ia meminta waktu kepada saya untuk membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan operasi penerbangan," kata Indra kepada penyidik, 4 Juni lalu, seperti ditirukan sumber Tempo.

Setelah berbasa-basi sejenak, Pollycarpus memaparkan pelbagai kelemahan operasi penerbangan Garuda. Menurut Indra, Pollycarpus, misalnya, menyebutkan banyaknya penumpang yang menghilangkan paspor agar bisa mencari suaka ke negara lain. Pollycarpus juga menyebut adanya penumpang gelap tanpa tiket serta awak pesawat yang kerap menyelundupkan barang terlarang.

Pollycarpus, masih menurut Indra kepada polisi, menyatakan bersedia membantu menangani masalah itu. Lalu ia menyodorkan amplop tertutup kepada Indra. Isinya surat berkop dan distempel Badan Intelijen Negara, berklasifikasi rahasia, yang ditujukan kepada Direktur Utama Garuda itu.

Menurut Indra, surat itu ditandatangani oleh M. As'ad, Wakil Kepala BIN, dan ditembuskan ke Kementerian BUMN. Di situ tertulis, Garuda merupakan perusahaan yang vital dan strategis sehingga keamanannya perlu ditingkatkan. "Untuk itu, Pak As'ad meminta agar Pollycarpus ikut diberi tugas sebagai aviation security," kata Indra kepada polisi.

Kepada Tempo, Pollycarpus membantah adanya pertemuan itu. "Pilot dan direktur utama itu jaraknya sangat jauh, tak gampang saya bertemu Pak Indra. Apalagi bertemu di Hotel Sahid, bukan di kantor," ujarnya. Pertentangan bos dan anak buah ini membuat Mohammad Assegaf mundur dari posisinya sebagai pengacara Indra. Kini ia hanya mendampingi Pollycarpus.

Adapun pada 11 Agustus 2004 Indra mengeluarkan surat penugasan kepada Pollycarpus untuk menjadi staf perbantuan di unit corporate security. Ada empat tugas yang diberikan kepada Pollycarpus, antara lain memberikan rekomendasi solusi atas berbagai masalah, khususnya yang berkaitan dengan keamanan penerbangan dan urusan internal Garuda. Penugasan ini di luar kelaziman Garuda, karena diberikan tanpa melibatkan bagian personalia.

Berdasarkan surat itu, Pollycarpus mengubah jadwal penerbangan pada 6 September 2004. Semula ia dijadwalkan terbang ke Peking, Cina, pada tanggal itu, namun pindah ke penerbangan Garuda 974 menuju Singapura. Pesawat inilah yang ditumpangi Munir dalam perjalanannya menuju Amsterdam, Belanda. Di atas pesawat, Pollycarpus menawarkan tempat duduk eksekutif miliknya kepada Munir yang bertiket ekonomi.

Polisi menuduh Pollycarpus memindahkan Munir ke kursi eksekutif agar sang aktivis bisa cepat turun ketika transit di Bandara Changi, Singapura. Dengan begitu, tersedia waktu lebih panjang untuk mengakhiri hidup Munir. Jika tetap di kursi kelas ekonomi, penumpang butuh 10-15 menit untuk keluar pesawat.

Di pengadilan, Pollycarpus mengaku segera menuju Hotel Novotel Apollo bersama awak lainnya setelah pesawat mendarat di Changi. Tapi, seperti tertulis dalam memori peninjauan kembali, ada dua saksi yang melihat ia tetap berada di ruang transit bersama Munir. Mereka adalah Asrini Utami Putri, mahasiswi Indonesia di Jerman penumpang kursi 2J, dan Raymond "Ongen" Latuihamallo, pemusik yang duduk di kursi 50H.

Kepada polisi, Asrini mengatakan melihat Pollycarpus, Munir, dan Ongen di Coffee Bean. Mereka duduk menghadap ruang merokok dan money changer. Adapun Ongen menyatakan melihat Pollycarpus meninggalkan tempat pemesanan sambil membawa dua gelas minuman. Setelah itu, menurut Ongen, Pollycarpus dan Munir berbincang-bincang sambil minum.

Keterangan Asrini dan Ongen itu juga dijadikan bukti baru oleh kejaksaan untuk menjerat Pollycarpus. Jamuan di Coffee Bean itu diduga sebagai saat masuknya racun arsenik ke tubuh Munir. Itu sebabnya, setengah jam kemudian, ketika pesawat hendak lepas landas menuju Amsterdam, ia mulai merasa mual.

Di ketinggian 40 ribu kaki di langit Rumania, tujuh jam setelah pesawat mengudara, Munir tergolek di lantai beralaskan selimut. Dari bibirnya keluar air liur tak berbusa. Telapak tangannya dingin dan membiru. Malaikat menjemput ketika ia jauh di angkasa.

TELEPON Raden Patma berdering pada 7 September 2004 sore. Seorang aktivis mengabarkan bahwa Munir tewas di dalam pesawat Garuda. Ia segera meneruskan kabar ini ke Sentot Waluyo, seorang agen muda BIN, yang dijawab rekannya itu, "Biarin Munir meninggal."

"Ruang kerja Pak Sentot di Gedung K Direktorat 22 lantai 2, dekat toilet, dekat dengan kandang rusa. Saya sering membuat laporan di tempat kerjanya," kata Raden alias Ucok kepada polisi, seperti disampaikan sumber Tempo. Ia berusaha meyakinkan polisi bahwa dirinya benar-benar mengenal lingkungan BIN.

Ucok tak kaget atas kematian Munir. Kepada polisi, ia mengaku sudah terlibat sebelumnya dengan rencana pembunuhan Munir. Caranya, dengan pengamatan dan monitor, meneror, menyantet, dan meracun. "Munir harus dibunuh sebelum pemilihan presiden karena membahayakan," tuturnya, seperti tertulis dalam berita acara pemeriksaan polisi.

Operasi itu, menurut Ucok, melibatkan antara lain Manunggal Maladi, Deputi Kepala BIN Urusan Penyelidikan Dalam Negeri, dan Wahyu Saronto, Deputi Urusan Kontra-Intelijen. Ia bahkan mengatakan pernah bersama-sama Wahyu Saronto dan Sentot mencari rumah paranormal Ki Gendeng Pamungkas di Baranangsiang, Bogor. "Tapi tidak bertemu," katanya. Kepada Koran Tempo, Februari 2005, Manunggal membenarkan mengenal Sentot dan Ucok. "Sentot memang anak buah saya. Tapi secara kelembagaan baik saya maupun Sentot tidak berencana melenyapkan Munir. Ucok hanya informan dari Sentot. Pada 2003, dia pernah berniat mengganggu Munir. Tapi Sentot melarangnya," kata Manunggal. Adapun Wahyu Saronto tak bisa dikontak untuk dimintai konfirmasi.

Kepala BIN Syamsir Siregar membantah pengakuan Ucok. "Ia bukan orang BIN. Tangkap saja dia, bikin cerita saja," ujarnya menegaskan. Abdullah Makhmud Hendropriyono, Kepala BIN pada September 2004, juga menyangkal. "Santet-menyantet tidak ada dalam kultur kami," ujarnya.

Nama Ucok dan Sentot sebenarnya sudah muncul dalam pembicaraan internal tim pencari fakta (TPF) kasus Munir, sebuah badan yang didirikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menuntaskan misteri itu. Syahdan, seorang pensiunan jenderal yang kini jadi petinggi negara membocorkan kepada TPF empat skenario yang disiapkan intelijen untuk membunuh Munir. Keempatnya adalah meracun, menyantet, menabrak, mengebom aktivis itu. Sayangnya, "Kami tidak dapat mengidentifikasi secara konkret skenario itu, termasuk orang-orang yang disebut terlibat," kata Asmara Nababan, wakil ketua tim pencari fakta. Apalagi saat itu polisi masih "ogah-ogahan" menuntaskan kasus Munir. Walhasil, nama-nama baru itu lenyap begitu saja.

Sumber Tempo di BIN menyebutkan, Ucok direkrut oleh Sentot yang waktu itu KAUP I BIN. Tapi, menurut sumber itu, kredibilitas Ucok diragukan karena beberapa kali mengusulkan operasi palsu kepada atasannya. Untuk menangkis pengakuan Ucok, BIN kabarnya akan mengirimkan kesaksian tertulis Sentot kepada polisi. Di mana Sentot sekarang berada? Tak jelas. Seorang sumber mengabarkan Sentot kini bertugas di Gunung Kidul, Yogyakarta. Tapi pelacakan Tempo di kawasan itu hanya menemui jalan buntu. Adapun Ucok, yang ditemui di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, menolak berkomentar. Ia mengunci bibir ketika Tempo melempar pertanyaan.

INDRA Setiawan mulai panik dua bulan setelah kematian Munir, ketika sang aktivis dipastikan tewas karena racun arsenik. Kepada Pollycarpus, ia mengatakan ingin bertemu dan berkenalan dengan M. As'ad. "Baik, Pak, nanti saya hubungi dan mintakan waktu untuk Pak Indra agar bisa bertemu," kata Polly seperti dikutipkan Indra kepada polisi.

Beberapa hari setelah itu, Pollycarpus mengabarkan bahwa Indra akan diterima di kantor BIN, Pejaten Timur, Jakarta Selatan. Di markas spion itu, Indra mengaku ditemui seseorang yang belakangan ia ketahui sebagai Muchdi Purwoprandjono, Deputi Kepala BIN Urusan Penggalangan. Baru beberapa saat kemudian As'ad ikut bergabung.

Indra mengatakan sebenarnya ingin menanyakan kepada As'ad soal surat penugasan untuk Pollycarpus. Tapi, karena ada Muchdi, ia membatalkan niatnya. "Saya tidak kenal dengan beliau, jadi saya tidak menyinggung surat untuk Pollycarpus itu," kata Indra menjelaskan.

Setelah diperiksa polisi sebagai saksi pada awal 2005, Indra menyatakan pernah menghubungi As'ad. Ia bertanya, "Pak, kok jadi begini? Garuda dibawa-bawa." Menurut Indra, As'ad menjawab, "Nggak apa-apa, tenang saja. Pak Indra nggak usah khawatir, nanti bisa diselesaikan."

Kepada polisi, Indra mengatakan juga pernah menghubungi As'ad menanyakan arsip surat yang dikirim kepadanya. Pertanyaan itu dijawab As'ad dengan janji untuk mengecek. Beberapa hari kemudian, ketika bertemu di Hotel Shangri-La, Jakarta, As'ad memastikan kepada Indra bahwa arsip surat soal Polly sudah dimusnahkan.

Indra juga mengaku beberapa kali menelepon Muchdi—ketika para pejabat Garuda diperiksa, tatkala Pollycarpus ditahan, dan sewaktu Pollycarpus dituntut hukuman seumur hidup. Menurut Indra, semuanya dijawab Muchdi dengan kalem, "Nggak apa-apa, nanti bisa selesai, Pak Indra."

Di mana surat rahasia dari As'ad kepada Indra Setiawan itu disimpan? Menurut Indra, surat itu ikut raib pada saat mobil BMW-nya dibobol maling di Hotel Sahid, Jumat 31 Desember 2004. Ia mengatakan, surat itu disimpan di dalam tas, ditumpuk dengan aneka tagihan, majalah, alat tulis, juga tongkat pendek dan batu-batuan.

Diterima Indra dari Pollycarpus di Hotel Sahid, surat itu hilang di hotel yang sama. Hotel bintang lima itu memang tempat favorit Indra untuk menerima koleganya. "Ia datang ke tempat itu dua-tiga kali dalam sepekan," kata Antawirya J. Dipodiputro, pengacaranya.

Seorang anggota satuan pengamanan Hotel Sahid yang bertugas pada tanggal itu membenarkan adanya pencurian. "Saya langsung menghubungi Polsek Tanah Abang, karena itu tindakan kriminal. Selain polisi, petugas keamanan dari Garuda yang dihubungi Pak Indra kemudian juga datang," katanya kepada Tempo.

Sayang, Tempo belum berhasil memperoleh konfirmasi dari As'ad dan Muchdi. Telepon keduanya tak diangkat ketika dikontak. Orang-orang yang dikenal dekat dengan mereka pun tak bersedia menghubungkan Tempo dengan keduanya. Suara bantahan datang dari M. Luthfie Hakim, penasihat hukum Muchdi P.R. "Dari Pak Muchdi saya dengar bahwa pertemuan itu tidak pernah ada," katanya. Kepala BIN Syamsir Siregar bersuara lebih nyaring. "Surat dari Pak As'ad itu tidak ada. Masak, kami berani memerintahkan (direktur utama) BUMN," katanya.

Kesaksian Indra dan Ucok yang menjadi senjata andalan jaksa dipastikan akan mendapat tangkisan dari para pejabat BIN dan pengacara Pollycarpus di pengadilan. Untuk sementara, mereka juga akan terus dikelilingi beberapa lelaki dengan M-16 terhunus.

copyright TEMPO 2003

Read More......

Hari Kembang

Anthurium mengakhiri kemelaratannya. Apa yang membuat daun itu begitu bernilai hingga dihargai ratusan juta, bahkan miliaran rupiah? Benda seni atau epidemi kelatahan belaka?


Oleh Agus Sopian


Tiada penanda yang mewakili Dusun Gebung dalam peta, bahkan peta lokal sekalipun. Tempat itu memang tak sekelas kawasan Menteng atau Blok M di Jakarta. Ia hanyalah sebuah daerah terpencil di kaki lereng timur Gunung Lawu, tepatnya di Desa Katikan, Kedungalar, Ngawi, Jawa Timur.

Seperti dusun-dusun lain di sekitarnya, Gebung hampir tak pernah jadi subyek perbincangan untuk topik apapun. Tapi itu dulu. Kini, seolah menyimpan deposit emas bongkahan, orang berduyun-duyun ke sana, meski harus menempuh satu-satunya rute tak nyaman -- jalan desa sempit tak beraspal, penuh cekungan, dan sama sekali tak berlampu kala malam tiba. Mereka memang hendak mencari “emas yang lain”. Emas dalam bentuk lembaran daun. Anthurium.

Hariyanto, biasa disapa Hari, tiba-tiba saja jadi nama penting. Anthurium telah membebaskan dirinya dari kepompong kemiskinan. Ia kini warga terpandang di sana.Di rumahnya, di salah satu ujung jalan desa yang tak luas-luas amat, terparkir dua kendaraan roda empat miliknya untuk mobilitas sehari-hari. Sesekali beberapa truk sewaan menutup badan desa, tepat di depan sentra produksinya. Truk itu disewa untuk mengangkuti barang dagangannya ke berbagai daerah, terutama di Pulau Jawa. Dari Surabaya sampai Jakarta.

Sebagai orang kaya baru, ia tetap hidup sederhana. Paling tidak, Hari dan keluarganya masih tinggal di sebuah rumah yang hanya menelan lahan sekira 60 meter persegi -- sebuah rumah sederhana yang kusam dan jauh dari kesan modis.Ia sebenarnya bisa tinggal di rumah baru, sebuah loji yang telah dia sulap jadi semacam wisma. Bangunan ini berdiri di atas areal lahan sekira 120 meter persegi. Seluruh dindingnya terbuat dari kayu, dengan tiga kamar yang terbilang luas. Alasnya dihampari keramik mengkilap ukuran besar, dan selalu tampak bersih.

Hari justru memfungsikan lojinya untuk menerima tetamu dari luar daerah. Mereka terkadang diinapkan di sana. Hanya ini cara yang paling ia ketahui untuk memuliakan tamu. Di situ, mereka bisa bercengkrama dengan sejumlah pegawainya, dari pagi, sore, malam, hingga pagi lagi.

Halamannya yang luas digunakan untuk area transit bagi Anthuriumnya yang hendak diberangkatkan ke luar daerah, entah untuk suatu pameran atau kiriman rutin ke pelanggannya. Bale-balenya yang nyaman, terbuat dari kayu jati pilihan, digunakan sekaligus sebagai gardu jaga para asistennya.

Di sekitar loji, Hari membeli banyak lahan warga sekitar untuk kebunnya, termasuk lahan kuburan sinyo Belanda. Ia merawat kuburan itu dengan baik, dan selalu membersihkannya kapan waktu. Hari tak pernah mengenali jatidiri yang ditanam di dalamnya.

Di luar lahan yang telah dipetak-petak menjadi delapan kebun anthurium itu, Hari juga membeli hektaran lahan produktif di kampung lain. Sebagian sudah disulap jadi tanah pertanian, sebagian lagi menunggu sentuhan. Total jenderal, dengan semua kekayaan yang dimilikinya, tak ada alasan bagi Hari untuk mencemaskan situasi kelabu di hari depannya.

***

Jauh sebelum mengenal anthurium, Hari dibesarkan oleh masa-masa yang getir sejak lahir pada 3 Maret 1969 silam. Ia pengais bungsu dari sembilan bersaudara. Mereka, si sulung Sagi, diikuti Sadinem, Sunarni, Kimin, Sukidi, Atiek Sugiyanti, dan Lilik Setyadi. Hari anak delapan, sebelum bungsu Setiyono.

Ayah mereka, Sotaruno, hanyalah pegawai rendahan tanpa upah uang. Ia seorang Uceng atau Jogotirto, pamong desa setingkat Ulu Ulu yang bertugas mengatur pengairan. Honornya tanah bengkok, yang sama sekali tak bisa menghidupi keluarga, bahkan dirinya sendiri. Maka, di waktu-waktu luang, ia memburuh tani pada sejumlah orang kaya, selain membuat tepung daun akasia. Tepung ini lazim digunakan sebagai bahan dasar obat nyamuk bakar.

Jerih payah Sotaruno tetap tak mampu menutup kebutuhan keluarga. Tak ada pilihan bagi Kinem, istrinya, selain harus terjun bebas ikut mencari nafkah di sela-sela pekerjaan rumah dan merawat anak-anaknya. Kinem bergabung dengan ibu-ibu lain yang juga sama-sama bernasib papa untuk memburuh pada lahan baon (perkebunan) milik Perhutani Ngawi. Si kecil Hari acap menemani sang ibu, di dalam dan di luar rumah.

Hari sering diberi tugas untuk belanja kebutuhan harian ke warung terdekat. Ia juga mencuci piring, mencari air, menunggui nyala tungku api, ikut memasak.

Itu dari sang ibu. Tugas dari ayah lebih merepotkan lagi. Sejak usia 10 tahun, ia biasa dibangunkan ayahnya dinihari, sekitar pukul 02.00 atau 03.00. Dalam gelap, ia membawa bakul berisi tepung daun Akasia ke tengkulak di daerah Posluku, Kedungalar, yang berjarak sekira tujuh kilometer dari rumahnya.

Pukul 06.00 ia kembali ke rumah, dan bersiap ke sekolah. Ia belajar di Sekolah Dasar (SD) Negeri Jogorogo, sekira 16 kilometer dari rumahnya. Pada tahun-tahun awal, perjalanan itu ditempuh Hari dengan berjalan tanpa alas kaki. Beberapa tahun kemudian ayahnya punya rejeki hingga bisa membeli sepeda ontel.

Sepeda itu pula yang menemani Hari ke Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMP) Jogorogo. Orang tuanya mulai bernafas agak lega saat Hari mendapatkan beasiswa Supersemar, salah satu model pembiayaan bagi murid tak mampu di zaman Orde Baru dulu. Beasiswa itu diperolehnya sejak kelas 1.

“Saya selalu mendapat rangking pertama,” kata Hari tentang prestasi belajarnya di SMP. Peringkat ini memberinya kehormatan untuk mewakili sekolahnya mengikuti berbagai ajang lomba kecerdasan siswa, termasuk “cerdas cermat”. Hari dan kelompoknya berkali-kali jadi juara. Tak hanya di level antarsekolah dalam lingkup desa atau kecamatan, tapi juga kabupaten untuk memperebutkan trofi juara tingkat provinsi.

Predikat bintang pelajar tak lantas membuat Hari jadi istimewa di keluarganya. Ia tetap wajib bangun dinihari dan mengulangi semua kegiatan yang dilakukannya sejak pertama kali akil baligh. Belakangan ia juga kebagian order untuk mencari daun-daun akasia ke Hutan Kalibening, yang berjarak sekira 15 kilometer dari rumahnya.

Jika stok daun dirasa cukup, Hari ikut mencangkuli lahan baon Perhutani itu.

Liburan akhir pekan digunakan Hari untuk mencari kayu bakar di hutan yang sama, tempat ia memetik daun akasia. Ia kumpulkan ranting-ranting pohon kering untuk disatuikatkan, kemudian dipikulnya dalam perjalanan belasan kilometer.

Irama rutin macam itu sama sekali tak menyisakan waktu bermain, selayaknya bocah lain di dusunnya -- entah sekadar bermain sepakbola dengan jeruk bali yang telah digarang api atau berenang di kali. Malam-malam, dalam lelah, ia sering melamunkan rejeki dari langit. Lamunan yang terkadang membuat kelopak matanya sembab.

***

Hari lulus SMP pada 1986. Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Negeri di pusat kota Ngawi jadi pilihan berikutnya. Seperti saat SMP, beasiswa menyokong pendidikan Hari di sana. Dan seperti sebelumnya pula, ia masih bersepeda ontel dengan jarak yang kian bertambah. Jika sebelumnya 16 kilometer, sekarang ia harus mengayuh sekira 25 kilometer.

Untuk menaklukan jarak sejauh itu, ia biasa pergi subuh dan pulang sore. Terkadang perutnya kosong seharian, dan baru malam ia bisa bertemu nasi Sawut, makanan yang terbuat dari campuran beras dan parutan singkong.

Di hari lain, saat ekonomi keluarga benar-benar berada di titik nadir, Hari dan saudara-saudaranya hanya menyantap nasi Karang atau Aking, nasi pemberian tetangga yang dikeringkan lalu diolah lagi. Thiwul pun jadi sahabat karib perut mereka. Thiwul berasal dari ketela pohon yang dikupas, dibelah, dijemur sampai kering, lalu jadi gaplek, direndam dalam air selama 24 jam, diangkat, dijemur lagi kemudian ditumbuk hingga jadi tepung. Thiwul dengan kata lain adalah tepung singkong kasar yang dimasak.

Tak mudah dipahami dengan asupan gizi macam itu, Hari masih mampu menyandang predikat bintang kelas hingga lulus SPG. Kelulusan yang tak membuatnya seratus persen bahagia. Bayangan menganggur menggedor syarafnya kala pemerintah mengumumkan kebijakan baru bagi calon guru SD, bersamaan dengan penutupan seluruh SPG pada 1988. Calon guru SD sekurang-kurangnya diharuskan menyandang sertifikat kelulusan Diploma Dua (D2). Hari tak pernah membayangkan asal-asul biaya untuk kuliah. Lulus SPG saja sudah jadi prestasi luar biasa baginya.

Niatnya yang tebal untuk jadi guru memberinya tambahan tenaga untuk nekat pergi ke Surabaya. Dengan uang seadanya hasil memburuh, Hari mendaftar ke Institut Keguruan dan Pendidikan (IKIP) Negeri, yang sekarang menjadi Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Saat diterima, dengan cepat otaknya berputar untuk mencari biaya hidup. Ia memutuskan jadi loper suratkabar Birawa.

Rejeki loper tak mencukupi hidupnya. Jika korannya tak laku, ia habis-habisan mengirit. Dan seringnya begitu.

Hari kembali putar otak. Ia menemukan jalan lain untuk mendapatkan uang. Kini ia memberi les pada anak-anak orang kaya. Total ia mendapatkan 15 titik lokasi les tingkat sekolah dasar.

Ia menggunakan semua penghasilannya secara bijak. Makan sehari sekali. Baju cukup beberapa lembar saja. Tempat tinggal? Ia mengajak teman-temannya untuk patungan sebuah kamar. Maka -- bersama Katmono, Joko Santoso, Mali, Aris Wibowo, Puji Wuliyono dan Budi Winaryo -- Hari menempati petakan kamar sekira 3 x 4 meter persegi. Ia, seperti teman-temannya, bantingan Rp15 ribu per kepala saban bulannya. Mereka rela tidur berdempetan seperti ikan pindang.

Gerutuan paling banter terdengar sesekali, terutama pagi. Mereka harus rebutan mandi karena suplai air berhenti tepat pukul 10.00. Alhasil, mereka yang kesiangan, kehilangan jatah air untuk mandi. Jika esoknya kembali telat bangun, apes bisa sambung-menyambung. Hari sendiri merdeka sepenuhnya dari urusan macam itu. Ia terbiasa bangun sebelum ayam berkokok. Pukul 04.00, ia sudah mandi dengan air berlimpah.

Sehabis shalat subuh, ia pergi ke pasar untuk belanja kebutuhan sehari-hari, utamanya makan. Ia memang kebagian jadi bendahara merangkap tukang belanja. Hari sering geli sendiri mengingat polahnya sebagai bendahara. Hampir setiap hari, ia mark up nilai belanjaan, dari Rp 300 menjadi Rp 400. Uang kelebihan ini ia simpan rapat-rapat. “Berani sumpah, bukan untuk keperluan pribadi,” katanya terkekeh-kekeh. Lalu?

Saban akhir pekan, Hari mengajak teman-temannya dolanan ke kota. Di sana, Hari mentraktir temannya makan minum, minimal semangkok baso, senilai Rp 100 per orang. Teman-temannya senang, walau sebelumnya tak pernah tahu bahwa uang itu adalah milik mereka sendiri hasil “korupsi mini” ala Hari.

***

Hari kembali ke Dusun Gebung pada 1992. Setahun kemudian, ia mendaftar jadi guru honorer di SD Negeri Kasiman di Bojonegoro dan diterima dengan upah Rp125 per bulan. Uang sebesar ini tak cukup untuk membiayai hidupnya, apalagi keluarganya. Sang ayah sudah mulai sakit-sakitan dan makin tua. Demikian juga sang ibu.

Tak ada jalan lain bagi Hari selain lagi-lagi membanting tulang. Beruntung koperasi di desanya mau memberi Hari pinjaman lunak. Dengan uang ini, ia mendapatkan sepeda motor kreditan. Motor inilah yang kelak memotori hidupnya.

Tiap pagi, sekira pukul 05.00, Hari keluar rumah dengan membawa bakul besar berisi jerigen ke pasar. Jerigen ditaruhnya di tengkulak oli dan bahan bakar minyak (BBM) untuk diisi. Ia melanjutkan perjalanannya menuju sekolah. Habis berganti baju dinas, ia masuk kelas.

Pulang sekolah, jerigen yang telah berisi oli dan BBM itu dijemputnya. Kedua mata dagangan ini, pada tingkat minimal, bisa menyangga perut keluarganya. Endemi defisit baru menyergapnya saat Hari memutuskan untuk menyunting sesosok bunga desa pada 1996. Perempuan nekat yang mau diajak melarat ini bernama Mariyani. Ia memberinya seorang anak perempuan, Maharratri Rany Phusphi Rumanti, pada 1997.

Sadar mulut yang harus disuapi Hari bertambah, ia melapis kekuatan ekonominya dengan menyewa sebidang tanah untuk dijadikan lahan pesawahan. Ia juga membuka toko kelontong kecil-kecilan yang menyediakan kebutuhan rumah tangga alakadarnya.

Dengan penghasilan dari berbagai jurusan itu, seharusnya Hari sudah mampu membiayai keluarganya. Garis nasib berkata lain. Sejak menikah, Hari keranjingan tanaman hias. Terkadang honornya sebagai guru ludes sama sekali untuk hobinya itu. Parahnya lagi, “nafkah psikologis” pun jarang Hari berikan pada istrinya. Saat malam tiba, Hari lebih memilih mencumbui tanamannya.

Pada titik ekstrem, kelakuan Hari bukan hanya menerbitkan bara api di lingkungan keluarga, tapi juga jadi topik pembicaraan sengit tetangganya. Hari dianggap kurang waras. Teman-temannya, yang meronda kampung, sering meneriakinya gila. “Istrimu keloni tuh,” ujar Aman Santoso, teman sepantarannya. “Saya memang hampir tak pernah ngeloni istri lagi,” Hari menimpali. “Bahkan saya hampir tak pernah tidur.”

Jangan harap siangnya Hari punya waktu untuk keluarga. Sehabis mengajar, Hari terkadang keluyuran mencari tanaman untuk tambahan koleksinya. Seringnya, ia nongkrong di Pasar Kasiman. Ia bersahabat Mbah Podo, seorang pria paro baya asal dari Tawangmangu.

“Ada yang baru Mbah,” Hari bertanya pada Si Mbah pada suatu siang, dalam bahasa Jawa halus.

“Ini saya bawa ‘Atrium’. Tapi mahal harganya.”

“Sekedap ya. Nanti saya carikan dulu uangnya,” Hari meminta waktu saat diberi tahu harganya Rp525 ribu untuk dua pohon ‘Atrium’ itu.

Sampai di rumah, tanaman yang sama sekali tak populer itu membayangi setiap langkahnya, seperti ia mengingat Mariyani di masa-masa pacaran. Ia berusaha mencari uang kesana-kemari, dan akhirnya kembali berakhir di koperasi di desanya. Ia dipinjami Rp 200 ribu. Setelah ditambahi uang honor dan simpanannya, Hari mendatangi Mbah Podo dan menanyakan tanaman itu.

Mbah Podo, menyanggupi niat Hari untuk membeli “Atrium”. Dari Tunas Jaya Sejati, sebuah nursery di Sragen, Mbah Podo mendatangkan pesanan Hari, yang belakangan ini dikenal sebagai “Anthurium” dan kini menjadi emas hijau bagi ribuan petani di Jawa Tengah.

Anthurium, berdasar sejumlah literatur, mengacu pada tanaman berdaun tebal, yang secara harfiah diartikan sebagai “tanaman bunga ekor pendek”. Nama Anthurium dibangun dari tiga suku kata dalam bahasa Yunani: anthos (bunga), aura (ekor) dan ion (ukuran kecil).

Bunga Anthurium di kalangan penggemarnya lazim disebut tongkol. Satu pohon Anthurium induk, yang telah berumur cukup tua, bisa menghasilkan empat atau lima tongkol. Satu tongkol, bisa berbuah 5.000 – 10 ribu biji.

Anthurium termasuk tanaman berstamina tinggi. Ia bisa tumbuh di mana saja, asal memiliki kelembaban yang cukup. Pohon Anthurium, sebagaimana di negeri asalnya -- kawasan tropis Amerika Tengah dan Amerika Selatan -- memerlukan kelembaban nisbi 60-90. Kelembaban ini, secara sempurna ditemukan di daerah sekitar lereng Gunung Lawu, mulai Karanganyar, Magetan, hingga Ngawi.

***

Tanaman hias koleksi Hari sudah besar-besar dan siap menghasilkan uang. Maka, pada 2000, ia mulai berbisnis tanaman. Bisnis ini memberinya julukan baru. Orang-orang di dusunnya, dari petani hingga tukang ojek, menyebut dia “Hari Kembang”.

Tak ada perubahan berarti. Tanaman itu tak memberinya kecukupan hidup. Anthurium yang sudah melahirkan ribuan benih dan jadi pohon-pohon remaja, sampai tahun 2002 hanya laku Rp10 ribu per pohon. Praktis, Hari tetap bersandar pada bisnis oli dan BBM, honor guru, juga kios kecil di depan rumahnya.

Sebagian di antaranya ia sisihkan untuk merajut mimpinya mendapatkan gelar master akademik. Ia mengikuti Strata Dua (S2) di Universitas Islam Malang, Jawa Timur, sekira 45 kilometer dari tempat tinggalnya.

Belum setahun setelah mendaftar S2, Hari merasakan adanya gejolak dalam bisnis Anthurium. Pemasukannya mulai bertambah. Bersamaan dengan tuntasnya S2 hingga Hari berhak atas gelar master dalam ilmu pendidikan, bisnis Anthurium bergolak. Jalan desa menuju dusunnya tiba-tiba lebih sibuk dari biasanya. Pembeli dari berbagai kelas sosial datang dengan beragam moda kendaraan, mulai ojek, mobil carteran hingga kendaraan pribadi dan dinas.

Penduduk di sekitar kediaman Hari terperangah. Dalam tempo cepat, wabah Anthurium menyebar ke seantero kampung, dusun, kecamatan dan seterusnya. Banyak orang sedusunnya membeli bibit dari Hari dan mulai mengadu peruntungan.

Gelombang pembeli itu direspon Hari dengan tangkas. Ia keluar dari Dusun Gebung untuk mencari spesies dan varian lain guna melengkapi koleksinya, sekaligus memperbanyak kultivar. Spesies Hokeri dan Jenmanii segera masuk kebunnya untuk dibiakkan. Jenmanii, dengan beragam variannya, adalah sumber kekayaan luar biasa bagi banyak petani. Satu induk bisa berharga puluhan hingga ratusan juta rupiah. Bahkan Yoe Kok Siong, pemilik Kaliurang Garden Center, di Yogyakarta, sempat membandrol varian Jenmanii Supernova hingga seharga Rp1 miliar.

Hari sendiri tak silau mata oleh itu. Ia tetap memainkan Gelombang Cinta, dan belakangan Hokeri. Pancaragam kultivar dan varian, ia hasilkan dari dua tanaman yang menjadi trade mark-nya selama ini. Dari Gelombang Cinta, ia melahirkan varian Jagger, Brassiliano, dan King. Dari Hokeri lebih banyak lagi. Beberapa di antaranya adalah Red Devise, Red Cobra, Dark Green, Pagoda, Silver Green, Supernova, Twister, Garuda Beauty, Lemon, Varigata, Green Cobra, Black Cobra, dan seterusnya.

Varian-varian tersebut mengokohkan namanya menjadi pemain besar dalam agrobisnis Anthurium. Itu pula yang membawa namanya menanjak, sekaligus jadi langganan juara sejumlah kontes tanaman hias, terutama di Jawa Timur.

Rejeki yang berlimpah tak membuat diri Hari lupa diri. Ia tetap fokus pada cita-citanya untuk mengejar Strata Tiga (S3). Ia mendaftar di Universitas Merdeka Malang, dengan mengambil ilmu sosial. Hendak pindah profesi dari guru? “Tidak. Saya tak akan menghianati guru,” kata Hari, sebagaimana ditirukan Wisnu Purbo, asisten Hari. Menurut Wisnu, Hari mungkin akan mencatatkan diri di Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai guru SD bergelar doktor.

Kegiatan kuliah Hari menyita banyak waktunya. Terkadang ia tiba di rumah menjelang larut malam. Namun, ia masih tetap dapat mengontrol seluruh aktivitas bisnisnya melalui telepon genggam. Ia tangkas menjawab pertanyaan pelanggan atau siapa saja, baik dengan melalui short message service (SMS) atau percakapan langsung. Lebih-lebih setelah nomornya ia taruh pada seluruh iklan display di berbagai media massa.

Menjelang tidur, ia menyempatkan diri untuk berdiskusi dengan orang-orangnya yang meronda di depan loji. Selebihnya, ia memantau seluruh kebunnya via CCTV (closed-circuit television) yang dipasang di depan rumahnya, menempati ruang kecil bekas kios oli. Perangkat ini memonitor sedikitnya 16 titik di kebun-kebunnya. Hari tak tahu berapa nilai perangkat itu. Ia mendapatkannya dari barter dengan Anthuriumnya.

Medio 2007, sebagai salah satu pemain besar, Hari makin kelimpahan uang. Pada Juli misalkan, ia pernah mendapatkan penghasilan puluhan juta per hari. Dan ini bukan klimaks. Momentum paling berkesan justru lahir sebulan kemudian. Pada 3 Agustus 2007, seorang pengusaha asal Semarang mendatangi rumahnya. Ia Cik Lin, seorang kolektor Anthurium terkemuka.

Cik Lin tertarik pada Anthurium Hokerii Supernova milik Hari. Tawar-menawar berlangsung. Mereka sepakat Rp265 juta. Cik Lin menyerahkan Panther Touring dan menghargainya Rp205 juta. Sisanya, 60 juta ia bayar tunai. Dengan tangan gemetar, Hari menerima satu kresek uang, yang telah diikat karet gelang satu per satu dengan rapi. Ia tak sanggup menghitungnya. Bola matanya berkaca-kaca. Semalaman ia menunaikan sujud syukur kepada Sang Khalik.

***

Humidity meter menunjukkan angka kelembaban 81, dengan suhu 24ÂșC. Akhir Maret 2008, langit di atas Ngawi terlihat cerah, angin berembus pelan mencumbui bibit-bibit Anthurium di halaman loji milik Hari. Semuanya tertata rapi. Sebagian masih berkumpul dalam kotak stirofom, sebagian lagi sudah diberi starter pot. Beberapa kultivar dan varian baru belum lagi diberi nama.

“Panjenengan mau sumbang nama?” Hari bertanya. Saya hanya menggelengkan kepala. Selebihnya, mengkritik nama “tembakau” untuk salah satu varian yang hendak diluncurkan di Surabaya. Saya memendam argumentasi kritik itu di dalam hati, bahwa seperti juga julukan untuk varian Jenmanii Sawi, Nangka, atau Kol Buntut, kosakata “tembakau” mengambil-alih entitas tanaman lain secara semena-mena, seolah-olah kita sedang berada di ambang krisis simbol bahasa.

“Mungkin bisa dicarikan nama lain,” kata saya, seraya terus mengamati tiap nama yang diterakan pada bibit-bibit Anthurium itu. Seluruh bibit sedang disiapkan untuk mengikuti sejumlah pameran. Tiga di Jakarta, satu di Surabaya. Hari memang punya gairah tinggi untuk terus mengikuti pameran. Dalam sebulan, Hari bisa mengikuti dua atau tiga pameran. Pada awal April 2008 saja, Hari mengirimkan tiga truk untuk tiga daerah di Jakarta: Depok, Cibubur dan Taman Mini.

Di ajang pameran, juga kontes tanaman hias, nama Hari berkibar bersama bendera perusahaannya, Maharani Garden.

Sampai sejauh ini, pendapatan Hari dari pameran termasuk yang tertinggi. Di Senayan Jakarta, misalkan, walau harus bersaing dengan sedikitnya 400 stand, Hari berhasil mengeruk pemasukan lebih dari Rp100 juta dalam sepuluh hari. Sebanyak Rp80 juta di antaranya uang tunai.

Menurut Wisnu Purbo, koordinator pameran Hari untuk Senayan, andai saja pihaknya mendapatkan lokasi stand yang strategis, pemasukan bisa digenjot lebih tinggi lagi. “Kami datang sedikit telat. Stand di baris depan sudah habis.” Maharani Garden akhirnya kebagian stand bernomor 300-an, dengan harga Rp4 juta. Masih untung, kata Wisnu lagi, stand bernomor buncit itu tak membuatnya jeblok. Alih-alih demikian, pemasukan Maharani Garden masih sanggup melampaui target.

Bukan perkara mudah untuk memperoleh omzet sebesar itu. Tren pasar memperlihatkan adanya gejala kelesuan dalam beberapa bulan terakhir ini. Saturasi dimulai sejak booming Anthurium mencapai klimaksnya di bulan Nopember 2007 lalu.

Di masa penuh gejolak, yang mulai berlangsung sejak Juli 2007, semua tampak indah. Bisnis Anthurium berkilau laksana berlian 24 karat. Orang dari berbagai kalangan masuk ke dalamnya. Adjie, pengusaha material bangunan di Salatiga, menaruh sekira Rp200 juta untuk pemburuan induk dan bibit berkualitas. Ginting Sri Kusmayadi, pengusaha furnitur di Solo, banting setir ke Anthurium. Bayan Tarso, pamong desa di Karanganyar, melupakan dulu bisnis kendaraannya sebagai makelar. Ia total terjun ke Anthurium dan dari sana ekonominya beranjak naik. Ia bahkan bisa mengupah sampai 100 orang untuk berbagai pekerjaan, mulai renovasi rumah hingga membangun fasilitas sentra produksi Anthurium.

Transaksi-traksasi heboh terdengar di sana-sini. Varian Gelombang Cinta Air Mata Bunda milik Rina Iriani, bupati Karanganyar, tembus sampai Rp500 juta lebih ketika berlangsung pameran Anthurium di Lapangan Banteng, Jakarta, pada 2007. “Itu setelah saya ganti namanya,” kata Iriani dalam suatu perbincangan di kediamannya, di Karanganyar. “Air Mata Bunda” mengacu pada Anthurium yang suka mengeluarkan air saban pagi atau sore. Bukan sesuatu yang ajaib, sebenarnya. Air yang keluar di lekukan pinggiran daun, sesungguhnya gejala biasa akibat banyaknya kandungan air. Dunia botani menyebut hal itu sebagai “gatusi”.

Iriani tak tertarik dengan nama itu. Ia memberikan nama baru untuk Anthurium yang memiliki gejala gatusi itu dengan nama baru: “Tirtowulung”. Nama baru yang memberinya hoki luar biasa.

Gejolak transaksi makin tak tertahankan. Demand tak lagi sebanding dengan supply. Pamor Anthurium menanjak hingga mencapai harga yang nyaris tak bisa diterima akal sehat. “Jenmanii Supernova bisa seharga Kijang Inova,” kata Rina Iriani dalam nada bercanda.

Tak hanya seharga Inova sesungguhnya, tapi bahkan Jaguar, BMW atau sebut mobil mewah lainnya. Santer tersiar kabar, di Desa Nglurah, Tawangmangu, pengusaha Wijaya asal Bali, membeli satu pohon varian Anthurium Jenmanii senilai Rp 1,4 miliar. Di Yogyakarta, pengusaha rokok Bambang merogoh Rp1,5 miliar untuk satu pohon varian yang hampir sama. Di Solo, kebun Ginting Sri Kusmadi, yang dikonsep hingga sekelas “galeri”, ditawar Rp4 miliar.

***

Magnet bisnis Anthurium terus melebar, dan menyedot pesona siapa saja. Di Lereng Gunung Lawu, Anthurium menjadi kendaraan bisnis banyak orang untuk menjelajahi impian terdalam mereka. Kandang-kandang domba atau kerbau belakangan berubah jadi kandang-kandang Anthurium. Tak sedikit orang menjual binatang peliharaannya demi mendapatkan induk bermutu untuk pembibitan.

Di Karanganyar saja, sedikitnya terdapat 1.200 petani yang ikut bermain. Data ini tereksplorasi dari catatan pemerintah setempat, yang membulatkan tekad untuk membina mereka secara intens. Ekstensifikasi ini memberi Karanganyar julukan baru: Kabupaten Anthurium.

Bupati Karanganyar Rina Iriani mengungkapkan, Anthurium telah mengubah nasib banyak petani di desanya. “Orang naik haji hampir seluruhnya dari jualan daun, ” kata Rina. “Daun” yang dia maksud merujuk pada pohon Anthurium.

Iriani juga memberi data lain untuk melukiskan kemajuan daerahnya dalam beberapa tahun ini. Menurut dia, terdapat beberapa indikator yang menunjukkan peningkatan ekonomi warga. Salah satunya peningkatan pendapatan per kapita. Jika tahun 2003 pendapatan itu Rp3 juta per kepala, pada 2007 naik menjadi Rp7 juta. Kepemilikan kendaraan bermotor pun menurut Rina, meningkat secara signifikan. Di Karanganyar sekarang, sedikitnya terdapat 1.900 roda empat atau naik sekitar 1.000 dalam tiga tahun terakhir.

Itu yang tercatat. Rina sendiri skeptis dengan jumlah itu. Dalam perkiraan dia, jumlah kepemilikan bisa lebih tinggi dari catatan resmi, mengingat dealer-dealer kendaraan bermotor di Jawa Timur belakangan jauh lebih mengunggulkan Karanganyar ketimbang Solo, yang semula dianggap garda bisnis terdepan kendaraan bermotor di selatan Jawa Tengah. “Di sini sudah biasa orang meninggalkan motor atau mobil untuk ditukar daun,” kata Rina lagi. Kendaraan-kendaraan begini belum lagi terdata secara keseluruhan.

Apapun, geliat agrobisnis Anthurium di Karanganyar dan sekitarnya bukannya tak mendatangkan resiko. Di banyak lereng Gunung Lawu, habitat pakis bisa dibilang berantakan. Orang menebang semau-maunya untuk dijadikan media Anthurium.

Pakis memang dapat dikatakan sebagai salah satu media paling porus untuk tanaman Anthurium. Porus adalah istilah para petani Anthurium untuk mengatakan terjaganya sistem drainase air serta sirkulasi udara di sekitar akar. Pakis dapat segera membuang air yang dituangkan ke dalam pot, sehingga ancaman busuk akar dapat terhindarkan.

Kecenderungan penggunaan pakis secara massif itulah yang antara lain diduga menjadi penyebab utama longsor di daerah Karanganyar. Episentrum bencana ini, yang berlangsung akhir 2007, berada di Dusun Mogol, Desa Ledoksari, Tawangmangu, Karanganyar, salah satu sentra produksi Anthurium. Puluhan Anthurium Jenmanii bernilai miliaran rupiah tertimbun longsor. Ratusan rumah terkubur, 37 orang tewas.

Hari sejak lama sadar, persediaan pakis lambat laun akan menipis dan habis sebelum peremajaan dimulai. Itu sebabnya, Hari memilih untuk menghindari media tersebut. Ia mengembangkan sendiri media Anthurium, yang kesemuanya berasal dari sampah pertanian.

Sampah itu didominasi oleh batang dan kulit kedelai, yang dicampur sekam. Sebagian sekam di antaranya dibakar dulu. Ke dalam adonan tersebut, Hari menambahkan tahi domba dalam presentase yang kecil. Seluruhnya diolah sedemikian rupa sehingga bisa menjadi media yang tak kalah porus dari pakis.

Pengolahan berlangsung secara manual. Untuk mendapatkan fermentasi yang cukup, Hari menimbun campuran tersebut selama beberapa hari, setelah sebelumnya diberi fungisida secukupnya. Di salah satu kebunnya, terdapat onggokan-onggokan bakal media tanam yang berasal dari beberapa truk material dasar.

Penolakan Hari terhadap media pakis memberi berkah tersendiri. Ia makin piawai mengolah media buatannya, dengan tingkat kesehatan prima pada seluruh tanamannya. Pertumbuhannya pun terbilang jauh lebih cepat, dan lebih dari itu medianya dapat didaur ulang dengan mudah. Hari tahu, media tersebut kelak akan memberi nilai ekonomis pada pendapatannya di hari depan.

***

Sebuah iklan terbaca di tabloid tanaman hias Hobiku edisi awal Mei 2008. Tertulis di sana, sebatang pohon induk anthurium varian Jenmanii Supernova dijual Rp375 juta. Awal Maret 2008, pohon yang sama -- sekurang-kurangnya panjang daun berkisar 130 cm dengan kisaran usia antara 12-13 tahun -- dibandrol seharga Rp525 juta.

Perjalanan harga itu segera memberi megafon terhadap rumor yang berkembang dalam tiga bulan terakhir ini, bahwa harga anthurium sedang mengalami penurunan dramatis. Indikator penurunan antara lain terlihat pula dari harga biji, yang galib disebut “OC”. Harga OC varian Jenmanii Supernova, yang gila-gilaan dalam kurun Juli – Nopember 2007 itu, misalkan, kini paling banter hanya sekira Rp50-70 ribu per biji.

Saturasi paling mengharukan diderita para petani anthurium spesies Gelombang Cinta (Wave of Love). Kini harga indukannya terjun bebas ke kisaran Rp30-40 juta. Sejumlah pedagang yang cemas malahan tak keberatan melepasnya di bawah harga tersebut hingga kisaran Rp10-15 juta. Dulu, setidaknya sekira enam bulan ke belakang, harga induk Gelombang Cinta bisa mencapai Rp200 – 300 juta.

Antiklimaks dimulai Desember 2007, yang sekaligus menandai berakhirnya pesta besar. Beberapa petani, sebagaimana dapat dilihat dalam berbagai media yang memantau seluk-beluk tanaman hias, ramai-ramai melelang barangnya.

Banyak yang mengatakan, bisnis Anthurium hingga sejauh ini cenderung berada di “pasar semu”. Dari analisa sementara, transaksi gila-gilaan di masa booming itu cenderung berkisar di antara pedagang, kolektor dan kolekdol. Istilah yang disebut terakhir mengacu pada mereka yang mengoleksi sebentar, lalu “didol” alias dijual lagi. Dunia seni biasa menyebutnya situasi “goreng-menggoreng”. Harga diolah sedemikian rupa hingga melahirkan sentimen pasar yang sensitif.

“Harus ada standarisasi,” kata Bona Ventura Sulistiyana, ketua Komunitas Anthurium Indonesia (KAI), dalam suatu rapat di Solo, Maret 2008. Rapat yang digelar malam hari ini, berlangsung di Flora Flori Garden, sentra produksi milik Ginting Sri Kusmayadi, anggota dewan pakar komunitas tadi.

Wacana untuk mengupayakan standarisasi harga bukan kali itu saja mereka bicarakan. Dalam berbagai kegiatan yang digelar KAI, wacana tadi terus dihembuskan. Apa boleh buat, imbauan KAI tenggelam di antara rimbunnya pohon-pohon Anthurium.

Bagi sebagian pedagang, standarisasi merupakan hal yang irrelevan dalam bisnis Anthurium. Lebih dari semata komoditas bisnis, Anthurium dinilai sebagai benda seni. Tak sedikit suara yang mendukung penilaian tersebut, sungguhpun sebagai benda seni, Anthurium sama sekali tak memiliki basis filsafat yang ajeg, genealogi, juga apa yang disebut Russell Ferguson sebagai “cultural politics of difference” -- suatu sikap kreatif untuk menimbang secara kritis benda-benda atau pemikiran seni.

Di pihak lain, banyak pihak yang merasa tak harus mendengarkan suara KAI, yang notabene tak bisa merepresentasikan petani, pedagang pun penggemar Anthurium di Indonesia. Data sampai Mei 2008 memang memperlihatkan anggota KAI kebanyakan tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sangat sedikit yang berada di Bandung, Jakarta, apalagi wilayah lain di Pulau Jawa.

Bisa dipahami bila suara KAI di daerah-daerah yang disebut terakhir nyaris tak bergaung. Jadinya beragam kontes dan aktivitas bisnis Anthurium berpulang pada individu-individu. Dari sini saja, sangatlah masuk akal kalau imbauan standarisasi harga, hampir tak pernah menemukan muaranya.

Hari punya cara lain untuk mengatasi kerasnya bisnis ini. Ia lebih banyak mendidik konsumennya untuk mencintai tanaman ketimbang membius mereka dengan mimpi-mimpi untuk menjadi kaya dengan Anthurium. Misi ini memerlukan visi manajemen yang lebih cair, dengan mengasumsikan perusahaannya sebagai payung dari suatu kumpulan keluarga besar.

Hari menempatkan asisten, karyawan, pelanggan, atau malahan pembeli sambil lalu, sebagai stakeholder Maharani Garden. Mereka satu keluarga. Bisa dipahami jika Hari melepas bibit Hokerinya seharga Rp10 ribu kepada para pemula Anthurium. Ia bahkan rela diutangi. “Uang belakangan. Transfer aja,” ujar Parno, salah seorang asisten Hari, kepada salah seorang pembeli dalam suatu pameran di Jakarta, dalam nada ramah. Pembeli itu sama sekali bukan pelanggannya. Ia bahkan baru dikenal.

“Maharani itu bukan perusahaan. Hanya bakulan kembang,” demikian Hari mewanti-wanti karyawannya untuk tak kaku dalam proses negosiasi harga. Cara ini efektif. Pelanggan Hari terus bertambah dari hari ke hari. Pada saat yang sama, kecintaan Hari pada tanaman menular ke berbagai pihak yang sempat bersentuhan dengan dirinya. Yudi, sopir pribadi Hari, misalnya, merawat sdikitnya 400 bibit Anthurium. Belum ada bayangan apakah itu akan menjadi benteng ekonominya di masa depan atau tidak. Sementara ini ia hanya ingin merawat dan membesarkannya.

Di mata Hari, kecintaan pada tanaman perlu disebarluaskan. Sampai sejauh ini, menurut Hari, bisnisnya tumbuh besar lebih sebagai ekor kecintaannya -- suatu kecintaan yang mendatangkan berkah. Itu sebabnya, Hari tak mencemaskan betul jika kelak bisnis Anthurium merosot ke titik paling parah hingga sama sekali tak bernilai bisnis.

“Saya akan terus mencintai tanaman,” katanya. Kecintaan ini pula agaknya yang mengerem nafsu Hari ketika orang menawari Rp100 juta untuk Anthurium Gelombang Cinta yang dia dapat dari Mbah Podo dulu. “Ini sejarah. Tidak dijual,” katanya sambil menunjuk dua batang pohon di salah satu pojokan kebunnya di belakang rumah. Kedua Anthurium tua itu menempati pot yang terbuat dari drum bekas, dengan cat yang sudah melepuh di sana-sini.

***

Jakarta, Mei 2008. Sebuah pameran berlangsung di Padepokan Silat di kawasan Taman Mini Indonesia Indah. Maharani Garden hadir di sana, menempati stand mahal tepat di pintu masuk. Sejak hari pertama, Wisnu dan Parno, yang mengoordinasikan pameran tadi, terlihat sibuk menata pajangan seraya menemani calon pembeli yang bertanya ini-itu. Mereka melayaninya dengan tekun dan sabar.

Ada yang tak biasa dalam pameran Maharani Garden kali ini. Mereka tak hanya memamerkan pohon-pohon Anthurium, dari bibitan sampai remaja. Mereka juga membawa sejumlah karung yang berisikan media tanaman. Media tersebut langsung didatangkan dari Ngawi, dan diberi label “Maharani Garden”. Dalam setiap kemasan tertulis, bahwa media tanaman ini cocok untuk hampir semua tanaman hias: mulai Philodendron, Aglaonema hingga Anthurium.

Sepekan sesudahnya, saya tak melihat lagi gunungan media tanaman tadi. Orang berebut membelinya. Pisau bisnis terbaru Hari mulai menikam.

Read More......