Senin, 09 Maret 2009

Kisah Perempuan Bersuami Dua

Oleh: Musthofa Bisri

Sabtu malam 14 Februari lalu, warga Kelurahan Kariangau Kecamatan Balikpapan Utara, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur digemparkan oleh penemuan sesosok mayat laki-laki. Mayat itu tergeletak dipinggir jalan, didekat sebuah gapura menuju lapangan Golf.

Tidak ada yang mengenali mayat laki-laki itu, warga di sekitar lokasi temuan juga geleng kepala ketika ditanya apakah mengenali mayat itu, darah diwajahnya masih segar, merah terang, ia seperti baru saja meregang nyawa. Warga lantas melaporkan temuan itu ke kantor polisi terdekat.

Polisi dari Kepolisian Sektor Balikpapan Utara segera meluncur ke Tempat penemuan mayat, setelah mendapat laporan dari warga, dengan menggunakan satu unti mobil patroli, dalam hitungan menit petugas tiba di lokasi.

Posisi mayat terlentang, tergelatak disemak-semak yang cukup tinggi, kepala pecah dibagian depan, seperti habis dipukul benda tumpul, kemeja yang dikenakannya masih lengkap, berbagai barang berharga milik korban, seperti dompet dan hand phone masih utuh. melihat ciri dan kondisi korban, polisi dengan cepat mengambil kesimpulan awal. Pembunuhan terhadap lelaki itu bukan bermotif perampokan, dugaanya adalah motif dendam.

Dengan cepat polisi mengamankan lokasi penemuan mayat, garis polisi dipasang untuk memudahkan pencarian petunjuk siapa pelaku pembunuhan.jenazah lelaki muda itu, dibawa ke rumah sakit umum DR Kanujoso Djatiwibowo dengan ambulans. Berdasarkan kartu tanda penduduk di dalam dompet korban, nama lelaki itu Tamsil, usianya sekitar 30 tahun, ia warga Karang Anyar, Pandan Sari, Kecamatan Balikpapan Barat. alamat inilah yang akan dijadikan polisi membongkar kasus ini.

Di malam yang sama, di Kantor Polsek Balikpapan Utara, sejumlah intel dan tim buser segera diterjunkan. mereka menyebar untuk melacak pembunuh korban yang diduga masih orang dekat korban, dugaan ini, kata Kepala Polres Kota Balikpapan AKBP Suwono Rubianto, Senin 16 Februari, didasarkan pada tidak satu pun barang berharga korban yang hilang.

Tim buser bergerak cepat, setelah menemui tetangga di tempat tinggal korban di Karang Anyar dan warga disekitar lokasi penemuan mayat, polisi berhasil mengungkap bahwa korban lebih dikenal dengan nama Amir, ia bekerja sebagai security di sebuah pasar.

Suwono Rubianto mengatakan, dari berbagai keterangan yang dihimpun polisi dilapangan, terungkap bahwa Korban Tamsil alias Amir terakhir kali tampak bersama Sri Suparti warga Rt 8 Perumahan "Pak Djarum" Keluarahan Kariangau.

Polisi menemui Sri Suparti di rumahnya, saat ditanyai ia langsung mengaku terlibat perbunuhan Amir, Perempuan kelahiran Klaten 38 tahun silam ini langsung diciduk, bersama menantunya Widodo. "Ini termasuk prestasi kepada polisi, yang dalam hitungan jam berhasil meringkus pelaku pembunuhan," kata Suwono Rubianto.

Esok harinya, Minggu 15 Februari, Sri Suparti diperiksa penyidik, kepada polisi perempuan beranak tiga ini mengakui bahwa suaminya Sumanto terlibat pembunuhan Munir, bahkan lelaki berusia 70 tahun itu merupakan pengeksekusi korban, Amir dibunuh dengan sebuah linggis pada bagian kepala.

"Tapi suaminya buron, kami telah tahu tempat pelariannya, jadi kami minta segera menyerahkan diri, kalau tidak akan kita jemput paksa," kata Suwono Rubianto, Sumanto diduga kabur keluar daerah.

Kepada wartawan Sri Suparti mengaku tidak tahu suaminya kabur kemana, setelah menghabisi nyawa Amir dengan linggis, lelaki paruh baya itu langsung kabur dan tidak pulang lagi ke rumah.

Polisi sendiri kesulitan untuk menemukan linggis yang digunakan Sumanto menghabisi nyawa Amir, di TKP polisi hanya menemukan jus lombok merah dalam botol bekas minuman air mineral, "Menurut keterangan sri, linggisnya dibuang disungai di sekitar TKP," kata Kaporesta Balikpapan Suwono Rubianto.

Tidak mudah menemukan barang bukti itu, pencarian polisi dihambat buaya rawa yang dikabarkan banyak berkeliaran di dungai tersebut. Polisi juga harus hati-hati, jika tidak ingin celaka, setelah hampir mencari sepanjang Hari Minggu, linggis maut itu ditemukan.
@@@@@

Lalu bagaimana bisa Keluarga Sri Suparti, merencanakan pembuhunan terhadap Tamsil alias Amir?, Polisi mengatakan, pemebunuhan berencana terhadap Amir bermotif cinta dan cemburu.

Benarkah? polisi akhirnya menggelar kasus pembunuhan kepada Amir, Otak pelaku pembunuhan Sri Suparti dihadirkan bersama menantunya Widodo, di ruang rapat berian Polresta Balikpapan, Senin 16 februari lalu.

Diruang rapat itu, Sri Suparti duduk menghadap arah timur berdampingan dengan menantunya Widodo, tangan keduanya tidak diborgol, polisi berpakaian preman memenuhi ruangan.

Didepan Sri Suparti ada bungkusan obat sakit kepala yang telah disobek pada salah satu sudutnya, ada juga sebotol air meneral ukuran tanggung, isinya tinggal separuh, tampaknya Sri menderita sakit kepala sehingga harus mengkomsumsi obat tersebut.

Wajah Sri tampak legam dan kusam, seperti tak tersentuh air berhari-hari, Rambutnya yang sebahu, tampak pirang terkena cahaya matahari meski tanpa diberi pewarna khusus. Kaos oblong warna dongker pudar yang dikenakannya serta sebuah celana pendek warna hitam juga begitu kumal, lucunya dia memakai koas kaki warna putih dengan sendal hak tebal tinggi sehingga tidak klop dengan kemeja yang dikenakannya.

Ketika saya masuk ke ruang rapat berian, sejumlah wartawan sedang mewawancarai Sri Suparti, blitz kamera berkilat-kilat, polisi perkaian preman menyebar di sudut-sudut ruangan. Saya keluarkan tape recorder menyambung wawancara dengan Sri Suparti.

Wajah Sri Suparti tampak begitu tenang selama wawancara dengan wartawan, bibirnya sesekali menyungging senyum, tidak ada air mata menetes dari matanya. Ibu beranak tiga ini, dengan lancar menceritakan awal pertemuannya dengan Amir, lelaki selingkuhannya yang kemudian tewas tewas ditangan suaminya Sumanto yang masih buron.
@@@@@

Hari itu pada pertengah Juni tahun 2008 lalu, Matahari sudah naik sepenggalahan ketika Sri Suparti keluar dari rumahnya hendak belanja ke Pasar. Ia berdandan agak rapi seperti biasa dan sedikit bersolek.

Sesampainya dipasar, ia bertemu dengan Hery seorang kenalannya yang juga bekerja dipasar itu sebagai keamanan atau security. Setelah mengobrol sebentar dengan Hery sebelum membeli kebutuhan makan untuk keluarga di rumah.

Tak lama berselang, belanja pun selesai, Sri Suparti hendak pulang dengan membawa belanjaan ala kadarnya, ada kangkung, tahu, tomat dan lombok. Tidak disangka Ia berpapasan kembali dengan Hery, mereka berdua lalu mengobrol lama di pasar itu, mulai dari berbasa-basi sampai kepada hal-hal cukup serius. tanpa terasa Matahari sudah diubun-ubun kepala. Sri Suparti pun pamit pulang karena ia belum memasak apa pun untuk kelaurga di rumah.

Hery menahan Sri Suparti agar jangan keburu pulang. "Ada temanku, security juga yang mau kenalan, sebentar ya,?" kata Sri menirukan ucapakan Hery ketika itu.

Karena hanya kenalan Sri Suparti menurut saja, "Toh hanya kenalan tidak ruginya," kata Sri.

Lelaki yang ingin dikenalkan Hery, bernama Amir, meski tidak atletis badannya cukup berisi dan tinggi, usianya agak lebih muda dari Sri Suparti. Rupanya tak cukup hanya kenalan, Amir dan Sri Suparti bertukar nomor hand phone. "Setelah bertukar nomor HP, saya pulang," katanya.

Malam harinya, hand Phone Sri Suparti berdering, dari nadanya ada pesan singkat yang dikirim seseorang. Sri lalu membaca sms itu, rupanya pesan singkat itu dikirim Amir, lelaki yang baru dikenalnya pagi tadi di pasar. "Dalam sms itu, Amir ngajak saya ketemuan besoknya, tapi tidak saya gubris, karena bukan siapa-siapa saya," katanya.

Sikap cuek Sri Suparti, mungkin membuat Amir makin penasaran, sms serupa terus dikirim ulang oleh Amir. Sri akhirnya menyerah, tanpa berfikir panjang ia mengiyakan ajakan Amir.

Esok harinya, seperti yang sudah disepakati, Sri Suparti dan Amir bertemu disebuah warung yang letaknya tidak jauh dari pasar tempat Amir bekerja sebagai security, sambil memesan makanan. Selama makan mereka membicarakan banyak hal tentang kehidupan masing-masing, sesekali Amir merayu dan Sri Suparti sedikit demi sedikit termakan bujuk rayu Amir, suasana semakin akrab.

Setelah acara makan-makan selesai, Amir mengajak Sri Suparti ke rumah sewaannya di kawasan Karang Anyar kecamatan Balikpapan Barat. Tanpa rasa curiga, Sri menurut saja. Namun siapa menyangka, setibanya dirumahnya, Amir mengajak Sri Suparti berhubungan badan layaknya suami istri, anehnya Sri tidak menolak bahkan mengaku pasrah, ketika Amir menyetubuhinya.

Disitulah awal perselingkuhan Amir dan Sri bermula. "Saya juga tidak ngerti kenapa saya mau ditiduri, padahal baru sehari kenal, persaan menyesal baru muncul setelah saya sampai dirumah, saya seperti dihipnotis," tuturnya.

Perasaan menyesal Sri tidak berlangsung lama, intensitas pertemuan keduanya semakin meningkat sejak mereka berhubungan badan hari itu, Sri mengakui bibit cintanya kepada Amir mulai muncul dan mereka makin sering bertemu dan berhubungan badan. Tanpa terasa perselingkuhan itu sudah terjalin selama lima bulan, Sri mulai sering keluar dan jarang di rumah.

"Amir baik dan perhatian sama saya, saya juga sayang sama dia," kata Sri.

Setelah lama berhubungan, prilaku seks Amir yang menyimpang perlahan-lahan terkuat. Sri mengaku sering mengalami siksaan pada kemaluannya selama berhubungan badan dengan Amir. Mulai dari memasukkan lima jari tangannya ke kemaluan Sri sampai pencabutan bulu kemaluannya juga dialami.

Meski begitu, Sri mengaku tetap cinta kepada Amir bahkan karena takut dicampakkan, ia meminta Amir menikahinya dengan kawin siri meski ketika itu Sri masih berstatus sebagai istri Sumanto. "Kami akhirnya menikah dengan penghulu bayaran, semua biaya menikah ditanggung Amir," katanya.

Akhirnya perselingkuhan itu diketahui Sumanto suami sah Sri Suparti, ketika itu, Sri tidak pulang ke rumah selama tiga hari dan memilih tinggal di rumah Amir. "Selama saya tidak pulang, kelainan seks Amir makin tampak," katanya. Sri mengaku sempat kabur ke Sulawesi dan ke rumah orang tuanya di Klaten bersama Amir. "Yang ke Klaten, Amir tidak ikut" katanya.

Setelah lama menghilang, Sri Suparti akhirnya pulang ke rumah. Ia kemudian berterus terang kepada Sumanto Suaminya bahwa ia telah berselingkuh dengan Amir. Bukannya marah, Sumanto malah membiarkan istri berselingkuh yang penting tidak bercerai.

Sikap "legowo" Sumanto itu, belakangan memunculkan dugaan, Sumanto sudah tidak perkasa lagi karena usianya yang sudah sepuh. Bahkan, Sumanto beberapa kali dikatakan pernah bertemu dengan Amir, setelah nikah bawah tangan terjadi.

Rupanya, sikap manis Amir tidak berlangsung lama. Sri mengaku, tertekan batin selama berhubungan dengan Amir. lelaki yang jauh lebih muda dari Sri ini, sering melakukan ritual aneh sebelum berhubungan badan. Tapi karena ceritanya terlalu porno, tidak saya tulis disini.

Singkat cerita, karena tidak tahan dengan perlakuan Amir, Sri Suparti memutuskan untuk kembali ke suaminya Sumanto dan menjalani hidup normal dengan anak-anaknya. Ia kembali ke rumah Sumanto dan merencanakan hidup baru.

"Kenap memilih balik ke Sumanto," tanya saya

"Dia orang baik dan sabar, beda dengan Amir, kasar sama saya," akunya.

Tapi ternyata tidak mudah, Amir masih terus mengejar Sri, ia tidak bisa menghindar, amir terus saja menghubungi Sri dan memintanya bertemu dan berbaikan, tapi Sri tetap menolak. Sampailah pada puncaknya, Sri mengeluh pada Sumanto tentang sikap Amir yang tidak mau melepasnya.

"Matiin saja, saya sudah tidak tahan," kata Sri kepada Sumanto.

Sumanto menyetujui, mereka beranggapan, Amir layak mati atas apa yang telah diperbuatnya kepada Sri. Rencana pembunuhan pun disusun mendadak hari itu juga. Menurut pengakuan Sri, pembunuhan akan dilakukan disekitar lokasi lapangan golf tak jauh dari rumahnya, dalam rencana pembunuhan itu, Sri akan menjebak Amir dengan mengajaknya bertemu dilapangan Golf. disanalah Sumanto akan menunggu dan mengahisinya dengan linggis.

Siangnya berbagai kebutuhan melenyapkan nyawa Amir dipersiapkan dengan sederhana, selain linggis, Sri meminta menantunya, Widodo, membuat jus cabai, untuk melumpuhkan Amir dengan cara disemprotkan ke wajahnya, saat itulah Sumanto akan memukulkan linggis ke kepala Amir.

Kepada saya Widodo mengaku tidak tahu, kalau jus cabai itu merupakan bagian dari rencana pembunuhan Amir. "Sewaktu diajak ke lepangan Golf, saya kira hanya untuk menyelesaikan masalah, bukan untuk membunuh," katanya.

Pengakuan Widodo, dibenarkan Sri, "menantu saya ndak tahu rencana pembunuhan ini, saya hanya minta dia blenderkan lombok dan ditaruh dalam botol air kemasan," katanya.

Malam tiba, Sri menghubungi Amir dan mengajaknya bertemu di sekitar lapangan golf Kariangau. Sumanto dan Widodo sudah disana, Namun ada kendala setelah lama menunggu Amir tak juga muncul. Sri kembali menghubungi Amir, rupanya ia tidak tahu lokasi lapangan Golf, Amir sempat tersesat. setelah dberi petunjuk Amir pun sampai. ia bertemu dan mengobrol dengan Sri, seperti sduah diduga Sri, Amir mengajaknya berhubungan badan, Sri menolak, amir memaksa, tapi Sri tetap tak bergeming, cekcok mulut pun terjadi, Sri pun pergi agak menjauh.

Saat melihat kesempatan itulah, Sumanto beraksi, ia langsung menyerang Amir, dengan hanya satu kali hamtaman linggis, Amir langsung roboh, widodo menambahkan dengan menyemprot jus cabai ke wajah Amir. padahal rencananya, Jus cabai itu disemprotkan untuk melumpuhkan Amir kemudian Sumanto akan memukulnya denga linggis. terbalik.

Melihat korbannya roboh, mereka berpencar, Sri dan menantunya Widodo pulang kerumah, sementara Sumanto langsung kabur ke luar daerah. Setelah sempat buron selama bebeapa hari, Sumanto akhirnya berhasil ditangkap di Daerah Bekasi. Ketiga saat ini mendekam diruang tahanan Mapolresta Balikpapan dan terancam hukuman mati karena merencanakan pembunuhan.""""""""

Tidak ada komentar: