Minggu, 31 Mei 2009

Bagaimana Orang Madura Memandang Pendidikan

Oleh: Musthofa Bisri

31 Mei 2009 kemarin, aku, Rama dan Ima istriku menghadiri acara imtihan atau ulang tahun Pondok Pesantren Syaichona Cholil Kota Balikpapan. Di pondok ini, aku dan istriku bertemu, berkenalan, kemudian pacaran, lalu bertunangan akhirnya cinta kami bersanding di pelaminan pada tanggal 07 November 2006.

Pondok Syaichona Cholil ini, diasuh oleh KH Ali Cholil. Beliau merupakan cicit dari Syaichona Cholil pendiri pondok Demangan dan Kepang di Kabupaten Bangkalan Madura Jawa Timur. Dalam catatan sejarah, pendiri NU sekaligus ayahanda KH Abdurrahman Wahid atau Gusdur merupakan salah satu murid Syaichona Cholil. Bahkan nama NU sendiri merupakan pemeberian Syaichona Cholil.

Acaranya sangat meriah, ribuan orang Madura di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur juga hadir. Sebagai orang Madura, saya sangat mafhum kenapa setiap acara yang diadakan pondok pesantren Syaichona Cholil, karena orang Madura sangat patuh dan hormat pada kyai. Kalau kyai bilang kesana, mereka akan manut, kalau kyai bilang kesini, juga akan manut.

Kemanutan inilah, dimamfaatkan oleh sejumlah caleg untuk meraup dukungan suara pada pemilu legislatif 9 April lalu. Seperti yang dilakukan Mohammad Yasin caleg partai Golkar Kota Balikpapan dan Bambang Susilo calon DPD RI non partai dari Dapil Kaltim. Mereka tidak perlu susah sosialisi dari rumah ke rumah, cukup sowan ke Kyai Ali dan minta dukungan, plus janji akan membantu pembanguna pesantren seperti yang dilakukan Bambang Susilo sedangkan Yasin berjanji akan memberikan uang tunai 5 juta rupiah perbulan untuk pesantren.

Aku melihat mereka hadir dalam acara maulid di pondok ini dan diperkenalkan kepada jamaah sekaligus agar diberikan dukungan. Entah ada kaitannya atau tidak, fakta bicara mereka lolos dan memenangi pemilu.

Tapi yang menarik dari acara ultah pondok ini, adalah pertemuanku dengan teman-teman seangkatan. bisa dibilang reuni kecil dadakan. Kami banyak berbincang, tentang masa-masa kami nyantri, buku kenangan yang telah kututup, tiba-tiba terbuka kembali. Ironisnya, dari banyak hal diperbincangkan, semua seolah bangga telah menjadi santri nakal. hanya kenakalan yang lekat dipikiran teman-teman.

Tapi aku agak sedih, ketika pembicaraan beralih soal pekerjaan. Mereka rata-rata menjadi pekerja kasar, buruh bangunan, pembuat batu bata, jualan kayu dan pasir, atau bekerja di proyek pembuatan paret.

Tentulah pekerjaan itu tidak buruk karena halal, tapi bagiku tetap sebuah ironi, sebab dari 40 orang satu angkatan semuanya bekerja kasar kecuali aku. Saya rasa rendahnya pendidikan orang-orang Madura tidak lepas dari pandangan buruk mereka tentang pendidikan.

Bagi orang Madura, pendidikan hanya ada dua makna. bisa berhitung, mengaji dan tahu ilmu agama. Itu sudah dianggap cukup, selebihnya yang terpenting adalah bekerja mencari uang. Ketiak di pondok dulu, banyak santri Madura yang lulus smp langsung berhenti dan memilih bekerja. menurutku, 9 dari 10 santri madura pasti putus sekolah. Maka jangan heran, jika anda berkunjung ke lokasi pembuatan batu bata di keluarahan Sepinggan Kota Balikpapan, maka pekerjanya rata-rata masih belia.

Ayah saya termasuk yang berpikiran kolot tentang pentingnya pendidikan. Beliau dalam beberapa kesempatan sempat mengusulkan pada saya dan ibu agar adik saya yang sedang nyantri di Pondok Pesantren Al-Amien di Prenduan Madura diberhentikan saja dan diminta segera menikah dengan tunangannya.

Bagi ayah saya, perempuan cukup tahu ilmu bersuci dan mengaji, karena selebihnya waktunya akan habis mengurus suami, anak dan rumah tangganya. Tentu saya dan ummi menolak itu. Mungkin jika dulu saya, tidak nekat kuliah, mesti ayah tidak setuju, maka sekarang saya telah menjadi pedagang seperti ayah.

Read More......

Akuarium

Oleh: Musthofa Bisri

Sudah sepekan ini, saya punya kesibukan baru. Memberi makan ikan dua kali sehari dan menguras akurium seminggu sekali. Sudah barang tentu, saya tidak sedang alih profesi bekerja di toko akuarium. rutinitas baru ini, setengah terpaksa saya lakukan demi anak saya Hizbullah Ramadhan Al-Musthofa yang baru mendapat hadiah akuarium dari kakeknya atau mertua saya.

Sudah sebulan ini, aku lebih punya banyak waktu luang, sejak tempat kerjaku di portal Berita Kabarpemilu.com milik LKBN Antara memecat seluruh redaktur dan memfakumkan 100 koresponden di berbagai daerah tanpa alasan yang jelas.

Saya sadar, bahasa pemfakuman yang digunakan LKBN Antara, adalah bentuk pemecatan secara halus kepada para korespondennya. Ini jelas tindakan sewenang-wenang. Media macam Antara mestinya tidak berbuat demikian.

Santo redaktur saya di kabarpemilu.com yang lolos dari pemecatan, mengaku tidak tahu kenapa pemfakuman ini terjadi. "Maaf ya, saya sama sekali gak tahu persoalannya, saya gak bisa jelasin apa-apa ke kamu," katanya.

Saya bergabung ke kabarpemilu.com sejak April 2008. Sebelum bergabung saya sudah bekerja di radio IDC dan Elshinta Jakarta. Awalnya semua berjalan lancar, saya dibayar 25 ribu rupiah perberita, liputannya bebas lepas, apa saja yang penting menarik. Pembayaran honornya pun lumayan dan yang terpenting lancar.

Ketika bergabung, awak redaksi kabarpemilu.com berkantor di Bogor Jawa barat, tapi sejak Januari 2009 dipindah ke lantai 12 gebung pusat LKBN Antara di Jakarta. Pemindahan kantor redaksi ini, agak ganjil. Ketika masih di Bogor semua berita hanya dipasangi inisial ANT, Tapi setelah pindah, redaksi menggunakan byline, nama reporter ditulis lengkap dalam setiap berita yang dimuat. Tapi sejak awal Mei, byline ditiadakan dan kembali diganti dengan inisial ANT.

Tepat 1 Mei 2009, Redaksi kabarpemilu.com mengirim pengumuman, isinya antara lain menegaskan bahwa seluruh pemberitaan di kabarpemilu.com diambil alih kembali oleh LKBN Antara. dan seluruh koresponden di daerah diminta tidak mengirim berita mulai 1 mei sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Beginilah media di indonesia memperlakukan wartawannya.

Sejak itulah, saya jadi lebih santai dan kembali fokus bekerja di radio Elshinta. Bisa dibilang setengah menganggur. Sebab di Elshinta berita agak sulit siar. Tapi itulah tantangan agar jeli mengolah isu dan berita.

Kini saya lebih punya banyak waktu dengan keluarga, tidak terlalu sibuk. Saya jadi terbiasa mengurus ikan, saya juga baru membeli empat ikan koi dan satu cupang, agar koleksi ikan di akuarium anakku beragam. Tapi ada masalah, pundi-pundi penghasilan saya berkurang. Saya harus segera mengatasinya.

Read More......

Sabtu, 30 Mei 2009

Hidupku Jurnalisme

Oleh: Musthofa Bisri

Sekitar 50 orang berunjuk rasa di depan Kantor DPRD Balikpapan, Kalimantan Timur, Mayoritas pengunjuk rasa berseragam loreng kombinasi warga merah dan orange, lengkap dengan sepatu lars, sangkur dipinggang dan baret, mirip tentara. Di bahu mereka, terdapat berbagai atribut lambang organisasi dengan nama Gardasikat.

Ridho seorang wartawan Radio Elshinta yang ditugaskan di Kota Balikpapan mengatakan, nama-nama organisasi kepemudaan di Kota Balikpapan khususnya dan Kalimantan Timur umumnya, memang identik dengan kekerasan. Selain Gardisakat, Ada Gepak singkatan dari Gerakan Pemuda Asli Kalimantan, Yang ironis sebagai organisasi pemuda, mereka lebih suka mengusung identitas kedaerah dalam berorganisasi.

Untuk menghilangkan kesan seram dari nama-nama organisasi itu, Ridho mengatakan, masyarakat punya istilah lain untuk menyebut mereka yaitu PPM (Pasukan Prasaan Militer). "Mereka akan marah disebut PPM, kalau sudah begitu mereka akan merespon dengan tindak kekerasan," katanya.

Unjuk rasa anggota Gardasikat itu, terjadi awal April 2009 lalu, Mereka memprotes pencopotan Ketua KPU Kata Balikpapan Rendy Ismail oleh KPU Kaltim. Mereka menganggap pencopotan itu tidak sah dan syarat muatan politis. Rendy Ismail, dicopot tepat tanggal 1 April atau sepekan sebelum pelaksanaan Pemilu Legislatif Digelar.

Dalam berita di Harian Kaltim Post milik Jawa Post Group, Ketua KPU Kaltim Andi mengatakan pencopotan Rendy Ismail sah dan sesuai dengan rekomendasi Badan Kehormatan KPU Kaltim yang diketuai Sarosa Hamongpranoto, Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Mulawarman Samarinda.

Melalui percakapan telephoen dengan saya, Sarosa mengatakan, rekomendasi pencopotan Rendy dikeluarkan karena ia dianggap menyalahi beberapa syarat pencalonan sebagai anggota KPU. "Dia itu pernah terlibat kasus pidana penganiayaan dan Pengadilan Negeri Balikpapan diancam pidana penjara lima tahun, Selain itu, Rendy juga menjadi Ketua DPC PKNU Kabupaten Penajam Paser Utara, Saya juga gak tahu kenapa dia bisa lolos seleksi,"

Unjuk rasa itu sempat memanas, ketika terjadi aksi dorong dengan aparat polisi yang membuat pagar betis. Ridho dengan sigap mengelurkan tape recorder dan merekam peristiwa adu mulut pengunjuk rasa dengan aparat. "Ini beritanya, angel yg bagus," kata Ridho. Sebagai wartawan radio, momen-momen ricuh itu yang selalu dinanti, sebab kalau tidak ricuh, berita sebagus apa pun akan sulit disiarkan, sebab Radio berita macam Elshinta yang mengudara 24 jam nonstop lebih mengutamakan berita peristiwa ketimbang berita hasil wawancara biasa dengan pejabat.

"Kalau berita tentang program pemerintah, kadang-kadang baru akan dinaikkan tengah malam, padahal leadnya sudah kirim sejak pagi," ujar Ridho, sambil mengelurkan bloknot dari ranselnya warna hitam yang sudah tampak pudah dan sobek disana-sini.

Dengan cepat tangan Ridho menuangkan peristiwa dorongan kecil antara pengunjuk rasa dengan polisi dalam tulisan, saking cepatnya saya tidak membaca apa yang ditulisnya. Dalam 5 menit naskah berita selesai, Ridho segera mencocok isi rekaman dengan naskah berita, kemudian mengirim lead beritanya dengan sms ke redaksi Elshinta di Jakarta. "biasanya korlip akan cepat merespons, kalau dikirim lead berita tentang kericuhan," Tutur Ridho yakin.

Ucapan Ridho terbukti, beberapa menit setelah mengirim lead, ada balasan dari Redaksi Elshinta. Tapi isinya sedikit mengecewakan Ridho, "Ntr dulu ya, di Jakarta lagi banyak unjuk rasa, di jawa sedang banjir besar," Begitu isi sms balasan yang ditunjukkan Ridho pada saya.

Wajah Ridho langsung tertekuk, raut kekecewaan begitu jelas memancar dari sorot matanya, bloknot dan tape recorder yang semula disiapkan untuk laporan, dimasukkan kembali ke dalam ransel. Ia basahi wajahnya dengan sisa-sisa air mineral dan mencabut sebatang rokok U Mild dari saku. "Saya ke KPU dulu bang," katanya singkat. seraya berlalu pergi dengan motor thunder kesayangannya.

Selasa sore, 3 April 2009, saya kembali berjumpa Ridho, disaat suasana pemilu masih kental, sangat mudah bertemu wartawan, liputan mereka tidak akan jauh-jauh dari kantor Komisi Pemilihan Umum. Ketika di Kantor KPU Balikpapan, Ridho sedang asyik bercanda dengan wartawan lain, hari itu mereka sedang menunggu kedatangan Mantan Ketua KPU Balikpapan Rendy Ismail yang masih nekat ngantor meski telah dicopot.

Lama menunggu, Rendy tak juga kelihatan batang hidungnya. Toa masjid disebrang jalan sudah mengumandangkan adzan sholat Dhuhur. Beberapa pegawai KPU berbegas ke masjid, yang lain tetap sibuk menyortir kertas suara pemilu legislatif di aula belakang.

Ridho tak henti-hentinya menghisap rokok, puntung sudah bertebaran dmana-mana. Begitu juga dua rekan Ridho, Firman Wartawan Kaltim Post dan Wibisono Koresponden Tempo, sama-sama ahli hisap. Mulut mereka tak hentinya menghisap rokok. suasana semakin pengap karena hari itu matahari langit juga sangat terik. "Berita kemarin gak naik, ya biasalah, hari ini mudahan rejeki lebih baik," Begitulah cara Ridho menyapa.

Air wajah Ridho sangat ceria siang itu, ia mengenakan kaos merah bergaris putih sepertinya pemberian telkomsel, celana jeans dan sandal jepit. Bibirnya selalu tersenyum, sesekali tertawa ngakak.

Ridho bercerita, ia bergabung di Elshinta sejak awal pertama bulan September 2007, bertepatan dengan terbakarnya pasar Damai di kecamatan Balikpapan Selatan. Ratusan pedagang kehilangan mata pencaharian. Tapi ia merasa Elshinta benar-benar menerimanya saat terjadi musibah tanah longsor di Kelurahan Gunung Sari Ulu. puluhan rumah rata dengan tanah dan empat warga tewas tertimbun lumpur.

"sebelumnya laporan saya selalu direkam lebih dahulu sebelum siar, tapi waktu ada musibah longsor, saya bisa laporan live, jadi saat itu Elshinta resmi menerima saya," katanya.

Percakapan terputus, Ridho tiba-tiba berdiri dan mengambil tape recorder saat sebuah mobil Suzuki APV warna silver memasuki pelataran parkir gedung KPU Balikpapan. "Rendy datang," katanya. Jarum jam di dinding menunjuk angka dua, matahari sangat makin teringat, kucuran keringat tak terhindarkan.

Seorang lelaki keluar dari mobil itu, senyum langsung mengembang melihat wartawan. Kepalanya agak pelontos, perutnya agak buncit, dialah Rendy Ismail Ketua KPU Balikpapan yang telah dicopot, namun menolak diberhentikan. "Saya masih ketua KPU, tidak ada surat pemberhentian resmi, saya hanya terima sms," katanya.

Ridho bercerita, di balik sikap dan tutur katanya yang lembut, tidak ada yang berani melarang Rendy menempati ruangannya meski telah dipecat. Usut punya usut ternyata Rendy pernah menjadi pemimpin organisasi kepemudaan yang terkenal beringas GEPAK. Pengaruh Rendy sangat kuat di organisasi itu.

"Makanya dibiarkan saja, dari pada Gepak datang menyegel kantor KPU,"

"Liat saja masa yang demo DPRD Balikpapan kemarin, itu orang-orangnya Rendy,"

Wawancara Rendy selesai, Ridho mengajak saya makan coto makasar di kawasan belauran. Tempat itu adalah pasar tradisional yang bagian belakangnya dipenuhi warung makanan dan penjual kaset CD bajakan, suasananya sangat ramai dan bising oleh hentakan musik.

Sambil mencicipi coto makasar dengan ketupat, Ridho bercerita, sebelum bekerja di radio Elshinta, ia telah bekerja di radio IDC. Radio yang siaran pada gelombang 98,5 FM ini dikelola oleh pensiunan pergawai Pertamina UP V Balikpapan. format awalnya adalah radio dakwah, namun agar punya unsur edukasi yang lebih kuat disisipkanlah program berita. Mengudara tiga kali sehari dalam bentuk buletin dan livereport.

Daya pancar Radio IDC sangat luas mencakup dua daerah yaitu Kota Balikpapan dan Kabupaten Penajam Paser Utara dengan kapsitas hampit 1000 watt. Radio ini muncul sebenarnya lebih sebagai perlawanan terhadap radio milik Gereja Bethany yang siarannya sangat luas. "Radio dakwah harus ada, supaya umat islam tetap mendapat pencerahan," ujar Ridho menirukan ucapan Almarhum Ust Rifa'i pendiri Radio IDC. ia meninggal karena serangan jantung dan darah tinggi.

Sebagai radio baru di Balikpapan, keberadaan IDC cukup mendapat tempat, tidak hanya di mata masyarakat tapi di jajaran birokrasi, hingga pimpinan partai politik. Iklan dan berbagai kerjasama talk show dengan pemerintah bernilai ratusan juta rupiah terjalin.

"Ketika almarhum ustad Rifai masih hidup, suasana kerja sangat penuh kekeluargaan," kenang Ridho.

Radio IDC juga mengukuhkan diri sebagai radio dakwah dan berita pertama di Indonesia. Setidaknya begitulah yang diakui Henry seorang konsultan lulusan Universita Indonesia yang belakangan bergabung dalam jajaran direksi Radio IDC. "Di jakarta, tidak Radio model IDC," katanya.

Kegemilangan IDC, rupanya sedikit tercoreng, saat Ustad Rifa'i yang juga mengisi program tausiyah di IDC, mengatakan bahwa musik termasuk barang haram. Sontak, ceramah Rifa'i ini mengundang kontoversi dan protes dari umat islam. salah satunya adalah Mohammd Rofi'i Ketua Gerakan Pemuda Anshor Kota Balikpapan.

Bagi Rofi'i, pernyataan Rifa'i itu berlebihan dan bisa memperburuk perbedaan-perbedaan pendapat antara umat islam. "Kalau punya pandangan musik itu haram, jangan disiarin dong, cukup diyakini dalam hati, sebab kita orang NU tidak sependapat," katanya berapi-api.

"Katanya mau menyaingi Radio Sangkakala punyanya geraja Bethany, kok malah menyerang umat islam sendiri, ini kan tidak benar, umat islam bisa disesatkan dengan pernyataan itu,"

Entah siapa yang memulai, di Balikpapan beredar kabar bahwa Massa GP Anshor akan menyerang markas Radio IDC, Sejumlah intel dari polisi dan militer bertebaran di Masjid Istiqomah markas IDC. Rupanya, isu penyerangan itu, hanya isu bohong. Rofi'i membantah telah memerintahkan anggotanya untuk menyerang.

Sebulan berlalu, kontroversi pernyataan Rifa'i mereda. Suasana berjalan seperti biasa, obrolan tetap memanas tapi hanya dikalangan terbatas. Sekitar bulan mei 2008, Wida Ridwan penyiar radio IDC sedang memutar kembali rekaman ceramah salah seorang ustad pengisi di Masjid Istiqomah. Ceramah yang direkam dan disiarkan ulang sudah melewati proses editing. Jam 12 siang ceramah itu mengudara, Ridwan tidak menyangka isi ceramah yang menurutnya biasa, ternyata kembali menimbulkan kontroversi baru dari umat islam diluar lingkungan jamaah masjid Istiqomah.

Ceramah itu berisi tentang, pernyataan bahwa tahlil yang biasa dilakukan orang-orang NU mendoakan orang-orang yang sudah meninggal disebut sebagai hal yang bid'ah. Artinya Tahlil merupakan ritual mengada-ngada yang tidak ada dan dilakukan dijaman Rosullah Muhammad SAW. Ayat-ayat yang sering digunakan sebagai tameng untuk menyebut kegiatan tahli sebagai bid'ah adalah Likulli Bidatin dholalah, wa kullu dolalatin finnar. artinya semua bid'ah adalah berbahaya dan semua yang berbahaya tempatnya dalam neraka.

Menurut Ridho, jamaah masjid istiqomah adalah aliran salafiyah, mereka memang terkenal keras dalam masalah keyakinan. Jika anda berkunjung ke Istiqomah, pemandangan orang-orang bergamis dengan celana dibawah lutut mudah ditemukan, mereka berjualan parfum dan buku setiap hari jumat.

Siaran Radio IDC itu, langsung mendapat kecaman dari tokoh-tokoh NU, salah satu yang paling lantang protes adalah Ustad Ahmad Rosyidi, ia alumnus pondok pesantren Sukorejo Bondowoso pimpinan Kyai Fawaid. Uniknya Rosyidi saat itu juga mencari salah satu penceramah di Radio IDC, sebagai perwakilan jamaah NU.

Rosyidi yang juga Ketua Persatuan Pondok Pesantren Kota Balikpapan, secara terbuka menantang Ustad Ali yang menyebut tahlil adalah bid'ah untuk berdiskusi lepas dihadapan jamaah istiqomah. Rosyidi menyiapkan sebuah makalah berisi bantahan bahwa tahlil adalah bid'ah dolalah.

Dalam makalah setebal 45 halamah itu, Rosyidi mengakui tahli adalah bidah. tapi bukan bid'ah dolalah atau bahaya, melainkan bid'ah hasanah atau kebaikan. "Coba anda lihat, komposisi bacaan dalam tahlil, semua berasal dari Alquran, tidak ada yang dibuat-buat, apakah ayat alquran itu berbahaya, makanya pemikiran mereka perlu diluruskan," katanya dengan nafas tersengal.
*****

Bersambung................

Read More......

Selasa, 26 Mei 2009

Jalan Lain Menuju Masyarakat Pintar

Oleh : Agus Sopian


AWAL September 2000. Sebuah berita dimuat koran-koran: polisi menangkap Adrie Taniwidjaya, seorang insinyur teknik fisika lulusan Institut Teknologi Bandung. Ia dituduh mencuri pulsa telepon.

Penangkapan bermula dari aktivitas Taniwidjaya mengoperasikan Voice over Internet Protocol (VoIP), suatu temuan teknologi terkini yang memungkinkan konsumen berhemat besar-besaran saat berhubungan telepon. Untuk jangkauan lokal, telepon VoIP mungkin tidak istimewa-istimewa amat. Tapi cobalah gunakan untuk SLI (sambungan langsung internasional), seumpama ke Amerika Serikat. VoIP hampir dapat dipastikan super irit. Orang hanya perlu merogoh kocek sekitar Rp 2.000 per menitnya atau kurang lebih 20 persen dari tarif normal.

Onno Widodo Purbo punya cara sederhana untuk menjelaskan mengapa VoIP tidak bisa diidentikan dengan pencurian pulsa. Ia mengambil analogi bisnis kendaraan bus. Taruhlah PT Telkom sebagai pengusaha bus, yang kemudian menyewakan busnya kepada seseorang. Si penyewa bisa saja mengubah kapasitas kursinya, yang semula diperuntukkan tiga orang menjadi delapan orang.

VoIP dengan sendirinya tidak bisa dianalogikan memparalelkan saluran telepon atau mencatut listrik milik Perusahaan Listrik Negara, seperti dituduhkan polisi. Ini karena pengusaha VoIP tetap menggunakan kabel telepon secara biasa, membayar abonemen secara biasa dan membayar tagihan pulsa pun secara biasa. Yang tak biasa, lalulintas data suara VoIP diatur oleh provider internet atau ISP (internet service provider).

“Adrie enggak salah apa-apa kok. Tuduhannya kan mencuri pulsa. Padahal leased line dia bayar ke Telkom, padahal akses internet dia bayar ke ISP-nya, padahal abodemen telepon dia bayar ke Telkom, engga ada pulsa yang dicuri,” ungkap Purbo.

Purbo bukan anonim dalam jagat telematika. Bersama Asia Internet Interconnection Intiatives (AI3) Project, organ riset internet paling berpengaruh di Asia, dan Computer Network Research Group (CNRG), lembaga yang diprakarsainya, Purbo ikut memberikan cetak biru terhadap pengembangan internet di Indonesia.

Untuk ketekunan dan kepakarannya, sederet penghargaan telah diraihnya. Sebut saja Golden Award for Indonesian Telematika Figure dari Kamar Dagang Indonesia (2000), ASEAN Outstanding Engineering Achievement Award dari ASEAN Federation of Engineering Organization (1997), atau Penghargaan Pemenang Adhicipta Rekayasa dari Persatuan Insinyur Indonesia. Ia juga tercatat dalam buku American Men and Women of Science (1992). Masyarakat internet bahkan menggelarinya “profesor internet”, sebagian mendaulatnya jadi “menteri internet” —suatu penghargaan yang acap membuat Purbo merasa geli.

“Modal saya,” kata pria yang biasa menuliskan namanya Onno W. Purbo ini, ”betul-betul modal dengkul. Saya tidak pernah belajar formal tentang teknologi informasi, tidak pernah belajar formal tentang internet. Saya jelas lebih bodoh daripada adik-adik mahasiswa di ITB. Lha wong sering nanya ke mereka kok saya ini. Terus terangnya, saya praktis tidak punya apa-apa secara formal.”

Purbo agaknya telah memperkaya khazanah humor dunia, melengkapi dongeng Albert Einstein yang mampu menciptakan teori relativitas yang terkenal itu padahal dia pernah mendapat nilai D untuk fisika; atau kisah pemikir ekonomi kaliber doktor sekelas Karl Marx yang justru berkubang dalam kemiskinan.


ONNO W. Purbo tumbuh dalam lingkungan keluarga yang mencintai ilmu dan memuliakan pendidikan. Ia sulung dari tiga adik: Heru Wibowo Poerbo, Lita Widayanto Poerbo, dan Benyamin Wirawan Poerbo. Empat bersaudara ini menamatkan program kesarjanaannya di Institut Teknologi Bandung. Nama Poerbo yang mereka sandang berasal dari ayahnya, Hasan Poerbo; juga alumnus Institut Teknologi Bandung. “Semua anak ibu memakai ejaan seperti bapaknya. Hanya dia sendiri tuh yang ndak mau,” ungkap Tini H. Poerbo, sang ibu, menerangkan ‘keganjilan’ ujung nama si sulung.

Poerbo senior meninggal tahun lalu dalam usia 74 tahun. Jabatan terakhirnya, direktur Pusat Penelitan Lingkungan Hidup, lembaga subordinan kementrian negara lingkungan hidup, yang pernah dikendalikan salah seorang teman lamanya, Emil Salim.

Sebagian besar waktu Poerbo dihabiskan untuk mendidik—seperti juga leluhurnya, Ki Hajar Dewantara, pendiri Taman Siswa, lembaga pendidikan bumi putra di zaman kolonial Belanda. Sebagai pendidik, Poerbo mengajar di Institut Teknologi Bandung, selain di Universitas York, Amerika Serikat dan Universitas Waterloo, Kanada.

Hasan Poerbo disebut-sebut orang pertama dari Indonesia yang berhasil menembus program beasiswa Universitas Liverpool, Inggris, salah satu institusi pendidikan tinggi terbaik Inggris. Ia meraih master dalam studi desain perencanaan kota, melengkapi kesarjanaannya dalam disiplin arsitektur. Selama belajar di sana, ia sempat digoda Presiden Soekarno untuk pulang. Keahlian Poerbo diperlukan untuk menggarap sejumlah proyek mercusuar sebagai bagian dari propaganda politik Soekarno dalam menghadapi kekuatan Barat. Poerbo tak bergeming. Ia memilih belajar sampai khatam.

Rezim Presiden Soeharto, yang agaknya mencium juga potensi kepakaran dalam diri Poerbo, hendak merangkulnya. Namun, kasus Taman Mini Indonesia Indah menyurutkan langkah Poerbo untuk masuk ke dalam lingkaran kekuasaan.

Masih segar dalam ingatan Tini, suatu sore rumahnya didatangi sejumlah orang yang mengatasnamakan utusan Soeharto, presiden kedua Indonesia. Mereka meminta Poerbo untuk segera ke Jakarta menemui orang nomor satu itu. Dengan bekal uang belanja sehari-hari, Poerbo berangkat. Tak tahunya, ia harus menghadap Tien Soeharto, ibu negara, yang selama ini sering menghubunginya via sejawatnya di Institut Teknologi Bandung. Tien Soeharto mengemukakan keinginannya untuk membuat sebuah miniatur semacam kompleks Madurodam di Belanda, yang kelak dinamakan Taman Mini Indonesia Indah.

Poerbo menyanggupi. Syaratnya, pembangunan dilakukan pada rencana pembangunan lima tahun berikutnya. “Sebaiknya tidak sekarang,” kata Poerbo sebagaimana dikutip Tini, “sekarang ini masanya kita mengembangkan sarana dan prasarana untuk pembangunan ekonomi, sekolah-sekolah dan puskesmas.” Puskesmas yang dimaksud adalah pusat kesehatan masyarakat, klinik tempat orang berobat yang sebagian besar dana operasinya ditanggung oleh pemerintah.
Tien Soeharto berang. Tanpa basa-basi lagi, ia meninggalkan tempat pertemuan. Malang bagi Poerbo. Ia tak urung kena interogasi pasukan pengawal kepresidenan dan aparat intelijen selama dua hari. “Saya cemas. Tapi saya bersyukur akhirnya dia pulang. Soalnya, dulu itu, yang kontra suka dibuang ke pulau Buru. Bapak diselamatkan oleh Ali Sadikin,” ungkap Tini, mengacu pada nama seorang gubernur Jakarta yang populer dan pada 1980-an dikenal sebagai pentolan kelompok pembangkang Petisi 50.

Di mata anak-anaknya, Tini—bersepupu dengan Karlina Leksono, aktivis masalah perempuan dari Suara Ibu Peduli, istri Ninok Leksono, wartawan Kompas—ibu yang penuh tanggung jawab. Ia memilih berhenti mengajar di sebuah sekolah menengah atas di Jakarta kemudian memusatkan diri sepenuhnya pada rumah tangga. Ia menjadi pengasuh yang teliti bagi anak-anaknya, dan manajer yang cekatan bagi suaminya. Seluruh kegiatan suaminya, ia organisasikan dengan rapi mulai jadwal memberikan kuliah, menyampaikan ceramah di luar kampus, sampai merapikan buku, makalah, dan karya tulis lainnya. Di kemudian hari, Tini menjadi prototipe buat para istri anak-anaknya.


PADA Jumat Kliwon, 17 Agustus 1962, menjelang subuh di Bandung. Onno W. Purbo lahir dari sebuah kecelakaan. Sang ibu terpleset gara-gara menginjak sabun kala usia kandungannya masih delapan bulan. “Bleeding. Darah di mana-mana,” kenang Tini.

Sebagai anak yang lahir prematur, Purbo harus hidup dalam inkubator. Setelah beberapa hari, ia harus diangin-anginkan untuk mendapat udara yang cukup dan mempertinggi kekebalan tubuhnya. Pelan-pelan Purbo jadi bayi normal. Namun, memasuki usia ke seratus hari, Purbo terserang batuk ganas. Mulutnya tak jarang mengeluarkan darah segar. Padahal, di kandungan ibunya sebentar lagi akan lahir seorang adik. “Ibu melahirkan setahun sekali,” ucap Tini.
Sigap, Purbo segera dilarikan ke eyangnya di Jakarta. Selama berbulan-bulan, Purbo diselimuti panasnya udara Jakarta. Ini ternyata banyak menolong memulihkan kesehatannya. Pada usia 11 bulan, Purbo ditarik ke Bandung. Empat tahun kemudian ia disekolahkan.

Masa sekolah dasar dan menengah Purbo dihabiskan di lembaga pendidikan Taruna Bakti. Semuanya di Bandung. Selama sekolah, prestasi Purbo biasa-biasa saja. Sekalipun demikian, Purbo tak pernah dipaksa-paksa untuk belajar lebih giat lagi.

“Penggunaan otak optimal nanti saja saat kuliah. Kalau masih sekolah, biarkan saja apa adanya. Yang penting, harus ditumbuhkan keberanian berpikir dan mengambil inisiatif. Jangan lupa pula aspek rekreatifnya,” kata Tini.

Tini biasa memberikan lalapan daun antanan tiga lembar sehari agar Intellegence Quotient (IQ) anaknya berkembang. Antanan, yang berdaun seluas kuku jempol, ini banyak ditanam di halaman belakang rumahnya, di Bandung. “Khasiat Antanan sudah diriset di Beijing lho.”

Dan soal otak, Tini punya kisah yang tersimpan dalam benaknya.

Saat Purbo duduk di kelas keempat sekolah dasar, gurunya datang ke rumah. Sang guru mengeluhkan Purbo yang berkali-kali tidak menyetorkan PR (pekerjaan rumah). Katanya, selain bisa menghadirkan preseden jelek buat teman-temannya, hal itu pun besar kemungkinan akan melahirkan kebiasaan buruk bagi Purbo sendiri. Ia bisa menjadi siswa malas.

“Kenapa ndak mengerjakan PR?”tanya Tini saat sarapan. Bagi keluarga Hasan Poerbo, acara sarapan, demikian pula makan siang, bukan sekadar mengisi perut, tapi juga ajang komunikasi dan berbagi hati.

“Pusing,” Purbo buka mulut.

“Pusing? Pusing tidak bisa atau pusing…”

“Pusing aja.”

“Maksudnya sakit? Pening gitu?”

Purbo mengangguk.

Pertanyaan yang sama diulang-ulangnya. Jawaban Purbo tetap itu-itu juga.

Tini memutuskan membawa Purbo ke dokter. Sekurang-kurangnya, kata dokter, ada sepuluh penyebab sakit kepala, di antaranya duduk siswa yang terlalu jauh dari papan tulis atau justru terlalu dekat. Bahkan mata kena kapur tulis pun bisa membangkitkan rasa pusing. Nasihat dokter berikutnya yang masih diingat Tini kurang lebih, “Bawa saja anak ibu ke dokter bedah. Di sana kan ada rontgen.”

“Dokter bedah?” Tini terbeliak.

Berat hati campur deg-degan, Tini melarikan Purbo ke dokter bedah. Kepala Purbo difoto. Bertolak dari rontgenogram, dokter menyarankan agar otak Purbo dibedah saja.

“Dibedah?” Tini makin terbeliak.

Ragu-ragu dengan diagnosis dokter, Tini meminta foto ulang, sekalipun untuk itu ia harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.

Tidak sia-sia. Gambar yang dihasilkan kali ini benar-benar menggembirakan. Tak ada bintik apa pun di otak Purbo. Ia dinyatakan tak memiliki kelainan. Tapi hasil itu tidak membuat rasa pening di kepala Purbo jadi berkurang. Tini pun mengikuti saran dokter agar Purbo diperiksakan juga ke dokter mata. Tini tahu akhirnya, ternyata ada kelainan di mata Purbo.

“Sejak itu ia memakai kacamata,” kata Tini.


KETIKA lulus dari Institut Teknologi Bandung, Onno W. Purbo menyandang predikat mahasiswa terbaik fakultas teknik elektro. Itu tahun 1987. Ditengok ke belakang, predikat tersebut sepertinya lebih merupakan buah dari keuletannya. Sejak duduk di bangku kelas tiga menengah pertama, Purbo memang sudah memformat otaknya dengan pernak-pernik elektronik. Ia mulai dengan mengotak-atik tabung radio bekas pakai; mencoba membuat pesawat radio amatir. Ia berhasil mewujudkan impiannya meski hanya bisa berkomunikasi lewat bahasa morse.
Di sekolah menengah akhir, keahliannya makin terasah, terutama setelah dia mendapat buku elektronika dari teman sekelasnya, Krishna Ariadi Pribadi. Berbagai tabung radio bekas pakai, ia kumpulkan dengan tekun untuk dirakit jadi pesawat radio amatir. Waktu perakitan hanya memerlukan waktu dua hari. “Yang lama cari komponennya,” kata Purbo.

Menjelang masuk perguruan tinggi, Purbo memanen lagi buah keuletannya. Ia tidak hanya mampu membuat pesawat, tapi juga pemancar. Bahasa verbal brik-rojer-kopi pun akhirnya meminggirkan tat-tit-tut morse. Purbo hampir tak punya lagi kendala untuk mengudara. Ia merasa, radio amatirlah yang membentuk karakter dan pola pengembangan diri dalam berinteraksi dengan dunia elektronika, termasuk komputer yang mulai dikenalnya sejak tahun 1981.

Perkenalan dengan komputer diawali oleh persahabatannya dengan Bachti Alisyahbana, putra Iskandar Alisyahbana, salah seorang guru besar Institut Teknologi Bandung. Tidak hanya mencoba menjalankan dan menangguk kegunaannya, Purbo yang dasarnya suka ‘ngoprek’, mengobok-obok komputer itu. Di lain waktu, ia mencoba membuat program BASIC (Beginner's All-purpose Symbolic Instruction Code), bahasa program aljabar sederhana dan mudah dipahami, yang kemudian banyak diaplikasikan dalam penghitungan bisnis dan industri.

Merasa dirinya banyak dibantu oleh teman-temannya, terutama fasilitas peralatan elektronik, suatu hari ia datang kepada ayahnya untuk meminjam kendaraan. Ia mengutarakan niatnya untuk berangkat ke Jakarta, membeli komputer. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung: 10 unit. Uang pembelian berasal dari hasil patungan dengan teman-teman kuliahnya. Komputer-komputer inilah yang turut menghidupkan kegiatan ekstrakurikuler mahasiswa di lingkungan fakultas teknik Institut Teknologi Bandung. Satu komputer, disewakannya Rp 500 per jamnya. Untuk urusan ini, Purbo sampai memutuskan cuti kuliah selama satu semester.

Tahun 1985, Purbo mulai menaruh perhatian besar pada pengembangan gabungan teknologi radio dan komputer. Hingga menjelang kuliahnya berakhir, di udara ia melakukan kontak intens dengan amatir radio senior seperti Robby Soebiakto dan Achmad Zaini atau IGK Manila untuk berdiskusi. Dari diskusi dan belajar informal, Purbo mendapat banyak pengetahuan.

Bersama teman-teman udaranya, ia merintis teknik komunikasi gelombang 40 meteran (27 MHz). Teknik ini dikenal sebagai packet radio. Modusnya, radio disambungkan ke komputer lewat modem. Ia terkagum-kagum melihat layar komputer bisa bercakap melalui kibor.

“Itu mula pertama saya berkenalan dengan teknik komunikasi data yang relatif canggih,” katanya.

Pada saat itu, kenang Purbo, jumlah amatir yang menggunakan packet radio dapat dihitung dengan jari. Asal tahu saja, Organisasi Radio Amatir (Orari) pertama di Indonesia yang bekerja di packet radio adalah Lokal Orari Cibeunying, yang dibangun Purbo bersama kawan-kawannya.
Tak sebatas kongko-kongko dengan sejawatnya di dalam negeri, Purbo pun menjalin komunikasi dengan amatir di luar negeri. Pada tahap ini, Purbo memang sudah sampai pada penggunaan jaringan media penyimpanan dan pengiriman PBBS (Packet Bulletin Board System) amatir radio, yang kini lebih dikenal dengan email.

“Komunikasi digital sederhana ini,” ungkapnya, “kami lakukan di tahun 1986, mungkin belum terbayangkan oleh sebagian besar dari kita yang menikmati internet pada hari ini. Kekaguman demi kekaguman terus dirasakan dan mendorong untuk terus membaca dan mempelajari teknik-teknik komunikasi data secara otodidak.”

Selepas Institut Teknologi Bandung, Purbo berangkat ke Kanada untuk meneruskan program belajar strata 2 (S-2). Ia merasa beruntung memilih kota kecil Hamilton. Di sana, ia satu-satunya orang Indonesia. Ini memaksanya untuk lebih fasih berbahasa Inggris. Lebih beruntung lagi, di kota tersebut terdapat perkumpulan packet radio yang terbilang aktif: Hamilton Amateur Packet Network yang mengembangkan peralatan packet radio sendiri. Purbo tertarik dan bergabung.
Purbo memandang perlu mendalami sisi teknologisnya, kemudian menafsirkannya dalam bahasa sederhana, agar pengetahuan itu bisa dibagikan kepada siapa saja yang sehobi. Baginya, teknologi radio mendesak untuk dimasyarakatkan dan digunakan seoptimal mungkin untuk mengatasi kendala-kendala komunikasi di Indonesia, yang dideterminasi oleh hambatan geografis dan psikografis masyarakat.

Hambatan geografis yang dimaksud adalah luasnya wilayah, yang belum terkoneksi semuanya oleh infrastruktur transportasi. Sedangkan hambatan psikografis lebih disebabkan oleh masih banyaknya warga yang masih buta huruf, selain masih rendahnya budaya baca. Kedua hambatan ini sulit dipenetrasi oleh suratkabar atau media-media cetak lainnya. Radio dan televisi, yang ditakdirkan bekerja melalui gelombang udara, jelas dapat diandalkan untuk menerobos kendala ruang dan waktu.

Masalahnya, tutur Purbo, di Indonesia, gelombang udara diidentifikasi sebagai sarana transportasi udara dan menjadi sumber daya alam yang “terbatas.” Hanya mereka yang punya uang yang dapat berkarib dengan regulasi. Pertumbuhan radio jadinya sulit berkembang. Praktis, sirkulasi informasi berjalan lamban.

Ceritanya akan lain, sekiranya rakyat kecil di pedesaan diberi keleluasaan untuk membuat pemancar-pemancar siaran. Tak perlu berkekuatan pancar 100 kilowatt seperti izin yang diberikan kepada pengusaha-pengusaha radio, rakyat di dusun cukup diberi 10 watt saja. Mungkin tidak bisa digunakan untuk adu gengsi, tapi kekuatan sebesar itu sudah cukup untuk menghidupkan komunikasi interaktif, prasarat utama terbentuknya masyarakat informasi.


DARI Kanada, pada 1994, Purbo membawa pulang dua gelar akademik. Dari Universitas McMaster, ia meraih master dalam bidang laser semikonduktor dan fiber optik. Dari Universitas Waterloo, ia mendapatkan doktor dalam bidang devais silikon dan rangkaian terintegrasi.

Hasil pendidikan memberinya spirit dan tenaga baru untuk ikut membenahi sistem jaringan komputer dan internet di Indonesia. Ia memulainya dari lingkungan terkecil, Institut Teknologi Bandung, tempat dirinya mengabdi. Purbo segera tenggelam dalam riset-riset yang digalang Asia Internet Interconnection Intiatives Project. Bermarkas di Jepang, jaringan kerja riset antar negara ini dimotori oleh dua samurai internet: Jun Murai, pelopor internet pendidikan di Jepang, serta Suguru Yamaguchi, ilmuwan muda berusia 30 tahun. Yamaguchi adalah pemimpin langsung jaringan ini. Di Institut Teknologi Bandung, satuan tugas jaringan dipimpin Widiadnyana Merati, ketua lembaga penelitian setempat.

Institut Teknologi Bandung punya rencana besar, yakni membangun pintu gerbang internet pendidikan untuk mengkoneksikan lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia dalam suatu kesatuan sistem informasi. Tahun 1996, gateway berhasil dibangun dengan total kecepatan 2 Mbps. Ini sebuah lompatan besar, jauh melampaui total kecepatan provider-provider internet semacam RadNet (512 Kbps), IndoNet (256 Kbps) atau CBN-Net (256). Lebih-lebih dibanding Wasantara-Net Bandung milik PT Pos Indonesia yang hanya berkekuatan 128 Kbps. Seperti Anda tahu, bps atau bit per second adalah satuan yang dipakai untuk menunjukkan kecepatan pemindahan data di antara komputer yang saling berkoneksi. Huruf M dan K di depannya merujuk pada bilangan romawi untuk mega dan kilo.

Pembangunan gateway itu bernilai strategis, agaknya. Purbo menditeksi, topografi internet Indonesia lebih didominasi oleh pengguna komersial dan pendidikan, yang secara geografis terkonsentrasi di Jakarta dan Bandung. “Menarik sebetulnya untuk ditelaah lebih lanjut, bahwa ternyata user Jakarta didominasi oleh user ISP komersial, sedang di Bandung didominasi oleh user perguruan tinggi, khususnya ITB,” katanya.

Pertumbuhan internet Institut Teknologi Bandung, yang sekaligus menjadi tiang pancang pembangunan internet pendidikan di Indonesia, tentu saja tak dapat dilepaskan dari Computer Network Research Group (CNRG), sebuah organisasi riset informal, yang didirikan Purbo bersama rekan-rekannya pada 1994.

Sekalipun mengambil domisili di Institut Teknologi Bandung dan diawaki seluruhnya oleh orang-orang Institut Teknologi Bandung, CNRG hampir tidak pernah mendapat dana riset dari perguruan tinggi tertua di Indonesia itu, kecuali dana awal sebesar Rp 100 juta yang dialirkan oleh lembaga penelitiannya. “Sebagian besar kegiatan pembangunan ini dilakukan secara mandiri dan swadana. Praktis tidak melibatkan langsung Bank Dunia, IMF, ADB. Hal ini paling tidak mengurangi rasa berdosa kepada rakyat,” kata Purbo, mengacu pada tiga lembaga keuangan internasional yang banyak membantu Indonesia: Bank Dunia, International Monetary Fund, dan Asian Development Bank.

Buat Purbo, riset swadana bisa menghasilkan energi kreatif yang tak terkira. Semua yang terlibat tak perlu harus cemas dikejar target. Dengan begitu, inisiatif dapat berkembang bebas, inspirasi mengalir lepas. Segera Purbo membuktikan kata-katanya.

Institusi itu, yang ia sebut OTB alias organisasi tanpa bentuk, selain menjadi salah satu organ pendorong jaringan internet pendidikan di Indonesia yang mengaitkan 25 lembaga pendidikan, juga menjadi produsen informasi yang lumayan disegani. Sekitar 20 buku panduan mengenai konsep jaringan dan internet diluncurkan ke hadapan publik dalam bahasa dan metode sederhana, dengan harga sederhana pula: antara Rp 15 ribu-Rp 20 ribu per buku. Taruhlah konsep jaringan tanpa kabel (wavelan) atau konsep tentang warung internet, yang pada Februari 2001 lalu memasuki cetakan kelima dan masuk dalam daftar buku best seller untuk ukuran bacaan panduan.

Pada saat yang sama, ribuan artikel disebarkannya lewat majalah atau koran, selain dalam CD-ROM berkat uluran tangan Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Indonesia. Sejumlah hasil penelitian lain, dipresentasikannya dalam berbagai seminar, workshop, konferensi, dengan frekuensi rata-rata satu sampai tiga per minggu.

Di awal tahun 1999, ketika Purbo mengepalai Perpustakaan Pusat Institut Teknologi Bandung, ia membawa sempalan eksponen CNRG untuk mengembangkan pengelolaan perpustakaan di KMRG (Knowledge Management Research Group). Ekornya, Digital Library & Library Network terbentuk. Jaringan ini merangkaikan sedikitnya 20 unit perpustakaan di seluruh Indonesia. Ismail Fahmi, sejawat Purbo, lantas memotori etape selanjutnya hingga menjelma jadi IDLN (Indonesia Digital Library Network).

Sepeninggal Purbo, CNRG memegang rol penting dalam pembangunan jaringan serat fiber optik sepanjang 11 kilometer, yang menyatukan kawasan kampus ke dalam sebuah komunitas virtual. Berkah buat warga Institut Teknologi Bandung. Mereka bisa menikmati internet supercepat untuk ukuran seumumnya di Indonesia dengan harga superhemat: Rp 10.000 per bulan.

Jangan lupa, di tingkat elit, CNRG pun mengaum. Lembaga riset yang menempati beberapa petak ruangan gedung Pusat Antar Universitas Mikroelektronika Institut Teknologi Bandung ini memang ikut berbicara dalam komisi regulasi telekomunikasi, serta regulasi internet di Indonesia.
“Tapi...yang menurut saya paling berkesan adalah pemantauan pemilu,” kata Basuki Suhardiman, sejawat Purbo yang kini mengendalikan CNRG. Pemilu yang dimaksud adalah pemilihan umum di Indonesia pada 1999, saat Habibie, presiden ketiga Indonesia, berkuasa.

Saat itu CNRG digandeng Forum Rektor. Peran yang dimainkannya melaporkan hasil perhitungan suara pemilihan umum dari berbagai wilayah. Untuk peran ini CNRG sama sekali tak dibayar. Padahal, ditilik dari angka PvT (Parallel vote Tabulation), pemilihan umum di Indonesia jelas termasuk yang terbesar di dunia karena melibatkan 300 ribu tempat pemungutan suara dan 9.000 di antaranya dijadikan sampel PvT. Sampel ini diperlukan untuk melihat validitas data perhitungan, baik secara kualitatif maupun kuantitatif.

“Data-data inilah yang bisa diterima Carter Center,” ujar Suhardiman.

Carter Center, bikinan mantan Presiden Amerika Serikat Jimmy Carter, adalah salah satu lembaga internasional yang turut memantau pemilu 1999. Bersama beberapa organisasi nirlaba Amerika Serikat lainnya, mereka mendapat dana besar-besaran dari United States Agency for International Development, lembaga dana milik negara raksasa itu, untuk memantau pemilihan umum di Indonesia.

“Kalau nggak ada data-data itu?”

“Mungkin no opinion,” Suhardiman mengangkat bahu.


TAHUN 1999 adalah periode penting dalam hidup Onno W. Purbo. Ia menikahi Nurlina, seorang perempuan gesit, staf salah satu lembaga swadaya masyarakat yang mengorganisasikan dana internasional untuk sejumlah organisasi di Indonesia. Ini pernikahan kedua bagi Purbo, setelah dua tahun menduda. Sebelumnya, Purbo menikah dengan Nita Trejuningdyah pada 1988.

“Enak sekarang. Ada yang ngurus,” komentarnya, pendek.

Nurlina agaknya tahu impian Purbo selama ini. Itu sebabnya, ketika Purbo diberhentikan dengan hormat dari statusnya sebagai pegawai negeri sipil di Institut Teknologi Bandung, Nurlina kalem-kalem saja. Sekalipun tetap di Institut Teknologi Bandung, Nurlina tidak yakin Purbo bisa berkembang.

Nurlina mengungkapkan, pada mulanya Purbo hanya menginginkan mundur dari dosen tetap saja, untuk kemudian menjadi dosen paruh waktu. “Tetapi ternyata malah diberhentikan sebagai PNS.”
Basuki Suhardiman mengesani adanya kecelakaan dalam kasus ini. Menurutnya, akan lain kisahnya bila Purbo membicarakan dulu rencana-rencananya dengan petinggi-petinggi Institut Teknologi Bandung. “Semuanya bisa dibicarakan dulu. Tapi Pak Onno selama ini diam saja dan memilih memakai jalur surat. Ya...di atas juga yang gila tidak kurang,” kata Suhardiman. Ia memelankan suaranya, “Kita doakan saja biar dia selamat.”

Purbo berada berada di lingkungan Institut Teknologi Bandung sebagai pegawai negeri sipil sejak tahun tahun 1989. Lantaran tak pernah mengurusi kenaikan pangkat, dalam 11 tahun perjalanan karirnya, Purbo hanya mampu menempati jenjang kepangkatan III-B atau hanya beda satu tingkat dari lulusan strata 1 (S-1) yang begitu menjadi pegawati negeri langsung III-A. Jabatan terakhir yang diemban Purbo adalah kepala Perpustakaan Pusat Institut Teknologi Bandung.

Total gaji yang diterima Purbo sebagai pegawai negeri sipil dan kepala perpustakaan sebesar Rp 760 ribu. Jumlah ini jauh lebih kecil dari penghasilannya sebagai penulis artikel, buku, penceramah, selain konsultan teknik jaringan komputer dan internet. Sekadar contoh, satu buku saja—berukuran semi pocket setebal 150-an halaman—Purbo dibayar sekitar Rp 3 juta.

Kalau Purbo bersikap enteng-enteng saja terhadap pemberhentian dirinya, itu barangkali bukan lantaran ia merasa jalan hidup yang ditempuhnya bakal bertabur rupiah. Ia menerjemahkan pemberhentian tersebut lebih sebagai suatu permulaan untuk membumikan prinsip-prinsip yang diyakininya selama ini. Prinsip-prinsip untuk menyebarkan ilmunya ke masyarakat tanpa sekat-sekat birokrasi dan akreditasi.

“Selama mengajar di ITB dan memberikan seminar di luar,” ungkap Purbo, “lama-lama melihat ada gap dari sisi keilmuan antara ITB dengan masyarakat umum.”

Dalam pandangannya, tantangan terbesar di era cepat ini adalah bagaimana mensintesa secara serius ilmu pengetahuan untuk disebar kepada masyarakat secepatnya, seluas-luasnya. Siklus perputaran pengetahuan yang sangat cepat, apalagi didukung teknologi informasi seperti internet, perpustakaan digital, dan manajemen yang tertata dengan rapi, akan melahirkan umpan balik berupa kritik masyarakat. Berbasis kepada umpan balik, pemurnian pengetahuan kemudian dilakukan dengan menjalani siklus tersebut berkali-kali, hingga pengetahuan yang dihasilkan kian hari kian baik

Kunci menuju sistem distribusi pengetahuan semacam tadi menurut Purbo adalah dengan membuka katup-katup proteksi ilmu pengetahuan. “Proteksi knowledge seperti hak cipta, paten dan akreditasi bukan mustahil justru pada akhirnya akan menghambat percepatan siklus pengetahuan dalam platform informasi yang demikian cepat.”

Itulah nasihat terakhir Purbo buat Institut Teknologi Bandung. Juga dirinya.


KARIER akademik Onno W. Purbo mungkin berakhir. Tapi, komitmennya untuk membuat masyarakat pintar, setidaknya melihat lima juta anak bangsa masuk ke internet, belumlah padam. Untuk ini, ia memilih jalan lain, di luar jalur formal seperti memberikan kuliah di kampus-kampus. Jalan itu menulis.

Purbo membubuhi kepala emailnya: “Independent Writer.”

“Saya manusia malam,” ujar ayah dari Ito, Reza, Atik, Dery, dan Dzaq, ini mengungkapkan caranya mengatur waktu. Ia menjelaskan, normalnya ia berangkat tidur pukul 21.00 dan bangun pukul 02.00. Di sela-sela keheningan, ia mengkonsentrasikan pikirannya menggauli bahasa, ikon, dan lambang-lambang ilmu pengetahuan untuk dituangkan ke dalam karya tulis dengan deskripsi sederhana, sehingga dapat disimak oleh mereka yang sama sekali tidak pernah bersentuhan dengan ilmu pengetahuan.

Tulisan-tulisan Purbo tersebar di berbagai media, seperti Kompas dan detikcom. Ia tak tertarik untuk mengarsipkan, apalagi menerakan hak cipta (copy right) terhadap karya-karyanya. “Saya sih copy left atau copy wrong saja...hehehe,” ujarnya. Selain tak punya waktu, ia tak yakin arsipnya akan terawat dengan baik. “Sekalinya bikin hard copy, dibuat berantakan anak saya, kali.”

Sejumlah temannya yang tahu benar gaya hidup simpel ala Purbo menghubunginya, dan meminta izin mengumpulkan tulisan-tulisannya itu, termasuk makalah dan kertas kerja lain. Purbo tak keberatan. Tulisan-tulisan Purbo pun kini mejeng di www.bogor.net. Lumayan bejibun. Ini melengkapi entri dirinya di dunia maya, yang melalui fasilitas mesin pencari Alta Vista saja, umpamanya, mencapai sekitar 15,4 ribu entri. Itu bila memasukkan entri “Onno W. Purbo.”
Jumlah entri akan mencapai puluhan atau bahkan ratusan ribu bila entri “Onno” coba-coba diketikkan. “Di Jerman, nama Onno kan pasaran. Banyak orang pake,” komentar Purbo, dengan
gelak khasnya, yang diikuti gerak lidah menyebrangi giginya.

Ditilik dari tingkah laku bahasa, tulisan-tulisan Purbo agaknya belum bisa dikatakan siap saji, gagahnya press klaar atau fit to print. Ia masih suka keliru menerapkan kata depan dan awalan. Kosa kata bahasa asing pun, yang diambilnya secara mentah-mentah dan bertebaran di sana-sini, sering terasa membebani tulisan-tulisannya.

Purbo berdalih, bukannya tak ingin berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, namun ia memang tak tahu padanan yang tepat dari suatu istilah asing, sementaranya idenya tak dapat dihentikan oleh hal-hal teknis semacam itu.

Sekalipun teknik penulisan belum begitu prima, tulisan-tulisan Purbo tidak bisa dikatakan jelek. Ide-idenya, keberaniannya untuk melabrak definisi-definisi baku, memberi roh terhadap karya tulisnya, sekaligus menutup kelemahan teknis yang dimilikinya. Ditambah tulang punggung keilmuan yang melekat kuat pada dirinya, sepertinya Purbo bakal jadi penulis yang tertib dalam mengeksplorasikan nalar dan intuisinya.

Karya tulis Purbo selalu diiringi tiga tema besar: pendidikan, penguatan arus bawah, pemberantasan monopoli sumber daya. Untuk yang disebut terakhir, Basuki Suhardiman, sejawat Purbo di Institut Teknologi Bandung, kadang-kadang merasakan adanya kecenderungan pemikiran Purbo yang menyederhanakan masalah.

Dalam soal pemisahan (unbundling) di tubuh PT Telkom dan PT Indosat, dua perusahaan telekomunikasi raksasa Indonesia, misalnya, Suhardiman punya kritik untuk Purbo. Menurut Suhardiman, dipecahnya PT Telkom dan PT Indosat ke dalam beberapa perusahaan, yang menurut Purbo akan mendorong persaingan sehat di sektor komunikasi, justru bisa menghadirkan resiko ekonomis pada masyarakat luas.

“Divisi-divisi baru pasti akan membutuhkan biaya operasi yang lebih besar dibanding waktu seatap. Akibatnya, yang rugi ya masyarakat, ketiban kenaikan harga produksi,” ujar Suhardiman.

Perhatian Purbo terhadap PT Telkom dan Indosat, bukan cerita kemarin sore. Dalam ceramah, tulisan dan wawancara-wawancaranya dengan media massa, kedua badan usaha milik negara itu memang sering dikilik-kiliknya. Baginya, kebijakan unbundling akan menghindari terjadinya subsidi silang yang menghambat kompetisi sehat. Di lain pihak, para pemain baru dimungkinkan dapat langsung menawarkan layanan mereka di pasar tanpa perlu menggelar seluruh jaringan.
Dalam jangka panjang, itu dapat mengerem PT Telkom atau PT Indosat untuk tidak mencoba sisa-sisa kekuatan monopolinya ke pasar, tetapi sebaliknya akan memberikan layanan secara nondiskriminatif berdasarkan harga dan perjanjian yang wajar. Ujung-ujungnya, masyarakatlah yang diuntungkan.

Sampai kapan konsistensi semacam itu akan bertahan? Tak jelas. Tapi, sejatinya Purbo bukan orang yang gampang berubah, setidaknya untuk kebiasaan-kebiasaannya. Ia masih terbiasa membalas email teman-temannya pada pagi hari, sekitar pukul 05.00. Ia juga masih terbiasa meminum bergelas-gelas susu, seolah masa kanaknya tak pernah bergerak.*

Read More......

Putus Dirundung Malang

Oleh : Agus Sopian


ANGIN kering bulan Juni berembus di Jalan Lengkong Kecil, Bandung. Percetakan PT Timbul yang menempati gedung bernomor 57, bangunan ekskolonial Belanda berlantai dua, terasa sunyi. Di lantai satu, ada sebuah kamar kerja berukuran empat kali tiga meter persegi. Perabotan-perabotan tua terlihat menyita ruangan. Seperti biasa, hanya ada dua orang di situ: Maman Sagith, manajer kantor, dan Ina Herlina, satu-satunya tenaga administrasi. Di mulut pintu, tampak mesin absen ketok (time recorder) produk 1970-an yang sudah tak lagi digunakan.

Betapa panas dan pengap di dalam. Dua kipas yang berfungsi membuang udara sudah lama pensiun. Sementara enam jendela kaca berderet di dinding atas, hanya dua yang berfungsi sebagai sirkulasi udara. Selebihnya, sekadar membantu penerangan siang hari.

Sekurang-kurangnya ada dua meja dan empat meja kecil di sana. Semuanya sudah penuh cacat oleh goresan-goresan benda tajam dan lelehan tinta yang membatu. Di atas meja, ada kertas-kertas tak beraturan, mulai kertas folio, afvaal, sampai doorslag berceceran di sana-sini.

Di tengah ruangan ada satu unit mesin cetak buatan Italia, Nebiolo Invicta 36. Tahun 1970-an, ketika dunia pers dijangkiti demam offset, impian besar para pengusaha percetakan dan penerbitan di negeri ini disandarkan padanya.
Di seberang Invicta, terdapat mesin potong Polar-Mohr Standar 90, sebuah mesin impian untuk zamannya. Tak jauh darinya, ada sebuah bangunan aneh, terpencil di pojok ruangan sebelah kiri. Isi bangunan yang mirip saung petani di sawah ini tak lain dari meja exposer uzur untuk mengerjakan plate. Di atas meja, tampak deretan lampu neon, yang bingkainya sudah dipenuhi kembang debu.

Pusat perhatian di ruangan ini ada di sayap kanan ruangan. Itulah dua letter press, mesin cetak yang masih menggunakan klise pelat timah. Original Heidelberg, demikian jati diri sang mesin, di hari tuanya, mesin ini masih sanggup mencetak sampul buku atau majalah sebanyak 1.500 lembar per jamnya.

Di depan mesin berusia lebih dari 60 tahun tersebut, Kuswari masih terlihat segar dengan uban putih yang tumbuh merata di kepalanya. Pria kelahiran 1939 ini tak menoleh ketika saya tegur. Pada teguran ketiga, baru dia menoleh dan tersenyum. Dia kembali pada pekerjaannya. Sesekali dia mengambil kuas dan mengkilik-kilik mesin. Kali lain dia memindahkan hasil cetak ke meja di sebelahnya.

Kuswari dan mesin itulah yang melahirkan jabang bayi sebuah majalah fenomenal pada 1970-an. Namanya: Aktuil.


PADA masa jayanya, ruang redaksi Aktuil menempati lantai dua percetakan PT Timbul. “Mari ke atas,” ajak saya kepada Maman Sagith, layaknya tuan rumah kepada tamu.

Saya menaiki tangga pendek. Ruangan redaksi benar-benar sudah berubah. Tak ada lagi meja tulis yang semrawut karena tumpukan kertas atau majalah-majalah luar negeri. Tak ada lagi Royal dan Remington, mesin tik berkelas pada 1970-an. Ruangan berlantai teraso kerang luks warna abu-abu coklat seluas 250 meter persegi yang semula tanpa sekat itu kini jadi bilik-bilik kecil. Ada empat bilik di sana: ruang tamu, kamar tidur, studio, dan kantor studio. Di studio, terdapat peralatan band keluaran 1980-an buat latihan.

Pandangan saya lantas tertuju pada sebuah pojok, tak jauh dari tempat bertenggernya pendingin ruangan New Rotary keluaran 1974, yang sudah belasan tahun menganggur. Di pojok sayap kanan saya membayangkan seorang pria gondrong, berkaos oblong, dan bercelana jins sedang mengetik dengan cepat, karena harus mengurusi hal-hal lain yang menunggu sentuhannya dari koordinasi reportase, menyunting naskah para kontributor, membayar honor tulisan, mengecek mesin cetak, distribusi majalah, sampai memegang kunci kantor.

Pria yang saya bayangkan tak lain dari Maman Sagith, yang kini berdiri di samping saya. Penampilan eksmanajer Dara Puspita, sebuah kelompok musik asal Surabaya yang sangat terkenal pada 1970-an ini, benar-benar seperti pria kebanyakan yang sedang menghadapi senja, dengan sejumput kenangan masa jaya yang tak jelas lagi buat apa.

Seperti juga Kuswari, Sagith adalah awak Aktuil yang masih bertahan di sana. Sagith bekerja sejak 1967, tahun pertama Aktuil dihadirkan ke hadapan publik. “Tapi saya tidak termasuk pendiri Aktuil. Yang mendirikan Mas Toto,” katanya. Mas Toto adalah Toto Rahardjo, sepupunya dari garis ibu, anak Suprapto, pemilik pertama PT Timbul.

Aktuil memang lahir dari sebuah kesepakatan. Prakarsa bermula datang dari Denny Sabri Gandanegara, kontributor majalah Discorina, Yogya. Putra pertama Sabri Gandanegara, wakil gubernur Jawa Barat untuk dua periode sepanjang 1966 - 1974 ini tidak puas dengan majalah tempatnya berkarya yang hanya menyajikan profil pemusik dan chord lagu. Ia lalu bertemu Bob Avianto, seorang penulis lepas masalah-masalah perfilman. Dari obrolan ringan, mereka sampai pada perbincangan intens dan serius untuk membuat majalah hiburan.

Avianto menemui Rahardjo, pemimpin kelompok musik dan tari Viatikara. Gayung bersambut. Rahardjo rupanya sudah lama mengidamkan sebuah media yang dapat memberikan panduan informasi, selain untuk mempublikasikan kegiatan-kegiatan seninya.

Di rumah Syamsudin—publik musik mengenalnya pemusik Sam Bimbo—mereka mencapai kata sepakat dan mengusulkan Aktuil sebagai nama majalah. “Ini bahasa Indonesia yang salah memang. Tapi, saat itu kami sedang gandrung-gandrungnya majalah Actueel,” kata Denny Sabri Gandanegara. Actueel adalah majalah musik terbitan Belanda, yang masuk ke kota Bandung melalui jalur bursa media Cikapundung. “Nama Aktuil diusulkan untuk pertama kalinya oleh Avianto, sedang logonya dibuatkan Dedi Suardi,” tambah Rahardjo.

Timbul persoalan bagaimana mereka mendapat tambahan biaya investasi, yang setelah dihitung ternyata memerlukan dana sekitar Rp 10 juta (kurs rupiah atas dolar AS saat itu Rp 900 untuk US$1). Mereka kemudian mengajak Roy Sukanto dan Bernard Jujanto, keduanya anggota Viatikara.

Ramai-ramai menunjuk Toto Rahardjo sebagai pemimpin umum-cum-pemimpin redaksi, mereka berencana meluncurkan edisi perdana pada Mei 1967. Namun, karena satu dan lain hal, terutama karena hampir sebagian besar dari mereka tidak memiliki latar jurnalistik, peluncuran nomor perdana molor. Ketika urusan redaksional teratasi, kerumitan lainnya muncul: mereka tak tahu tempat mendapatkan kertas. Selebihnya, percetakan milik keluarga Rahardjo ternyata memerlukan tambahan listrik. Puncak kesulitan, tak ada seorang pun di antara mereka yang tahu persis bagaimana mengerjakan separasi dan opmaak.

Toh, akhirnya, satu per satu kesulitan mereka singkirkan. Berbekal izin Penguasa Perang Daerah Jawa Barat, organisasi militer yang sangat berkuasa, nomor perdana Aktuil diterbitkan pada 8 Juni 1967.

Awak Aktuil yang hampir seluruhnya berasal dari keluarga kelas menengah kota. Tak urung mereka merasakan suka-duka mengecerkan majalah. Para pengecer dadakan ini berkeliling kota bersepeda motor. Sebagian bahkan melarikan majalah ke luar kota Bandung, seperti Sumedang, Garut, dan Cianjur.

Oplah 5,000 eksemplar ludes dalam waktu kurang seminggu. “Siga kacang goreng kasar na mah (seperti kacang goreng kasarnya),” kenang Gandanegara.
Pada nomor kedua, mereka tak mau diganggu lagi problem keredaksian. Karenanya, Maman Sagith, eksawak Harian Banteng, mereka comot. Pada nomor ini mereka baru berani menetapkan kebijakan periodisasi terbit: dwimingguan.


DENNY Sabri Gandanegara, kelahiran Garut tahun 1948, tidak perlu rumah sakit jiwa untuk mengobati kegilaannya pada Deep Purple, sebuah kelompok musik rock asal Inggris yang sedang merajai ingar-bingar blantika musik cadas. Maka, selepas edisi nomor tiga, dia siap-siap menuju Eropa. Kepada ayahnya, dia bilang ingin kuliah di sana. Kepada kawan-kawannya di redaksi Aktuil, dia janji akan mengirimkan laporan pandangan mata aksi-aksi pentas para pemusik rock, terutama Deep Purple.

Ternyata, Gandanegara malah makin tenggelam ke dasar kegilaannya hingga uang di koceknya untuk hidup dua tahun terancam habis hanya dalam beberapa bulan. Tangannya pun enggan menyentuh mesin tik. Alhasil, laporan pandangan mata yang dijanjikan hendak dikirimkan segera sesampai di Eropa, hanya menjadi dedak di dalam benak.

Di Bandung, pekerjaan redaksi praktis hanya dikerjakan oleh dua orang: Maman Sagith dan Sonny Suriaatmadja, seorang mahasiswa Institut Teknologi Bandung. Kurangnya personel membuat kerja mereka benar-benar spartan. Apa saja mereka garap. Dari pengumpulan sampai pengolahan informasi, dari pekerjaan layout sampai mengocek tinta cetak, dari menjilid sampai mengepak, juga mengedarkan majalah. “Wartawan sekarang sungguh beruntung. Semua serba otomatis. Ada tape recorder, ada komputer. Dulu, kalau tangan belum belepotan, belum bisa disebut wartawan,” ujar Sagith, tersenyum.

Pada 1968, kantor redaksi Aktuil di 2000 Hamburg 52, Wichman Sto. 42/B Grahn, Jerman Barat, mulai mengirimkan hasil reportasenya. Namun, sambutan publik masih biasa-biasa saja. Tampaknya, reportase tersebut kurang menggigit karena sebagian besar isinya menyadur majalah asing.

Di Bandung, sejak awal rezim Orde Baru naik ke altar kekuasaan, majalah-majalah asing, baru atau bekas pakai, boleh dibilang menyerbu deras bursa media Cikapundung. Tak terkecuali Muziek Express, terbitan Belanda, yang acap dijadikan rujukan Gandanegara.

Sonny Suriaatmadja tidak kehabisan akal. Ia menerjemahkan artikel dari majalah-majalah tersebut untuk tulisan-tulisannya, sekadar usaha untuk menanamkan kebiasaan membaca Aktuil. Paling tidak, berusaha bertahan hidup dari kurangnya artikel-artikel yang masuk.

Usaha Suriaatmadja tidak sia-sia. Aktuil terus bertahan sampai akhirnya Suriaatmadja punya ide menurunkan tulisan bertema perubahan gaya hidup di Barat nun jauh di seberang benua. Dikemas dalam artikel serial sepanjang tahun 1969, Suriaatmadja antara lain memotret abc kehidupan hippies: mulai sistem sosial yang mereka bangun, landasan ideologis, cara mereka berbusana, seks dan orgi, sampai bagaimana mereka bergaul dengan mariyuana.

Artikel serial tersebut mendapat sambutan luar biasa. Surat-surat dari pembaca terus mengalir ke meja redaksi untuk memberi komentar atau sekadar bertanya. Oplah Aktuil pun bergerak naik hingga tiga kali lipat dibanding terbit pertama kali. Percetakan PT Timbul gelagapan. Ledakan oplah tiba-tiba, karena banyaknya pesanan, memaksa PT Aktuil—payung penerbitan majalah Aktuil yang dibangun setelah dua tahun terbit—melarikan sebagian order cetak ke PT Ekonomi, di Jalan Oto Iskandar Dinata, di Bandung juga.

Oplah terus mengalami perkembangan signifikan. Lebih-lebih setelah seniman Remy Sylado menyuntikkan eksperimen sastra mbeling dalam bentuk cerita bersambung Orexas. Cerita ini sekaligus menegaskan Aktuil sebagai majalah anak muda. Orexas sendiri bukanlah dewa atau ksatria dari mitos Yunani, melainkan kependekan dari “organisasi sex bebas.”

Di negeri asalnya, baik di daratan Eropa maupun Amerika Serikat, pemberontakan anak muda dimulai setidak-tidaknya sejak 1950-an dalam bentuk tumbuhnya subkultur rock “n roll, dengan embrio munculnya generasi cross boy. Film-film Hollywood yang dibintangi James Dean macam East of Eden atau Rebel without Cost, memberi siluet bagaimana pemberontakan itu dilakukan, bagaimana kebebasan berekspresi menentukan nasibnya sendiri.

Di Indonesia, pemberontakan anak muda, secara eklektis disalurkan melalui bahasa nonverbal dalam bentuk peniruan tingkah laku dan gaya. “Di sana,” kata Remy, ”perlawanan berlangsung sangat verbal, dinyatakan dengan kata-kata. Di sini, orang tidak terlatih berkalimat.”

Ironisme mengalir lancar.

Sejumlah kaum muda Jakarta, misalnya, mengapresiasi tokoh Shane dalam film Shane yang dibintangi Alan Ladd, melulu sebagai tukang gebuk, jagoan tak kenal kompromi. Walhasil, Shane—yang dikagumi cendekiawan muda Arief Budiman karena moralitas ceritanya yang antikekacauan sosial—tak lebih dari simbol kebengalan. Shane, tokoh protagonis yang biasa melilitkan selendang kuning, pada akhirnya melahirkan kelompok antagonis bagi masyarakat dalam wujud geng Selendang Kuning Boy, yang pada 1970-an bikin pening aparat karena peperangan bengisnya melawan geng Marabunta Boy.

Remy mencoba meluruskan persoalan dengan caranya sendiri. Kemampuannya berbahasa dalam sejumlah bahasa dunia dan kemauannya untuk mencoba berpikir lintas bangsa, memungkinkan dirinya dapat memindahkan teks yang bersembunyi di balik fenomena pertempuran budaya tua-muda itu ke dalam sastra eksperimental yang ditekuninya.

SEGERA setelah perubahan surat perizinan, dari izin Penguasa Perang Daerah Jawa Barat ke Izin Menteri Penerangan melalui surat keputusan nomor 0929/SK/Dir/SIT/1970, Denny Sabri Gandanegara dari Jerman Barat mengontak markas pusat dan menyarankan agar Remy direkrut jadi redaktur, “Dia seniman hebat.”

Menjelang 1970 berakhir, oplah Aktuil mencapai 30 ribu eksemplar. Percetakan PT Ekonomi yang mulai kepayahan, mengharuskan PT Timbul menambah kapasitas cetaknya, dengan mendatangkan mesin baru Gordon.

Untuk menampung karya-karya yang terus mengalir ke dapur redaksi, ukuran majalah yang semula 16 x 21 centimeter diubah menjadi 21 x 29,7 centimeter. Tiba-tiba saja, Aktuil merasakan betapa berat kerja mereka. Karena itu, ada kebutuhan mendesak untuk merekrut tenaga-tenaga pracetak, yang selama ini dikerjakan Dedi Suardi.

Maman Husen Somantri, seorang mahasiswa Institut Teknologi Bandung, yang dianggap menguasai seluk-beluk pekerjaan desain, direkrut Aktuil. Untuk pertama kalinya, Somantri menelurkan gagasan pemberian bonus stiker, poster, dan gambar setrikaan. Dalam tempo cepat, atribut Aktuil menyebar ke pelosok kota; dan Aktuil tak urung jadi simbol sosial anak muda kota Bandung.

“Rasanya belum menjadi anak muda kota kalau tidak menenteng Aktuil,” kata Yusran Pare, penanggung jawab harian Metro Bandung, yang pada 1980-an menjadi penjaga gawang rubrik kebudayaan di Bandung Pos. Dia sendiri, di awal 1970, sudah biasa merengek pada ayahnya untuk dibelikan Aktuil.

Tiras Aktuil menembus angka 126 ribu eksemplar. Sagith memperkirakan oplah sebesar itu dicapai dalam kurun 1973-1974, atau setelah Aktuil Fans Club, komunitas kaum muda pembaca Aktuil, terbentuk di berbagai daerah. Asal tahu saja, di Jakarta, Aktuil Fans Club diurus kelompok musik Panbers. Sedangkan di Bandung, ditangani antara lain oleh A.M. Ruslan, kini penanggung jawab redaksi Pikiran Rakyat.

Gara-gara tiras yang tiba-tiba melompat ke angka fantastis, PT Aktuil tidak bisa lagi hanya mengandalkan dua percetakan. Sebagian order cetak akhirnya dilarikan ke PT Masa Baru yang berlokasi di kawasan Viaduct, Braga, Bandung; tempat berdirinya Bank Republik Indonesia Tower sekarang. Belakangan, dari keuntungan yang diperoleh, PT Timbul menambah lagi mesin cetaknya: Invicta 36.

Habis masalah percetakan, terbit problem pemasaran. Kian Thiong, manajer pemasaran, keteteran. PT Aktuil kemudian memanggil Billy Silabumi, koordinator wartawan Aktuil di Jakarta, untuk turut menangani sirkulasi dan distribusi, terutama untuk kawasan Jakarta dan luar Bandung lainnya.

Adakah korelasi antara peningkatan oplah dengan keterlibatan Remy Sylado? Saya tak tahu. Di Bandung hampir tidak ada dokumen pendukung. Jangankan dokumen, kumpulan majalah dari setiap edisi, yang dulu dibendel dengan rapi dan memenuhi kamar kerja Toto Rahardjo, sudah tidak ada (saya mendapat koleksi Aktuil di perpustakaan pribadi Sylado).

Dari sejumlah narasumber yang saya hubungi, hampir semuanya merujuk pada nama Remy sebagai pemberi sapuan besar pada lelakuing urip media itu. Arief Gustaman, redaktur budaya Metro Bandung, mengatakan, “Remy Sylado sedang gila-gilanya.” Remy membangun komunitas sastrawan Bandung, terutama dari lapisan kaum muda. Gedung Kesenian di Jalan Naripan, Bandung, boleh dibilang tak pernah sepi pertunjukkan.


REMY Sylado adalah nama baptis Jubal Anak Perang Iman Tambajong, atau ia biasa menyingkatnya Japi Tambajong. Nama Remy Sylado, sesekali cukup ditulis 23761, diambilnya dari chord pertama lirik lagu All My Loving milik The Beatles. “Nama saya diinterpretasikan macam-macam. Padahal saya bikin asal-asalan,” ujarnya terkekeh.

Remy lahir di Makassar pada 1945. Sebelum menjadi redaktur Harian Tempo, Semarang (1965) dan redaktur Aktuil, dia belajar bahasa Arab, Ibrani, Mandarin, dan Yunani di Seminari Theologia Baptis, Semarang; belajar seni rupa di Akademi Kesenian Surakarta; serta teater di Akademi Teater Nasional Surakarta. Hampir berbarengan dengan keterlibatannya secara formal dengan pekerjaan redaksional di Aktuil, Remy menjadi dosen di Akademi Sinematografi Bandung untuk matakuliah estetika, make-up, dan dramaturgi.

Di Aktuil, Remy tidak hanya membuat cerita bersambung Orexas, ia juga jadi guru para awak redaksi dan kontributor Aktuil. “Remy itu guru saya. Saya masuk ke Aktuil karena banyak baca artikel dia. Saya termotivasi,” ungkap Bens Leo, wartawan Aktuil di Jakarta sejak 1975.

Pernyataan seirama terlontar dari Yudhistira Ardi Noegraha Massardi, seorang penggiat seni 1970-an yang sering menulis buat Aktuil. “Guru saya satu-satunya cuma dia. Remy yang mengajarkan saya menulis sajak sesuka-sukanya.” Massardi kini menjabat pemimpin umum majalah Gatra, Jakarta.

kolom-kolom Remy, yang hadir di setiap edisi sejak bergabung secara resmi pada 1973 punya daya magnetis. “Ada saja komentar orang yang dikirimkan ke redaksi,” begitu Maman Sagith.

Remy, di mata Sagith, berhasil memberikan cetak biru Aktuil untuk tidak sebagai majalah hiburan belaka, tetapi juga tempat digodoknya gagasan-gagasan baru dan orisinal. Artikel musik di tangannya adalah catatan tentang kebudayaan dan peradaban. Dari titik pandangnya, sastra dan musik bisa juga jadi sebuah pertautan yang utuh, koheren, seperti terekam dalam tulisan-tulisannya mengenai Marc Bolan atau H. G. Wells, tokoh-tokoh penting 1970-an yang mengawinkan puisi dan musik. “Saya mencoba mencari alternatif, di luar musik pop yang menjadi musik niaga,” Remy menerangkan.

Remy menilai, pop sudah sedemikian merasuki sendi-sendi kehidupan kaum muda, sehingga mereka tenggelam ke dalam massifikasi produk pop. Sialnya, musik pop yang digaulinya tak lebih dari musik yang menurut Remy “cengeng.” Ia hendak menawarkan pilihan lain. Ia tahu, musik alternatif versinya, baik yang ditampilkan melalui pentas maupun lewat tulisan-tulisannya di Aktuil, berpotensi untuk tidak laku. “Tapi, saya tidak mau tenggelam dalam model yang lain,” tandasnya.

Tulisan-tulisan Remy di Aktuil menginspirasi sejumlah musikus untuk melakukan perlawanan terhadap selera pasar. Yan Hartlan dan kawan-kawannya sesama musisi Bandung mempopulerkan irama country di Bandung. Syairnya tidak melulu cinta dan patah hati, tapi juga tafsir hidup lain yang lebih luas.


TIDAK ada batasan usia, status sosial, dan “derajat” kepenyairan untuk menulis puisi mbeling di Aktuil. Dalam beberapa kesempatan, Remy Sylado bahkan sengaja menampilkan puisi-puisi yang disebutnya jelek. Tak usah heran kalau gerakan mbeling berhasil mencetak ribuan puisi dan karya sastra lainnya, selain menelurkan ratusan nama dari dalam dan luar negeri.

Kebanyakan penyair mbeling memang suka berkelakar. Lihat misalnya, bagaimana Nhur Effendhi Ardhianto memberi makna pada puisinya, “Penyakit Turunan” (1974):

habis makan
kenyang.

Atau Remy dengan puisinya, “Waktu Doa Ulangtahun Frya Immambonjol” (1974):

terima kasih tuhan atas hidangan ini
berhubung botty tiba-tiba kentut
terpaksa
amin kami ganti dengan
jancuk

Dasar ideologis puisi-puisi mbeling tentu saja bukan dimaksudkan semata untuk lelucon. Lebih dari itu, para penyair mbeling—yang dirumuskan redaksi Aktuil sebagai “sikap nakal yang tahu aturan”— pada mulanya bermaksud memberi tandingan pada puisi-puisi establishment yang mendewakan bobot dan pesan.
Sebagai sebuah gerakan sastra, ungkap Massardi, mbeling boleh dibilang kredo sastrawan muda 1970-an, yang secara tegas ingin mendobrak kebekuan, sekaligus menggugat dominasi Jakarta yang berpusat pada penyair macam Sapardi Djoko Damono atau Goenawan Mohamad. “Saya gembira saya ambil bagian di dalamnya,” kata Massardi.

Di kesempatan lain, Remy menegaskan, “Manusia lahir bukan untuk jadi seniman. Manusia lahir untuk menjadi manusia. Hidup berada di atas junjungan kepalanya. Bukan seni yang harus dijunjungnya. Seni harus diletakkan di telapak kaki .… Yang merasa bangga jadi penyair mudah-mudahan hanya mereka yang mimpi di langit dalam tidurnya di atas tikar yang penuh kepindingnya.”

Disemangati atau tidak oleh pernyataan-pernyataan seperti itu, muncul kemudian gejala umum, para penyair mbeling secara akrobatis ramai-ramai melemparkan sindiran, ejekan, pun caci-maki kepada para penyair yang sibuk dengan suku kata, bunyi, tekanan, aspek ortografis, visual, gaya, bentuk, imajinasi. Melalui “Buat Penyair Tua” (1973), Remy memukul gong peresmian proyek sastra untuk mengejek:

Selamat istirahat
Buat kau, ini kain kafan
Semoga cepet dirundung frustasi.

Hari-hari selanjutnya, puisi-puisi ejekan jadi mode. Penyair garang sekelas W.S. Rendra sekalipun, kena sentil. Pada edisi nomor 136 tahun 1974, Aktuil memberi kesempatan Estam Supardi untuk mengolok-olok Rendra:

selamat malam tuan rendra
oh, tuan laki-laki bukan?
burung
tuan
kondor, kedodor.

Walau terkesan asal jadi, puisi mbeling tak dapat dibendung kehadirannya di forum-forum pembicaraan sastra. Hasil penelitian Soedjarwo, Th. Sri Rahayu Prihatmi, dan Yudiono K.S., para dosen fakultas sastra dan budaya Universitas Diponegoro, Semarang, yang belakangan dibukukan menjadi: Puisi Mbeling: Kitsch dan Sastra Sepintas, terungkap bahwa pada pemilihan buku kumpulan puisi terbaik, buku Sajak Sikat Gigi karya Yudhistira Ardi Noegraha Massardi diputuskan Dewan Kesenian Jakarta sebagai salah satu pemenangnya, bersama Peta Perjalanan (Sitor Situmorang), Meditasi (Abdul Hadi W.M.), dan Amuk (Sutardji Calzoum Bachri). Tiga nama yang disebut terakhir keberatan disandingkan dengan Massardi.

Di mata Sutardji Calzoum Bachri, Yudhistira Massardi adalah penyair yang lugu.
Syairnya?

Kitsch,” kata Abdul Hadi W.M.

“Parodi yang gagal dari sajak,” ujar Sitor Situmorang.

“Mereka sangat tersinggung karya saya disejajarkan dengan mereka. Mereka ini teman-teman saya juga, sama-sama pernah menyuarakan mbeling. Justru Goenawan Mohamad yang memberikan respon. Padahal dia yang selama ini digugat,” tutur Massardi. Goenawan Mohamad, dalam pemilihan tersebut, bertindak sebagai salah seorang juri.

Sejumlah media ramai memberitakan. Dewan juri menarik keputusannya. Padahal, kisah persisnya tidak seperti itu. “Mereka mengambil hadiahnya. Saya nggak. Kurang ajar. Ha ha ha ha,” Massardi ngakak, menceritakan ulah teman-temannya itu.


TAHUN 1975, bekerja sama dengan Peter Basuki dari Buena Ventura, Denny Sabri Gandanegara dari Aktuil mengundang Deep Purple ke Indonesia. Selama dua hari, 5-6 Desember 1975, Jakarta berguncang. Kaum muda, dari berbagai penjuru tanah air, datang ke Jakarta memastikan bahwa mereka sedang tidak bermimpi. Sekurang-kurangnya 150 ribu orang tersedot pertunjukan itu.

“Mulanya mereka tidak mau datang ke Indonesia. Tapi saya meyakinkannya. Saya berbicara dengan (Richie) Blackmore, lalu saya bujuk Ian Gillian,” Gandanegara mengenang. Blackmore adalah pemetik gitar Deep Purple, dan sering tampil menjadi juru bicara grup ketika mereka sedang beraksi di panggung. Sedangkan Gillian adalah penyanyi, dengan lengkingan vokal yang khas.

Kehadiran mereka di Jakarta memang lebih didasarkan hubungan Gandanegara dengan anggota kelompok musik tersebut sejak paruh 1960-an. Pada 1970, Deep Purple bahkan memasukkan Gandanegara sebagai salah satu kru mereka ketika tur di delapan kota Jerman: mulai Hamburg, Hannover, Berlin, Kóln, Frankfurt, Munchen, Leverskusen, sampai Wina, juga Paris.

Ketika Deep Purple jalan ke Amerika Serikat pada 1971, Gandanegara ikut pindah. Sampai di Amerika, Gandanegara melihat wajah Paman Sam yang sesungguhnya, yang selama ini bersembunyi di balik kekagumannya pada Eropa. Amerika, pikirnya, cepat atau lambat akan menjadi pusat kekuatan musik dunia. Dengan mata dan kepalanya sendiri, Gandanegara melihat indikator-indikatornya dalam bentuk megahnya panggung-panggung pertunjukan, aliran dana yang terkesan tanpa batas, atau para manajer profesional yang bekerja penuh disiplin.

Interelasi dari semua itu, musik berkembang secara akseleratif di sana. Inggris boleh melahirkan para rocker, namun Amerika memberinya uang, popularitas, dan harga diri. Inggris boleh melahirkan tradisi musik rock, tapi Amerika berhasil melakukan degresi dan inovasi atas rock: hard rock, pop rock, art rock, atau glam rock.

Gandanegara segera mengontak redaksi di Bandung untuk membuat jaringan koresponden di sana. Mendapat sambutan, Gandanegara kemudian merangkul Yan Mufni, seorang mahasiswa asal Bandung. Gandanegara juga mengajak Chondone, seorang pria campuran Amerika-Subang untuk memotret. Adang R Sanusi yang sudah lebih dulu mewakili Aktuil di Amerika, dikukuhkan sebagai kepala perwakilan. Untuk melapis Amerika, Aktuil menunjuk Paul Subekti sebagai koresponden Kanada.

Tahun 1972, Gandanegara kembali ke Jerman Barat. Kantor redaksi luar negeri yang selama ini terbengkalai, ditata ulang. Beberapa kawannya dari Werkskunstschule, Universitas Hamburg --tempat Gandanegara menimba ilmu desain grafis selepas pra-universitas di Studium College, Universitas Aachen—direkrutnya jadi koresponden. Mereka adalah Rudy Tjio, Harry T, serta Robert Yo. Reportase mereka, ditambah koresponden lain di berbagai negara, yang makin marak, menambah gengsi Aktuil.

Kehadirannya di Indonesia bersama Deep Purple sekaligus mengakhiri karier kewartawanan Gandanegara sebagai redaktur luar negeri Aktuil. Ia mulai mempraktikan jurus-jurus talent scouting yang dipelajarinya dari Andy Cavalier, ketika tinggal di Amerika. Cavalier adalah manajer yang mengorbitkan sejumlah musisi ke blantika musik dunia, seperti Grand Funk Railroad, Hellen Ready, dan Isis.

Gandanegara mendirikan perusahaan manajemen artis: Denis International Inc. “Saya mulai dengan Superkid,” kata Gandanegara. Banyak artis yang lahir dari tangannya. Sebut saja Sylvia Sartje, Emma Ratnafuri, Nicky Astria, Nike Ardilla, Poppy Mercury, Farid Hardja, dan Deddy Stanzah. Gandanegara juga mengorbitkan Priyo Sigit, Dennys Rouses, atau Richie Ricardo. “Kadang-kadang saya suka … apa ya … hampir seluruh penyanyi orbitan saya meninggal di puncak kariernya,” katanya perlahan.


SONNY Suriaatmadja, Denny Sabri Gandanegara, dan Remy Sylado adalah triumvirat pemikir Aktuil yang berhasil menaklukkan hati publik. “Peran mereka sangat besar, membawa Aktuil sebagai pelopor di berbagai hal. Dari sastra sampai musik, dari film sampai pergaulan sosial,” ujar Maman Sagith.
Sagith mungkin benar. Tapi juga, tumbuh dan besarnya Aktuil boleh jadi lantaran ia melenggang hampir tanpa saingan berarti. Khusus di kota Bandung, Aktuil bahkan hadir sebagai satu-satunya majalah hiburan.

Itu hitung-hitungan bisnisnya. Dari sisi politis, Aktuil pun sebenarnya diuntungkan sejarah. Ia mendapat “subsidi politik” rezim Orde Baru. A. Tjahjo Sasongko dan Nug Katjasungkawa dalam esai “Pasang Surut Musik Rock di Indonesia” yang dimuat majalah Prisma, Oktober 1991, memaparkan bagaimana Orde Baru melakukan counter budaya terhadap sisa-sisa pengaruh rezim Presiden Soekarno, seraya menanamkan keyakinan kepada rakyat bahwa mereka tidak anti-Barat.

Berbeda dengan Soekarno yang sejak 1964 melakukan pembabatan musik Barat —Soekarno menyebutnya musik “ngak-ngik-ngok”— Orde Baru dukungan militer ini justru menyokong pertunjukan-pertunjukan yang digelar anak muda. Malahan Angkatan Darat turun tangan untuk tujuan itu dengan membentuk orkes Badan Koordinasi Seni Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (BKS-Kostrad). Orkes ini dikelilingkan ke sejumlah kota besar di Indonesia, dengan artis pendukung Onny Suryono, Lilis Suryani, dan lainnya.

Badan itu pun pada akhir 1966 sengaja mendatangkan The Blue Diamond, kelompok musik terkenal dari Belanda, untuk tur bersama. Penyanyi Titiek Puspa, Bob Tutupoly, dan Ernie Djohan ikut menyemarakkan tur ini. Di hampir semua tur, BKS-Kostrad sudah lazim mempertunjukkan musik, penyanyi, atau kelompok musik, yang di masa rezim Soekarno jadi sasaran intel bahkan dilarang main.

Tidak hanya panggung pertunjukan. Rezim Orde Baru pun mendukung produksi rekaman lagu. Stasiun-stasiun radio yang menyiarkan lagu-lagu barat tak diganggu kemunculannya.

William H. Frederick dalam tulisan “Rhoma Irama and the Dangdut Style” dalam jurnal Indonesia, mengemukakan, “Sebelum Orde Baru terbuka pada aktivitas ekonomi barat, mereka terbuka pada musik rock Inggris dan Amerika.”

Rezeki boom minyak tahun 1970-an mendukung proyek menarik hati rakyat yang digalang Orde Baru ini. Di berbagai kota, bermunculan sarana-sarana hiburan untuk berbagai kelas. Pertunjukan musik tiba-tiba bergetar di banyak kota. Perusahaan-perusahaan rokok galibnya berada di balik semua panggung pertunjukan.

Kelompok-kelompok musik tumbuh subur. Calon artis bejibun antre kesempatan. Triumvirat Aktuil memanfaatkan momentum ini untuk bahan-bahan tulisannya. Aktuil memperkenalkan artis-artis luar, mulai profil sampai pada kebiasaannya manggung. “Saya yang memperkenalkan Bob Dylan,” ujar Remy Sylado, mengacu pada penyanyi balada asal Amerika Serikat yang kehadirannya di sana identik dengan gerakan anti Perang Vietnam 1960-an dan 1970-an.

Tiadanya televisi komersial dan klip video, memacu pertumbuhan bisnis Aktuil sebagai sarana promosi kaset, artis debutan baru, dan aktivitas para promotor showbiz. Bisa dipahami kalau Aktuil kemudian jadi bacaan wajib buat kalangan pecinta musik.

“Ketika rock sedang booming di seluruh Indonesia, Aktuil menyatukan semua ini. Ia menjadi outlet dari seluruh daerah musik,” kata Massardi.


KEPELOPORAN sekaligus keberhasilan Aktuil menggugah orang lain untuk melakukan investasi pada media yang menekuni musik, film dan ... sastra mbeling. Di Jakarta, misalnya, penerbitan pers Tiara Klik berdiri. Dari kelompok ini lahir sejumlah penerbitan yang jadi pesaing Aktuil seperti Ultra dan Top.

Sejak 1974, Remy Sylado sering diminta menulis di Top. Pada 1975, Remy mengundurkan diri dari Aktuil dan masuk Top. “Memang faktor ekonomis masuk dalam pertimbangan, tapi saya pindah lebih disebabkan oleh persahabatan,“ tutur Remy. Lagi pula, aktivitas seni dan kegiatan mengajarnya di Jakarta makin meminta perhatian lebih.

Hanya itu? Kalau daftar alasan kepindahan Remy hendak diperpanjang, maka suasana kerja di Aktuil sepanjang tahun 1974 mungkin benar jadi pemicunya. Sejak dia membantu Top, Remy merasakan suasana kerja yang gerah. “Membantu Top,” ujarnya, “buat orang Aktuil saya itu dianggap musuh dalam selimut.”

Kepergian Remy yang disusul Denny Sabri Gandanegara, karena makin jarang masuk kantor demi kesibukannya mencari artis-artis berbakat, tampaknya merupakan pukulan telak buat Aktuil. Bukan saja Aktuil kehilangan daya sastranya, reportase luar negeri yang tadinya terkoordinasi rapi, pun tak lagi menghadirkan greget.

Triumvirat Aktuil habis. Di dalam kantor, tinggal Sonny Suriaatmadja sendirian. Tahun 1976, tiras Aktuil mengalami saturasi: melorot dan terus melorot.

“Saya kira,” ungkap Remy, “redaksi Aktuil sudah mulai menua. Kalau redaksi menua dan tulisan-tulisannya adalah pelimpahan ketuaannya, itu sudah tidak cocok lagi dengan segmen pembacanya.”

Sejak awal, Remy dan sejawatnya tahu persis mereka harus membuat bacaan untuk kisaran umur 16-18 tahun. “Sudah saya katakan pagi-pagi betul, potensi Aktuil itu remaja,” tandas Remy ketika saya temui di rumahnya baru-baru ini.
Lonceng kematian mulai berdentang di tahun 1977, ketika oplah Aktuil yang sebelumnya sudah menembus angka 100 ribu eksemplar lebih, tinggal sekitar 30 ribu eksemplar.

Toto Rahardjo mulai mondar-mandir di dalam kantor dan menyuruh anak buahnya, Billy Silabumi, untuk mengecek permohonan paten merk Aktuil ke Departemen Kehakiman. Paten dianggap penting sebagai usaha mempertahankan diri dari jarahan orang.

Akhir 1978, oplah Aktuil secara dramatis meluncur tajam. Tinggal 3.000 atau 4.000 eksemplar.

Sondang Pariaman Napitupulu, ekspentolan organisasi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia dan mantan wartawan beberapa majalah, rupanya mencium ancaman kehancuran Aktuil. Napitupulu hilir-mudik Jakarta-Bandung mengutarakan niatnya “membeli” Aktuil. Rahardjo tak punya kekuatan untuk menolaknya.

Pada 1979 Aktuil pun mulai diterbitkan dari Jakarta. Toto tetap pemimpin umum tapi jabatan pemimpin redaksi dialihkan ke Napitupulu. Musik dan sastra mbeling tidak lagi dijadikan generator pendongkrak oplah. Di tangan Sondang Pariaman Napitupulu, Aktuil disulap jadi majalah umum. Menurut Remy Sylado, majalah ini lebih tertarik pada politik dan “tetek.” Bens Leo menyebutnya “Aktuil Gaya Sondang.”

DARI Asbari Nurpatria Krisna saya memperoleh gambaran hidup Aktuil di perantauannya. Di Jakarta, Aktuil berkantor di kawasan Proyek Senen, Jakarta Pusat, dengan percetakan PT Karya Nusantra, yang berlokasi di Kemayoran.
Krisna adalah salah seorang editor Aktuil periode Jakarta. Dia kini tinggal di Belanda dan sejak 1986 bekerja buat radio Netherland. Sebagai wartawan, Krisna dapat disebut well dressed journalist, yang bukan hanya rapi berpakaian, tapi juga tertib dalam mengajukan pertanyaan. Sejarah mencatat, Krisna dan istrinya, Josephine Yuyu Mandagie —menikah 1972 dan dikarunia dua anak lelaki—adalah pasangan pertama yang memperoleh anugerah hadiah jurnalistik Adinegoro. Mandagie sampai kini masih menjadi koresponden Suara Pembaruan.
Krisna didatangi Sondang Napitupulu yang berniat meminta Krisna jadi redaktur pelaksana Aktuil. “Saya terima tawaran tanpa membicarakan gaji,” kata Krisna seraya mengungkapkan, “Saya menjaga gawang isi, karena Sondang mempercayakannya kepada saya, termasuk soal bahasa Indonesia dan penggunaan bahasa asing.”

Di tangan dwitunggal Napitupulu-Krisna, Aktuil yang sedang sakit kembali dapat merangkak. Untuk dapat berlari, Napitupulu mencoba membujuk Remy Sylado, yang sejak 1975 mengelola majalah Top. Remy menyatakan oke.

Aktuil sempat menembus tiras 25 ribu eksemplar, namun angka ini tidak bertahan lama. Penyebabnya? Berbeda dengan semasa di Bandung, Aktuil periode Jakarta hampir bisa dikatakan abai terhadap penggalian ide-ide baru, baik dalam musik maupun sastra.

Napitupulu bahkan terkesan hendak mengembalikan Aktuil ke semangat tahun 1950-an, ketika jagat media penuh dengan teriakan dan caci-maki. “Orang tidak suka lagi pada pers yang gegap-gempita. Muak orang baca media seperti itu,” komentar Remy.

Namun demikian, satu hal yang pantas dicatat, laporan investigasinya lebih maju ketimbang Bandung. Aktuil “Gaya Sondang” diwarnai oleh “jurnalisme bongkar kasus sampai ke akar-akarnya.”

“Sebagai wartawan,” ujar Krisna, “Sondang P.N. sangat baik dalam investigasi. Kerjanya seperti kuda, pantang menyerah, walaupun diancam akan dibunuh sekalipun.”

Tapi Napitupulu bukan superman, yang dengan sigap berani menantang maut. Dia tak jarang main lempar tanggung jawab. Krisna masih ingat, misalnya, kehadiran seorang perwira militer yang murka karena merasa dirugikan Aktuil. “Saya yang harus menghadapinya,” kata Krisna.

Peristiwa hampir senada juga dialami Remy Sylado ketika Aktuil digugat Soehoed Warnaen, wakil gubernur Jawa Barat. Warnaen merasa difitnah telah menyerobot sepetak tanah milik seorang pensiunan militer, di kawasan Jalan Setiabudhi, Bandung. “Tak ada satu pun wartawan Bandung berani muat. Saya memberitakannya sampai kasus ini disidangkan,” ujar Remy.

Di masa kepemimpinan Napitupulu, sudah jamak awak Aktuil dipanggil departemen penerangan untuk “dibina” berkaitan dengan tulisan dan foto yang dimuatnya, baik karena dianggap melanggar susila maupun mencemarkan nama baik.

Kebanggaan awak Aktuil terhadap Napitupulu rupanya tidak bertahan lama. Oplah merosot. Satu per satu, awak Aktuil meninggalkan Napitupulu. Krisna keluar pada 1981 karena merasa tidak cocok lagi. Pada tahun itu pula Napitupulu diturunkan dari kursi pimpinan oleh para anak buahnya.


ASBARI Nurpatria Krisna yang sedang memulai kehidupan baru, kembali ke bangku kuliah, ramai-ramai didatangi bekas anak buahnya. Dia diminta memimpin mereka. Krisna menyatakan siap jadi pemimpin redaksi, dengan sejumlah persyaratan bahwa selama setahun kepemimpinannya orang tidak boleh merecoki kebijakannya.

Dia ingin menaikan kembali Aktuil yang mulai terpuruk, seraya menata manajemen sumber daya manusia, yang dinilainya lemah. Krisna pun mencanangkan program pendidikan buat wartawannya. Namun, bekerja tertib ala Krisna rupanya tidak populer bagi mereka. Lebih-lebih setelah Krisna langak-longok ke sektor bisnisnya, yang dalam pandangan Krisna, mengesankan adanya ketidakberesan. Ia, misalnya, terheran-heran ketika muncul “Konsep Iklan 3-1” alias tiga iklan dibayar satu yang didesain Nuke Mayasaphira, manajer iklan.

Apa benar konsep seperti itu ada?

“Ada kali, ya?” kata Lies Hindriati, yang waktu lampau menjadi staf tata usaha Aktuil. Hindriati kini bekerja untuk PT Nindotama, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang periklanan outdoor, tempat Mayasaphira jadi direktur utamanya.

Toto Rahardjo, pemimpin umum Aktuil, membenarkan adanya konsep semacam tadi. “Waktu itu,” ungkapnya, “memang kita susah cari iklan.” Toh Rahardjo tak memungkiri kalau resep tersebut tak cukup manjur menyehatkan kembali Aktuil, yang mulai terseok-seok.

Konflik menggejala. Saling curiga merajalela. “Mereka tidak lagi satu misi. Tidak sekompak dulu. Waktu di Bandung, Aktuil kompak sekali. Kita malahan sering piknik beramai-ramai, termasuk ke Bali,” kata wartawan Aktuil Bens Leo.

Krisna patah arang. Dalam sebuah rapat lengkap, tepat setahun kepemimpinannya, Krisna berucap, “Kalau ingin kedudukan saya, ambillah, saat ini juga saya keluar.” Krisna meninggalkan rapat, dan sejak itu pula ia tidak pernah kembali ke kantor Aktuil.

Rahardjo, sekalipun masih menjabat pemimpin umum, tidak bisa berbuat banyak. Kekuasaannya hanya berdaulat di atas kertas. Secara de facto, kekuasaan Aktuil kini sepenuhnya di tangan Noor Slamet Asmaprawira, adik Harmoko, seorang tokoh Persatuan Wartawan Indonesia dan selama hampir 15 tahun jadi menteri penerangan rezim Soeharto.

Belum tuntas konflik ditangani, hantu masalah lain muncul: kelangkaan pasokan kertas. Asmaprawira yang kepemimpinannya semula tak mau direcoki, kini melunak dan minta bantuan Toto Rahardjo. Atas perintah Rahardjo, Maman Sagith mencoba menyurati Apandi, bendahara Serikat Penerbit Pers Jawa Barat, untuk meminta suplai kertas 10 ton per bulan agar Aktuil bisa meningkatkan tiras jadi 30 ribu eksemplar per terbit.

Yang disurati angkat tangan. Apandi merasa, Aktuil kini bukan lagi tanggung jawabnya. Alasannya, domisili Aktuil tidak lagi di Jawa Barat. Giliran Jakarta yang disurati. Juga tak berhasil. Jakarta melihat, dalam surat izin terbit, Aktuil dinyatakan diterbitkan di Bandung.

Lonceng kematian nyaring berdentang. Hanya sekitar tiga bulan setelah Krisna mundur, Aktuil masuk ke liang lahat sejarah.

Tahun 1986, Krisna terbang ke Belanda. Beberapa saat kemudian, surat izin usaha penerbitan pers Aktuil terbang ke sekelompok wartawan pecahan Tempo yang memulai majalah berita Editor. Majalah ini dimodali Bambang Rachmadi yang dikenal karena menjalankan waralaba restoran McDonald di Indonesia.


MATAHARI sudah beranjak dari titik kulminasinya. Empat karyawan percetakan PT Timbul yang berdinas hari itu, satu per satu meletakkan pekerjaannya; bersiap pulang.

“Saya biasa pulang pukul 14.30,” ujar Maman Sagith, seraya membereskan sejumlah dokumen Aktuil yang berserak di mejanya. Saya membantunya memasukkan ke map dan minta diri.

Di luar, tawuran sejumlah pelajar bermotor sudah mereda. “Dulu, tak pernah ada tawuran di jalan ini. Anak-anak muda memilih main band di sana,” Sagith menunjuk sebuah rumah di depan kantornya. Di situ New Rhapsodia, kelompok musik asal Bandung 1970-an, bermarkas.

Kantornya sendiri, di masa jaya-jayanya, jadi tempat persinggahan musisi, penyair, dan bintang film bila mereka melewati Bandung. Bahkan mereka sengaja datang mengunjungi Aktuil sekadar untuk berkenalan dan kongko-kongko. “Musisi atau penyanyi cita-citanya masuk Aktuil,” kata Bens Leo, wartawan Aktuil Jakarta, yang sempat dikirim ke Jepang untuk reportase.

Kini, gedung bernomor 57 itu hanya ditemani sepi segera setelah jarum jam menunjuk pukul 15.00. Tak ada lagi awak redaksi yang naik ke atas meja, membaca puisi. Tak ada lagi wartawan yang balapan membuat tulisan sekadar iseng. “Tak seorang pun orang Aktuil datang ke sini sejak Aktuil dibawa ke Jakarta,” ungkap Sagith.

Ia mendengar tidak sedikit awak redaksi Aktuil yang makmur seperti Maman Husen Somantri, yang mengepalai perwakilan Bank Indonesia, di London, Inggris atau Goenadi Harjanto yang menekuni bisnis lapangan golf serta real estate. Lalu, di mana triumvirat itu? Sagith menggelengkan kepala.

Remy Sylado-Denny Sabri Gandanegara-Sonny Suriaatmadja punya kesibukan sendiri-sendiri. Remy tinggal di Jakarta, di belakang penjara Cipinang, di rumah kayunya seukuran sekitar 100 meter persegi dengan benteng mirip kampung Galia dalam komik Asterix. Ia masih mengajar, melukis, menulis esai, puisi, drama, dan novel. Salah satu karyanya, Cau Bau Kan, belakangan difilmkan dengan bintang Lola Amaria.

Gandanegara masih suka keluyuran dan hidup berpindah-pindah. Rumahnya di Jalan Lodaya, Bandung, tempat dulu para artis, promotor showbiz dan pengusaha rekaman berkumpul, sekarang sudah ditempati orang. Gandanegara kini asyik berkebun tomat di atas sepetak tanah warisan keluarga di Wanaraja, Garut, setelah membuka pengobatan alternatif tenaga dalam di daerah Margahayu, Bandung.

Suriaatmadja? Kabar yang sampai ke telinga saya, terakhir ia bergabung dengan radio Antassalam, Bandung, pada 1992. Di sana, ia mengasuh acara musik dangdut; musik yang tak pernah diresensinya. Di sela-sela waktu luangnya, ia menyempatkan diri mengarang beberapa buku cerita anak, yang ia terbitkan sendiri. Setelah terlibat problem keluarga dengan istrinya, ia menghilang ... seperti juga Aktuil yang tertimbun tumpukan puing-puing sejarah grand narrative negeri ini.*

Read More......

Kilometer 10 Mimika

Oleh : Agus Sopian


HUJAN turun sepanjang pagi hingga sore. Hembusan angin malam membawa bau sampah dari sekitar Pasar Swadaya, urat nadi bisnis warga Timika.

Nun jauh di sana, arah timur laut, terlihat semburat keemasan menerangi langit. Cahaya ini berasal puluhan lampu sorot berkekuatan ribuan watt, yang menerangi Mile 72, lokasi penambangan PT Freeport Indonesia. Energi listrik di sana -- yang berasal dari pusat pembangkit listrik tenaga uap Amamapare -- berkisar 195 megawatt, atau setara dengan aliran energi listrik sebuah kota kecil Papua.

Di ruas Jalan Yos Sudarso, jantung Timika, sejumlah pemuda duduk-duduk di trotoar. Beberapa botol vodka dan soft drink terlihat di sela-sela sebagian kaki mereka. Tak jauh dari mereka, puluhan sepeda motor ojek masih berjejer menunggu dinihari, saat warga berdatangan ke pasar untuk belanja kebutuhan sehari-hari.

Dari situ, kendaraan yang saya tumpangi melesat ke arah selatan, melewati jalanan penuh lubang, yang sebagiannya menyisakan lumpur. Seorang gadis Kamoro, berbusana T-shirt ketat, terlihat turun dari ojek. Gereja Torsina, batas keramaian kota di selatan Timika, sudah terlewati. Perjalanan masih sekira sembilan kilometer lagi. Dingin larut malam mulai menembus jaket kanvas saya. Kulit rasanya seperti dikompres air es.

Pukul 23.00 lebih. Jalanan makin sepi. Kendaraan dari arah berlawanan bisa dihitung dengan jari. Kebanyakan sepeda motor. Sisanya beberapa truk, yang kemungkinan berasal dari Pelabuhan Poumako, sekira 50 kilometer dari Timika. Truk ini biasanya membawa berbagai barang untuk Pasar Swadaya seputar Timika. Sedangkan truk ikan, umumnya datang dari pusat pendaratan ikan di Kampung Hiripau, Distrik Mimika Timur.

Sepeda motor terus melesat, melewati SP I kemudian SP IV. SP adalah akronim “Satuan Pemukiman” atau kampung-kampung di seluruh kepulauan luar Jawa dan Bali -- antara lain Kalimantan, Sulawesi, Halmahera, juga Papua -- yang tumbuh seiring masuknya transmigran, mayoritas dari Jawa sejak 1970-an.


SELEPAS SP IV, sepeda motor berbelok menempuh jalan kampung tanpa aspal. Dua orang Papua asli berjoget di jalan dalam kegelapan. Tak ada suara musik yang terdengar mengiringi joget mereka. Saya menduga mereka teler. Mabuk minuman keras sudah jadi pemandangan sehari-hari di sana.

Hanya beberapa menit, kendaraan tiba di suatu portal. Seorang warga dengan mata merah berbaik hati membukakan portal. Ini pintu masuk menuju kawasan yang dikenal sebagai lokalisasi seks komersial “Kilometer 10.”

Habis gelap, terbitlah terang. Demikianlah, tiba-tiba saja mata tertumbuk pada sejumlah bangunan, permanen dan semi permanen, yang berdiri mengitari pinggiran sebuah tanah lapang seluas lebih dari lapangan sepakbola. Seluruh bangunan diterangi bola-bola lampu. Beberapa di antaranya menggunakan lampu ornamen dan billboard sederhana. Keadaan benar-benar mirip permulaan kawasan Patpong, salah satu pusat bisnis seks komersial di Bangkok sana.

Hampir seluruh bangunan dipasangi papan nama. Bangunan bertingkat dua bertuliskan “Putri Khayangan” --yang lokasinya berhadapan dengan portal-- terlihat paling mencolok. Di halaman bangunan itulah sepeda motor yang membawa saya parkir. Mata saya tertumbuk pada muda-mudi yang sedang bercengkrama di sebuah sudut, tak jauh dari kantor polisi kampung. Hawa mesum mulai terasa.

Tak jauh dari “Putri Khayangan” terdapat gedung serba guna yang biasa digunakan warga untuk pertemuan atau sekedar menerima pengarahan dari pejabat yang berkunjung ke sana. Gedung ini berada di tengah lapangan. Pada sisi utara gedung, sebuah peti bercat putih ukuran sekira 40 cm x 70, terlihat menempel di dinding. Inilah yang disebut “ATM Kondom.” Dengan memasukkan tiga koin Rp 500-an, seseorang bisa mendapatkan sebungkus kondom.

Kondom bukanlah dimaksudkan untuk menggantikan koteka, tapi untuk menyangga kebutuhan seks cepat di situ. Kampanye kondom memang luar biasa di hampir seluruh Papua. Muasalnya, Papua dianggap sebagai daerah rentan HIV/AIDS. Pusat penyebaran HIV/AIDS terkonsentrasi di tiga kota: Timika, Merauke dan Jayapura.

Sebelumnya, Merauke di peringkat ke satu. Sejak awal Desember 2005, kedudukan itu digantikan Timika. Ini kata dokter Maurits Okoserai, kepala Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Kabupaten Mimika.

Cemas akan penyebaran virus HIV/AIDS sampai-sampai kalangan eksekutif di sana memandang perlu adanya peraturan daerah mengenai pemasaran dan kampanye penggunaan kondom. Rancangan peraturan tersebut kini sedang digodok.

Pejabat boleh dilanda kecemasan, warga di Kilometer 10 tetap dengan kegiatan rutinnya. Begitu malam tiba, mereka bersiap diri menyambut tetamu. Mami-mami dan papi-papi, sebutan untuk para mucikari, biasa duduk-duduk di serambi. Bangunan-bangunan di sana memang hampir seluruhnya didisain khas warga pesisir Jawa Timuran. Ada serambi tempat berangin-berangin.


SEJAK pemberlakuan otonomi khusus Papua pada 2001, seluruh desa diubah nama menjadi kampung. Kecamatan jadi distrik. Lokalisasi Kilometer 10 berada di kawasan Mappuru Jaya, sebuah daerah pelabuhan laut, tepatnya di Kampung Kedung Jaya, Distrik Mimika Timur Jauh, Kabupaten Mimika.

Kabupaten ini, wilayah tambang tembaga dan emas PT Freeport Indonesia, terletak pada 134◦45´ - 147◦45´ Bujur Timur dan 40◦0´ - 5◦10´ Lintang Selatan. Sebelum otonomi khusus, Mimika hanyalah sebuah kecamatan bernama Mimika Timur, yang berada dalam zona administratif Kabupaten Fak-fak. Otonomi membuat Mimika pesat perkembangannya.

Sarana infrastruktur Mimika relatif lebih kuat dari daerah-daerah lain di Papua. Transportasi udara disangga oleh bandar udara Moses Kilangin, yang memiliki landasan berskala internasional. Transportasi laut bersandar pada beberapa pelabuhan di kawasan Poumako. Awal Desember 2005, Pelabuhan Poumako III, yang dapat dilayari oleh kapal-kapal besar, resmi dioperasikan. Ini akan lebih mengencangkan lagi denyut perekonomian di sana.

Lokalisasi Kilometer 10 berkembang bersama pertumbuhan daerah Mimika. Sebelum otonomi khusus, komunitas seks komersial terbatas jumlahnya. Sampai pertengahan 1980-an, mereka umumnya tersebar secara sporadis di sekitar kawasan Bougenville di Distrik Mimika Baru. Mereka kemudian pindah ke Pad XI di Mimika Timur mulai awal 1990-an.

Mereka belakangan direlokasi ke Kampung Kedung Jaya, pada paro kedua 1990-an. Disebut “Kilometer 10” karena sebelum kampung itu berdiri, tempat itu memang berada di Kilometer 10 dari pusat Kota Timika. Kaum hidung belang tak jarang menyandi tempat itu dengan kosakata “bawah.” Maka, kalau saat berada di Timika tiba-tiba kolega Anda bilang, “Kita ke bawah yuk” – itu artinya mengajak Anda untuk mendatangi tempat itu.

Sampai kini, di lokalisasi itu terdapat 21 “wisma.” Setiap wisma dilengkapi sebuah bar dan ruang tamu. Beberapa di antaranya memajang monitor televisi layar lebar selayaknya diskotik kota besar. Sejumlah anak muda melantai di situ dalam kondisi on.

Musik yang mengiringi mereka tak hanya bersumber dari ruang bar, tempat load speaker berada. Tapi juga dari tetangga sebelah. Asal tahu saja, seluruh wisma menyetel musik kencang-kencang, padahal antar satu bangunan dengan bangunan lain berdempet-dempetan. Pop melankolis, house music, dangdut remix, campursari, sahut-menyahut, berbaur jadi satu membentuk genre musik kacau-balau khas Kilometer 10.

Seluruh wisma pun punya gaya arsitektur yang sama. Sehabis ruang tamu, lantai dansa dan bar, berbaris kamar-kamar kecil seukuran kira-kira 2 meter x 4 meter (sudah termasuk kamar kecil di dalamnya). Kamar-kamar ini berderet dari beranda depan hingga ke belakang, bermuka-mukaan yang terpisah oleh sebuah koridor. Jumlah kamar bervariasi: dari 20 sampai 35 kamar. Setiap kamar rata-rata dihuni seorang pekerja seks.

Dari data yang ada sampai awal Desember 2005, kebanyakan pekerja seks berasal dari daerah Jawa Timur, terutama daerah-daerah miskin macam Sidoarjo, Kediri, Pandaan, Tretes. Ada juga dari daerah lain, semisal Iceu, yang berasal dari Bandung. Hanya ada satu Iceu di sana, yang berbicara Melayu dalam cengkok Sunda. Lainnya, melulu dialek Jawa Timuran yang bledak-bleduk.

Perempuan-perempuan Jawa Timur tampaknya sangat dominan dalam bisnis hiburan di Mimika. Mereka tak hanya menguasai areal lokalisasi itu, tapi juga bisnis hiburan lainnya, termasuk timung (panti pijat). Hampir semua timung berada di jantung kota Timika, ibukota Mimika, mulai ruas-ruas jalan protokol sampai sejumlah gang.

Perempuan-perempuan timung memasang “tarif basah” Rp 500 ribu sampai Rp 600 ribu. Ini belum termasuk booking fee. Besar booking fee tergantung di mana di mana hendak “dipijat.” Kalau di dalam kamar, di tempat mereka praktek, booking fee sebesar Rp 50 ribu per jam. Artinya, pijat dengan “basah-basahan” plus minuman, jatuhnya antara Rp 600 ribu sampai Rp 700 ribu.

Tarif BL, istilah mereka untuk “booking luar”, beda lagi. Besarnya Rp 60 ribu per jam dengan lama booking minimal dua jam. Digabung dengan “tarif basah” maka total jenderalnya bisa mencapai antara Rp 700 ribu sampai Rp 800 untuk short time. BL sampai pagi lebih besar lagi, mengingat booking fee tidak tergantung jam, tapi tarif flat sebesar Rp 200 ribu, plus “tarif basah” dan tips pulang pagi.

“Ya Bapak mengertilah. Di Timika ini semuanya mahal,” kata seorang perempuan bernama Dila, seorang pemijat di salah satu timung di Jalan Cendrawasih. Saya kira nama itu “nama bisnis.”

Mahalnya perempuan-perempuan timung memberi celah bagi Kilometer 10 untuk berkembang dan selalu ramai pengunjung. Di sana, harga seks komersial untuk short time hanya Rp 50 ribu. Pendeknya, dengan uang Rp 75 ribu sampai Rp 100 seorang hidung belang sudah dapat menikmati seks cepat, termasuk tarif kamar yang Rp 10 ribu per sekali booking plus minuman soft drink. Harga yang murah meriah, dan bisa dijangkau oleh kuli pelabuhan sekalipun.

Tapi jangan salah kira, mereka yang datang ke sana tak hanya dari kalangan kelas bawah. Kendaraan-kendaraan mulus roda empat, yang parkir di depan sejumlah wisma, mengindikasikan kalau mereka bukanlah kaum pinggiran dengan penghasilan ala kadarnya. Saya pernah bertemu seorang pejabat keuangan Timika keluar dari suatu bar.



DEKAT sofa tempat saya duduk, di bawah kolong meja, berceceran botol-botol minuman keras sejak vodka sampai Mansion House. Beberapa pekerja seks cekikikan ketika saya memesan segelas kopi. “Mbah dari mana ini?” kata seorang di antaranya meledek sambil senyam-senyum. “Ngantuk nih,” ujar saya. Mata memang sepet. Jarum jam menunjukkan pukul 00.15.

Air kopi atau teh tak pernah masuk daftar minuman di hampir semua bar di sana. Minuman soft drink semacam Cocacola atau Sprite malahan sering stoknya habis di beberapa bar menjelang dinihari. Seorang teman pernah keliling bar sekadar untuk mendapatkan soft drink itu.

Minuman favorit yang selalu tersedia adalah Kratindaeng dan sejenisnya, juga berbagai merek minuman keras dan bir. Sejatinya, minuman keras dilarang diperdagangkan, tapi larangan tinggal larangan. Prakteknya, minuman keras ada hampir di semua bar. Bagi sebagian orang, selain surga seks komersial, Kilometer 10 adalah surga bagi peminum dan pemabuk.

Bar memang tidak memajang minuman-minuman keras di raknya. Tapi, begitu kita minta, simsalabim dalam beberapa detik sebotol minum sudah di depan kita. Pramusaji bar tak canggung-canggung memberikannya. Setengah jam duduk di sofa bar, sedikitnya delapan botol minuman keras berpindah tangan dari pramusaji ke pengunjung.

Keberanian mereka untuk menjual minuman alkohol, pastilah ada latarnya. Dan benar saja. Banyak bar yang menganggap bahwa penjualan minuman keras merupakan kompensasi dari dikenakannya retribusi atas bir. Sejauh saya lihat, hampir seluruh bir di sana memang ditempeli cukai di kaleng penutupnya.

Cukai bir sebesar Rp 300 ribu per bulan untuk satu bar. Saya belum sempat menanyakan dasar hukum retribusi semacam itu kepada pemerintah daerah setempat. Apapun dasarnya, saya cenderung membayangkan datangnya jawaban birokratis, kalau bukan apologis. Ujung-ujungnya, orang mafhum, lokalisasi, di mana pun tempatnya, adalah sasaran paling empuk bagi penguasa untuk mengeruk uang – di bawah dalih retribusi untuk pemasukan kas pendapatan daerah.

Saya tidak sedang menuding-nuding. Keadaan menunjukkan, di luar cukai bir, masih ada sederetan retribusi lain. Setiap kamar, misalkan, dikenai retribusi Rp 25 ribu per bulan. Satu wisma yang memiliki 30 kamar praktis harus mengeluarkan uang retribusi sebesar Rp 750 ribu per bulan. Dengan sendirinya, dalam satu bulan, pemerintah mendapatkan retribusi kamar berkisar antara Rp 15 - 17 juta.

Tak hanya sampai di situ. Pemerintah juga menarik pajak lantai bar dan ruang Rp 1.000 per meter persegi per hari. Dengan luas rata-rata 10 meter persegi saja, satu wisma harus mengeluarkan uang sebesar Rp 300 ribu per bulan. Tarikan retribusi dari seluruh wisma tinggal dikalikan 21 wisma.

Ada juga retribusi dari Dinas Pariwisata sebesar Rp 1 juta per bulan. Belum lagi penarikan dana lain-lain, mulai keamanan, sampah atau dana kunjungan pejabat ke sana. Pendeknya, setiap bulannya, satu wisma mengeluarkan retribusi paling minim Rp 2 juta.

Bisa dipahami kalau penghasilan pekerja seks di sana kecil-kecil. Mereka harus menyubsidi mami atau papinya yang dicekik pajak kanan-kiri, resmi dan tidak resmi. Seorang pekerja seks sering hanya mengantongi Rp 10 ribu sampai Rp 20 ribu dari satu tamu. Masih lumayan kalau sehari semalam mereka mendapatkan Rp 50 – 100 ribu. Tapi uang sebesar itu kadang lewat begitu saja, sebab mereka pun ternyata terbiasa hidup sepelaminan dengan para rentenir.

Kecilnya pemasukan sering menyebabkan pekerja seks tak bisa pulang ke kampung halamannya selama bertahun-tahun. Mereka terhadang ongkos tiket pesawat terbang yang jutaan rupiah. Perempuan-perempuan timung saja, yang sedikit lebih makmur, rata-rata pulang setahun sekali.

Tak usah heran kalau di sana ada istilah STW, yang artinya “setengah tua.” Ini istilah untuk pekerja seks di atas usia 30 tahun. Mereka sering sulit pulang kampung lantaran semakin tua semakin susah mendapatkan tamu. Hari-hari mereka sepenuhnya bergantung pada keajaiban, penantian dan kerinduan pada kampung halamannya.

Read More......