Jumat, 26 Juni 2009

Menulis untuk radio

Oleh Alan Little
Bagian I
Allan Little (AL):
Saat saya masih seorang mahasiswa di Edinburgh, suatu kali saya
menyerahkan essay yang saya tulis secara tergesa-gesa tanpa menggali
bacaan latar belakang lebih dalam. Tutor saya memeriksanya, lalu
mengembalikannya kepada saya dengan satu komentar yang tetap melekat
di benak saya seumur hidup. “Kalimat-kalimat anda tersusun dengan baik”,
tulisnya, “tetapi isinya hampir tak ada.”

Hal itu kemudian menjadi Pegangan Utama saya untuk mencapai penulisan
yang baik dan efektif; yaitu harus ada hal penting yang disampaikan.
Saya punya Pegangan penting yang kedua. Salah satu bos saya pernah
mengatakan bahwa dia perhatikan ada hal khas dari para wartawan yang
bekerja dengannya – mereka yang tulisannya bagus biasanya selalu tampak
membawa buku ketika datang menghadapnya.

Bila anda ingin menjadi penulis yang baik, anda harus banyak membaca buku
dan tidak hanya koran. Untuk menggunakan bahasa dengan baik, anda
harus mencintai bahasa itu. Jadi, setiap hari sisihkanlah waktu untuk
membaca. Bacalah puisi, bacalah secara perlahan, perhatikan bagaimana
penulisnya menggunakan bahasa sesuai dengan kebutuhannya.

Petikan berikut adalah satu pidato terkenal dalam sejarah bahasa Inggris.
(Klip: Winston Churchill, pidato untuk House of Commons – 4 Juni
1940)
“Kita harus terus maju sampai tujuan. Kita akan bertempur di Prancis.
Kita akan bertempur di laut dan samudra. Kita akan bertempur dengan
kepercayaan diri yang makin besar dan tegar di udara. Kita akan
mempertahankan pulau kita, tak peduli berapa besar taruhannya. Kita
akan bertempur di pantai. Kita akan bertempur di darat. Kita akan
bertempur di lapangan dan jalanan. Kita akan bertempur di bukit-bukit.
Kita tidak akan pernah menyerah”.

AL: Apa hebatnya pidato itu? Mengapa sangat menggemparkan? Ed Murrow
mengatakan bahwa Churchill menggerakkan Bahasa Inggris dan mengirimnya
ke medan perang. Namun mengapa prosanya begitu efektif? Dalam satu hal
dia menggapai sampai dalam ke bagian yang paling tua dari bahasa Inggris,
ke bagian inti Anglo Saxon yang solid dan menghindari kata-kata seperti
misalnya eschew (catatan: ‘eschew’ adalah kata yang jarang dipakai dalam
komunikasi umum, tidak akrab dalam penggunaan sehari-hari. Artinya
menolak atau menghindari).

Konon Churchill tidak tertarik pada bahasa Latin maupun Yunani di sekolah dan bagi saya, prosanya sangat mengena dan tepat pada sasaran, tepatnya karena tidak dibalut dalam bentuk klasik dan berbelit.
2
Churchill lebih menyukai kata-kata yang terdiri dari satu suku kata. “ Kita
akan bertempur di lapangan. Kita akan bertempur di bukit-bukit. Kita akan
maju terus sampai tujuan.” (catatan: bertempur dalam bahasa Inggris fight
– satu suku kata). Jadi buatlah tugas untuk anda sendiri – tulis kembali salah
satu dari skrip lama anda dan gunakan kata-kata yang pendek.

Ini akan memaksa anda untuk berpikir berbeda tentang bahasa. Ini akan memaksa
anda berpikir mengenai cara anda memilih dan mengkombinasikan kata-kata.
Ini akan memaksa anda untuk mencari cara lain melalui bahasa untuk
mencapai tujuan yang sama.

Pegangan Penting yang ketiga adalah memahami medianya. Menulis untuk
radio tidak sama dengan menulis untuk televisi, dan berbeda juga dengan
menulis untuk media cetak. Di televisi, kata-kata yang dipilih untuk dipakai
dalam skrip jangan sampai sama dengan apa yang sudah tampak dalam
gambar. Kata-kata harus melengkapi apa yang tampak dalam gambar.

Diradio, kata-kata dan efek suara harus menyatu sebagai narasi dan
mencitrakan suatu gambaran. Dengarkanlah artikel Mike Donkin tentang
perburuan anjing laut di wilayah Inuit Kanada. Dengarkan bagaimana dia
menghemat kata dalam penulisan skripnya. Perhatikan bagaimana dia
dengan kata-kata yang tidak berlebihan memberi gambaran yang sangat
jelas.

(Reportase tentang wilayah Inuit Kanada oleh Mike Donkin -
disiarkan oleh program TODAY, Radio 4 BBC, 31 Maret 1999)
Mike Donkin (MD):
Menjelang fajar di kawasan kutub utara, waktu makan bagi
sekelompok anjing Eskimo milik Isaac Gunterlak. Tim anjing itu
ditambatkan di teluk yang beku. Sebuah motor salju, jadi bukan
anjing-anjingnya, akan menarik kereta luncur dalam perburuan
ini. Namun peralatan yang digunakan Isaac dan mitranya,
Teeman, tetap tradisional.
ISAAC:
Hanya inilah peralatan yang akan kami bawa. Pisau untuk
memotong anjing laut dan harpun (seruit). Kepala harpun
terbuat dari baja dengan mata pisau di ujungnya. Bentuknya
belum banyak berubah.
MD:
Sebuah senapan disimpan di tempatnya, sebelum kereta luncur
ditarik ke laut es, melaju dengan kecepatan 30 mil menuju laut
terbuka. Bagi Isaac, yang naik kereta luncur, kehidupan liar
yang unik di kutub ini seperti layaknya barang-barang dalam
daftar belanjaan.
ISAAC:
Anjing laut, beruang laut, beruang kutub.... Kami masih harus
menyediakan makanan bagi keluarga dan komunitas kami.
Selat ke mana kami pergi terbuka sepanjang tahun, dengan
arus yang sangat kuat. Ke manapun kami pergi kami bisa
melihat beberapa anjing laut tangkapan.
MD:
3
Hamparan laut di depan tampak di balik tirai kabut. Sepasang
mata, di balik tutup kepala berbulu karibu, menyusur cakrawala
dan kembali lagi, ketika sebuah sosok abu-abu tiba-tiba muncul
di permukaan. Isaac memanggil mangsanya (suara siulan) dan
bersiap-siap.
ISAAC:
Ada satu di sana.
MD:
Penantian ini tidak lama.
ISAAC:
Biarkan saya mencobanya…aaaahhhh, hiiii!
MD:
Kegirangannya tak bisa disembunyikan.
ISAAC:
Saya harus mengaitnya.
MD:
Kegiatan ini tak akan pernah bisa berupa gerakan lembut. Arus
membawa anjing laut yang telah mati ke pinggiran dan
sesampainya di daratan, salju tampak bernoda merah tua.

Bagian II
AL:
Kita akan mendengar beberapa contoh lagi tentang menulis untuk radio. Kita
ambil contoh beberapa program saya. Saya akan menjelaskan apa yang ingin
saya capai di setiap karya saya. Inilah pertanyaan yang sebaiknya anda
tanyakan kepada diri sendiri – apa yang ingin disampaikan melalui skrip saya?
Misalnya, apakah saya ingin menyampaikan cerita yang apa adanya? Ataukah
narasi sederhana menyertai kejadian dalam susunan kronologis? Atau
mungkin saya ingin membangkitkan suasana, perasaan, kesadaran untuk
antisipasi, firasat atau keraguan? Atau mungkin saya ingin memberikan
konteks untuk menjelaskan tak hanya apa yang telah terjadi, tapi juga
mengapa hal itu penting dan apa artinya.

Bila dalam benak anda terpikir jelas maksud apa yang ingin disampaikan dalam setiap kalimat, hal itu akan membantu anda dalam menulis skrip yang jelas. Beban yang ingin saya sampaikan melalui program berikut adalah kombinasi antara narasi, suasana dan analisis. Pada bulan Juni 2004, saya meliput peringatan D-Day Landings yang ke-60. Enam bulan kemudian menjelang Natal, Radio 4 meminta saya untuk membuat program yang merenungkan apa hari itu.

(Petikan dari Radio 4 BBC: D-Day oleh Alan Little – Desember 2004):
4
Senapan Normandy ditembakkan pada akhir pekan di bulan Juni. Kali
ini bukan karena kemarahan melainkan sebagai penghormatan. Kami
menyaksikan generasi 1944, berkumpul kembali untuk kali terakhir.

Sepanjang akhir pekan itu sama: mereka tidak mau ada pembicaraan
tentang apa yang mereka lakukan di masa lalu. Tidak ada pembicaraan
tentang keberanian mereka di masa muda. Pemimpin dunia Barat
datang untuk memberi penghormatan kepada mereka.

Namun mereka tidak menginginkan penghormatan itu untuk diri sendiri;
penghormatan mereka ditujukan pada kawan-kawan yang gugur dan
kawan-kawan yang ditinggalkan di bumi Prancis yang baru dibebaskan.
Kita yang bahkan belum lahir ketika mereka menyerbu pantai-pantai di
musim panas beberapa tahun silam, mungkin merasa rendah hati saat
berkumpul bersama mereka.

Namun mereka membawa kenangan yang jelas ke Normandy – kenangan saat pantai ini berserakan dengan jasad para pemuda. Mereka yang selamat dan hidup sampai sekarang
ini merasa rendah hati. Merekalah ingin memberi penghormatan kepada kawan-kawan yang gugur itu dan bukannya ingin mendapat penghormatan sendiri. Maka pergilah mereka secara diam-diam ke pemakaman.

PRIA:
Mereka tidak akan pernah menjadi tua sebagaimana kami yang
ditinggalkan akan bertambah tua. Usia tidak akan membuat mereka
letih, dan tahun-tahun yang berlalu tidak akan membuat mereka
usang. Saat matahari terbenam dan di pagi hari, kami akan
mengenang mereka.
AL:
Seorang wartawan Amerika, Ernie Pile, menyeberangi selat bersama
pasukan penyerang. Dalam berita yang dikirimnya ia menyebut pantai
Normandy sebagai garis tipis memanjang yang penuh kesedihan. Pada
garis ini, katanya, berserakan dengan jasad manusia sejauh beberapa
mil seperti layaknya garis air di sepanjang pantai.

Semua ini adalah perlengkapan pribadi yang bertebaran, perlengkapan yang tidak akan
dibutuhkan lagi, dari mereka yang telah berjuang dan meninggal demi
membuka jalan bagi kita ke Eropa. Kaus kaki dan semir sepatu,
peralatan menjahit, buku harian, kitab suci.

Surat terakhir dari rumah, dengan alamat masing-masing yang disobek dengan rapi; sebagai satu pertimbangan keamanan sebelum kapal para pemuda itu berangkat.
Yang sangat mengejutkan Pile adalah betapa mudanya mereka yang berjuang; selalu saja para pemuda.

Di Irak tahun lalu, saya mengamati hal serupa ketika saya mengikuti pasukan infantri Amerika masuk ke Baghdad pada hari-hari setelah dirobohkannya patung
Saddam Hussein. Suatu hari saya kembali ke kamar saya di Hotel
Palestina, dengan jendelanya yang lebar dan berwarna biru kecoklatan
ke arah Sungai Tigris, dan saya lihat dua pegawai Amerika menunggu
di depan pintu.

Bagi saya mereka tampak terlalu muda. Anak laki-laki yang mengenakan baju orang dewasa untuk kamuflase di gurun pasir yang berlumpur, dan masing-masing menopang senapan M16. “Pak”, salah satu dari mereka menegur dengan hati-hati dan sopan, “Kami
dengar anda punya telepon satelit di sini. Kami belum mendengar
5
kabar dari rumah selama empat bulan.” Ini adalah hal pertama dari
kejadian yang kemudian menjadi sering. Saya akan meminjamkan
telepon saya untuk beberapa menit yang sangat berharga. Hampir
selalu, mereka menelpon ibu mereka.
AL:
“Hampir selalu mereka menelepon ibu mereka.” Sampaikan secara langsung,
tulis kalimat-kalimat pendek. Hitung jumlah kata di setiap kalimatnya; jika
rata-rata jumlahnya lebih dari 16, itu berarti kalimat anda terlalu panjang.
Dalam petikan selanjutnya, panjang rata-rata setiap kalimat adalah 15 kata.
Beberapa kalimat sangat pendek; ada satu atau dua yang sangat panjang.
Hal itu akan memberikan variasi laju pembacaannya.

Petikan berikut ini berasal dari program yang saya tulis di ibukota Kongo,
Kinshasa. Saat itu hari Minggu di mana pasukan pemberontak menguasai
kota dan menggulingkan diktator, Mobutu Sese Seko. Apa yang saya coba
lakukan di sini adalah menceritakan, menyampaikan gambaran visual dan
membangkitkan suasana pergolakan yang berubah-ubah pada hari-hari itu.

(Petikan dari Radio 4 BBC: Laporan dari Kinshasha, Kongo, oleh Allan
Little, 2 Agustus 1997):

Barisan panjang dari Timur telah berakhir dan perang telah
dimenangkan. Hari ini saya berjalan dengan para pemberontak ke
pusat kekuasaan korup Mobutu. Satu barisan pria yang kelelahan,
serius dan disiplin, bergerak berkelok-kelok naik bukit ke Kamp Chachi.

Mereka berasal dari Kalemie, jauh di tepi Danau Tanganyika dan
mereka melaju melewati jantung negara yang sangat luas ini secepat
langkah pria berbaris. Mereka hampir tak pernah melepas tembakan.

Kelalaian rezim Mobutu yang menyebabkan kemunduran negeri ini
akhirnya memberi keuntungan. Angkatan Bersenjata membusuk
sampai ke intinya dan tidak mampu memberikan perlawanan.

Kinshasa terhindar dari pertumpahan darah yang dikhawatirkan. Ini sama sekali
bukan perang, melainkan suatu pemberontakan rakyat. Dari kelebatan hutan yang tak dapat ditembus dan sepanjang anak sungai, harapan berbaris menuju kota tanpa alas kaki dan dengan kaki yang letih. Dan tibalah pembalasan. Di satu jalan pinggiran kota, tujuh anggota dinas intelijen rahasia dikeroyok segerombolan orang dan pembunuh. Jasad mereka teronggok menjadi satu, kemudian disiram minyak tanah dan
dibakar. Saya dan masyarakat tahu apa yang dipelajari oleh anak-anak sekolah, bahwa perbuatan jahat akan mendapat balasan. Ketika bau busuk daging terbakar menguap ke udara, masyarakat menyanyikan lagu kebebasan dan kemerdekaan di balik asap yang mengepul.
AL:
Ada dua lagi pegangan penting saling berhubungan satu sama lain. Kejelasan
dan ketepatan. Anda harus jelas dan tepat tentang apa yang ingin anda
katakan. Jika biaya dari sesuatu tinggi, maka katakanlah tinggi. Jangan
mengatakan cukup lumayan atau signifikan. Berhati-hatilah dengan kata sifat.
Gunakan kata sifat secara hemat. Sekitar 50 tahun setelah menulis The
Naked & The Dead, Norman Mailer mengatakan dia akan menganggapnya
sebagai buku pria muda. Jarang sekali ada kata benda, katanya, yang tidak
menggandeng kata sifat di dekatnya. Saringlah skrip anda dari ungkapan
6
yang terlalu sering digunakan. Ungkapan-ungkapan itu biasanya klise dan
sudah kehilangan kekuatan untuk menyampaikan pesan secara efektif.
Hal yang sama berlaku pada perumpamaan. Cobalah anda ikuti peraturan ini.
Jangan menggunakan perumpamaan yang arti sebenarnya tidak anda pahami.

Misalnya, kalau kita mengatakan suatu pemilihan umum mungkin dalam
waktu dekat dekat (in the offing), apa maksud kita? Kalau memang
maksudnya segera, katakan saja segera.

Apakah kita bermaksud mengatakan saat ini mendekati diadakannya pemilu atau bahwa pemilu tidak terhindarkan lagi? Atau, pemilu mungkin akan diadakan, tapi mungkin pula tidak; ataukah itu kemungkinan terjadi; atau bahwa pemilu bisa saja terjadi tapi kecil kemungkinannya? Arti yang manakah yang ingin disampaikan dari ‘dalam
waktu dekat’? Istilah tersebut tidak tepat, karena kita menggunakannya
tanpa mengerti dengan jelas gambaran yang hendak disampaikan.

Dan anda harus menulis untuk pendengar. Anda harus membuat kata-kata
yang tertulis menirukan kata-kata yang terucap. Buatlah kalimat-kalimat
ringkas seperti layaknya kalau kita berbicara. Anda mungkin sedang
menyiarkan pesan kepada jutaan orang, namun coba bayangkan anda sedang berbicara hanya dengan satu orang yang duduk di sebelah anda. Tapi ingat bahwa pendengar anda hanya memiliki kesempatan sekali saja untuk memahami apa yang anda katakan. Mereka tidak bisa kembali dan membaca ulang paragraf yang tidak masuk akal saat pertama kali diucapkan.

Jadi tulis dan tulis ulang; dan setiap kali anda menulis ulang, sederhanakanlah. Jangan menyederhanakan pemikiran yang anda coba ekspresikan, tapi sederhanakan
bahasa yang anda gunakan untuk mengekspresikannya.

Read More......

Rabu, 24 Juni 2009

Warga Papua Tewas Tertembak di Perbatasan

PAPUA — Seorang warga Papua diduga tewas tertembak oleh pasukan Tentara Nasional Indonesia yang menjaga perbatasan Indonesia-Papua Nugini di Pos Bewani, Papua, Senin lalu.

Warga bernasib nahas itu bernama Isak Psakor, 13 tahun, yang bermukim di Kibai, Distrik Arso Timur, Kabupaten Keerom, Papua.

Kepala suku Arso Kota, Servo Tuamis, mengatakan penembakan terjadi sekitar pukul 14.00 waktu setempat. “Satu tembakan mengenai Isak Psakor,” ujarnya saat dihubungi kemarin. “Ia langsung tewas.”

Menurut Servo, korban dan keluarganya pada Ahad lalu menyeberang ke Papua Nugini untuk menyelesaikan persoalan tanah ulayatnya yang akan digarap kontraktor. Keluarga itu terdiri atas Anton Psakor beserta dua istri dan enam anaknya.

“Warga kampung di sekitar perbatasan masih saudara, walaupun mereka tinggal di negara yang berbeda,” kata Servo. Itu sebabnya, tanah ulayat warga Kampung Bewani banyak yang berada di wilayah Papua Nugini. “Warga sekitar perbatasan sering melintas tanpa dokumen. Kami tidak pernah bawa surat-surat," kata Servo.

Selanjutnya, pada Senin lalu, masih menurut Servo, keluarga Anton pulang ke Indonesia. Tiga anak Anton pulang terlebih dulu ke Papua. Sedangkan tiga lainnya, yakni Wens Psakor, Isak Psakor, dan John Psakor, pulang bersama Anton.

Dalam perjalanan itulah mereka dihadang pasukan perbatasan di wilayah Indonesia yang membawa anjing pelacak. "Anjing dilepas, tiga anak ini lari,” kata Servo.

Wens dan John Psakor berhasil naik pohon, sedangkan Isak tak sempat naik pohon. Saat itulah terdengar dua kali tembakan, dan salah satunya mengenai tubuh Isak. “Tembakan baru berhenti ketika dua anak yang berada di atas pohon berteriak bahwa mereka warga Indonesia," kata Servo.

Juru bicara Kepolisian Daerah Papua, AKBP Nurhabri, dan Kepala Pusat Penerangan TNI Marsekal Muda Sagom Tamboen mengaku belum mendapat informasi tentang kasus itu. "Agar semua jelas, kami akan pastikan dan lihat apa yang bisa dilakukan," ujar Sagom kemarin. TJAHJONO | TITIS SETIANINGTYAS | DWI WIYANA

Read More......

Selasa, 16 Juni 2009

Dari Tugu Naga Menuju Impeachment

Naskah oleh Zeng Wei Jian
Gambar oleh Danu Primanto


Sebagai pusat kegiatan dagang, persimpangan Jalan Niaga di Singkawang selalu bising. Jumat siang, 5 Desember 2008, juga tak terlalu beda … kecuali beberapa pemuda berdatangan sejak pukul 11, memenuhi ke empat sudut jalan. Menjelang tengah hari semakin banyak. Katanya, hari itu Front Pembela Islam (FPI) akan merobohkan Tugu Naga dengan alat berat.

Tampak seorang lelaki bertubuh padat, rambutnya cepak. Ada selendang merah tergerai di lehernya. Ia adalah Herman Buhing dari Dewan Adat Dayak (DAD) cabang Singkawang.

Merah adalah bahasa simbol. Ketika pembantaian etnik Madura pecah di Sambas, puak Melayu mengikat pita kuning di kepala. Ketika milisi Dayak membunuh orang Madura di Sanggau Ledo, warna merah adalah warnanya orang Dayak. Di Pontianak, rumah dinas gubernur diganti warna jadi merah maroon, setelah seorang politikus Dayak bernama Cornelis jadi Gubernur Kalimantan Barat lewat pemilihan umum Desember 2007. Selendang merah di leher Buhing artinya: Saya orang Dayak.

Ada ratusan pemuda Dayak dan Tionghoa di sekitar Buhing. Tiba-tiba Buhing berteriak, “Dengar semua, yang berpihak ke pemerintah: Jangan takut. Semua tenang. Apabila aparat tidak mampu, apabila aparat tidak bisa memegang kendali. DAD Siap!!” Para pemuda itu sontak bertepuk tangan. Kepalan diacungkan ke atas. Teriakan bergema. Mereka menunggu di empat sudut jalan.

Tugu Naga itu sendiri belum dicat. Masih semen. Tinggi sekitar empat meter. Bahkan kepala dan ekornya belum tampak. Lokasinya persis di tengah persimpangan Jalan Niaga dan Kepol Mahmud. Kemudian polisi datang, dengan pentung karet, tongkat rotan dan senjata laras panjang. Pasukan Huru Hara membawa tameng. Toko-toko mulai tutup. Denyut nadi perdagangan melambat. Jalan raya mulai sepi. Intel-intel bertebaran di lokasi masing-masing.

Usai sholat Jumat, beberapa pemuda Melayu mulai bergerak dari arah Mesjid Raya Singkawang, sekitar 500 meter dari Tugu Naga. Beberapa orang mengenakan pakaian Arab warna putih. Mereka adalah anggota FPI. Di belakangnya ada rombongan motor Front Pembela Melayu (FPM) dan Aliansi LSM Perintis Kota Singkawang. Lewat rekaman video, saya melihat, beberapa anggota FPI berdiri di atas mobil pick up tua warna biru. Di kaca depan, ada tulisan “Urang Kite.” Plakat dibentangkan, “Menolak Patung Naga Di Fasum.” Palu godam diacungkan. “Allahu Akbar, hancurkan kafir … hancurkan kafir,” mereka berteriak.

Lalu lintas sontak berhenti. Kerumunan massa merapat. Sebagian pengendara memarkirkan motor di sembarang tempat. Mereka tumpah ruah hendak melihat aksi FPI. Maka dua rombongan itu bertemu di perempatan jalan: DAD dan FPI.

Jalan Niaga dipenuhi sekitar 5,000 orang ketika FPI tiba. Herman Buhing mengatakan pada saya bahwa mereka adalah massa yang siap menghadapi ancaman FPI, FPM dan Aliansi LSM. “Tiga ribu di antaranya adalah pemuda Dayak,” kata Sukarno Nando, seorang Dayak Kanayatn, sekaligus ketua Persatuan Pemuda Dayak. Harian Pontianak Post memberitakan bahwa ribuan massa itu adalah “penonton.”

Ada sekitar 300-an polisi. Seratusan berseragam, sisanya berpakaian preman. Polisi membuat zona steril di antara massa FPI dan massa DAD. Wakil kepala polisi Singkawang, Komisaris Ridwansyah, memegang kendali keamanan di lapangan. Pasukan Huru Hara memaksa FPI berhenti di persimpangan Jalan Sejahtera, 50 meter dari tugu. FPI berhenti tepat di depan Hotel Kalbar.

Fahri, ketua Forum Pembela Melayu, naik ke mobil pick-up dan meraih microphone. Ia berteriak, “Kite tidak memusuhi urang Dayak, kite tidak memusuhi urang Cine. Yang penting patung naga runtuh!” Orasinya cepat dan tandas, tak sampai lima menit. Kemudian Ketua FPI Yudha R. Hand naik ke mobil. Dia berkata bahwa Tugu Naga telah memicu perpecahan masyarakat.

Belakangan Yudha Hand mengatakan pada saya aksi itu memang tak dimaksudkan untuk bentrok. “Hanya menyampaikan aspirasi. Kalau mau merusak Tugu Naga, kita bisa lakukan secara diam-diam” kata Yudha. “Kalau kami mau konflik, kami siap datangkan massa Melayu dari (Singkawang) Utara,” kata Fahri.

“Musuh tidak kami cari, ketemu kami tidak akan lari,” kata Fahri.

“Kita sudah siap. Jika ada satu Melayu terbunuh, akan kita makamkan. Tapi liat saja setelah itu,” kata Fahri.

Namun aksi 5 Desember itu jadi perhatian daerah-daerah luar Singkawang. Puak Melayu di daerah Sambas, Mempawah, Pemangkat dan Tebas bersiaga. Begitu juga dengan kelompok Dayak di daerah Bengkayang, Putussibau, Sanggau, Landak dan sekitarnya. Dua kawasan itu adalah masing-masing kawasan Melayu dan Dayak hardliner. Pada 1997, sekitar 600 orang Madura dibunuh oleh milisi Dayak di sekitar Bengkayang. Pada 1999, sekitar 3,500 orang Madura dibunuh milisi Melayu di sekitar Sambas. Jika terjadi bentrokan di Singkawang, tidak tertutup kemungkinan, sengketa ini bisa merebak ke daerah lain di Kalimantan Barat. Korbannya, bukan orang Melayu atau Dayak, tapi puak kecil macam Madura atau Tionghoa.

Menariknya, dalam suasana tegang, ada seorang mahasiswa pasca sarjana Universitas Gadjah Mada asal Pulau Lombok. Namanya Akhriyadi Sofian. Dia kebetulan sedang meneliti kehidupan etnik Tionghoa di Singkawang. Dia sudah empat bulan penelitian. “Kelihatan sekali mereka itu mabok. Melayu dan beberapa pemuda Dayak, semuanya mabok,” kata Sofian.

Menurutnya, ketika FPI hendak membubarkan diri, ada provokasi lain dari seorang lelaki tak dikenal. Lelaki itu berteriak, “Bubar-bubar, apa itu Melayu? Gak berani. Cuma ngomong doang.” Beberapa pemuda Melayu naik pitam. Mereka mencoba mengejar lelaki tersebut. Aparat mencegah. “Siapa bilang Melayu takut?” balas salah seorang pemuda Melayu.

Setelah dua jam, aparat mengarahkan massa FPI ke kantor walikota Singkawang di Jalan Firdaus. Mereka ditawari bicara dengan Walikota Hasan Karman. Tapi Walikota Hasan hanya mengirim seorang asisten walikota. Rombongan pindah ke Jalan Firdaus.

Ketegangan menyurut. Sekitar pukul 15.00, demonstrasi berakhir. Herman Buhing pun menarik mundur barisan DAD. Namun berita tentang Singkawang barulah dimulai. Di Jakarta dan Pontianak, orang mulai membaca informasi itu dari internet, kebanyakan, lewat berita Pontianak Post. Kekuatiran menjalar di kalangan warga Tionghoa di Jakarta.

Hasan Karman sendiri menghadiri pesta pernikahan keluarga pemilik PD Rajawali Kon Min Hon, ipar Beni Setiawan, penyandang dana pembangunan Tugu Naga, sore harinya. Resepsi pernikahan berlangsung di bekas gedung bioskop Studio 21. Walikota Hasan dibicarakan sedang bernyanyi-nyanyi ketika situasi genting.

Hasan Karman mengatakan pada saya, “Saya masuk kantor paginya. Siang saya ada di rumah dinas dan sore menghadiri undangan pernikahan salah satu pengusaha di aula Studio. Tidak ada acara nyanyi-nyanyi.” Hasan baru datang ke resepsi pernikahan sekitar pukul 16.30.


Dulunya perempatan Jalan Niaga dan Kepol Mahmud dihiasi tiang berlampu tiga. Tiang lampu antik ini rusak ketika orang menabraknya hingga miring. Tabrakan terjadi saat kampanye pemilihan umum. Pelakunya simpang siur. Maklum banyak orang. Kemiringannya meresahkan masyarakat. Sewaktu-waktu bisa roboh.

Kemudian, ada warga Singkawang ingin pemerintah memperbaiki tiang lampu. Sayangnya, anggaran pemerintah baru akan ketok palu Januari 2008. Dinas Pekerjaan Umum tak punya dana buat memperbaiki. Walikota Hasan Karman juga tak punya ide. Lalu muncullah Lie Chun Kiong, seorang pengusaha Karawang asal Singkawang, menawarkan bantuan dana kepada Walikota Hasan. Lie bersedia menggalang dana perbaikan tiang lampu. Hasan Karman minta tokoh masyarakat sekitar perempatan Jalan Niaga mengajukan rancangan disain.

Sebelum desain kampung rampung, Beni Setiawan alias Bong Nie Thiam, boss Hotel Prapatan, menyampaikan ide lain. Beni Setiawan merasa para pengusaha lokal tak perlu merepotkan pengusaha luar Singkawang. Dia sedia merogoh kocek untuk memperbaiki tiang lampu. Walikota Hasan setuju.

Dinas Tata Kota dan Pekerjaan Umum membuat desain. Hasilnya, ada tiga desain. Hasan Karman pilih desain tugu “berornamen naga.” Menurut Lo Abidin, kawan Hasan Karman, biayanya tak lebih dari Rp 30 juta, “Tugu itu cuma dibuat dari semen.”

Bulan November 2008, tiang lampu mulai dikerjakan. Kebetulan, menurut Yudha R. Hand dari FPI, organisasinya diresmikan pada 16 November 2008 di Hotel Khatulistiwa. Momentum hampir bersamaan dengan pembangunan apa yang disebutnya “tugu naga.” Yudha segera tanya-tanya ala warung kopi, sebuah kebiasaan di daerah Melayu, macam Singkawang. Yudha dan kawan-kawan juga bicara dengan organisasi Tionghoa seperti Tridharma, Majelis Tao Indonesia dan Majelis Adat dan Budaya Tionghoa. “Warga Tionghoa di sekitar tugu juga kita mintai pendapat,” kata Yudha.

Kesimpulan Yudha, “Naga adalah simbol sakral”. Ia tak boleh diletakkan di sembarang tempat. FPI merilis kesimpulan ini di suratkabar Pontianak dan Singkawang. Perdebatan Tugu Naga pun dimulai. Perang komentar bermunculan. Singkatanya, FPI mengeluarkan ultimatum: Tugu Naga harus roboh. Deadline 5 Desember 2008.

Walikota Hasan Karman tidak terima. Dia bilang naga bukan simbol sakral bagi orang Tionghoa. Akibatnya, Walikota dianggap tidak mengerti budaya Tionghoa. “Karena Hasan Karman adalah seorang Nasrani” kata Yudha.

Saya menemui Chai Ket Kiong, ketua Majelis Tao Indonesia cabang Singkawang. “Jika dibuka mata (khoi-kong), naga harus disembayangi. Pake garu,” katanya. Menurutnya, naga bisa ditempatkan di mana saja sebagai benda seni.

Saat demonstrasi, sebagian warga Singkawang, dan juga beberapa orang Jakarta, kaget dengan kemunculan organisasi bernama Front Pembela Melayu. Mereka bertanya-tanya, apakah selama ini Melayu, etnik ketiga terbesar di Indonesia –sesudah Jawa dan Sunda menurut sensus tahun 2000-- tertindas sehingga mesti ada Front Pembela Melayu?

Saya menanyakannya kepada Fahri di Kedai Bakmi Bun Kiem Lie. Dia duduk bersama dua rekannya. Fahri bilang FPM dibentuk sejak 2004. Alasannya, beberapa orang Melayu merasa sering dilecehkan oleh orang Dayak dan Tionghoa. Mereka tidak senang. Sekarang anggotanya sudah mencapai 700 orang.

FPM tegas mendukung FPI. Ada faktor kedekatan agama. Orang Melayu beragama Islam. Front Pembela Islam isinya juga mayoritas etnik Melayu. Fahri mengatakan FPM mempersoalkan lokasi tiang lampu berornamen naga itu. Bagi Fahri dan rekan-rekannya, Tugu Naga lebih tepat dibangun di dalam kelenteng dan lokasi pariwisata seperti Pasir Panjang dan Hangmui. Bukan di tengah persimpangan jalan raya. “Mengganggu lalu lintas. Bisa terjadi kecelakaan gara-gara tugu itu,” kata Yanto, sekretaris jenderal FPM, rekan Fahri.

Fahri dan Yanto suaranya meninggi ketika bicara soal etnik Tionghoa di Singkawang. Meja beberapa kali dipukul Yanto. “Walikotanya sudah Cine dan ini patungnya. Nanti mereka bilang Singkawang ini adalah negeri Cine! Negeri mereka!” kata Yanto.

Menurut M. Syafiuddin, ketua Bhakti Nusa organisasi yang ikut membentuk Aliansi LSM, naga adalah binatang simbol kaisar Tiongkok. Tugu Naga akan jadi stempel kekuasaan politik etnik Tionghoa. Syafiuddin melaporkan pembangunan tugu kepada polisi Singkawang karena tidak ada izin.

Secara historis, etnik Melayu memandang Singkawang wilayah Kesultanan Sambas. Dulu Singkawang adalah ibukota Kabupaten Sambas. Ia baru berdiri sendiri, menjadi kota setingkat kabupaten, sejak 17 Oktober 2001. Kabupaten Sambas pun memiliki ibukota baru: Sambas. Kota Sambas terletak di pinggir Sei Sambas. Keraton Alwadzikoebillah, kedudukan sultan-sultan Sambas, juga terletak di kota Sambas. Awang Ishak adalah walikota pertama Singkawang. Hasan Karman menggantikan Awang.

Di kedai kopi tiam Nikmat, saya bertemu Uray Sutamsi, seorang kerabat Kesultanan Sambas. Uray Sutamsi mengatakan, “Itu simbol etnis Cina. Jalan raya bukan milik sekelompok etnis. Tapi milik NKRI.”

Selama dua minggu berjalan di Singkawang, saya menemukan bahwa Tugu Naga bukan tugu satu-satunya di kota ini. Ada tugu lain di Singkawang. Lokasinya persis di tengah perempatan Jalan Ali Anyang-Yos Sudarso. Tugu ini sudah ada sejak Singkawang masih menjadi ibukota Kabupaten Sambas. Tingginya sekitar delapan meter. Berbentuk seperti payung menaungi tiga ekor kuda laut. Kuda laut adalah lambang Kesultanan Sambas. Maka tugu ini dianggap Tugu Melayu.

Saya ingin tahu pendapat beberapa orang Dayak tentang sentimen anti-Cina di kalangan Melayu tertentu. Saya bertanya kepada dua pemuka Dayak: Herman Buhing dan Simon Takdir, kepala suku Dayak Benua Garantukng.

Simon Takdir menolak simbol naga dikaitkan dengan politik etnik. Dia mengatakan, “Memangnya orang Cina pernah bilang, ‘Eh Tugu Naga ini adalah simbol kekuasaan politik gue?’ Kan, tidak pernah!” sambung Simon.

Herman Buhing berpendapat sentimen FPI dan FPM berlebihan. Dia bilang, “Kalau dari Gunung Sari, Gunung Poteng sampe Gunung Raya dibangun Tembok Raksasa seperti di Cina, saya malah senang.”

“Wajar jika nuansa Tionghoa dominan di Singkawang. Karena mayoritas penduduknya adalah Tionghoa,” kata Simon Takdir. Sejak menjadi kota tersendiri, terpisah dari Kabupaten Sambas, Singkawang praktis menjadi kota dengan mayoritas orang Tionghoa. Ia mungkin satu-satunya kota di Indonesia dimana sekitar separuh warganya orang Tionghoa, mayoritas etnik Hakka. Total penduduk Singkawang sekitar 210,000.

Hal senada diungkapkan seorang tetua orang Jawa bernama Mooridjan. Saya coba bertanya ke lebih banyak orang Dayak. Di warung kopi, depan hotel, sekitar kelenteng. Rata-rata mereka berpendapat bahwa orang Tionghoa adalah etnik paling banyak jumlahnya di kota Singkawang. Wajar bila ada simbol-simbol etnik Tionghoa di kota ini.

Tugu Naga sendiri akhirnya menjadi angle favorit Hasan Karman untuk mengembangkan industri pariwisata di Singkawang. Dari zaman Orde Baru, yang relatif dikenal anti-Cina, Singkawang memang hendak dijadikan kota tujuan pariwisata. Gubernur Kalimantan Barat zaman Orde Baru, Aspar Aswin, pernah mengatakan Singkawang adalah Paris van Borneo. Hasan Karman berhitung Tugu Naga bisa mempercantik sebuah kota pariwisata. Ia bisa membantu menarik turis overseas Chinese dari Asia Tenggara dan Hong Kong. Bukan hanya datang saat ada perayaan Cap Go Meh.

Kenny Kumala, politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, dulu aktivis anti Orde Baru di Berlin, serta keturunan papa Tionghoa dan mama Belanda, mengatakan Tugu Naga bisa disamakan dengan patung-patung singa di Singapura dan patung-patung kucing di Kuching, Sarawak. “Toh, sudah ada Tugu Melayu di persimpangan Jalan Ali Anyang dan Yos Sudarso. Justru simbol Dayak belum ada,” kata Kenny Kumala.


Ada sedikitnya 15 etnik dari sekitar 210.000 orang mendiami lima kecamatan Singkawang. Secara umum, Singkawang Timur dianggap basis Dayak. Di Utara ada mayoritas Melayu. Barat dan Selatan dominan Tionghoa. Pembagian basis-basis etnis ini seringkali dipakai sebagai peta kekuatan politik Singkawang.

Setelah demo FPI, kepala kepolisian Singkawang Parimin Warsito mengirim surat bernomor B/3284/XII/2008, mendesak agar pembangunan Tugu Naga ditunda. Ditujukan kepada Walikota, Kapolda Kalimantan Barat dan Muspida. Surat ini berhasil menekan Walikota Hasan untuk menunda pembangunan Tugu Naga. Suhu politik Singkawang mendingin. Di akhir Desember, Kapolres Parimin Warsito pindah tugas. AKBP Subnedih mengambil alih tongkat komando Polres Singkawang.

Suhu politik Singkawang kembali naik setelah Hasan Karman mengadakan rapat kordinasi dengan sekitar 30 orang pemain kunci dan tokoh masyarakat di Aula Gedung Bappeda tanggal 20 Januari 2009.

Rapat berlangsung kaku. Walikota mendominasi pembicaraan selama satu jam. Memaparkan kronologi Tugu Naga dan rencana pembangunan Tiga Gerbang Etnis. Kemudian ketua Forum Komunikasi Etnis Tionghoa (Foket) Budiman angkat bicara. “Kami mendukung FPI menghentikan pembangunan Tugu Naga,” katanya.

Setelah pertemuan, Budiman dipukul oleh seorang Dayak bernama Stefanus. “Hanya ditepis saja, bukan dipukul,” kata Buhing. Pernyataan Budiman memicu ketegangan antara Dayak dan Tionghoa. Malamnya, rapat digelar di rumah Herman Buhing. Beberapa tokoh Tionghoa hadir, termasuk Budiman. Pertemuan membahas pernyataan Budiman di Aula Bappeda. Buhing geram, Budiman mengaku keliru. Walikota dihubungi via telepon. “Tenang Pak Buhing, itu bahasa tinggi,” kata Hasan Karman.

Keesokan hari, pernyataan Budiman dilaporkan reporter M. Kusdharmadi dari Pontianak Post. Singkawang geger akibat pemberitaan Foket mendukung FPI. Siangnya, Budiman mengundang Zulkarnaen Fauzie, kepala biro Pontianak Post di Singkawang, serta Mujidi dari Borneo Tribune, di bengkelnya. Budiman mengatakan dia mendukung FPI kalau menempuh jalur hukum.

Besoknya, Pontianak Post memberitakan ralat tersebut. B. Salman pemimpin redaksi Pontianak Post minta semua berita tentang perdebatan Tugu Naga dihentikan. Pemblokiran ini bermaksud untuk meredam ketegangan, menurut Zulkarnaen. “Hasan menganggap saya provokatornya,” kata Zulkarnaen.

Kasus pemblokiran ini segera diketahui oleh kelompok penentang pembangunan Tugu Naga. Pemblokiran media diterjemahkan sebagai langkah otoriter Hasan untuk membungkam aspirasi masyarakat. Syafiuddin, salah seorang motor aksi 5 Desember, naik pitam. Target kemarahan beralih ke arah Pontianak Post. Harian ini dianggap berkolaborasi dengan penguasa untuk membungkam suara masyarakat. Gerakan memboikot Pontianak Post segera dilancarkan. Syafiuddin mengirim SMS berantai. Ia mengajak masyarakat untuk berhenti berlangganan Pontianak Post. Gerakan ini ia namakan “Gerakan Seratus Rupiah” karena menggunakan SMS seharga Rp 100.

Menurut Hasan, ia hanya memberikan input kepada jajaran Pontianak Post agar suplemen Metro Singkawang tidak terlalu vulgar memberitakan perdebatan. “Narasumber gak jelas, kalau dikenal pun karena reputasi negatif di Singkawang. LSM dan preman. Tokoh netral dan objektif tidak dikutip,” kata Hasan. Akibat pemberitaan Pontianak Post, kalangan perbankan, pengusaha dan masyarakat sering mengeluh. “Tulisan Zul membuat hati tidak nyaman. Cenderung mengadu-domba bahkan menghasut,” kata Hasan.

Dua kali Hasan menyampaikan keluhan. Pertama, sehabis talkshow ketika Gubernur Gorontalo Fadel Muhamad berkunjung ke Pontianak. Hasan bicara blak-blakan soal Zul kepada CEO Pontianak Post Untung Sukarti. Kedua, ketika Hasan bertandang ke Pontianak Post, Januari 2009. Pertemuan dihadiri Untung, B. Salman, Dewijanti Setiadi (marketing) dan tiga orang wartawan. Menurut Hasan, Pontianak Post menggunakan jurnalisme yang tidak bermutu.

Pada tanggal 24 Januari muncul masalah baru. Kalangan anti Tugu Naga dikagetkan oleh “sms berantai dari Walikota.” Bunyinya: Ini SMS Pa Wako. Rekan-rekan DAD tadi Pa Kapolres lapor bahwa setelah berkordinasi dengan Kapolda, maka Polres mendukung sepenuhnya pembangunan Tugu Naga. Dengan demikian jika FPI macam-macam maka mereka akan ditindak sebagai preman dan perusuh. Puji Tuhan. Tidak perlu berbenturan disampaikan Pa Kapolres.

SMS ini diterima Syafiuddin. Ia melanjutkannya kepada Kapolda Kalimantan Barat Brigjen R. Nata Kesuma. “Apakah benar Kapolres Singkawang telah berkordinasi?” tanya Syafiuddin. Nata Kesuma tidak menjawab. Menurut Syafiuddin, Kasat Serse Singkawang AKP Sarjono menghubungi dirinya via telepon setengah jam kemudian. “Tugu Naga jadi dilanjutkan. Kapan-kapan kita ketemulah,” tiru Syafiuddin dari ucapan Sarjono. Telepon itu menguatkan syak wasangka terhadap Hasan Karman.

Kepada pers, Hasan Karman menyatakan bahwa ia tidak pernah menulis SMS itu. Praduga tetap menjalar. Ada yang bilang bahwa SMS itu diedarkan kepada Dewan Adat Dayak tetapi bocor.


Jarak Pontianak dan Singkawang sekitar 170km. Orang Tionghoa di Pontianak kebanyakan orang Teochew, sebuah kelompok dialek asal Tiongkok Selatan. Sedang Singkawang mayoritas orang Hakka, sebuah kelompok etnik asal Guangdong, Fujian dan Jiangxi, yang sering disebut “Yahudinya Tiongkok” –orang Hakka yang cukup terkenal termasuk Deng Xiaoping, Lee Kuan Yew dan Thaksin Shinawatra.

Jika di Pontianak pernah ada SK 127 pada tahun 2008, yang melarang etnik Tionghoa bikin arak-arakan naga, maka Singkawang adalah gudang kesenian Tionghoa. Ketika Walikota Pontianak Buchary Abdurrachman melarang atraksi naga, Singkawang menjadi panggung pengganti.

Saya tiba di Singkawang pada 30 Januari, sekitar pukul 10:00 malam. Lampion merah menghiasi jalan protokol, rumah, hotel dan pertokoan. Singkawang sedang berusaha memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia dalam kategori kota berlampion terbanyak. Singkawang hendak mengalahkan Batam yang pernah menggelar 5.077 lampion. Malam itu, suasana imlek masih sangat terasa di Singkawang. Persiapan Cap Go Meh memperkuat nuansa Tionghoa.

Sebagai orang Tionghoa, kelahiran Betawi, saya merasa at home. “Pembauran” ala Orde Baru mengharamkan identitas Tionghoa, terutama, di Pulau Jawa. Singkawang terasa berada di luar zona “pembauran” aneh itu. Kuil-kuil agama Tionghoa berserakan di seantero Singkawang.

Pagi pertama di Singkawang, saya bersembayang di Tai Pa Kung Tridharma Bumi Raya. Kelenteng ini merupakan pusat kegiatan spiritual Singkawang. Orang-orang menyebutnya Kelenteng Pasar. Lekukan atap dan ukiran khas Tionghoa sangat halus, detail dan rapi. Sekalipun tak terlalu besar tetapi kelenteng ini sangat bersih. Dari Tai Pa Kung ke Tugu Naga hanya perlu waktu lima menit jalan kaki.

Kapolda Kalimantan Barat Brigjen Nata Kesuma tampaknya menilai isu keamanan bukan masalah untuk melanjutkan pembangunan tugu. Maka tugu naga kembali dibangun. Walikota Hasan memberi target: Cap Go Meh selesai. Seorang seniman Melayu bernama Hasbi mengantongi surat rekomendasi Walikota untuk menyelesaikan pembangunan Tugu Naga. Ekor naga mulai dibentuk. Bilur-bilur semen masih kasar. Bagi Hasbi, ini adalah pekerjaan seni. Ia ragu tugu akan selesai sebelum Cap Go Meh 9 Februari 2009. Ia juga enggan bicara banyak.

FPI merespon pembangunan kembali Tugu Naga. Surat undangan rapat disebar. Tokoh-tokoh Melayu tertentu diundang. Rapat berhasil digelar 2 Februari 2009. FPM, Majelis Adat dan Budaya Melayu (MABM) dan Persatuan Forum Komunikasi Pemuda Melayu (PFKPM) mengirim utusan. Semua Melayu garis keras. Jawaban atas pembangunan kembali Tugu Naga berhasil disepakati yaitu demonstrasi besar. “Insya Allah, DPRD akan kita duduki,” kata Yudha Hand.

Peserta rapat sepakat membentuk Aliansi Masyarakat Peduli Kota Singkawang (AMPS). Tujuan taktis saja. M. Syaifuddin jadi salah seorang kordinator AMPS. Aliansi ini berharap bisa menghimpun organisasi lintas etnik di Singkawang, termasuk organisasi Tionghoa dan Dayak.

SMS berantai beredar. Isinya, FPI akan mengerahkan 3.000 orang menduduki DPRD Singkawang pada 5 Februari. Namun aksi ditunda tanggal Jumat 6 Februari pukul 9:00 pagi.

Pada momen yang ditentukan, massa Melayu memadati Gedung Juang di Jalan Ali Anyang. Rencananya, di area Gedung Juang ini akan dibangun Rumah Melayu, persis bangunan serupa di Pontianak, yang didirikan sesudah pembersihan etnik Madura di daerah Sambas. Menurut Ketua PFKPM Elmin MH, Rumah Melayu nantinya akan difungsikan menjadi sekretariat PFKPM selain sebagai pusat pendidikan generasi muda dan seni budaya. Pembangunan Rumah Melayu ini tersendat kendala persoalan penyerahan aset dari Sambas ke Singkawang.

Jumlah masa meningkat dari demonstrasi 5 Desember. Kebanyakan demonstran dari Singkawang Utara. Jumlahnya di atas 700 orang. Ada bendera merah putih, pita kuning, plakat dan spanduk. Ada plakat bertuliskan, “Beni Setiawan Anjing.” Sepanjang jalan, massa Melayu meneriakan yel-yel dan makian. Sasarannya adalah Beni Setiawan dan Hasan Karman. Polisi bersiaga dengan ketat. Satu per satu peserta demo diperiksa sebelum memasuki gedung DPRD. Tidak ada senjata tajam.

Kapolres Subnedih memimpin langsung 500 polisi. Hari Jumat itu, satu kompi Brimob dari Pontianak diturunkan bersama seluruh kesatuan Polres Singkawang seperti Reskrim, Intelijen, Sat Lantas dan Dalmas. Pengamanan dibantu Kodim 1202 dan Brigif 19 Singkawang.

Setelah 15 menit orasi, beberapa orang demonstran diterima Ketua DPRD Nur Zaini. "Kita datang kesini satu kata, untuk menurunkan Hasan Karman,” kata Syafiuddin. Tema demonstrasi telah menukik ke jantung persoalan yaitu Hasan Karman. Apabila aksi 5 Desember mengambil tema “Robohkan Tugu Naga,” maka demonstrasi 6 Februari bertema: “Turunkan Hasan Karman.”


Pada 17 Desember 2007, seorang mantan manajer kelompok Barito Pacific bernama Bong Sau Fan alias Hasan Karman dilantik sebagai Walikota Singkawang. Hasan baru masuk politik sesudah turunnya Presiden Soeharto. Hasan masuk Partai Indonesia Baru tahun 2004 pimpinan ekonom Syahrir. Lahir di Singkawang, Hasan sekolah di SMAK Kolese St. Yusuf Malang dan kuliah hukum di Universitas Indonesia. Dia pernah menjabat wakil ketua Perkumpulan Masyarakat Singkawang dan Sekitarnya (Permasis). Hasan juga dikenal sebagai bos restoran Bong.

Hasan menggantikan walikota Awang Ishak, yang pamornya jatuh akibat skandal sex di Hotel Mercure, Jakarta tahun 2005. Ada video Awang beredar di internet bersetubuh dengan simpanannya, Anita Chung, seorang perempuan etnik Tionghoa. Awang sempat bikin boikot langganan harian Equator di semua kantor pemerintahan Singkawang karena gencar diberitakan skandalnya. Awang bahkan sempat dijuluki “walikota edan.” Begitu Hasan dinyatakan menang pemilihan walikota, desas-desus rasial merebak. Ada sekelompok orang Melayu tak terima kemenangan Hasan, seorang Tionghoa, jadi walikota Singkawang.

Yusriadi, dosen STAIN Pontianak serta redaktur harian Borneo Tribune, meramalkan sengketa rasial bisa pecah di Singkawang. Sebagai antisipasi gejolak sosial, aparat keamanan memperketat penjagaan sewaktu acara pelantikan Walikota Hasan Karman. Helikopter meraung mengitari kota. Panser-panser disiagakan, detektor logam dipasang di pintu masuk. Tentara berjaga-jaga di seantero Singkawang.

Setelah dilantik, Hasan dan Wakil Walikota Edy Yacoub dari MABM tak serta-merta bisa menempati rumah dinas walikota dan wakil. Awang Ishak enggan mengosongkan rumah dinas. Hasan terpaksa menumpang kamar di Hotel Restu selama sebulan. Edy Yacoub terpaksa menggunakan mess daerah di Jalan Merdeka. Selain rumah, Awang menahan mobil dinas walikota Toyota Harrier. Hasan tidak mampu menarik mobil dinas itu. Sampai sekarang mobil dinas itu masih nongkrong di garasi Awang.

Pada 24-31 Mei 2008, Singkawang menjadi tuan rumah MTQ XII se-Kalimantan Barat. Acara berlangsung di Stadion Kridasana. Permasis turun tangan. Rencana bantuan untuk Perayaan Peh Cun di Sambas terpaksa dibatalkan demi membantu pembiayaan MTQ.

Sebagai walikota, Hasan otomatis menjadi ketua umum panitia pelaksana MTQ. Sekalipun bukan muslim. Ada pawai tarub dan 1.000 penari tahar. Pembukaan dan penutupan MTQ akan diguyur kembang api. Di sini persoalannya. Beberapa Melayu tidak senang dengan pagelaran kembang api. Alasannya, itu budaya Tionghoa. Hasan dianggap hendak "mencinakan" MTQ. Pontianak Post memperkeruh suasana dengan tayangan-tayangan pro-kontra masalah kembang api.

Saya agak kaget ketika membaca masalah ini. Kembang api diidentikkan dengan budaya Tionghoa? Cikal bakal kembang api memang berasal dari penemuan bubuk mesiu pada abad IX di Tiongkok. Tapi kembang api sekarang sudah dipakai di berbagai penjuru kebudayaan, termasuk kota-kota besar kebudayaan Islam. Di Jakarta, kembang-api juga dimainkan di malam takbiran.

Ketua Pelaksana MTQ HM Nadjib membantah opini kontra kembang api. Menurutnya, kembang api sudah menjadi tradisi pembukaan MTQ tingkat provinsi dan kota. Pagelaran kembang api tetap dilaksanakan sesuai rencana. Suplai kembang api disediakan oleh Permasis. Kedekatan Hasan dan Permasis mulai dipermasalahkan.

Pada 5 Juni 2008, Hasan Karman sebagai Walikota Singkawang menerima penghargaan Adipura dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dua hari kemudian, piala Adipura diarak dari Pasir Panjang sampai kantor walikota di Jl. Firdaus. Tanjidor dimainkan sepanjang jalan. Hasan dan Edy duduk di atas mobil terbuka, melambaikan tangan. Setelah hari itu, Singkawang dibanjiri oleh spanduk dan baliho Hasan sedang menerima piala Adipura. Hasan diberi gelar "Walikota Spanduk."

Pada Agustus 2008, muncul pemberitaan soal pembelian mobil dinas Toyota Fortuner oleh Hasan. Lawan-lawan Hasan bereaksi. Hasan dituding tidak memiliki sense of crisis dan pembohong. Pasalnya, Hasan pernah menyatakan takkan menggunakan anggaran daerah untuk mobil dinas. Pernyataan ini diingat oleh beberapa kelompok anti Hasan.

Tahun anggaran 2009, Hasan kembali mengajukan pos anggaran mobil sedan. Nominalnya Rp 450 juta untuk walikota dan Rp 300 juta untuk wakil walikota. Fraksi PKS menyampaikan nota keberatan tetapi DPRD tetap menyetujui pos anggaran ini. Secara hukum, tidak ada yang dianggap salah dengan membeli mobil untuk walikota dan wakilnya. Kelompok anti-Hasan makin meradang.

September 2008, pers memunculkan perdebatan baru. Hasan dianggap melecehkan DPRD dengan kata “tidak selevel” ketika Hasan menerima pengurus organisasi guru-guru. Ketua DPRD Zaini Nur menekan Hasan minta maaf. Akibat kata “tidak selevel” ini, dua orang wakil rakyat, Ridha Wahyuni dan Liu Min Jam walk out dari ruang sidang 15 September. Belakangan, Hasan membantah Liu Min Jam melakukan walk-out. Menurut Hasan, Liu --yang juga anggota PIB-- terpaksa meninggalkan ruang sidang DPRD karena harus menjemput anaknya.

Lewat Pontianak Post, Hasan menyatakan bahwa ia hanya berkata, "… semoga pemilu 2009 menghasilkan dewan yang lebih baik dan selevel dengan eksekutif untuk bersama-sama membangun Singkawang. Kalau berdiskusi dan berdebat dengan teman bicara yang ndak selevel ndak seru."

Oktober 2008, Pontianak Post memberitakan pertemuan transmigran Pangmilang dengan Walikota Hasan Karman. Para transmigran mengadu soal lahan mereka. Pertemuan digelar di gedung DPRD Singkawang dan dipimpin Zaini Nur.

Para transmigran datang sekitar pukul 10.00. Hasan datang pukul 12.00 siang. Pukul 14.00, Zaini Nur mengakhiri pertemuan. Warga transmigran belum rela. Mereka ingin mengeluarkan uneg-uneg di depan walikota.

Hasan meraih microphone, "Karena dialog ini sudah ditutup, maka saya harus meninggalkan tempat. Lanjutkan saja, bila masih ada masalah. Saya pun banyak urusan. Kami bukan hanya mengurus masalah ini saja.”

Seorang transmigran berteriak, “Huuuuuuuuuuuu.....!!!”

Hasan menjawab "Saya ini walikota, tolong hargai saya.”

November 2008, muncul perdebatan Surat Keputusan Walikota No. 138 tentang pembentukan tim pendataan penduduk keturunan warga negara asing di Singkawang. Surat keputusan ini menetapkan dua lembaga non-pemerintah, Permasis dan Institut Kewarganegaraan Indonesia, sebagai pengarah pendataan.

IKI adalah lembaga bentukan pengusaha Moerdaya Poo, seorang pengusaha Tionghoa, anggota DPR dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, dan boleh dibilang, salah satu orang terkaya di Jakarta. Poo mendirikan IKI guna melakukan sosialisasi UU No. 12/2006 tentang Kewarganegaraan dimana Poo, selaku legislator, ikut membuatnya. Tujuan IKI adalah membantu orang-orang Tionghoa yang stateless, walau sudah tinggal bergenerasi-generasi di Singkawang, untuk memiliki surat-surat kependudukan macam akte kelahiran dan KTP.

Namun SK 138 bikin reaksi. Mulai rukun tetangga (RT) sampai camat menolak surat SK 138. Mereka tidak mau tunduk di bawah arahan lembaga non-pemerintah seperti Permasis dan IKI. Birokrasi kota memiliki struktur hirarki resmi. Ada tata-tertib baku dan struktur komando. Bagi aparatus daerah Singkawang, Permasis dan IKI tak memiliki otoritas formal untuk mengarahkan mereka.

Permasis dan IKI dianggap mengintervensi kehidupan birokrasi Singkawang. Hasan dipandang tak memahami manajemen birokrasi. Singkat kata, Permasis, IKI dan Hasan gagal dalam pendataan. Pamor Permasis jatuh. "Hasan Karman adalah boneka Permasis," kata Sasmita dari KNPI Singkawang, geram.

DPRD bereaksi dengan memanggil walikota. Hasan Karman berlindung di balik alasan instruksi Menteri Dalam Negeri dan UU No.12 tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Indonesia. Instruksi tersebut memberi peluang kepada upaya pemutihan orang-orang stateless.

Kelompok anti-Hasan tidak peduli. Mereka menuding SK 138 ini hanya permainan kelompok Hasan untuk mempromosikan politisi PIB. Akhirnya, SK 138 ini menjadi bahan olok-olok masyarakat. Situs Cinta Singkawang menulis, "SK 138 ditinjau dari numerology orang Tionghoa Singkawang, isi seperti namanya. Jit" --artinya satu-- "sering kita artikan paling, 38 menurut slang Singkawang sam pat," --artinya bodoh-- "Jadi, 138 (jit sam pat) artinya paling bodoh.”

Pendek kata, penampilan Hasan Karman sering jadi buah bibir seantero Singkawang.

Medio Januari-Februari 2009, terjadi lagi perdebatan seputar penyelenggaraan Cap Go Meh. Hasan menempatkan sekretaris daerah Suhadi Abdulani sebagai ketua panitia. Organisasi Tionghoa, Melayu dan FPI bereaksi. Mereka tidak setuju dengan penempatan seorang Muslim dalam kepanitiaan Cap Go Meh.

Muslim diharamkan ikut kegiatan Cap Go Meh, memanggul tatung dan menonton atraksi tatung. Atraksi tatung “… sadisme, sangat merusak mental anak-anak, tidak pantas untuk ditonton," oleh Arnadi Arkan, ketua Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah.

Di Singkawang, perayaan Cap Go Meh kerap dimeriahkan oleh atraksi tatung. Tahun 2009 ada sekitar 500 tatung berlaga. Saking banyaknya tatung, Cap Go Meh dengan keliru dianggap, “pesta besarnya para tatung”.

Tradisi tatung berasal dari seorang shaman bernama Fei Fan yang hidup di zaman Dinasti Shang (1766-1122 SM). Konon kakinya pincang, maka disebut Tiao Tang atau Tiao Tung. Serapan kata ini menjadi Tatung. Para tatung harus membuktikan para dewa telah memasuki tubuhnya dengan ciri “tubuh intan” hingga kebal bacok dan “tubuh emas” yang tahan api. Parade tatung adalah simbol perang antara kekuatan baik versus jahat sebagai tolak bala. Jadi, tiap tahun Singkawang dibersihkan secara spiritual oleh para tatung ini.

Selain memberi bantuan dana, panitia pelaksana diisi oleh orang-orang Permasis. Beberapa di antaranya calon legislatif. Panitia Cap Go Meh pemerintah Singkawang menginginkan satu altar. Tridharma dan Majelis Tao Indonesia bersikeras ingin mendirikan altar sendiri. Jadi ada tiga pihak dengan tiga altar. Mereka berpendapat mereka adalah tiga agama atau ajaran yang berbeda. Chai Ket Kiong dari MTI menyewa dua orang pengacara, Ike Florensi Soraya dan B. Agustriadi, untuk mengajukan gugatan hukum masalah pendirian altar. Hasan Karman dianggap otoriter, memaksakan kehendak pendirian altar.

Beberapa orang mempermasalahkan SK Walikota No. 178 tahun 2008 tentang Cap Go Meh. Ada satu klausul yang berbunyi: “Ritual keagamaan hanya boleh dilaksanakan di dalam lingkungan kelenteng atau tempat yang ditentukan oleh panitia.”

Klausul ini mirip sekali dengan bunyi Inpres No.14/1967 yang pada intinya melarang agama, adat istiadat dan budaya Tionghoa dirayakan di tempat terbuka.

Sekali lagi, pengaruh Permasis dianggap terlalu dominan dalam pemerintahan Singkawang. Para pejuang perayaan Cap Go Meh, sebelum Hasan menjadi walikota, tersingkir dengan masuknya Permasis. Kolaborasi Hasan dan Permasis makin dianggap berlebihan oleh sebagian masyarakat Singkawang.

Di Singkawang, beberapa Melayu menganggap pengusaha Tionghoa sombong. Kelompok Hasan sering jadi bahan olok-olok. Contohnya, sepotong berita kecil di Metro Singkawang tentang dana Rp 2 miliar untuk perayaan Cap Go Meh, Rp 140 juta berasal dari kas daerah. Selebihnya sokongan dana dari donator. Ada beberapa orang Melayu memandang itu sebagai bentuk lain arogansi orang Tionghoa. Mereka dianggap tukang foya-foya. Mereka tak suka. Perayaan Cap Go Meh dan rekor lampion dianggap berhura-hura. Asmadi, seorang warga Singkawang Utara, bilang, “Kok Idul Fitri tidak dirayakan sedemikian meriah. Ini kan pembedaan perlakuan.”


Wahid, seorang wartawan Harian Mediator merangkap aktivis Aliansi Masyarakat Peduli Singkawang, mengatakan pada saya, “Hasan harus turun.” Bagi Wahid dan teman-temannya, Hasan Karman adalah sumber ketegangan Singkawang. Para penentang Hasan mendapat angin ketika Hasan belum terbukti berprestasi. MTQ dan Adipura tidak diakui sebagai prestasinya. Hasan malah dianggap cari sensasi. Slogan “Singkawang-Spektakuler” dicibir. Hasan dianggap kecanduan rekor Museum Rekor Indonesia.

Setelah Hasan menjadi walikota, ada lampu berbentuk huruf “S-I-N-G-K-A-W-A-N-G” di atas Gunung Sari, mirip simbol Hollywood, dekat Los Angeles. Bagi para penentang Hasan, lampu ini dianggap pemborosan. Ada juga perubahan lain. Sebelumnya Singkawang tak pernah memiliki lampu lalu lintas. Hasan membangun lima traffic light. “Tapi justru malah jadi penyebab kecelakaan lalulintas,” kata Kenny Kumala.

Menurut Hasan Karman, kontroversi selama setahun pemerintahan Hasan merupakan indikasi ada sekelompok orang yang tak suka kepadanya. Orang-orang yang pernah diuntungkan pada masa Awang Ishak mungkin tak rela proyeknya diputus pemerintahan Hasan. Tidak mengherankan jika mereka akan mencoba melakukan sesuatu untuk mengembalikan regime Awang Ishak. Caranya, menciptakan gerakan menjatuhkan Hasan Karman.

Hasan mengatakan pada saya, Awang secara terbuka menyatakan akan menggulingkan dirinya, pada tahun kedua pemerintahan Hasan. Awang mengeluarkan pernyataan itu ketika rombongan Libertus Ahie, politikus Dayak dan kepala Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat Singkawang, bersama beberapa kepala dinas sedang check-up kesehatan untuk nyaleg. Saat itu, Awang juga sedang tes kesehatan. “Disitu Awang mengucapkan kata-kata yang akan menggulingkan saya,” kata Hasan.

Secara legal, tak mudah menjatuhkan Hasan Karman. Anggota DPRD dari PKS Paryanto bilang Hasan adalah walikota terpilih, “Dia punya legitimasi hukum.”

UU No. 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah bisa digunakan sebagai landasan pendongkelan Hasan Karman. Pasal 27 ayat 1 huruf (b) mengharuskan walikota “meningkatkan kesejahteraan rakyat” sedangkan huruf (c) mewajibkan “memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat.”

Pemberhentian dimungkinkan oleh pasal 29. Ayat 2 huruf (e) berbunyi “tidak melaksanakan kewajiban kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah.” Prosedurnya adalah hak angket DPRD Singkawang. Jika Hasan terbukti tak sanggup meningkatkan kesejahteraan dan memelihara ketentraman artinya ia “tidak melaksanakan kewajiban kepala daerah.” Artinya, Hasan melanggar undang-undang. Wakil Edy Yacoub akan naik sebagai walikota. Kaum milisi Melayu, yang berprinsip “asal bukan Cina,” mendukung skenario ini.

Skenario kedua adalah paket pasangan Hasan-Edy akan dijatuhkan bersamaan. Berdasarkan UU No.32/2004, orang ketiga yaitu sekretaris daerah akan mengisi vacuum of power. Sekretaris daerah harus mempersiapkan pemilihan walikota ulang. Waktu maksimal enam bulan.

Bila terjadi pemilihan walikota ulang, maka ada harapan bagi para pendukung Awang Ishak kembali masuk dalam kekuasaan. Sekalipun, nama Awang sempat rusak akibat skandal “Mercure Gate” tapi pengaruhnya masih nyata di Singkawang. Awang dan Raymundus masih menduduki posisi nomor dua setelah Hasan di pemilihan lalu.

Saya khawatir, ada sekelompok orang berpikir untuk menciptakan kondisi chaos di Singkawang. Kalau Singkawang chaos maka itu adalah bukti ketidakmampuan Hasan Karman. Harganya besar sekali. Kalimantan Barat berkali-kali punya pengalaman pembantaian kaum minoritas. Etnik Tionghoa pernah dihantam tahun 1967. Etnik Madura pada 1997 dan 1999. Sampai sekarang, para pelaku pembantaian, baik tentara Indonesia, milisi Melayu dan milisi Dayak, tak pernah diadili. Mereka masih berkeliaran tanpa pernah terjangkau oleh hukum.

Untuk chaos, perlu ada pembentukan stigma dan rekayasa stereotype. Sama dengan pengalaman 1967, 1997 dan 1999, media bisa sangat berperan dalam menciptakan kebencian rasial. Kasak-kusuk dari mulut ke mulut bisa menambah bumbu. Sebelum pecah pembantaian Madura, ada stereotype negatif dan secara massal dipantek menjadi citra Madura. Hasilnya kebencian massal. Pepatah, “Dimana bumi dipijak, disana langit dijunjung,” disalahgunakan untuk menciptakan rasialisme. Begitu stereotype ini masak, hanya perlu gesekan kecil untuk mengobarkan api pembantaian besar.

Malam terakhir saya di Singkawang, saya mewawancarai seseorang bernama Asmadi. Dia mengaku sebagai panglima Laskar Melayu Singkawang Utara. Dia mengatakan dia ikut membantai orang Madura di Sambas pada 1999. Dia mengaku pernah makan tujuh hati orang Madura dan membunuh 18 orang, termasuk bayi. “Jangan sampai ini terjadi ke Cina, gara-gara Hasan Karman,” kata Asmadi, tanpa berkedip.


Zeng Wei Jian moderator mailing list TionghoaIndonesiaMuda@yahoogroups.com, Jakarta. Danu Primanto, pewarta foto freelance, tinggal di Jogjakarta

Read More......

Menyusuri Jejak John “Hiroshima” Hersey

Bimo Nugroho

Sebuah karya jurnalistik yang membuat Albert Einstein menyesal menemukan rumus atom
BERDIRI di tepi jembatan Aioi, Hiroshima, pandangan mata Hatsuyo Nakamura menyusuri Sungai Ota. Usianya 86 tahun, umur yang ajaib bagi seorang hibakusha, korban bobosan asap bom atom 57 tahun silam.

“Di sana,” tangannya menunjuk ke utara, “Sungai Ota bercabang Sungai Temma. Dan persis di bawah jembatan Aioi ini Sungai Ota terpecah dua: Motoyasu dan Honkawa. Seperti itulah Perang Dunia Kedua memecah-mecah hidup saya.”

Keriput di seputar bibir Nakamura seperti mengunci mulutnya ketika terkatup. Geraknya amat pelan dan gemetar. Ia dibimbing Myeko Nakamura, anak bungsu sekaligus penterjemahnya. Mata sipit Nakamura sesekali terkedip, menerawang, seperti mengingat-ingat ke saat lebih setengah abad silam.

Hiroshima, 5 Agustus 1945, menjelang tengah malam. Sembilan jam sebelum bom atom dijatuhkan, penyiar radio stasiun kota mewartakan terbangnya 200 pesawat B-29 Amerika Serikat mendekati Pulau Honshu dari arah selatan. Penduduk Hiroshima—yang sebagian telah lelap, diminta mengungsi ke daerah aman.

Nakamura belum tidur waktu itu. Sejak suaminya, Isawa Nakamura jadi serdadu, dan mati dalam perang di Singapura 15 Februari 1942, janda Nakamura harus bekerja sampai larut, menjahit baju, dari piyama hingga kimono. Isawa tak meninggalkan apa-apa kecuali sebuah mesin jahit tua merek Sankoku.

Tiga anak Nakamura menjadi yatim dalam usia belia. Toshio, laki-laki 10 tahun; Yaeko, perempuan delapan tahun; dan Myeko, perempuan lima tahun. Sebelum berangkat perang, Isawa-san sempat mengajari Myeko berdiri dan berjalan pelan-pelan. Hanya Toshio yang sempat mengetahui ada telegram berisi tujuh kata yang dibaca ibunya pada 15 Maret 1942. Sejak itu mereka tak pernah lagi berbincang tentang rencana setelah ayah pulang. Hatsuyo Nakamura hanya mengajak anak-anak berdoa untuk ayahnya. Dari jenis doanya, anak-anak jadi tahu jika ayah mereka sudah tiada.

Mendengar perintah pengungsian dari radio itu Nakamura segera membangunkan tiga anaknya, mengganti baju, dan mengajak mereka berjalan ke lapangan di timur-laut kota yang biasa dipakai parade militer. Si kecil Myeko melanjutkan tidur dalam gendongan ibunya. Kedua kakaknya berjalan tersaruk menahan kantuk sambil memegangi sisi-sisi gaun Nakamura yang memandu jalan.

Sampai di lapangan yang jaraknya satu kilometer dari rumah, mereka langsung rebah dan tidur. Sudah banyak orang berkumpul, tak ada yang ribut. Sebagian besar tidur, sebagian kecil berjaga.

Pukul dua dini hari, para pengungsi terkesiap bangun oleh deru suara pesawat B-29 yang melayang bolak-balik, melintas rendah. Dalam hening, kepanikan menjalar. Tapi, deru pesawat itu lewat. Tak ada bom.

Ketiga anak Nakamura begitu takut. Ibunya merasakan lewat dekapan mereka yang kencang. Mereka memutuskan pulang. Rumah, dirasa lebih membuat tenang.

Pukul setengah tiga mereka sampai. Anak-anak kembali tidur. Nakamura menyalakan radio, dan langsung terdengar keras peringatan untuk mengungsi. Tanpa menunggu sedetik pun, radio dimatikan. Nakamura menengok pada anak-anaknya, tak ada yang terbangun. Nakamura berpikir sebentar, apakah harus mengungsi? Melihat ketiga anaknya lelap dalam kelelahan, ia putuskan tetap tinggal.

“Semua orang pada akhirnya toh akan mati, dengan atau tanpa bom. Kalau itu terjadi, saya masih bisa memilih, untuk mati di rumah sendiri,” Nakamura berserah, digelarnya tatami dan beranjak tidur. Sekali ditengoknya jam, pukul tiga dini hari.

Pukul tujuh pagi, 6 Agustus 1945, sirene di berbagai sudut kota meraung. Nakamura bergegas ke rumah Tuan Nakamoto, kepala kampung, dan apa yang harus dilakukan? Nakamoto menyarankan untuk tinggal saja di rumah sampai suara sirene berikutnya terdengar. Sirene tadi baru peringatan dini.

Nakamura kembali ke rumah, menyalakan kompor dan menanak nasi. Ia duduk menunggu sambil membaca koran Hiroshima Chugoku. Sampai pukul delapan (bom atom meledak limabelas menit kemudian), Nakamura mendengar anaknya bergumam dari tempat tidur. Diambilnya sebungkus kacang Jepang untuk dimakan anak-anaknya. Nakamura sendiri berharap anaknya kembali tidur setelah capai berjalan semalam. Tapi, anak-anak itu dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka, meminta nasi karena perut mereka lapar.

Nakamura keluar kamar dan segala tanda bahaya terdengar ingar-bingar. Menengok keluar jendela, ia melihat kilauan begitu putih, tak ada putih seputih kilau itu yang pernah ia lihat sebelumnya. Seorang lelaki tetangga yang ada di luar rumah mengangkat tangan seperti hendak melindungi matanya dari cahaya. Nakamura tak memperhatikan apa yang kemudian terjadi dengan lelaki itu. Insting keibuannya segera menarik tubuhnya ke kamar anak-anak. Tapi tiba-tiba pemandangan menjadi gelap pekat. Nakamura terbanting ke lantai. Didengarnya bunyi derak kayu dan tembok-tembok yang runtuh. Seluruh tenaganya seperti hilang seketika.

Demikianlah Little Boy, nama bom atom itu, telah meledak di Hiroshima. Bentuk Little Boy seperti lontong dari baja seberat empat ton, panjangnya tiga meter, dengan diameter 0,7 meter. Ia diterbangkan dengan pesawat B-29 yang bernama Enola Gay dari Pulau Tinian, dekat Guam di Lautan Pasifik, sejauh 2.740 kilometer dari Hiroshima.

Pulau Tinian direbut Amerika Serikat dari Jepang pada 23 Juli 1944 sebagai lompatan terakhir sebelum menyerang Jepang. Begitu Tinian direbut, Little Boy diangkut oleh pesawat khusus bernama Indianapolis dari San Fransisco.

Pada 5 Agustus 1945 petang, Little Boy baru dimasukkan ke dalam perut Enola Gay dan siap diterbangkan kapan saja. Dini hari 6 Agustus 1945, tepatnya pukul 02.45 waktu Tinian (atau 01.45 waktu Hiroshima), Enola Gay lepas landas dari Tinian menuju Hiroshima.

Menurut catatan William D. Parson yang menjadi co-pilot, Enola Gay baru melintas di atas Iwojima pukul 06.05 waktu Tinian. Pukul 07.30 sinyal merah dinyalakan tanda bom dipanaskan agar siap meledak ketika dijatuhkan. Pukul 08.38 pesawat mencapai ketinggian 9.970 meter dari permukaan laut, sesuai perhitungan jarak paling pas untuk menjatuhkan bom. Pukul 08.47, fusi elektronik diujicobakan, hasilnya oke, mesin peledak sudah panas. Pukul 09.04, pesawat berbelok ke barat. Pukul 09.09, lanskap kota Hiroshima sudah terlihat di jendela depan pesawat. Dan begitu Enola Gay melintasi jembatan Aioi, lewat 30 detik dari pukul 09.15 waktu Tinian (atau 08.15 waktu Hisroshima), Little Boy, bom atom pertama dalam sejarah perang, dijatuhkan.

Begitu melepas Little Boy, Enola Gay langsung mendaki 155 derajat berbelok ke utara untuk menghindari efek ledakan bom. Little Boy terjun bebas selama 43 detik sampai ketinggian 580 meter di atas rumah sakit Shima, dan meledak di udara.

Teorinya secara sederhana, energi ledakan itu muncul dari nukleus atom yang terpecah dua. Dari dua, pecah menjadi empat, dari empat menjadi delapan, dan seterusnya. Energi ledakan berlipat dalam tempo yang sangat singkat. Sepersepuluh-ribu detik setelah ledakan, panas mencapai 300 ribu derajat Celsius dalam radius 17 meter dari pusat ledak (hypocenter). Panas yang sampai ke rumah sakit Shima saat itu mencapai 6.000 derajat Celcius.

Lima menit setelah ledakan, asap atom menguar seperti cendawan putih raksasa hingga setinggi 17 ribu meter di atas tanah. Zat radioaktif mematikan sebagaian besar warga Hiroshima yang terkena dalam radius lima kilometer dari pusat ledak, baik secara langsung maupun dalam hitungan hari. Mereka yang ada di dalam radius lima kilometer itu dan kemudian lari keluar dari lingkar akar cendawan atom itu, nyaris semuanya menderita cacat kulit, bahkan mengalami mutasi genetik. Minimal, korban menderita cikal-bakal kanker atau leukemia.


RUMAH Nakamura terletak 5,4 kilometer dari pusat ledak. Sebuah selisih 40 meter yang menentukan keselamatan keluarga miskin itu.

Rumah mereka terbuat dari kayu yang murah dan ringan di kawasan Nobori-cho yang padat dan miskin, tak ada kaca, atapnya cuma asbes yang gapuk. Rumah itu sudah tak ada begitu Nakamura mampu beringsut dan menengadahkan kepala. Perasaan yang campur-aduk menggelayut. Sejauh mata memandang, yang ada hanya puing-puing berserakan. Sayup terdengar si bungsu Myeko mengerang, “Ibu, tolong aku!”

Myeko tampak sulit bernapas dan tak bisa bergerak. Dengan segala daya yang tiba-tiba muncul, Nakamura mencoba mengangkat anaknya dari serakan puing rumah. Myeko segera terselamatkan dari tindihan puing dipan tempat tidur. Tapi, Nakamura tak melihat atau mendengar suara kedua anaknya yang lain?

Nakamura menjadi sangat panik. Raut muka Myeko memucat. Ia masih tersengal-sengal. Rengkuhan lengan ibunya membuat Myeko jadi agak tenang. Napasnya kembali teratur. Nakamura pun menghela lega. Sang ibu dan putri bungsunya itu seperti saling menguatkan.

“Tasukete! Tasukete!”(Tolong! Tolong!)

Suara itu tak jelas dari mana datangnya. Telinga Nakamura berdengung dan ia merasa setiap suara lebih kecil ketimbang aslinya. Tapi Nakamura merasa pasti bahwa itu suara si sulung Toshio. Cuma di mana sumbernya? Ada derak puing kayu beringsut pelan. Nakamura langsung mendudukkan Myeko dan merangsek ke puing kayu yang ternyata bekas salah satu tiang utama rumah mereka. Di bawah kayu ada lembar daun pintu, dan begitu tiang kayu disingkirkan, daun pintu pun terangkat ke samping. Muncullah muka Toshio yang tegang.

“Ibu, Yaeko mati!”

Jantung Nakamura seperti berhenti. Tubuh Yaeko tergeletak di sebelah Toshio, diam tak bergerak dan kakinya masih tertimbun puing. Nakamura ingin mengangkat tubuh Yaeko, tapi ia sudah tak punya tenaga. Nakamura menciumi pipi Yaeko dan memanggil-manggil namanya seperti tak rela Yaeko pergi untuk selamanya. Air mata ibu membasahi wajah sang anak.

Ternyata Yaeko tidak mati. Ia pingsan.

“Air…air. Aku mau minum,” Yaeko menggumam lirih.

Nakamura bagai menerima rahmat dari surga, sekaligus juga bingung. Di mana ada air? Ia juga merasa tenggorokannya begitu kering dan badannya panas dengan kulit serasa perih terbakar. Diperhatikannya pakaian yang dia kenakan sudah tak karuan, lusuh dan kacau seperti juga baju tiga anaknya.

“Air…air…,” rintih Yaeko. Di mana ada air di tengah reruntuhan Nobori-cho saat ini? Nakamura mengumpulkan liurnya yang tersisa, dibukanya mulut Yaeko. Perlahan Nakamura keluarkan ludahnya hingga masuk ke mulut Yaeko yang langsung menelan, sementara matanya masih terpejam.

Entah mendapat tenaga dari mana, Nakamura menyingkirkan puing-puing yang masih menimbun Yaeko.

“Itaiii!” (Sakiiit!) seru Yaeko.

“Sekarang bukan waktunya untuk mengeluh sakit atau tidak,” Nakamura mengangkat anaknya yang kedua sampai terduduk. Diperhatikannya tubuh Yaeko, tak ada luka serius.

Nakamura beranjak menengok ke sekeliling. Orang yang dilihatnya tadi dari jendela telah rebah di tanah, mati. Istri Nakamoto datang ke arahnya dengan sisi muka berlumur darah. Ia bertanya apakah Nakamura punya perban untuk menutup luka. Tak ada perban. Nakamura merobek kain-kain yang dia punya menjadi potongan-potongan panjang seperti perban dan memberikannya kepada istri Nakamoto.

Yayoi Hataya, tetangga sebelah rumah, dengan panik mengajak Nakamura dan anak-anaknya untuk mengungsi ke taman Asano tempat simpanan air bersih tersedia. Mereka membawa beberapa pernik barang yang bisa dibawa termasuk remukan makanan kering yang masih ada dalam bungkusan. Di sepanjang jalan mereka banyak mendengar orang menjerit minta tolong lantaran anggota keluarganya tertimpa puing-puing rumah. Hanya satu rumah yang belum roboh, yakni pastoran Jesuit di sebelah bekas taman kanak-kanak Myeko yang sudah tak karuan bentuknya. Mereka melihat Pastor Wilhelm Kleinsorge berupaya memberi pertolongan seadanya kepada para korban.

Di taman Asano yang penuh debu, puluhan pengungsi berkumpul. Mereka berbagi air minum. Sebetulnya agak tak tepat disebut air minum karena galonan air di bak bawah tanah itu masih mentah dan direncanakan untuk memadamkan api bila terjadi kebakaran. Tapi para pengungsi tak peduli. Udara dan badan mereka terasa begitu panas.

Nakamura kemudian menjadi sangat sibuk memberi pertolongan ke sana kemari bersama Pastor Kleinsorge. Tentu saja pertama-tama ia memastikan anak-anaknya aman dengan bekal yang cukup. Toshio diminta si ibu untuk menjaga adik-adiknya. Tak lama, ketiga anak Nakamura pun tertidur di bawah tenda darurat. Sebaliknya sang ibu terus bolak-balik seolah tak kenal lelah. Lewat tengah malam, Nakamura baru bisa tidur.


DI SAAT yang sama ketika Nakamura tertidur, petang hari sedang menjelang di New York, 5 Agustus 1945. Seorang wartawan-cum-novelis bernama John Hersey asyik mendengar musik dari radio. Ia sungguh menikmati waktu jeda menulis usai merampungkan karya-karya jurnalistik maupun fiksi yang sangat menyedot energinya. Dalam hari-hari mengisi kembali energi itu, biasanya ia tak menulis apapun, otaknya serasa tumpul dan kesaktian menulis seperti hilang. Lazimnya Hersey, masa tumpul itu berlangsung paling lama satu minggu. Kerjanya cuma membaca bacaan ringan, mendengarkan musik di radio, dan menikmati pujian atau kritik dari pembaca tulisannya.

Kali ini ia lebih banyak menerima pujian. Khususnya dari pembaca tulisan panjangnya di majalah The New Yorker edisi Juni berjudul “Survival.” Tulisan ini berkisah bagaimana seorang Letnan Angkatan-Laut, John F Kennedy, menyelamatkan diri dari kapal-perangnya PT 109 yang tenggelam di bagian selatan Samudra Pasifik.

Pujian lain berdatangan juga dari para pembaca novelnya A Bell for Adano yang memenangi Pulitzer untuk karya fiksi 1945. A Bell for Adano bercerita tentang pendudukan pasukan Amerika Serikat atas sebuah desa di Italia.

Musik pop di radio yang didengarkan Hersey tiba-tiba berhenti. Hersey cuek saja. Ia tak mencoba memutar tombol mencari frekuensi lain. Yang terdengar kemudian pidato Presiden Amerika Serikat Harry S. Truman yang rekamannya tersimpan rapi di Library of Congress: “Sixteen hours ago, an American airplane dropped one bomb on Hiroshima, Japan, and destroyed its usefulness to the enemy. That bomb had more power than 20.000 ton of T.N.T. It had more than two thousand times the blast power of the British Grand Slam, which is the largest bomb ever used in the history of warfare.…It was an atomic bomb.”

Hersey langsung bangun dari kursi malasnya. Keningnya berkerut. Bom Atom? Ingatannya langsung melayang ke Juni 1942 ketika Roosevelt menandatangani akta persetujuan dimulainya The Manhattan Project. Sebuah riset bernilai US$ 2 miliar dan melibatkan 120 ribu pekerja, dengan satu tujuan membuat bom atom untuk menaklukkan lawan dan memenangi Perang Dunia II.

Malam itu Hersey berjanji dalam hatinya, “Saya akan menulis tentang Hiroshima!” Dan Hersey tidak main-main.

Ben Yagoda dalam bukunya About Town: The New Yorker and the World It Made

mengisahkan di berbagai halaman terpisah tentang proses Hersey merampungkan artikel Hiroshima sepanjang lebih dari 30 ribu kata.

Sampai akhir 1945, Hersey baru merampungkan risetnya dengan mengumpulkan berbagai data pendukung tentang Hiroshima. Ia mulai berdiskusi dengan kolega sesama jurnalis tentang rencananya. Keputusannya ia akan mulai perjalanan jurnalistik dari Cina ke Jepang. Cina pintu masuk ke Jepang yang termurah. Meski begitu, pada 1945 anggaran liputan lebih dari US$ 10 ribu masih sangat mahal untuk sebuah tulisan. Untungnya, sekaligus unik, Hersey bisa mendapat persetujuan dukungan dana dari dua majalah, The New Yorker dan Life.

Alasan lain ia memasuki Jepang dari Cina sebetulnya lebih bersifat pribadi. Ia ingin menengok kembali kampung halamannya. Maklum ia lahir 1914 di Tientsin dari pasangan misionaris Protestan dan menghabiskan masa kecilnya di sana sampai 1925.

Sebelum berangkat ia banyak berdiskusi dengan editor New Yorker William Shawn dan merumuskan 10 ide kerangka tulisan (outline of story ideas). Salah satu idenya tawaran Shawn yang dikembangkan dari artikel Joel Sayre tentang pengeboman wilayah Cologne-Jerman dari perspektif korban (orang Jerman) yang menderita akibat peristiwa tersebut.

Artikel Sayre yang sangat bagus itu akhirnya batal dimuat The New Yorker karena tidak kontekstual. Jerman sudah memutuskan untuk menyerah pada Pasukan Sekutu. Shawn mengusulkan kepada Hersey untuk menulis soal Hiroshima dari perspektif korban sebagaimana dilakukan Sayre. Konteksnya masih hangat karena perdebatan tentang bom atom terus berlangsung dan melibatkan para politisi, intelektual, bahkan agamawan. Di samping secara jurnalistik, magnitude Hiroshima-Jepang jauh lebih besar ketimbang Cologne-Jerman.

Tapi Hersey belum menemukan satu pun outline tulisan yang dinilainya paling kuat untuk mengisahkan Hiroshima. Ia sudah mencoba mengerahkan seluruh pengalaman dan pengetahuan jurnalistiknya yang mendalam sejak di bangku kuliah. Menamatkan studi di Yale University, Hersey sempat setahun menjadi sekretaris Sinclair Lewis, dosen jurnalisme yang tersohor di Cambridge.

Setelah itu ia bekerja di majalah Time sebagai penulis. Di awal Perang Dunia II ia juga membuat beberapa reportase untuk Life yang masih “satu keluarga” dengan Time di bawah kepemilikan saham Henry Luce. Reportase termasyhur dari Hersey untuk Life terbit 1944 berjudul “Joe is Home Now” yang mengisahkan trauma para serdadu GI Amerika Serikat sepulang dari perang dan mencoba hidup kembali bersama masyarakat biasa. Para pembaca sangat takjub pada karakter-karakter narasumber yang dibangun dan dilansir Hersey dalam “Joe is Home Now.” Sampai-sampai, Tom Wolfe dalam pengantar di buku antologinya The New Journalism, menyebut “Joe is Home Now” sebagai a seminal precursor of the genre.

Dalam “Survival” Hersey menggunakan metode penulisan jurnalistik yang berbeda dengan “Joe is Home Now” yang menitikberatkan pada dinamika karakter narasumber. “Survival” lebih menekankan detail-detail kejadian yang melodramatis, struktur tulisan beritme sastrawi, dan rekonstruksi dialog narasumber yang mendekati sempurna. Hersey tidak menitikberatkan karakter karena John F. Kennedy yang menjadi narasumber utama sahabat Hersey sendiri sehingga Hersey harus mengambil jarak.

Wawancara mendalam dilakukan Hersey sejak awal Kennedy bercerita sambil makan siang di La Martinique, sebuah supper-club di New York, hingga rumah sakit Boston tempat Kennedy mendapat perawatan untuk memulihkan otot-ototnya yang kaku karena peristiwa dramatis tenggelamnya kapal PT 109 di selatan Samudra Pasifik itu.

Anehnya Life—tak jelas alasan apa—tak jadi memuat artikel tersebut, sebuah tindakan redaksi yang kemudian disesali oleh Life sendiri. “Survival” dimuat The New Yorker dan menjadi karya jurnalistik yang klasik dan dikenal banyak warga Amerika Serikat. Bagaimana tidak, “Survival” dicetak ulang sebanyak 100 ribu eksemplar oleh ayah Kennedy untuk kepentingan kampanye anaknya memenangi kursi di House of Representatives (parlemen Amerika Serikat) dengan membagikan kopi artikel itu pada calon pemilihnya di Boston. Alhasil “Survival” menjadi sangat dikenal, bahkan kemudian difilmkan dengan judul PT 109. Ketika Kennedy menyiapkan diri untuk merengkuh kursi presiden, buletin U.S. News and World Report memuat kembali “Survival” dan mencetaknya dalam jumlah yang begitu banyak (tak ada data/sumber yang menyebut secara tepat seberapa banyak)—dengan sayangnya—tanpa seizin The New Yorker maupun John Hersey.

Hersey juga menulis tiga buku fiksi-perang: Men on Bataan, Into the Valley, dan A Bell for Adano. Tampak sekali baik dalam karya jurnalistik maupun novelnya, Hersey sangat piawai mengemas kekerasan perang hingga memikat banyak pembaca.

Sebaliknya Shawn, editor Hersey, tak suka bacaan perang dalam format penulisan apapun. Shawn pernah menulis ke sahabatnya sesama wartawan Hobart Weekes pada 1943, betapa ia benci dengan diksi kata killing, dan berandai-andai jika memungkinkan: setiap perang dapat ditulis dan dilansir di media tanpa harus menggunakan kata killing itu. Sebuah pengandaian yang tak terkabul.

Shawn juga tak suka narasi mengenai dampak bom setelah meledak. Terkecuali, jika narasi itu menimbulkan impresi pembaca yang mendorong pengurangan bom dalam perang, maka Shawn akan senang hati untuk mengendalikan perasaannya yang terlalu peka. Selama 54 tahun kariernya di New Yorker, Shawn hanya pernah satu kali memberikan kontribusi artikel tentang bencana yang dialami manusia (itupun tidak dengan by name, cuma ada inisial namanya “W.S.” di akhir artikelnya) dan diberinya judul “The Catastrophe,” sebuah kisah imajinasi jika sebuah meteor menghancurkan kota New York.

Ketika Shawn menjadi pemimpin redaksi, beberapa tulisan yang membawa semangat macam “The Catastrophe” beberapa kali muncul, seperti tulisan Joseph Mitchell “The Bottom of the Harbor,” Rachel Carson “Silent Spring,” Barry Commoner “The Closing Circle,” dan Jonathan Schell “The Fate of the Earth.” Hersey memahami kecenderungan Shawn, tapi ia sendiri tak pernah menulis artikel-artikel semacam tadi. Sampai Hersey berangkat ke Cina, ia belum menemukan satu outline yang dirasa meyakinkan, baik bagi dirinya maupun Shawn.


MARET 1946, muncul berita bahwa Amerika Serikat akan menguji coba sebuah bom atom dua bulan mendatang. Sebagai seorang reporter yang punya tipikal takut kehilangan news peg, Hersey mengirim kawat kepada Shawn langsung dari Cina yang isinya kemungkinan ia akan mempercepat kepergiannya ke Jepang bulan Mei dan mengirim artikelnya dari sana demi mengejar waktu seiring rencana uji coba bom atom. Meski dalam kawatnya itu, sebagaimana dikutip Yagoda dalam About Town, Hersey menyambung:

Still think it would be advantageous to wait and write them upon my return; in that case you would not get them into print until July or perhaps around the anniversary of the Hiroshima bomb an August. Personally I don’t see why the may experiments should detract from the Hiroshima story provided eye can get in the sort of detail we envisaged.

Shawn langsung membalas pada hari yang sama:

Eye was about was about to cable you urging you to do piece as we originally planned. We do not think that may experiment will affect it. The more time that passes the more convinced we are that piece has wonderful possibilities. No one has even touched it. Think best to write it back here and time it for anniversary.

Hersey jadi merasa tak harus buru-buru. Dalam pelayarannya ke Jepang, dia masih belum menemukan pendekatan untuk mengisahkan Hiroshima. Sialnya lagi, serangan flu menyergapnya saat melayari selat Jepang. Sambil berbaring, istirahat, Hersey membaca novel karya Thornton Wilder 1927 yang dipinjamnya dari perpustakaan kapal. Judulnya The Bridge of San Luis Rey, cerita mengerikan dengan seting abad ke-18 di Peru dari titik pandang lima karakter yang berbeda.

Tak dinyana, novel inilah yang memberi inspirasi Hersey untuk mengemas Hiroshima. Dalam kepalanya, ia harus mencari lima orang narasumber utama yang mengalami peristiwa ledakan bom atom. Dari pengalaman lima korban itu ia akan membangun narasi yang terpotong-potong dengan penutup yang menohok atau sebaliknya menggantung di akhir tiap potongan. Pembaca akan mengikuti kronologi yang tidak mengalir utuh melainkan terpencar-pencar dalam lima tokoh, di mana setiap tokoh memiliki karakter unik.

Pada 25 Mei 1946, Hersey mendarat di Hiroshima Port. Kurang dari setahun setelah bom atom jatuh di kota itu, Hiroshima masih hancur lebur. Tak ada gedung permanen apalagi yang bertingkat seperti sebelum perang. Penduduk tinggal di rumah-rumah semi permanen yang terbuat dari kayu atau cetakan bata yang kasar dan tidak dilapisi semen. Ada banyak jalur rel kereta api dan trem, tapi tak bisa berfungsi karena tak ada listrik, sementara batubara sangat mahal. Nyaris tak ada pohon kecuali yang sengaja ditanam di Jalan Heiwa Odori yang saat ini dikenal sebagai Peace Boulevard Avenue. Itu pun banyak yang kering karena tanah masih terpengaruh radiasi atom. Sungai juga belum sepenuhnya bersih dari pengaruh radiasi. Beberapa jembatan masih bertahan, tapi di tepinya masih tercetak balur-balur hitam bayangan radiasi. Dari berbagai balur hitam tersebut bisa diketahui titik ketinggian di mana bom atom meledak.

Turun dari kapal, Hersey segera mencari informasi di mana ia bisa menginap. Tapi, tak ada satu pun orang Jepang yang bisa bicara dalam bahasa Inggris di pelabuhan itu. Hersey sudah menghapal beberapa kalimat dan kata-kata Jepang yang berguna baginya seperti tabemasu (makan), nomimasu (minum), hoteru (hotel), resutoran (restoran), dan kalimat-kalimat tanya yang sopan. Cuma tiap kali ia coba bicara dalam bahasa Jepang, orang Jepang yang diajaknya bicara selalu membetulkan cara pengucapannya. Dan sesudah pengucapannya benar, lawan bicaranya akan menjawab dengan panjang lebar dalam bahasa Jepang yang tidak ia mengerti.

Untungnya Hersey menguasai sebagian huruf kanji yang dipelajarinya di Cina sejak kecil dan diulang lagi ketika bertandang ke Cina sebelum Hiroshima. Huruf kanji di Cina sama artinya dengan huruf kanji di Jepang meski pelafalannya berbeda. Di samping itu Hersey juga mempelajari penggunaan abjad hiragana dan katakana yang biasa digunakan sehari-hari oleh masyarakat Jepang bersamaan dengan abjad kanji. Jadi ketika Hersey tak paham apa yang dimaksud lawan bicaranya, ia akan meminta lawan bicaranya itu menulis dalam abjad mereka. Pedomannya bagi Hersey, abjad hiragana digunakan untuk kata-kata umum, katakana digunakan untuk kata dan istilah asing, sedangkan kanji untuk nama dan istilah Jepang yang baku.

Hersey mencari seorang asing yang mengenal betul Hiroshima, siapa saja. Maka seorang perempuan belasan tahun, Midori Murata, yang ditemukannya sedang berbelanja ikan, membawanya ke seorang pastor Jesuit di sebuah kapel darurat. Pastor itu berumur 39 tahun, mukanya cekung dengan leher panjang dan jakun yang menonjol. Pertama bertemu seolah mereka sudah kenal nama, Hersey langsung disapa hangat oleh pastor itu tanpa menanyakan nama, melainkan dengan pertanyaan,“Where are you come from?”

“New York, America. What about you?” jawab Hersey.

“America? Me? German!” balas pastor itu tertegun. Agak kikuk ia berpaling ke Nona Murata.

“Amerika kara?” ulang Murata yang juga kaget.

Hersey juga tertegun, asal negara bisa menjadi awal yang tidak mengenakkan. Tapi ia mencoba mencairkan suasana.

“Watashi no namae wa John Hersey desu ne. Hajimemashite!” ujar Hersey sambil membungkukkan badan menghormat. Cukup berhasil, sang pastor dan nona Murata cepat pulih dari keterkejutan mereka.

“My name is Wilhelm Kleinsorge. Nice to meet you,” Pastor itu menjabat tangan Hersey erat-erat, “Have a seat, please!”

Hersey mengambil tempat duduk sederhana yang terbuat dari peti kayu murahan. Murata mengamati Hersey, menurutnya orang ini cukup tampan dan gagah, badannya tinggi. Ketika Murata pertama kali bertemu di Hiroshima Port, ia terkesan dengan lubang Hersey yang melancip ke depan, dan lubang hidung itu akan selalu terlihat oleh Murata tiap kali ia mendongak bicara dengan orang asing itu. Murata pula yang akhirnya diminta Pastor Kleinsorge untuk mencarikan penginapan bagi Hersey.

Di penginapan yang kini telah menjadi hotel kecil Dormy-in di distrik Ko-machi, Hersey mulai mengumpulkan informasi dengan teknik bola salju mulai dari kisah Pastor Kleinsorge. Pada hari kedua sore hari, pintu kamarnya diketuk dari luar. Hersey membuka pintu dan dilihatnya seorang anak lelaki membawakan pakaiannya yang telah dicuci dan diseterika. Anak kecil itu begitu kaget melihat Hersey, tanpa sempat mengucap kata, ia langsung berbalik dan lari dengan masih membekap pakaian Hersey. Tak berapa lama, seorang ibu muda datang kembali bersama anak itu dan pakaian Hersey yang tertekuk-tekuk. Ibu itu meminta maaf dengan sopan dan berjanji akan menyeterika ulang pakaian Hersey. Wartawan Amerika itu berjongkok di depan si anak dan tersenyum,

“Watashi no namae wa John Hersey. Hajimemashite. Anata no namae wa…”

“Toshio, Toshio Nakamura,” Ibunya yang menjawab.

Nakamura kecil melihat Hersey kemudian tersenyum kembali pada ibunya. Ia merasa orang asing ini menyukai ibunya. Terbukti Hersey mempersilakan mereka masuk dan mengajak bicara. Ibunya, Hatsuyo Nakamura tidak bisa berbahasa Inggris, lebih sering keduanya tersenyum-senyum saja. Mereka berkomunikasi lewat tulisan dan campuran bahasa Inggris-Jepang yang kacau. Sesekali Hersey membuka kamus untuk memahami tulisan Nakamura, lalu saling tersenyum dan mengangguk-angguk lagi.

Besoknya, Hersey yang datang ke rumah keluarga Nakamura. Ia naik sepeda. Kali ini bahasa Jepangnya lebih lancar. Toshio yang semula takut berubah jadi kagum. Setelah satu jam bicara dengan ibunya, Hersey memberikan uang entah berapa yen, tapi ditolak oleh Nakamura. Hersey bilang uang itu pengganti jam kerja yang hilang untuk menjahit atau mencuci baju. Nakamura tetap menolak. Menurutnya berbicara itu bukan kerja.

Toshio yang siang itu sudah pulang dari sekolah darurat, diajak Hersey keliling kota. Ibunya mengizinkan. Maka Toshio pun jadi pemandu jalan dengan membonceng sepeda. Hiroshima pada waktu itu tak seluas sekarang, bila dibandingkan kira-kira besarnya sama dengan kota Yogyakarta. Mereka berdua bersepeda mulai dari daerah utara Gokoku Shrine di area reruntuhan Hiroshima Castle hingga ke selatan sampai daerah Senda-machi tempat berdiri rumah sakit Palang Merah yang menjadi salah satu pusat perawatan korban bom atom.

Sengaja mereka tidak lewat jalan protokol Rijo-dori, melainkan lewat padang pasir di lingkaran inti seputar pusat ledak yang sekarang telah jadi ruang publik dengan berjibun aneka pohon dan bunga. Ketika bom atom meledak, semua penduduk di distrik itu tewas secara mengenaskan. Tak ada lagi yang mau tinggal di daerah itu. Selain berulang-ulang menanam pohon (sampai beberapa tahun tanah yang terkena radiasi sulit ditumbuhi pohon secara normal), pemerintah Jepang juga membangun museum seni, museum anak, kolam renang, youth center, dan stadion baseball. Khusus di stadion baseball, tiap Agustus, seminggu pertama, diselenggarakan World Conference Against A & H Bombs (Atomic & Hydrogen Bombs).

Di area Saiku-machi yang kemudian diubah namanya jadi Ote-machi 1 chome, sebelah barat-daya stadion baseball, berdiri tegar kerangka gedung Hiroshima Prefecture Industrial Hall. Kerangka gedung ini satu-satunya yang masih tegak di Hiroshima setelah bom atom meledak. Padahal jaraknya kurang 200 meter dari pusat ledak. Maklum, temboknya setebal setengah meter. Cuma semen luarnya saja yang terkelupas di beberapa sisi. Kubahnya yang mirip masjid Istiqlal di Jakarta, tinggal kerangka bajanya saja dan tampak seperti sangkar burung yang besar. Di prasasti yang dipasang di pinggir sungai Motoyasu persis di seberang kerangka, tercatat bahwa gedung ini selesai dibangun pada 5 April 1915 oleh arsitek asal Czech, Jan Letzel.

Hersey dan Toshio sempat masuk bersama ke kerangka gedung ini dan mengamati bekas radiasi asap di temboknya. Sejak 1967, orang sudah tak mungkin masuk tanpa izin dan kepentingan yang sangat khusus. Beberapa pasak besi yang tinggi ditata sedemikian rupa untuk menjaga agar kerangka ini tidak runtuh. Nama Hall pun diubah menjadi A-bomb Dome.

Setelah Hersey dan Toshio puas mengelilingi A-bomb Dome, mereka berdua menyeberang jembatan Aioi dan belok ke kiri ketika sampai tengah jembatan yang ujungnya tiga ini (jembatan ini berdiri di atas Sungai Ota yang terbelah dua jadi sungai Honkawa dan Motoyasu), masuk ke delta Nakajima-cho yang juga jadi padang pasir. Di delta itu dibangun sebuah Cenotaph untuk mengenang para korban. Ukurannya 1,5x2 meter dengan tinggi 1,8 meter berbentuk mirip tandu untuk mengusung jenazah. Begitu bersimpuh di depan Cenotaph yang lowong itu, siapa pun akan melihat A-bomb Dome di kejauhan persis di tengah lowongan Cenotaph. Tahun demi tahun, Nakajima-cho berubah menjadi Peace Memorial Park yang teduh. Ada Peace Memorial Museum di bagian selatan yang berbatasan dengan Heiwa Odori/Peace Boulevard Avenue. Di museum ini pemerintah Jepang bersama warga membangun diorama sejarah Hiroshima sebelum, tatkala, dan sesudah bom atom meledak.

Dari Nakajima-cho, Toshio mengajak Hersey menyeberangi Sungai Honkawa lewat jembatan Nishi Heiwa untuk mengunjungi kantor koran Chugoku Shimbun. Menurut Toshio, mulanya Hersey sangat bersemangat memasuki kantor koran utama di Hiroshima itu, tapi sesampai di sana ia disambut sinis dan dingin. Tak ada yang kenal The New Yorker maupun Life, sebagian kecil tahu Time tapi dengan sudut pandang buruk bahwa majalah itu sekadar alat propaganda Amerika. Hersey keluar dari kantor Chugoku Shimbun dengan muka kecut.

Sesudah itu baru mereka bergerak ke tenggara menuju Senda-machi. Beberapa kali Hersey berhenti untuk mengamati sesuatu, bertanya pada orang, mencatat, dan meminta lawan bicaranya menulis menurut bahasa mereka, membuat gambar-gambar yang Toshio sendiri tak mengerti apa maksudnya.


MENURUT dokumentasi The New Yorker, Hersey mewawancara 40 hibakusha (korban bom atom), dua ahli kedokteran, dan dua rohaniwan. Dari sekian banyak sumber, Hersey mengangkat enam pengalaman narasumber. Mereka adalah janda Hatsuyo Nakamura, staf personalia East Asia Tin Works Toshinki Sasaki, dokter Masakazu Fujii, Pastor Wilhelm Kleinsorge, ahli obat Terufumi Sasaki, dan pendeta Kiyoshi Tanimoto.

Dari catatan Hersey sendiri, para sumbernya tidak bisa dikatakan secara sosial-ekonomi merepresentasikan penduduk Hiroshima. Kepada Harold Ross, editor The New Yorker, yang memeriksa hasil reportasenya, Hersey menyatakan bahwa soal bahasa menjadi kendala utama untuk melakukan check and recheck informasi yang didapatkannya.

Toshio Nakamura menyatakan tak ada data yang salah dari laporan Hersey, kecuali kurangnya detail pada peristiwa yang dialami oleh adiknya Yaeko Nakamura. Dalam laporan Hersey, Yaeko tidak pingsan melainkan langsung ditolong ibunya setelah Myeko dan Toshio.

Bagaimana Hersey menulis hasil reportasenya?

Sekembalinya ke New York pada 12 Juni 1946, Hersey langsung konsentrasi menulis selama enam minggu. Pertama dia memperkuat outline yang telah dikonstruksikan di Jepang berdasarkan kesaksian enam narasumber, baru kemudian mulai menulis artikel tersebut. Seperti menatah patung, ia tidak menulis dari awal sampai akhir melainkan menggarap bagian per bagian, satu bagian ditulis lalu pindah ke bagian lain, di hari selanjutnya ia bisa saja kembali ke bagian awal untuk memperkuat fakta, mengurangi atau memperhalus tulisan, lalu pindah ke bagian lain lagi sesuai outline.

Enam minggu lewat, tulisan Hersey yang diberinya judul “Hiroshima” selesai. Jumlahnya lebih dari 30 ribu kata, terbagi dalam empat bagian dan tiap bagian dipecah dalam enam sosok narasumber. Di beberapa sekuen, antar sosok itu bertemu dan bersimpangan, tapi tak pernah ada sekuen yang menyebut mereka berkumpul jadi satu. Bagian pertama diberi judul A Noiseless Flash, kedua The Fire, ketiga Details are being Investigated, dan terakhir Panic Grass and Feverfew.

Hersey sengaja memecah tulisannya yang direncanakan masuk rubrik Reporter at Large dalam empat edisi The New Yorker. Ia sudah berpikir setelah The New Yorker menerbitkannya, maka empat tulisan itu akan dia sempurnakan lagi menjadi satu buku.

Tapi William Shawn yang membaca naskah pertama Hersey punya kesimpulan lain. Seluruh bagian itu harus dipublikasikan dalam sekali terbit. Ia begitu terpukau membacanya. John Lardner, wartawan Newsweek, pernah mewawancarai Shawn sehubungan dengan artikel Hiroshima itu dan menulis, Hersey had, in typical New Yorker fashion, refocused on the scene at the beginning of each installment. To Shawn, this made the story lose much of its impact and he went to Ross with a suggestion that was daring even for the New Yorker. “This,” he said, “can’t be serialized. It’s got to run all at once.”

Shawn sendiri pada awalnya kebingungan untuk memberi alasan mengapa naskah Hersey harus diterbitkan dalam satu edisi. Sebab, jika idenya itu direalisasikan, satu edisi The New Yorker Agustus 1946 akan melulu berisi artikel Hersey, alias menggusur artikel-artikel lain yang sudah disiapkan. Dan itu tidak lazim bagi pembaca The New Yorker yang, meski fanatik membaca artikel-artikel panjang, terbiasa menerima sajian lebih dari satu artikel untuk satu edisi. Shawn akhirnya menemukan alasan itu, seperti yang pernah tercantum dalam editorial edisi pertama The New Yorker Februari 1925, “The New Yorker starts with a declaration of serious purpose…” Harold Ross yang membantu Shawn menyunting tulisan Hersey setuju saja.

Selama 10 hari, Shawn dan Ross menyunting tulisan Hersey di ruang editor yang terkunci. Tak ada yang tahu apa yang terjadi di ruangan itu kecuali seorang pembantu yang tugasnya membersihkan ruangan. Bagi Hersey, suatu kehormatan besar bila tulisannya disunting oleh Harold Ross. Dalam sejarah The New Yorker, Ross dikenal sebagai editor paling teliti, halus, dan memberi nyawa bagi tulisan yang disuntingnya. Sampai pernah William Maxwell menulis kepada John Updike pada 1960, keduanya kontributor di majalah itu, “Sayang sekali jika kamu belum pernah mendapat catatan suntingan dari Ross.” Untuk bagian pertama tulisan Hersey saja, Ross memberi catatan dan koreksi sampai 47 buah. Setelah direvisi oleh Hersey, Ross masih memberi 27 catatan. Hingga revisi terakhir pun, Ross masih mencatat enam kalimat yang perlu diperbaiki Hersey yang akhirnya digubah sendiri oleh Ross.

Pada 31 Agustus 1946, The New Yorker yang hanya berisi tulisan Hersey beredar di pasaran. Tulisan lain hanya satu paragraf editorial yang mendahului artikel Hersey, berjudul “To Our Readers”:

The New Yorker this week devotes its entire editorial space to an article on the almost complete obliteration of a city by one atomic bomb, and what happened to the people of that city. It does so in the conviction that few of us have yet comprehended the all but incredible destructive power of this weapon, and that everyone might well take time to consider the terrible implications of its use.

Artikel Hersey mengalir dari halaman awal sampai akhir majalah, hanya disisipi satu ilustrasi abstrak dan tidak diinterupsi oleh newsbreak (gambar-gambar kecil) atau satu pun iklan. Agak unik dan mencengangkan memang, bahkan melanggar kebiasaan lay out The New Yorker yang tak pernah membiarkan halamannya hanya dipenuhi rumput tulisan tanpa gambar.

Toh begitu digelar di pasar pada hari pertama, majalah edisi tersebut langsung ludes terjual. Seorang pelanggan, sebagaimana dikutip Ben Yagoda dalam bukunya About Town, menulis ke The New Yorker, “no one talking about anything else but the Hersey article for the last two days, either in trains, restaurants, or at home.”

Majalah Time dan Herald Tribune sampai menulis editorial tentang artikel Hersey tersebut. Albert Einstein, sang penemu rumus atom, memutuskan untuk membeli 1.000 eksemplar edisi “Hiroshima” itu, tapi ia tak berhasil mendapatkan satu pun di lapak-lapak penjual majalah.

Pada malam 9 hingga 12 September 1946, radio ABC di Amerika dan BBC di Inggris menyiarkan pembacaan artikel Hersey selama setengah jam kali empat hari (total dua jam) tanpa diselingi iklan. Tak berapa lama, “Hiroshima” Hersey pun dicetak ulang dalam bentuk buku 90 halaman. Buku yang dijual dengan harga US$ 5,99 per eksemplar itu dengan segera menjadi best seller. Saturday Review of Literature, sebuah buletin yang fokus pada peningkatan mutu bacaan di Amerika Serikat, sampai menulis “Everyone able to read should read it.”

Sebetulnya di mana letak kekuatan reportase Hersey tersebut hingga menjadi masterpiece jurnalisme? The New York Times yang dikutip di sampul belakang buku menjawab, “Nothing can be said about this book that can equal what the book has to say. It speak for itself, and in an unforgettable way, for humanity.”

Tampaknya pengaruh William Shawn dalam proses mulai perencanaan reportase hingga penyuntingan artikel cukup besar menentukan hasil akhir karya Hersey. Jika suntingan Ross berkonsentrasi pada detail narasi artikel, maka suntingan Shawn menyusupkan napas humanisme dalam tulisan. Artikel “Hiroshima” itu sama sekali berbeda dengan reportase peristiwa-peristiwa perang lainnya. Tak ada jumlah korban disebut, tak ada soal teknis persenjataan maupun pesawat pembawa bom, pun tak ada keterangan tentang bom atom itu sendiri, meskipun Hersey sudah mengumpulkan semua data itu sebelum datang ke Hiroshima. Artikel ini hanya bertutur soal apa yang dialami oleh enam orang penduduk Hiroshima sebelum, saat, dan sesudah bom atom jatuh. Itu saja.

Namun dengan gaya jurnalisme sastrawi, artikel tersebut menjadi sangat menyentuh, sekaligus menjadi politis tanpa usaha memolitisasi sedikit pun. “Hiroshima” Hersey disebut-sebut dalam materi kuliah Nieman Fellowship di Universitas Harvard, Cambridge, telah menghentikan perdebatan antara politisi, agamawan, dan ilmuwan bom atom. Kesimpulannya uji coba bom atom selayaknya dihentikan. Sayangnya, dalam perang dingin yang kemudian bergolak antara Amerika Serikat dan Uni Soviet, kesimpulan itu seolah menjadi suara dari padang gurun. Hanya sayup terdengar.


AWAL tahun 1947, Hatsuyo Nakamura menerima kiriman artikel “Hiroshima” dari John Hersey. Demikian juga dengan narasumber lain, baik yang menjadi sosok utama maupun sosok yang melintas dalam peristiwa yang dialami enam sosok utama itu. Nakamura mengirim kartu pos ucapan terima kasih kepada Hersey, tapi juga permintaan maaf karena ia tak bisa membaca artikel berbahasa Inggris tersebut.

Hersey merasa agak bersalah dan trenyuh. Ia berusaha mencari sponsor agar bukunya diterjemahkan dan ditulis dalam alfabet Jepang (hiragana, katakana, dan kanji), sehingga siapa pun orang Jepang bisa membaca tulisan ini.

Hersey tak menunggu lama. Random House, Inc. dan Alfred A. Knopf, Inc. mengalokasikan dana untuk penerjemahan dan penulisan dalam bahasa Jepang. Meski hak cipta ada di tangan Hersey, ia membebaskan siapa pun untuk mencetak edisi bahasa Jepang yang berjudul Hiroshima-shi. Setiap tahun menjelang peringatan jatuhnya bom atom pada 6 Agustus, buku ini dicetak ulang dan masih tetap saja banyak dibeli orang. Pidato upacara peringatan tiap tahun di lapangan Peace Memorial Park juga pasti selalu mengutip satu-dua kalimat tulisan Hersey.

Nakamura membeli satu buku Hiroshima-shi. Ia mengirim surat kepada Hersey bahwa anaknya, Toshio sangat terharu dan bangga dengan buku tersebut. Maklum, Hersey menutup buku itu dengan mengutip tulisan pekerjaan rumah yang dibuat Toshio untuk gurunya. Isinya tentang pengalaman Toshio sehari sebelum dan sesudah bom atom meledak.

Begini Toshio menulis, “Sehari menjelang bom, saya pergi berenang. Pada pagi hari bom, saya sedang makan kacang. Saya melihat cahaya berkilat. Saya terlempar ke dipan adik perempuan saya. Ketika kami selamat, yang saya lihat hanya reruntuhan sejauh mata memandang. Kami pergi ke lapangan. Angin berpusar kencang sempat sekali datang. Pada malam harinya sebuah tangki gas terbakar dan saya lihat bayangan apinya menjilat tercermin di permukaan sungai. Kami tidur di lapangan semalaman. Esoknya, saya pergi ke jembatan Taiko dan bertemu dengan dua teman perempuan saya, Kikuki dan Murakami. Mereka sedang kebingungan mencari-cari ibu mereka. Tapi setahu saya, ibunya Kikuki luka berat dan ibu Murakami, telah meninggal dunia.”

Pada Agustus 1985, keluarga Nakamura dicengangkan dengan kedatangan Hersey ke rumah mereka di Nobori-cho. Toshio yang membukakan pintu. Tapi berbeda dengan 39 tahun lalu, Toshio tidak lari. Ia hanya bertanya-tanya dalam hati, siapa gerangan orang kulit putih, dengan uban kelabu dan kacamata berbingkai hitam tebal di hadapannya itu.

“Watashi no namae wa John Hersey desu. Anata no namae wa…,” sapa John Hersey

Hatsuyo Nakamura berjingkat sigap, “Toshio, Toshio Nakamura. Aaa Jono Hereshi saaan…”

Perempuan lewat paroh baya itu hendak membungkuk hormat, namun John Hersey segera memeluknya. Toshio melihat muka ibunya bersemu merah.

Pada 6 Agustus 2002, muka Hatsuyo Nakamura tampak sedih mengenang pertemuan tersebut. Ia menunjukkan dua telegram yang lama disimpannya, satu tentang kematian suaminya Isawa Nakamura, dan satunya lagi berbunyi, “John Hersey died at home in Key West, Florida on March 24, 1993. He told me to inform you before. Regards, Barbara Hersey.”*

Read More......