Senin, 14 Mei 2012

Sekolahku Bekas Kandang Ayam

Sumenep---Muslim tak bisa tenang belajar, keringat yang mengucur dan membasahi seragam sekolah merah putih, membuatnya tidak focus mendengarkan penjelasan guru di depannya. Buku yang mestinya menjadi tempat menulis pelajaran, sesekali dijadikan kipas angin untuk menyejukkan badannya. “Dengan kondisi sekolah yang seperti ini, sulit konsentrasi belajar,” kata siswa SDN Pagar Batu 3, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, Rabu 2 Mei 2012, kepada Tempo. Sekolah yang dimaksud Muslim bukanlah gedung sekolah berlantai keramik. Meliankan sebuah gudang yang separuh dindingnya berdinding batu bata dan selebihnya berdinding gedek dari ayaman bambu. Bila matahari sedang terik, hawa panas akan sangat leluasa menembus ruangan. Agar cukup menampung puluhan siswanya, gudang itu disekat menjadi tiga kelas. “Dulu gudang ini bekas kandang ayam,” kata Kepala Sekolah SDN Pagar Batu 3, Tola Izzi. Sudah dua tahun, murid dan guru di SDN Pagar Batu 3 terlantar. Sejak sekolah disegel, kegiatan belajar mengajar sudah berpindah tiga kali. Mereka sempat menumpang diteras rumah warga, menumpang di gedung sebuah madrasah diniyah dan terakhir di gudang bekas kandang ayam itu. Menurut Izzi karena terlalu lama terlunta-lunta, banyak siswanya yang memilih pindah ke sekolah lain. Sebelum disegel, siswa SDN pagar batu 3 berjumlah 68 orang, namun kini hanya tersisa 45 siswa. “ada 23 yang pindah karena tidak betah,” tutur Izzi. Penyegelan gedung sekolah SDN Pagar Batu 3 terjadi Juni 20120 lalu. Pelaku warga sekitar sekolah bernama Syaiful Bahri. Dia mengaku sebagai ahli waris pemilik lahan sekolah. Syaiful mengaku penyegelan dilakukan karena pemerintah kabupaten Sumenep telah ingkar janji. Saat ayahnya menyerahkan tanah itu untuk dijadikan sekolah tahun 1984, pemerintah, kata dia, berjanji akan mengangkat pemilik tanah sebagai pegawai negeri sipil. Namun setelah 26 tahun menunggu, janji itu tidak juga ditepati. "Sekarang kami tidak menuntut diangkat PNS, kami minta ganti rugi saja," katanya. Dinas Pendidikan Sumenep dan pihak Syaiful Bahri sudah beberapa kali menggelar pertemuan untuk menyelesaikan sengketa. Dinas pendidikan sempat bersedia mengganti rugi lahan, namun karena harga yang dipatok penyegel dinilai terlalu mahal, perundingan tak kunjung menemukan titik temu. Kepala Dinas Pendidikan Sumenep, Achmat Masuni meminta siswa dan guru tetap semnagat belajar dan mengajar ditengah kondisi yang memprihatinkan. Masuni mengatakan pihaknya telah menyiapkan kado special di hari pendidikan nasional yaitu pembangunan gedung sekolah baru SDN pagar batu. Rencananya peletakan batu pertama akan dilakukan agustus mendatang. ”kami sudah bebaskan lahan, lokasi tidak jauh dari gudang itu,” katanya. Dia menjelaskan, pihaknya telah menyiapkan dana sebesar Rp 430 juta yang bersumber dana alokasi khusus. Dengan rincian Rp 70 juta untuk pembebasan lahan dan Rp 360 juta sisanya untuk Ruang Kelas Baru. Data Komisi Pendidikan DPRD Sumenep menyebutkan sengketa lahan memang momok bagi kemajuan pendidikan di Sumenep. Selain SDN Pagar Batu 3, ada 11 sekolah lain baik di wilayah daratan dan kepulauan yang menjadi obyek sengketa kepemilikan lahan. “di APBD sudah dianggarkan dana Rp 560 juta untuk menyelesaikan sengketa lahan tersebut,” kata Anggota Komisi Pendidikan DPRD Sumenep, Nur Asyur. MUSTHOFA BISRI

Read More......

Jumat, 19 Agustus 2011

Lukas Pemanggil Ikan

LAKI-laki itu berdiri di tubir pantai Bakaro. Berkaus dan celana sedengkul, Lukas Awiman Barayap meniup peluit sambil melempar-lemparkan rayap pohon ke tengah laut. Cuaca sedang bagus pada Jumat pagi pekan kedua Desember lalu. Angin sepoi-sepoi membenturkan ombak ke karang dan pasir putih, setelah malam tadi gerimis menyiram Manokwari, ibu kota Papua Barat. Lukas terus meniup peluit. Semakin melengking, semakin melengking. Tatkala seperempat rayap di tangannya telah ia lempar ke laut, ajaib, perlahan-lahan ombak membesar. Padahal angin bersepoi tak bertambah kencang. Lidah laut yang tadi tenang-tenang menyentuh lututnya itu kini mengubur Lukas hingga pinggang. Terjangannya membuat laki-laki 50 tahun ini pasang kuda-kuda. Sesekali ia terdorong dan mundur dua langkah.

"Lihat, ikannya sudatang," tiba-tiba ia berteriak. Lukas meniup peluit dan melemparkan rayap kian keras.

Laut di Teluk Doreri yang hijau dan tembus pandang hingga dasar itu mempertontonkan keajaiban lain. Air berubah warna-warni. Itu warna pelbagai jenis ikan yang berebut menyantap rayap yang dilempar Lukas. Ada juga yang menumpang ombak mendekat ke kakinya, berkecipak seperti bersuka- cita.

Melihat ikan-ikan sebesar lima jari tangan itu mendekat, Lukas membungkuk dan mencelupkan rayap ke dalam air. "Katakan pada teman-temanmu, ada makanan di sini," katanya. Ia meniup peluit kian keras. Prit..., prit..., priiit..., priiit..., priiit.....

Lukas keluar dari air lalu memanjat tebing yang lebih tinggi, meniup peluit lebih keras, merentangkan tangan, dan melemparkan rayap terakhir di genggamannya. "Itu ikan bulanak, yang ini ikan kapas, babara, kakatua, dan yang ujung ikan hias," katanya, menunjuk ikan-ikan yang berkecipak di bawahnya.

Ia masih memandangi ikan-ikan itu sejenak sebelum balik badan. Satu-satu rombongan ikan menghilang, kembali ke tengah laut, kembali menyelinap ke balik-balik karang. Ombak juga kembali tenang.

l l l

KEMAMPUAN Lukas memanggil dan berkomunikasi dengan ikan dan semua penghuni laut di Teluk Doreri ini dimulai pada 1995. Syahdan, waktu itu kawasan pantai Bakaro masih terisolasi. Terselip di antara lekuk pulau-pulau kecil di sekitarnya, pantai yang bersambung langsung ke Samudra Pasifik itu tak dikenal banyak orang. Jalan masih tanah, listrik belum menyala.

Namun pantai yang belum terjamah pariwisata itu menyimpan pesona dan daya tarik bagi nelayan. Ikan dan terumbu karang bisa dilihat dari atas perahu saking jernih dan bersihnya air laut di sana. Lalu periode memangsa penghuni laut pun dimulai pada 1990. Nelayan yang tak sabar mulai memakai racun potasium untuk menjala dan menangkap ikan. "Kalau pagi di sini seperti perang dunia saja, bom meletus dari ujung ke ujung," kata Lukas.

Maka, ketika siang, ikan-ikan mengambang, terumbu karang rusak, laut jadi kotor. Lukas, yang sudah tinggal di sana sejak 1979, geregetan dengan keadaan itu. Orang Merauke ini tahu, perusak laut di depan rumahnya itu bukan orang-orang Bakaro. Nelayan Bakaro menangkap ikan hanya dengan kail dari atas perahu. Hasilnya pun untuk makan sehari-hari. Dijual ke pasar jika ada lebih saja. Sebagai guru jemaat, Lukas kerap mewanti-wanti dalam khotbahnya agar penduduk di sana menjaga kelestarian pantai Bakaro.

Kedatangan nelayan luar yang merusak keindahan pantai itu membuat Lukas terpikir mencegahnya. Tapi ia hanya seorang diri, tak akan mampu melawan puluhan nelayan yang membawa bom. Tak mungkin juga ia mendatangi mereka lalu berceramah tentang pentingnya menjaga kelestarian alam. Ide nyeleneh pun muncul pada 15 Desember 1995 malam. Lukas akan mengumpulkan ikan-ikan itu di dekatnya ketika para nelayan memasang potasium.

Lukas percaya, manusia bisa berbicara dengan binatang, seperti firman Tuhan dalam Injil Kitab Kejadian Pasal 1 ayat 26-28. "Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut, burung-burung di udara, ternak, atas seluruh bumi, dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi. Hal yang sama juga ada dalam Al-Quran amsal Nabi Sulaiman, yang bisa berbicara kepada semua binatang," katanya.

Maka esoknya Lukas berjalan ke tepi laut. Rumahnya hanya 200 meter dari pantai. Di salah satu tebing karang ia duduk menghadap laut. Matanya terpejam dan berdoa: "Tunjukkanlah apa yang tersurat dalam suara Bapa melalui nabi dan rasul, tunjukkanlah, tunjukkanlah...." Hening. Hanya debur ombak yang terdengar pada pagi buta itu.

Dengan konsentrasi penuh, Lukas terus merapal doa itu. Tiba-tiba ia mendengar seseorang berteriak dari belakangnya, jauh dari arah gunung. "Coba pakai rayap...." Jelas, itu suara laki-laki. Lukas membuka mata dan menoleh ke belakang. Tak ada sesiapa. Pagi masih hening. Belum ada satu pun orang Bakaro yang keluar rumah. Ia kembali menghadap laut dan memejamkan mata.

Dalam hati Lukas kembali berdoa agar ditunjukkan cara memanggil ikan untuk niat baik menyelamatkan mereka. "Lalu saya mendengar suara roh agar saya memakai apa-apa yang ada di sekeliling saya," katanya. Ia mengambil batu dan mengetuk-ngetukkannya ke batu karang. Keajaiban pun muncul. Ombak perlahan-lahan membesar membawa ikan-ikan ke dekatnya. Ikan-ikan bertambah banyak seiring dengan ketukan batu. Lukas takjub akan apa yang dilihatnya.

Tapi ikan-ikan itu hanya sebentar berkumpul. Mereka kembali ke tengah laut ketika Lukas hanya diam terpaku. Ia pun bergegas kembali ke rumah. "Mungkin mereka kecewa karena saya tak memberi makanan," katanya. Ia pun mencari-cari rayap seperti saran suara yang ia dengar tadi. "Siapa tahu mungkin memang itu petunjuk," katanya.

Lukas kembali dengan segenggam rayap pohon. Ia mengetuk-ngetukkan batu sambil melempar rayap-rayap itu. Kini ikan-ikan yang mendekat berebutan memangsa rayap yang dilemparnya.

Hari ke hari ia kian takjub dengan kemampuannya sendiri memanggil ikan di laut. Esok dan seterusnya Lukas tak lagi merapal doa seperti pada pemanggilan pertama. Ia langsung mengetukkan batu dan melempar rayap. Ikan-ikan tak sungkan menghampiri.

Ia masih penasaran apakah rayap satu-satunya makanan yang disukai ribuan jenis ikan di sana. Lukas pun menyelam sambil menyebarkan makanan: nasi, singkong rebus, dan rayap. "Ternyata memang hanya rayap yang mereka makan," katanya. Setiap pagi Lukas memberi makan ikan-ikan itu ketika puluhan nelayan melautkan perahu dengan jaring dan bom.

Sembari memberi makan itulah, Lukas kerap berbicara kepada ikan. "Beri tahu teman-temanmu, ada makanan dan berkumpullah di sini setiap pagi." Selain dengan batu, ia pernah mencobanya dengan peluit. Dan mereka tetap datang. Sejak itu, peluit dan rayap ia pakai untuk memanggil ikan di Teluk Doreri.

Bunyi peluit yang melengking pagi-pagi tentu saja membuat orang-orang di Bakaro penasaran. Mereka berkerumun dan takjub melihat Lukas bisa memanggil dan bercengkerama dengan ikan. Cerita pun menyebar dari mulut ke mulut. Kemampuan Lukas menjadi tontonan orang sekampungnya dan tersiar kabar bahwa ia punya ilmu khusus memanggil ikan.

Lukas selalu menolak jika kemampuannya disebut sebuah ilmu. "Ini karunia. Saya hanya percaya kepada Allah," katanya. Karena itu, ia yakin setiap orang bisa melakukan apa yang dilakukannya asal percaya pada karunia dan kekuatan itu. Dalam setiap doa ia menyelipkan agar karunia itu diberikan pula kepada istri dan dua anaknya. "Asal hati kita bersih, tak curiga bahwa ini ilmu hitam," katanya.

Dan doa itu manjur. Marta Barayap, istri Lukas, bisa meniru apa yang dilakukan suaminya. Perempuan 48 tahun itu pun bergiliran dengan Lukas memberi makan ikan di Teluk Doreri, juga dengan peluit dan rayap, setiap pagi. Belakangan, Musa dan Helena Barayap bisa melakukan hal serupa. Anak 10 dan 8 tahun itu bisa mengumpulkan ikan ke dekatnya.

Namun doa itu manjur hanya bagi keluarga Barayap. Sebab, tetangga dan pengunjung pantai banyak yang mencoba meniru tapi tak berhasil. Tempo pun mencoba meniup peluit itu berkali-kali, tapi ombak tak membesar, ikan tak satu pun yang muncul. Pengunjung biasanya juga menjajal peluit itu, seperti Jhonal Thio.

Pemuda 25 tahun yang tinggal di Manokwari ini pernah menguji keampuhan tuah peluit. Ia berdiri di pantai dan meniupnya seraya melemparkan rayap, persis apa yang dilakukan Lukas. Dan orang tua ini membiarkan kesombongan Jhonal seraya tersenyum. "Sampai jengking-jengking, trada datang ikan-ikan itu," katanya.

l l l

LUKAS Barayap segera terkenal ke luar Bakaro. Orang-orang mulai datang untuk melihat kemampuan Lukas memanggil ikan. Tak hanya dari sekitar Manokwari, tapi juga dari luar pulau, bahkan turis dari lain negara. Sebab, setelah 1995, jawaban orang Manokwari kepada orang asing yang bertanya tentang keunikan ibu kota provinsi yang baru dimekarkan itu adalah, "Lihat pemanggil ikan di pasir putih."

Seperti tertuang dalam dua buku tamu tebal yang tersimpan di rumah Lukas, para pengunjung takjub melihat kemampuan guru jemaat yang ramah dan rendah hati ini. Ratusan testimoni dimulai dengan kalimat, "Puji Tuhan, ini keajaiban...."

Keajaiban itu membawa berkah bagi Bakaro. Pantai yang rimbun dengan pohon kelapa dan bakau ini kembali bersih seperti semula. Lukas melarang siapa pun menangkap ikan di sana, terutama ketika ikan sedang ia kumpulkan untuk diberi makan. Nelayan pun kini menjala ikan hanya dengan kail. Tak ada lagi yang berani melaut dengan bom. Selain tak dapat ikan, mereka segan dengan kemampuan Lukas.

Anak-anak riuh adu tangkas berselancar. Di sini anak umur satu tahun telah dikenalkan pada teknik berenang dan menyelam. Maka, sepulang sekolah, anak-anak menghambur ke pantai dan menjajal ombak yang mendebur tak henti. Atau menyongsong ayah dan ibu mereka yang pulang melaut. Air laut begitu jernih hijau dan biru, menunjukkan pelbagai jenis ganggang dengan ikan berseliweran.

Pada 1996, Gubernur Papua Jacob Pattipi mengunjungi Lukas untuk menyaksikan langsung kemampuannya memanggil ikan. Kedatangan Gubernur diikuti dengan perbaikan infrastruktur. Jalan sambung dari Manokwari segera diaspal karena pejabat lain ikut penasaran. Dua tahun kemudian 112 keluarga di Bakaro untuk pertama kalinya menikmati listrik. Guru juga bisa didatangkan ke sekolah untuk mengajari anak-anak membaca dan menulis.

Pengunjung kian banyak dari waktu ke waktu karena akses ke sana jadi mudah. Hanya 20 menit naik mobil dari pusat Kota Manokwari ke selatan. Apalagi di teluk ini juga ada Pulau Mansinam, tempat Injil pertama dikabarkan di Papua, yang ramai diziarahi setiap 5 Februari. Pemerintah kabupaten dan provinsi membangun gazebo-gazebo untuk persinggahan turis. "Ini benar-benar berkah untuk kami di sini," kata Lukas, yang juga menjabat sekretaris desa.

Ia tak pernah menolak jika ada pengunjung memintanya memanggil ikan. Alumnus Sekolah Pendidikan Guru Jemaat di Manokwari ini juga selalu bersemangat mengulang cerita pengalaman spiritualnya pada 1995 itu. "Sekali lagi ini bukan ilmu, Anda juga bisa melakukannya," katanya. "Saya selalu berdoa agar setiap orang bisa melakukan ini, demi keselamatan dan lingkungan yang baik."

Lukas percaya, jika kita bisa berkomunikasi dengan binatang, kita akan menyayangi dan melindunginya. Manusia, kata dia, menjadi jahat kepada alam dan binatang karena tak mengerti apa yang sudah mereka berikan kepada kita. Ia tak meminta bayaran jika ada yang memintanya meniup peluit dan mengumpulkan ikan. Kalaupun ada turis yang memberinya uang, ia akan menyumbangkannya untuk kegiatan gereja.

Namun, karena sehari-hari bekerja di gereja dan kantor desa, tak setiap hari Lukas siap memanggil ikan. Tempo, yang datang pada Jumat, mesti mengontaknya lebih dulu. Melalui Silas Inuri, seorang intel di Kepolisian Resor Manokwari, Lukas diminta menyiapkan rayap. Sebab, memanggil ikan paling baik pagi-pagi. "Ombak sedang bagus," katanya. Bagja Hidayat

Read More......

Selasa, 26 Juli 2011

Wanita Tua Tinggal Satu Atap dengan Itik

TEMPO Interaktif, Pamekasan - Mistani, warga Desa Murtajin, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan, terpaksa harus tinggal satu atap dengan itik.Selama bertahun-tahun, wanita 90 tahun ini harus berbagai ruangan dengan sepuluh ekor itik miliknya. "Itik-itik ini tidur di bawah ranjang saya," kata Mistani, Rabu, 20 Juli 2011.

Semua bermula dari keinginan Mistani ingin hidup mandiri. Dia yang tinggal sebatang kara, sejak suaminya wafat dan anaknya pergi meninggalkannya, tidak ingin tergantung terus dengan tetangga-tetangganya.

Namun, tubuhnya yang renta tak memungkinkan dia bekerja. Ide pun datang, yaitu memelihara itik. Bagi Mistani, memelihara itik bisa menghasilkan uang tanpa memerlukan banyak tenaga. "Saya jual telur itik, lumayan uang buat kebutuhan sehari-hari," ujarnya.

Karena tak punya kandang, Mistani tak punya pilihan lain. Dia harus berbagai ruang dengan itiknya di sebuah gubuk reot berukuran 3x4 meter.

Di gubuk yang dibangun dari bantuan warga itu, Mistani menghabiskan waktunya bersama itik-itik kesayangannya. Ranjang, tempat baju, dapur, hingga kegiatan buang air menyatu dalam gubuk yang terbuat dari bambu tersebut.

Mistani tak hanya berbagi tempat dengan peliharaannya itu. Bila pakan itik habis, dia bahkan rela memberikan nasi jatahnya untuk itik-itik itu. "Kalau itik lapar, tidak bertelur, saya jadi tidak punya uang. Jadi yang penting itik kenyang, saya lapar tidak apa-apa," ujarnya.

Bila melihat kehidupan di sekitarnya, Mistani mengaku ingin punya rumah yang layak huni. Namun, kini ia tetap bersyukur dengan apa yang didapatnya. "Tapi hanya gubuk adanya, tidak apa-apa," katanya.

Mistani juga beruntung karena dia bertetangga dengan orang-orang yang baik dan peduli. Wati, 55 tahun, misalnya selalu mencucikan baju Mistani. "Saya membayangkan dirinya. Kalau sudah tua, anak-anak tidak peduli, saya takut. Makanya saya iba sama Bu Surya (Mistani)," ujarnya.

MUSTHOFA BISRI

Read More......

Minggu, 03 Juli 2011

Nasi Kobal, Sangu Nelayan Yang Dimakan Jendral

Sampang--- Unik dan murah meriah, itulah Nasi Kobal, makanan khas asal Desa Tambaan, Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang. Unik karena cara memasaknya tidak biasa, murah meriah karena untuk menikmati seporsi nasi kobal anda cukup menyediakan uang receh Rp 4 ribu.Agak susah untuk mencari warung yang menjual nasi kobal karena hanya dijual dipagi hari,
Tapi ada satu warung Nasi Kobal yang buka hingga sore. Letaknya tepat disamping Puskesmas Camplong. Pemiliknya bernama Makiyatun.

Sudah 12 tahun, Ibu Makiya berjualan nasi kobal. Menurut wanita berusia 60 tahun ini, nasi kobal adalah sangu wajib nelayan saat pergi melaut. Makanya harganya murah meriah, seukuran kantong nelayan. Tapi jangan salah, meski hanya sangu nelayan "Orang Koramil sini kalau ada pangdam datang, pasti memesan nasi kobal buatan saya sebagai hidangan," ujarnya bangga.

Menurut Makiyah, kesitimewaan nasi kobal ada pada sambal kelapanya yang mirip serondeng. Rasanya gurih dan aromanya menggugah selera. Cara memasak sambal kelapa ini sangat unik, tidak perlu memakai nyala api pada tungku atau kompor. Cukup pakai pecahan cobek yang dibuat dari tembikar dan telah dipanaskan hingga menjadi bara.

Kepada Tempo, Senin, 4 juli 2011. Makiyah mempraktekkan cara membuat sambal kepala kobal. Pertama sediakan kelapa yang sudah diparut, kemudian selanjutnya meracik bumbu. "Bumbunya cuma ketumbar, bawang merah, bawah putih, laos, kencur, daun jeruk dan cabai merah besar," terang wanita beranak tiga ini.

Setelah diulek, kelapa yang sudah diparut dimasukkan ke dalam cobek dan diaduk hingga seluruh bumbu merata sampai berwarna kemerahan. Setelah itu, kata Makiyah, panaskan pecahan cobek seukuran 10 centimeter persegi dalam tungku, setelah menjadi bara, diambil dan dimasukkan ke dalam cobek berisi kelapa yang sudah diparut tadi. kemudian kelapa diaduk ke bara tembikar, sampai merata berubah warna dan beraroma. "Kalau tembikarnya bukan cobek, genting misalnya, rasa berbeda, jadi harus pakai pecahan cobek," katanya lagi.

Seiring modernisasi, hidangan nasi kobal juga ikut perkembangan zaman. Selain ikan tongkol, bisa dengan ayam kuah, telur dan empal. "Tapi saya tetap bertahan pakai tongkol, ini yang asli dari dulu," tutur Makiyah.

Ahmat Jazuli, warga Kabupaten Bangkalan yang lumayan sering menikmati nasi kobal sepulang dari menyupir, berbagi tips cara menikmati nasi sangu nelayan saat melaut ini. "semua lauk nasi kobel harus diaduk menjadi satu, baru sangat nikmat," pungkasnya. MUSTHOFA BISRI

Read More......

Sabtu, 02 Juli 2011

Rujak Karaoke dalam Buah Mentimun

TEMPO Interaktif, Pamekasan - Mendengar namanya, bingung membayangkan rasanya. “Rujak karaoke”, begitu warga di Pamekasan, Jawa Timur, menyebut salah satu makanan khas kabupaten di Pulau Madura ini. Sebagai jajanan warisan leluhur, rujak karaoke termasuk makanan langka. Tidak banyak orang yang menjualnya. Satu-satunya yang masih melestarikan jajanan ini adalah Riskiyah, 43 tahun, warga Kelurahan Jungcang-cang, Kecamatan Kota Pamekasan. Mencari warung Riskiyah agak sulit. Untuk menuju ke sana harus melewati beberapa gang kecil dan berkelok.

Bagi Sandi, mesti susah menemukan warung Riskiyah, penikmat kuliner asal Kenjeran, Surabaya, ini mengaku tetap memburunya. Ia pun mendapatinya. “Yang penting bisa menyantap makanan langka," ujar pria 27 tahun, Minggu 3 Juli 2011.

Sandi yang bekerja di perusahaan pembiayaan itu sebenarnya sudah lama mendengar nama rujak karaoke. Pada liburan sekolah saat ini, ia manfaatkan mengajak istri dan anaknya bertandang ke Pamekasan. “Bener-bener kayak orang sedang karaoke,” ucap Sandi sambil tertawa.

Keunikan rujak ini terletak pada cara penyajiannya. Jika rujak pada umumnya dihidangkan dalam piring, untuk rujak karaoke disajikan dalam buah mentimun. Proses pembuatannya juga unik. Setelah semua bumbu diulek, diambillah satu buah mentimun besar. Bagian ujungnya dipotong, lalu isinya dikeluarkan. Seluruh isi mentimun kemudian dicampur dengan bumbu yang telah diaduk tadi.

Dari buah mentimun yang tersisa kulitnya, di situlah bumbu rujak dimasukkan. Rujak karaoke ala Riskiyah langsung bisa dinikmati. Dinamakan rujak karaoke karena cara makannya seperti orang sedang memegang mikrofon. “Kesulitannya satu, mengeluarkan isi metimun dan menjaga agar kulitnya tidak bocor,” ucapnya.

Rujak karaoke murah meriah. Satu porsi Rp 2.000. Ketika menyantap, di warung Riskiyah tersedia handset untuk menikmati musik dengan pilihan mulai pop sampai kidungan. Menurut Riskiyah, istilah karaoke baru belakangan diberikan. Nama asli rujak ini adalah rujak curek.

Karena cara makannya yang mirip orang sedang karaoke, untuk memudahkan mengingatnya pembeli menyebut rujak karaoke. “Saya sudah 30 tahun jualan rujak. Ini warisan ibu,” tuturnya.

Menurut wanita beranak tiga ini, cara membuat rujak karaoke amat sangat mudah, bahkan bahannya nyaris sama dengan rujak lainnya seperti rujak cingur. Sebut saja kacang goreng, penyedap rasa, petis, gula, dan cabai. “Lalu diulek sampai halus,” kata Riskiyah membuka resep. Mau?

MUSTHOFA BISRI

Read More......

Sabtu, 25 Juni 2011

"Saya Ingin Ibu Dibebaskan..."

Sudah tak kenal ayah sedari lahir, Ali Ridho pun terancam kehilangan ibu, yang tak dilihatnya selama 12 tahun. Remaja 16 tahun itu gelisah menahan kerinduan yang tersumbat. "Saya ingin ibu saya dibebaskan, supaya bisa kumpul lagi sama keluarga," kata Ali di rumahnya di Desa Mertajesah, Kecamatan Kota, Kabupaten Bangkalan, Madura, kemarin. Harapan Ali mungkin terlalu melambung. Soalnya Siti Zaenab, sang ibu, justru menghadapi hukuman mati di Arab Saudi lantaran membunuh majikannya. Mestinya Zaenab dipancung pada 1999. Eksekusinya tertunda karena anak majikannya belum akil balig, jadi belum bisa dimintakan pengampunan.
"Kalau anaknya tidak memberi maaf, bisa habislah dia," kata Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi, Gatot Abdullah Mansur, di Dewan Perwakilan Rakyat pada Kamis lalu.
Ali dan keluarganya tak ingin Zaenab senasib dengan Ruyati, tenaga kerja yang dieksekusi pada Sabtu pekan lalu. "Kami berharap pemerintah segera memberikan bantuan hukum," kata Mohammad Hasan, sepupu Zaenab.
Kegelisahan juga menyeruak di antara anggota keluarga Hasyim dan Sabatun, dua terpidana kasus pencurian emas di Arab Saudi. Kedua orang asal Madura itu sedang menanti eksekusi potong tangan.
Demi pembebasan dari hukuman itu, keluarga siap menggalang dana tebusan sebesar Rp 250 juta. Tapi mereka meminta pemerintah bergerak cepat menghubungi mahkamah karena diduga Hasyim dan Sabatun akan segera dieksekusi. "Mereka sudah memindahkannya ke penjara gelap," kata Ajum, adik ipar Hasyim, gelisah.
Setelah kasus Ruyati, kegelisahan keluarga tenaga kerja Indonesia memang memuncak. Bukan hanya keluarga mereka yang menanti hukuman, tapi juga keluarga tenaga kerja yang nasibnya terkatung-katung di negeri orang.
Salah satunya adalah Bejo, lelaki 32 tahun asal Madiun, Jawa Timur. Sudah tiga setengah tahun dia berjuang memulangkan istrinya, Susianti, 26 tahun, dari Arab Saudi.
Empat ekor sapi sudah dilego dan jutaan rupiah dikeluarkan untuk membiayai perjalanan bolak-balik Jakarta-Madiun untuk menemui perusahaan pengerah tenaga kerja serta Badan Nasional Perlindungan dan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia. Hasilnya nihil.
Bejo khawatir istrinya gelap mata dan terlibat kasus seperti Ruyati, lantaran gajinya belum pernah dibayarkan sejak berangkat ke Arab Saudi pada Desember 2007. "Yang penting cepat pulang dan saya sarankan tidak usah kembali jadi TKI di Arab," katanya, gelisah. MUSTHOFA BISRI | FRANSISCO ROSARIANS | ALWAN RIDHA RAMDANI | ISHOMUDDIN | DEDDY S

Read More......

Selasa, 24 Mei 2011

Jamu Untuk Ayam Bangkok Laga

sama seperti manusia, ayam bangkok juga butuh jamu agar stamina konstan saat bertarung. Tidak mudah lelah dan pukulan tetap stabil.

secara fisik, ada ciri ayam bangkok yang memiliki pernafasan bagus. Yaitu ayam bangkok yang jarak tulang dadanya dengan supit hanya satu atau dua jari. Saat bertarung ayam dengan ciri ini umumnya tidak mudah lelah. Jika jaraknya sampai tiga jari, ayam kebanyakan mudah ngellak. Ciri kedua, bentuk rabun dibawah burit ayam agak datar tidak kendur seperti betina mau bertelur. Untuk jamu tahan nafas, cukup diberi satu butir kuning telur ayam kampung atau bebek dicampur bubuk kopi secukupnya. Lalu disepet ke mulut ayam.

Jamu kuning telur plus kopi ini sering juga digunakan para pengadu burung dara. Fungsinya sama agar burung dara punya nafas yang baik. Jamu ini cukup diberikan seminggu atau dua minggu sekali. Untuk melihat hasilnya, ayam dijemur di panas yang terik, apakah cepat ngellak lelah atau tidak.

Kedua jamu agar stamina ayam bangkok baik. Yaitu kuning telur dicampur kunyit dan kuncih secukupnya.

Ketiga jamu agar kandungan lendir dalam leher ayam bangkok berkurang yaitu rebuskan daun sirih 10 lembar atau lebih. Kemudian dijadikan minuman ayam bangkok minimal dua kali sehari. Minuman air rebusan daun sirih ini sering digunakan pecinta ayam begisar supaya suara tetap lantang dan lendir berkurang.

Keempat jamu ayam cacingan. Yaitu biji buah pinang muda ditumbuk halus dan dicampur gula merah seujung kuku, tidak boleh kebanyakan. Jika memang cacingan, biasanya beberapa menit setelah diberi ayam langsung beol dan yang keluar seperti mie instan rebus dari pantatnya. Kalau sudah keluar langsung dimusnahkan karena bila dibiarkan biasanya ayam akan mematuknya kembali. Ciri ayam cacingan biasanya dari matanya selalu muncul busa atau buih. Jamu ini cukup sekali saja.

Kelima nafsu makan ayam. Di Madura biasanya dikasih seruas temu ireng yang diparut lalu disuapkan ke mulut ayam. Jamu ini cukup tiga hari sekali atau sepekan sekali. Jika terlalu sering, malah membuat ayam down atau kurus dan lemas.

Keenam obat ayam bangkok yang matanya kena jalu yaitu bersihkan lebih dahulu mata yang luka, lalu ditetesin getah daun ubi rambat yang masih muda. Biasanya tiga hari sudah sembuh.

Info jamu ini hasil tanya kanan-kiri lebih dari 20 orang penyabung ayam di Bangkalan Madura. semoga bermamfaat. Salam........

Read More......

Ternak Ayam Bangkok

Lima bulan belakangan, orang-orang di kampung saya, di Desa Jeddih, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan, "gila" ayam bangkok atau ayam laga. Hampir semua orang memelihara ayam tarung yang konon berasal dari negeri gajah putih Thailand. Hampir tiap hari juga ada orang ngabar ayam. Apa yang membuat orang begitu gemar ayam bangkok? Tergelitik oleh rasa ingin tahu, saya akhirnya minta bantuan teman membeli ayam bangkok. Saya dibawa ke sebuah peternakan. Alamak harganya mahal sekali, perekor berkisar antara Rp 500 sampai 1,5 juta. Saya batalkan membeli, harganya bagi saya terlalu mahal untuk penggemar baru ayam bangkok.
Beberapa hari kemudian, saya mengantar istri saya ke pasar. Saat menunggu istri diparkiran, ada seorang tua menawarkan ayamnya kepada saya. Dia minta tiga ekor ayam seharga 250 ribu. Saya menggeleng. pak tua itu pergi dan menawarkan ke yang lain. Mungkin karena tidak laku, dia kembali ke saya, melihat keringat bercucuran saya jadi iba. Saya tawar tiga ekor 150 ribu, dia pun mengangguk.

Sebelum pergi pak tua itu bilang ke saya, ayam ini ayam bangkok. Hasil silangan antara jantan bangkok dan betina pilipin. Katanya ayamnya bagus, hanya kurang dirawat, dari menetas sampai umur tujuh bulan diumbar begitu saja dan cari makan sendiri. Hanya karena dia bukan peternak, ayamnya sulit laku dan dianggap jelek karena bukan diternak dengan perawatan khusus.

Sampai di rumah, beberapa kawan datang melihat ayam yang saya beli. Hampir semua menilai ayam saya jelek, postur kecil, jengger lepek dan tidak gambar. Saya tak peduli, saya tetap pelihara. Karena tak punya kandang, ayam saya tidur di pohon rambutan.

Suatu hari ada kawan hendak ngabar ayam, saya kecewa, abaran pertama ayam saya lari setelah beberapa saat bertarung. Anehnya, meski lari, saya ayam lawan ditangkap, ayam saya kembali mengejar dan ingin bertarung lagi. Sepekan kemudian ada tukang sabung senior baru beli ayam, dia ingin tahu daya tarung ayamnya dan dibawah ke rumah untuk abar dengan ayam saya. Kejadian serupa terulang, ayam saya lari lagi tanpa bunyi keok. Setelah ayam lawan diangkat, dia kembali lagi seolah mau bertarung.

Menurut penyabung senior ini, gaya tarung lari ayam saya istimewa. Sepanjang dia menekuni sabung sayam, gaya tarung lari sangat jarang ditemui.Pukulannya bersih. Dia pesan, kalau hendak dijual dia berminat membeli ayam saya. Ternyata tiga ekor ayam saya, semuanya gaya tarungnya lari lalu memukul dan lari lagi.

Ucapan penyabung senior ini menyemangati saya. Saya lantas bikin kandang, saya mulai merawat ayam saya, memberi makan yang baik, memandikan dan menjemurnya. Sebulan dirawat dengan baik, membuahkan hasil. saya abar ayam saya dengan punya teman, tak sampai 10 menit ayam teman saya roboh dipukul dari belakang. Harga ayam saya naik fantastis karena ayam dikalahkan itu sudah menang delapan kali. Ayam saya ini saya lepas Rp 500 ribu.

Keuntungan ini membuat saya terpacu untuk belajar ilmu merawat ayam bangkok, saya datangi puluhan peternakan di empat kabupaten di pulau madura. Saya belajar ilmu beternak ayam bangkok, target saya bukan menang diarena tapi saya ingin menciptakan ayam-ayam jawara. Sebagai indukan, saya beli ayam indukan milik pak tua yang pertama kali menawarkan ayamnya pada saya.

Ini beberapa ilmu merawat ayam bangkok yang saya dapat, semoga bisa bermamfaat.

1. Ketika anak ayam menetas jangan langsung dipisah dari induknya. Biarkan anak ayam beraktifitas di tempat pengeraman, tujuannya agar kaki ayam tetap bagus, lurus dan mekar dan tidak bengkok saat dewasa.

2. Untuk pakan anak ayam, bisa langsung diberi pakan pabrikan vur 511 dan air yang cukup. Cukup dua kali sehari, pagi sekitar jam 6 dan sore hari jam 4. Vur 511 ini diberikan harus menggunakan takaran, tidak boleh terlalu banyak, jangan terlalu sedikit.

Vur 511 ini diberikan secara rutin sampai usia ayam tiga bulan. Baru beralih ke vur 591 dan dicampur beras jagung, ini diberikan selama satu setengah bulan. Setelah itu, beralih langsung ke vur 593 dan diberikan selama satu setengah bulan. Saat proses pemberian pakan vur berakhir, usia ayam sudah enam bulan. Setelah itu, bisa diberi pakan biasa, seperti bu'u atau dedak halus yang dicampur dengan nasi basi, bisa juga langsung diberi jagung.

Saat usia ayam enam bulan, ayam usahakan selalu diumbar. Sebab ayam yang baru lepas pakan vur, daging tubuhnya belum pangset atau belum kenyal. Umbaran akan melatih otot ayam. Menurut saya, anak ayam tidak perlu diberi susu bubuk karena kandungan vitamin pada pakan vur sudah komplit. Pabrikan juga lebih tahu apa yang dibutuhkan ayam.

3. saya juga mencoba komposisi lain cara memberi pakan vur pada anak ayam supaya ayam bisa memiliki postir ideal dan berhasil. Caranya yaitu anak ayam yang baru netas diberi vur511 sampai berusia lima bulan. Setelah itu diberi vur593 selama sebulan lalu bulan berikutnya diberi vur594. Dengan cara ini, ayam wiring kuning saya memiliki postur ukuran 9.

4. Untuk mulai merawat ayam bangkok agar bisa diabar. Lihat kokok ayamnya. Jika kokoknya sudah sempurna dan bulunya sudah sempurna tidak ada bulu muda, ayam bisa mulai dirawat. Seperti dimandikan, dijemur, dilatih dan diberi jamu atau vitamin.

Saya masih pemula, semoga sharing ini mamfaat.... Salam

Read More......

Selasa, 15 Maret 2011

Petung Sewu

Sabtu, 12 Maret lalu, saya ke Petung Sewu. Letaknya di lereng gunung kawi, Kecamatan Dau, Sekitar setengah jam dari terminal Arjosari, Malang. Guna menghadiri undangan pelatihan wartawan lingkungan yang digelar SIEJ dan ProFauna Indonesia.
Saya naik sepeda motor dari Bangkalan, Madura. Sampai di terminal Bungurasih, menitipkan sepeda di tempat penitipan sepeda 24 jam. Biayanya Rp 200 perjam. Lalu melanjutkan perjalan dengan bis patas menuju terminal Arjosari Malang, sekitar dua jam perjalanan.

Naik bis patas (AC) lebih baik dibanding naik bis biasa (tanpa AC). Selain harganya murah, bungurasi-arjosari cuma Rp 15 ribu, bus patas tidak pakai ngetem. Berbeda dengan bis biasa yang sering ngetem menunggu penumpang. Membuat perjalanan lebih lama.

Sampai di Terminal Arjosari, saya naik ojek menuju Terminal Landungsari, disana ada sopir yang menjemput. Disini harus tawar menawar ongkos ojek, biasanya pengojek minta Rp 25 ribu, saya tawar Rp 15 ribu. Sebenarnya ada angkutan kota ke Landungsari, namun karena baru berangkat setelah penumpang penuh, sementara saya terburu-buru, saya pilih naik ojek.

Jarak landungsari ke petung sewu 30 menit, melewati jalan sempit padat perumahan. Jalan berkelok. Tapi pemandangan indah sekali, sawah terhampar mengikuti lekuk bebukitan, petani panen kubis, masyarakatnya ramah.

Di puncak bukit, di petung sewu, ada pintu gerbang bertulis Petungsewu Wildlife Education Centre (P-Wec). Ini adalah "anak perusahaan" organisasi ProFauna Indonesia yang berpusat di Malang. P-wec adalah kawasan konservasi binatang liar yang hampir punah. Disini hewan langka seperti Lutung Jawa sitaan dari pemburu, dirawat dan kembang biakkan sebelum dilepas ke habibat aslinya.

Asep Rahmat dari ProFauna mengatakan P-Wec berbeda dengan kebun binatang. Dalam istilah ilmiah, lokasi konservasi binatang liar disebut In Situ, sedang kebun binatang disebut ex situ.

Lokasi P-Wec sangat unik, bangunan dibentuk mengikuti bentuk bebukitan. Isinya, ada kandang lutung jawa, asrama, kantin, tempat kemah dan outbond. Pelatihan ini diikuti 18 wartawan mulai dari cetak, online, TV dan radio. Mulai Dari Madura sampai Jember. Kami diberi materi tentang satwa liar oleh Asep Rahmat dari ProFauna dan bagaimana menulis masalah lingkungan oleh IGG Maha Adi, mantan Wartawan Tempo dan Editor di Majalah National Geographic.

Ada catatan penting dari pelatihan ini. IGG Maha Adi bilang, media di indonesia masih belum pro lingkungan. Indikasinya jarang sekali, ada halaman khusus soal berita lingkungan, singkatnya isu lingkungan bukan berita menarik.

Sejumlah wartawan juga mengeluh, tulisan mereka soal lingkungan sulit dimuat. Solusinya, IGG Maha Adi berjanji akan membolehkan anggota SIEJ untuk menulis di situs SIEJ.

Hari minggu, hari terakhir pelatihan, diisi dengan melihat langsung lutung jawa. Saya beruntung karena enam hari lalu, seekor bayi lutung jawa lahir, diberi mendi. Warganya orange, setelah enam bulan akan berubah hitam sepeti induknya.

Setelah puas melihat lutung, kami ngopi dikantin lalu outbond. Dan foto-foto berbagai pose di berbagai lokasi sebagai kenang-kenangan. Satu yang kurang saya suka dari Petung Sewu. Udaranya dingin sekali. Air kamar mandi seperti es. MUSTHOFA BISRI

Read More......

Senin, 14 Maret 2011

Bocah Dua Tahun Ini Ketagihan Rokok, Sabun, dan Bedak

TEMPO Interaktif, Pamekasan - Usia Morgan baru dua tahun. Meski tergolong balita, warga Desa Rampenang, Proppo, Pamekasan, Jawa Timur ini punya kebiasan aneh, memakan segala. Anak ketiga dari Subaidah, 35 tahun dan Abdul Latif ini, gemar merokok sejak berusia satu tahun. ”Awalnya menghisap puntung rokok yang dibuang ayahnya,” kata Subaidah, ibu Morgan Senin (14/3). “Lama-lama ketagihan. Sekarang setiap ayahnya pulang (me)narik becak, dia merengek minta rokok, kalau tidak diberi nangis dan gigit tangan ayahnya."

Tak hanya merokok kebiasaan Morgan. Ia suka makan dan minum. Jangan berfikir nasi atau susu, seperti umumnya anak berusia dua tahun. Morgan suka makan sabun dan bedak, dan terkadang minum minyak kayu putih.Kebiasaan ‘makan-minum’ ini dilakukannya saat selesai mandi.

Kalau sedang merokok, Morgan tak mau sembarang rokok. Ia memilih rokok filter. Selama ada filternya, Morgan tak mau menolak, meski harganya seribu atau belasan ribu per bungkus. "Rokok kretek tidak mau," Subaidah menambahkan.

Kini Subaidah dan Abdul Latif berharap anaknya menghentikan kebiasaan buruk itu. Sudah berbagai cara dilakukan namun masih gagal. "Saya khawatir dengan kebiasaan buruknya, meski sejauh ini dia belum pernah sakit," Latif menuturkan.

MUSTHOFA BISRI

Read More......

Selasa, 08 Maret 2011

Orang Ini Punya Kesukaan Makan Batu

TEMPO Interaktif, Pamekasan-- Berita orang makan sabun sudah pernah kita dengar. Bocah minum bensin juga sudah pernah terjadi. Tapi, kalau ada orang camilan sehari-harinya batu, itu baru aneh. Orang yang punya kebiasaan makan batu itu adalah Syafii, 39 tahun, warga Desa Toronan, Kecamatan Kota Pamekasan, Jawa Timur.
Sudah 10 tahun ini Syafii punya hobi aneh makan batu yang biasa digunakan untuk pondasi rumah itu. Ketika ditemui wartawan dirumahnya, Syafii tampak asyik menyantap batu gunung sambil sesekali menghirup dalam rokok kretek kesukaannya. "Batu yang saya makan bercitarasa biskuit," ujarnya sambil tersenyum.

Kebiasaan ngemil batu ini, kata Syafii, bermula dari wangsit. Suatu hari, saat pikirannya kacau karena divonis menderita penyakit komplikasi, tiba-tiba muncul petunjuk agar dia memakan batu untuk menyembuhkan penyakit. Ditengah kekalutannya, karena pengobatan media dan alternatif tak mampu menyembuhkan, dia pun menuruti wangsit itu. Pertama kali batu yang diambil adalah batu gunung di sungai yang terletak dibelakang rumahnya.

"Alhamdulilah penyakit saya sembuh, agar tak kambuh lagi saya makan saja sampai sekarang," tuturnya.

Sebelum disantap, batu sungai atau gunung terlebih dahulu dicacah dengan palu hingga sekecil batu koral. Kemudian, batu-batu itu dibakar hingga kering dan terasa keras. "Ditaruh diwadah dan lalu bisa dimakan," katanya.

Kini, selain menyantap nasi, batu juga menjadi menu wajib pencuci mulut tiga kali sehari bagi Syafii. Bahkan diwaktu senggang, hidangan batu gunung sangrai jadi camilan wajib mengisi waktu luangnya.

MUSTHOFA BISRI

Read More......

Perempuan Buta Ini Kangen Melihat Cucu

Jum'at, 04 Maret 2011

TEMPO Interaktif, Bangkalan - Orang buta tak selalu identik dengan tongkat. Salihah, 45 tahun, menjalani hidup layaknya orang yang tak buta. Warga Desa Jaddih Timur, Socah, Bangkalan, Madura, ini, beraktivitas sebagai istri, ibu rumah tangga, sekaligus petani, layaknya orang normal. "Dia masak, mencuci, menyapu halaman, menimba air ke kakus hingga ke sawah sendirian, tanpa tongkat atau orang lain," kata Slamet, 50 tahun, suami Salihah, Jumat (4/3).
Berita terkait
Salihah terlihat mengupas kacang tanah, menampi beras lalu memasaknya, membuat pepes ikan dan menimba air sumur. Tanpa ada kesalahan melakukan rutinitasnya. "Karena buta, saya gunakan seluruh indra saya untuk mengenali benda," kata Salihah.

Ia menggunakan telinga agar tak menabrak pohon atau tembok. Untuk meracik bumbu masakan, digunakan indra peraba dan penciuman. "Bibi Salihah ahlinya meracik bumbu, kalau mau buat hidangan lebaran, saya sering kesini minta diajari," kata Syarifah, tetangganya.

Salihah tak hanya melulu di rumahnya. Ia ikut membantu suaminya bercocok tanam ke sawah dan membantu memasak bila ada kenalan atau tentangga menggelar hajatan. "Bibi Salihah melihat dengan mata hati, saya punya saudara buta, tapi tidak bisa melakukan pekerjaan seperti bibi," kata SYarifah.

Salihah memapu melakukannya dengan alasan keikhlasan dan keinginan kuat agar melayani suami dan anak meski buta. "Anak kami tiga, laki-laki semua, kalau saya tidak masak mereka tidak makan, kalau bukan saya yang mencuci baju, siapa lagi? Saya tidak mau dibelaskasihani orang, saya masih punya tangan, telinga dan hidung yang bisa difungsikan," mata Salihah berkaca-kaca.

Cacat mata Salihah bukan bawaan lahir. Semua bermula dari sebelas tahun lalu. Saat pulang belanja di pasar Socah, Bangkalan, mata kanannya mendadak rabun. Mata itu kemudian tak melihat total.
Setelah tiga tahun, giliran mata kirinya yang mengalami kebutaan. Penyebabnya selaput putih pada kornea matanya makin besar.

Suami Salihah, Slamet mengaku sudah berupaya melakukan pengobatan untuk penyembuhannya. Puluhan dukun memberikan ramuan. Dokter spesialis mata Rumah Sakit Undaan Surabaya tak bisa menyebuhkan.

Kemampuan Salihan terbilang luar biasa. Namun Salihah tetap berharap bisa sembuh. "Saya pingin melihat wajah cucu-cucu saya," kata dia.

MUSTHOFA BISRI

Read More......

Minggu, 23 Januari 2011

Berlebih Bobot, Ditolak Naik Angkot

TEMPO Interaktif, Pamekasan -Namanya indah sekali, Zahrafatun Natija. Keluarga, tetangga dan teman-temannya biasa memanggilnya Atun. Sekilas, bentuk fisiknya sama dengan tokoh Atun (Suti Karno) dalam sinetron legendaris "Si Doel Anak Sekolah" yang bobot tubuhnya di atas rata-rata remaja. Bedanya usia Atun yang tinggal di Dusun Manceng, Desa Larangan Luar, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan ini, baru 12 tahun, tapi bobot tubuhnya sudah mencapai 1,5 kuintal.Saat ditemui wartawan, Rabu kemarin, Atun yang mengenakan jilbab dengan setelan gamis batik warna coklat putih, sedang membaca buku dengan posisi tubuh merunduk. "kalau duduk biasa, saya sering sesak nafas," katanya.

Sudah setahun ini, ia menghabiskan hari-harinya di rumah bersama sang ibunda Nursani, 50 tahun. Bobot tubuhnya yang tak biasa, membuat Atun tidak melanjutkan sekolah ke jenjang sekolah menengah pertama. Menurut Nursani, sebenarnya putri kesayangannya itu punya semangat sekolah, lulus SD Atun berniat masuk SMP. Namun karena sering ditolak naik angkutan umum karena bobotnya itu, Atun minder dan tak mau sekolah. "Dia sering diperlakukan diskriminatif," ujarnya.

Menurut Nursani, saat lahir berat tubuh Atun normal 3 kilogram. Saat usianya 21 hari, dokter memvonis anak ketiganya itu menderita penyakir usus buntu sehingga harus dioperasi. Namun karena masih terlalu kecil, orang Atun memutuskan tidak mengoperasi dan hanya melakukan pengobatan luar tradisional. Sejak itulah, bobot Atun terus bertambah tidak normal, setiap bulan beratnya nambah 2 kilogram, di usia 18 bulan bobot Atun sudah mencapai 25 kilogram.

Berapa sebenarnya berat Atun kini? Munhari, kaka Atun, menuturkan, dua tahun lalu Atun pernah ditimbang menggunakan timbangan tembakau, saat itu beratnya 110 kilogram. "mungkin kalau sekarang sudah 1,5 kwintal," terangnya. Soal porsi makan Atun jangan ditanya, lima kali lipat jatah makan orang biasa. Sekali makan bisa tiga hingga lima piring.

Meski menderita obesitas, Atun tetap ingin menamatkan pendidikan hingga SMA. Untuk mengejar cita-citanya itu, Atun kini rutin mengikuti program kejar paket B yang berjarak sekitar 300 meter dari rumahnya. Atun memilih berjalan kaki dan tidak mau dibonceng sepeda motor. "Saya pernah antar ban sepeda saya meletus, punya bapak juga pecah bannya, pernah ikut tetangga, foot stepnya sepedanya malah yang patah, jadi dia tidak mau naik motor," tutur Muhari.

Atun sendiri ingin kurus, supaya bisa hidup normal dan tidak menjadi pusat perhatian saat ingin jalan-jalan. "jangan foto terus mas, saya malu," kata Atun saat kilatan blitz kamera mengenainya.

MUSTHOFA BISRI

Read More......

Selasa, 18 Januari 2011

Menghadang Tayangan Tuan Tan

AGUS Setiawan mengaku dari Komando Daerah Militer Brawijaya, Surabaya, datang ke kantor televisi Madura Channel di Sumenep, Senin pekan lalu. Di kantor stasiun milik politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Said Abdullah, tersebut anggota tentara itu bertemu dengan Manajer Program Madura Channel Hidayat Rahman, meminta �kerja sama" tidak menayangkan Opera Tan Malaka. �Saya bilang kepada Agus, saya tak punya wewenang, soal tayang atau tidak, harus diputuskan di meja redaksi," kata Hidayat kepada Musthofa Bishri dari Tempo. Di Batu, Jawa Timur, anggota TNI bernama Sukis dari Komando Distrik Militer 0818/wilayah Batu, Malang, dan Winarto yang mengaku dari Komando Resor Militer 083/Baladhika Jaya, Malang, juga datang ke kantor Batu TV dengan �imbauan" sama. Namun Komandan Kodim 0818/Kabupaten Malang Letnan Kolonel Infanteri Heri Pribadi membantah jika dikatakan anak buahnya mendatangi kantor Batu TV. �Tidak ada anggota kami yang mendatangi kantor Batu TV untuk mengimbau, menyensor, atau melarang," katanya. �Apalagi kalau itu demi kepentingan sejarah berdirinya republik kita. Sudah ada Undang-Undang Pers dan Undang-Undang Penyiaran. Kalau kami melarang, nanti justru kami yang dinilai melanggar undang-undang," kata Heri.

Di Kediri, orang-orang yang mengaku intelijen dari Kodim dan Korem juga mendatangi stasiun televisi Kilisuci Televisi (KSTV). Mereka meminta stasiun televisi itu tidak menayangkan Opera Tan Malaka. �Saya hanya mengimbau agar itu tidak ditayangkan, demi keamanan bersama," kata Komandan Kodim 0809 Letnan Kolonel (Art) Bambang Sudarmanto kepada para jurnalis.

Bambang beralasan kondisi keamanan Kota Kediri, tempat Tan Malaka diduga ditembak mati pada 1949, sedang kondusif. �Itu yang menjadi pertimbangan utama saya dalam mengambil keputusan," ujarnya, Selasa pekan lalu. Namun Bambang menolak menjelaskan alasannya lebih detail. Dia hanya tidak ingin pemutaran Opera Tan Malaka memicu gangguan keamanan di Kota Kediri. �Intinya, keputusan ini saya ambil demi menjaga situasi kondusif jangan sampai hilang."

Perwira TNI berpangkat melati dua di pundak itu mengaku belum melihat tayangan tersebut. �Tapi, dengan tidak melihat tayangannya, kita sudah bisa meraba. Kalau masih ingat pelajaran sejarah, siapa Tan Malaka. Bagaimana aliran politiknya? Semua sudah jelas," kata Bambang.

Direktur Operasional Kilisuci Televisi Mufti Ali berpendapat tidak ada yang berbahaya dari isi Opera Tan Malaka. �Tinggal nanti tergantung apresiasi penonton," ujarnya. Tapi, karena permintaan itu,penayangannya yang seharusnya pada 9 dan 16 Januari batal.

Karena ada imbauan Komandan Kodim, plus dukungan kelompok kecil masyarakat yang menamakan diri Center for Indonesia Community Studies Jawa Timur dan Laskar Ampera Arif Rahman Hakim Angkatan 66 Jawa Timur, pihak KSTV urung menayangkannya. �Dengan berbagai pertimbangan, masukan dari masyarakat dan aparat, sementara kami batalkan dulu," ujar Mufti.

Polisi juga mendatangi kantor Batu TV. Menurut Kepala Kepolisian Resor Batu Gatot Sugeng, pihaknya hanya ingin memeriksa siaran Opera Tan Malaka yang rencananya akan ditayangkan Batu TV. Pemeriksaan itu dilakukan karena polisi mendapat informasi yang menyebutkan tayangan Opera Tan Malaka bisa mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat. �Justru kami ingin tahu kontennya seperti apa. Sebagai penanggung jawab keamanan, kami ingin mengerti isinya," ujarnya.

Menurut Gatot, keputusan batal menayangkan Opera Tan Malaka diambil manajemen Batu TV. �Kami baru datang, tapi Batu TV bilang tidak jadi menyiarkan. Kami berhenti. Kalau memang nanti mau disiarkan, akan kami cek lagi," katanya.

Hadangan memang kadang bukan dari luar institusi saja, tapi juga dari stasiun televisi itu sendiri. Duta TV Banjarmasin, Kalimantan Selatan, tak jadi menayangkan Opera Tan Malaka dengan alasan teknis. �Materinya panjang. Tidak ada yang menekan kami," kata Direktur Duta TV Banjarmasin Saefudin kepada Khaidir Rahman dari Tempo.

Padahal Duta TV termasuk 10 dari 45 televisi lokal dalam jaringan Tempo TV yang menerima tawaran menayangkan Opera Tan Malaka. �Kami tidak memaksa. Kami tawarkan, mereka terima, ini program gratis," kata Direktur Utama Tempo TV Santoso.

Saefudin mengaku belum menyaksikan atau mengetahui isi Opera Tan Malaka. Namun ia telah meminta kru Duta TV menyaksikannya. "Jika isinya sesuai dengan visi dan misi Duta TV, kami akan menayangkan. Kami masih mengkaji," ujarnya.

Sebenarnya yang berencana menayangkan Opera Tan Malaka di televisi pertama kali adalah Metro TV. Televisi berita berskala nasional itu memang bekerja sama dengan Salihara dan sebuah perusahaan rokok. Sebagai rangkaian Festival Salihara pada pertengahan Oktober tahun lalu, pertunjukan Opera Tan Malaka menjadi puncak acara. "Metro TV yang merekam sendiri acara itu," ujar Manajer Komunikasi Pemasaran Salihara Rama Thaharani.

Rencana tayang sudah diiklankan di Metro TV, tapi batal nongol pada hari yang dijanjikan. "Katanya ada masalah editing," ujar Rama. Ketika itu Metro TV tak menjelaskan alasannya. Namun, Rabu pekan lalu, pemilik Metro TV, Surya Paloh, kepada Tempo lewat telepon seluler mengaku sudah bertanya kepada redaksi tentang batal tayangnya Opera Tan Malaka. Keputusan redaksi, menurut Surya, karena tayangan itu akan menimbulkan pro-kontra di masyarakat. "Daripada menghabiskan energi untuk hal-hal begitu mending tak usah ditayangkan. Kita gunakan energi untuk yang lebih berguna bagi kemajuan bangsa ini," ujarnya.

Tak semua stasiun televisi tak menayangkan Opera Tan Malaka. Salah satunya Taz TV, Tasikmalaya, Jawa Barat. "Kalau enggak suka, matikan saja televisinya," ujar Direktur Utama Taz TV Sigit Wahyu Nandhika.

Seorang warga Tasikmalaya, Tahyudin Ali Mursyid, yang menonton pertunjukan di Taz TV yang radius siarnya menjangkau sampai Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, menyatakan salut terhadap televisi lokal yang menampilkan acara tentang sosok pahlawan yang dibenci Belanda dan Partai Komunis Indonesia pada masanya itu. "Seharusnya kita bisa lebih menghormati hasil karya orang lain," ujar Tahyudin.

Tayangan dalam Opera Tan Malaka yang berdurasi hampir dua jam dibuka dengan pengibaran bendera merah dengan sekilas tampak gambar palu-arit berwarna kuning dalam kegelapan. Suara-suara nyanyian seriosa terdengar silih berganti.

Alasan kandungan komunisme dalam tayangan opera tersebut memang tidak pernah dimunculkan secara eksplisit oleh pihak-pihak yang �mengimbau" tidak menyiarkan. Namun, menurut Koordinator Isi Siaran Komisi Penyiaran Indonesia Ezki Suyanto, soal ideologi tidak termasuk dalam larangan pada pedoman perilaku penyiaran peraturan KPI. "Seks atau cabul, kekerasan, dan mistik justru yang harus diperhatikan sebelum menayangkan sesuatu," ujarnya.

Lagi pula, menurut Ezki, tayangan mendapat peringatan jika sudah muncul di televisi dan mendapat protes dari masyarakat. "Pihak televisi jangan takut menayangkan sesuatu, asal sudah sesuai dengan pedoman yang kami keluarkan," ujarnya. Keberanian harus datang dari pihak media itu sendiri untuk melawan sensor dan pembredelan.

Ahmad Taufik, Abdi Purmono (Malang), Hari Tri Wasono (Kediri), Jayadi Supriyadin (Tasikmalaya)

Read More......

Menyulap Salak Menjadi Kurma

TEMPO Interaktif, Bangkalan - Semua berawal dari keprihatinan Sania. Saat masih remaja, ketika musim panen raya buah salak di desanya tiba, sebagian besar salak petani membusuk karena tak laku dijual. Justru kondisi petani salak di Desa Morkolak, Kecamatan Keramat, Kabupaten Bangkalan itu yang membuat Sania berpikir untuk menolong petani. “Saya ingin mengubah nasib mereka,” kata Sania, 49 tahun, kepada Tempo, Minggu (16/1)..

Dengan modal uang Rp. 200 ribu, Sania yang waktu di egiatan kelompok tani Ambudi, mengajak sejumlah tetangga dan anggota kelompok Ambudi untuk mengolah buah salak menjadi kue dodol dan sirup salak.

Setelah lulus uji coba masa kedaluarsa, produk hasil bondo nekat itu di lempar ke pasaran. Tapi langkahnya itu kurang mulus, karena dodol dan sirup salak buatannya itu tak dilirik pembeli.

Sania kemudian mencoba membuat olahan salak menjadi kurma salak. Cara pembuatannya sederhana, buah salah yang sudah dikupas dan dibersihkan kemudian direbus selama tiga jam.

Dua kilogram salak yang rebus ini dicampur dengan satu kilogram gula pasir untuk dibuat adonan. Setelah itu, adonan ini dimasukkan dalam oven, dan jadilah kurma salak. "Masa kedaluarsanya lebih lama, yaitu lima bulan,” kata Sania. Ternyata, kurma salak buatan Sania laku keras.

Selain kurma salak, dodol dan sirup. Sania juga mengembangkan produk olahan buah salak lainnya, yakni kismis salak, minuman segar pelancar BAB (buang air bear), dan olahan kulit salak yang bisa menurunkan tensi darah.

Kesuksesan kurma salak ini, juga bisa menciptakan lapangan kerja bagi warga Desa Morkolak terutama kaum perempuan. Kini Sania mempekerjakan 70 anggota kelompok taninya secara bergiliran. Tiap harinya ada 4 orang yang bekerja di rumah Sania.

Dengan kerja keras dan kreatifitasnya itu, tiap bulannya Sania bisa memperoleh keuntungan bersih Rp 2,5 juta, dari modal Rp 700 ribu. Selain kocek mengalir, hidup Sania juga berubah. Sania kerap didapuk sebagai pembicara dalam sejumlah seminar tentang kewirausahaan.

Sayangnya produk rumahan kebanggaan Bangkalan ini lemah dalam pemasaran. Di Kabupaten Bangkalan sendiri hanya ada tiga lokasi yang menjual kurma salak. Sania mengatakan, tahun 2011 ini akan membenahi cara pemasaran. "Masalahnya saya itu masih malu adi sales keliling," ujarnya.

Meski Kurma salak sudah menjadi produk kebanggaan Bangkalan, Sania mengaku belum pernah dikunjungi Bupati dan Anggota DPRD Bangkalan. "Saya harap bupati mau ke sini, supaya dia tahu jalan ke desa kami perlu diperluas,” katanya. Sania bercita-cita Desa Morkolak dijadikan agrowisata salak.

MUSTHOFA BISRI

Read More......