Sabtu, 11 Juni 2016

Puasa Pertama Rama


(Rama dan Haekal)

Sabtu ini, 11 Juni 2016, hari ke enam anak saya Rama berpuasa penuh satu hari, mulai pagi sampai bedug magrib berkumandang. Ini suprise bagi seorang ayah. Saya sama sekali gak menyangka Rama mau berpuasa seharian, sebab saat seusianya sekarang 8 tahun, saya sendiri belum berpuasa, kalau pun harus puasa, hanya setengah hari.

Awalnya, sekira dua hari menjelang puasa, saat makan siang, saya iseng menantangnya berpuasa, iseng karena dalam hati puasa atau tidak, tidak masalah. Saya tidak akan marah. Tapi rupanya, Rama menanggapi serius keisengan itu. Saya bangga akan tekadnya.

Ibunya cerita, hari pertama dan kedua puasa, tiap siang hari, Rama sempat bilang lapar dan mau batalkan puasa. Kasihan, Ibunya mempersilahkan dia makan. Tapi entah kenapa, Rama tidak juga makan, dia memilih tidur atau menonton televisi untuk mengurangi rasa laparnya. Saya bilang sama istri, agar apa pun menu yang ingin dimakan Rama saat berbuka harus dipenuhi, sebagai hadiah atas kegigihannya berpuasa.

Yang membuat saya kagum, saat puasa, aktifitas bermain Rama tak berkurang. Main sepeda atau kejar-kejaran sama adiknya Haekal. Rama juga tidak tergoda saat adiknya minum air dingin dari kulkas karena lelah bermain. Rama juga tidak pernah coba-coba sembunyi minum atau beli jajan di toko dekat rumah. Selain saat berbuka dan sahur, Rama juga minta makan usai salat taraweh. Waktu dibangunin untuk sahur pun tak sulit, cukup dipanggil, dia bangun, cuci muka dan duduk bersama dilantai untuk sahur. Beda dengan saya, harus dicubit istri agar mau bangun untuk sahur.  

Meski puasa dan sekolah libur, jatah jajannya tak dikkurangi Rp 4 ribu. Uangnya dibelikan mainan gambar atau lainnya. Kalau tidak puasa sangu itu biasanya dua ribu untuk sekolah SD, seribu untuk sekolah madrasah dan seribu saat ngaji malam setelah magrib.

Setelah berbuka, Rama juga rajin ikut saya salat taraweh di masjid. Dia ikut 20 rakaat tanpa henti. Namun itu hanya tiga hari pertama puasa, malam berikutnya, Rama lebih cepat tidur setelah berbuka. Saya tidak membangunkannya. Semoga Rama terus berpuasa di Bulan Ramadan sepanjang hidupnya.

Read More......

Sabtu, 12 Maret 2016

Tanpa Televisi



Sejak kamis, keluargaku menjalani hidup baru: tanpa televisi. Satu-satunya televisi yang kami punya mendadak rusak. Mesinnya hidup, tapi hanya muncul garis. TV merk LG 24 inci itu kini sedang diservis ke tukang servis di Desa Langkap, Kecamatan Burneh. Malam-malam bawa teman, TV saya antar pakai pikap. "Besok ambil setelah solat jumat," kata tukang servis yang saya tak tahu namanya.

Esoknya, karena banyak acara, saya tak ambil TV sesuai janji tukang servis. Baru jumat sore, setelah pulang kerja, saya bisa ambil televisi. Saya bawa sekalian kipas angin yang juga rusak. Kipasnya dalam kondisi protol. Awalnya saya merasa bisa baikin sendiri, ternyata tak bisa. Kipas angin saya biarkan protol karena saya tak bisa merakinya kembali.

Jam lima sore, saya sampai ke rumah tukang servis. Dia sudah menunggu, dengan pakaian rapi: baju koko, sarung dan kopiah hitam. Tapi kabar darinya, tak seindah tampilannya sore itu. "TVnya belum selesai," kata dia. Saya kecewa berat dalam hati, hanya dalam hati, bibir tetap berusaha tersenyum.

Kata dia, alat pada TV saya yang rusak dibelikan, entah apa namanya. Ternyata dia salah beli, kena barang imitasi, saat hendak dibaut, alat sekecil jati bayi itu tiba-tiba patah. "Saya harus ke Genteng Surabaya, cari yang orisinil," kata si tukang servis. 

Ingin sekali, saat itu saya bawa TV itu, untuk kemudian saya bawa ke tukang servis lain. Tapi saya urungkan. Saya serahkan kipas angin yang protol itu dan meminta memperbaiki sekalian, saya lalu bergegas pulang dengan kekecewaan. Tukang servis itu tidak memastikan kapan TV bisa diambil. "Kalau selesai, saya kabari," kata dia.
Alamat, hari-hari berikut akan saya lalui tanpa menonton televisi.

Hingga hari sabtu, 12 Maret. Terhitung sudah dua hari keluarga saya hidup tanpa televisi. Ada hikmahnya juga ternyata. Biasanya, terutama pada malam hari, selepas makan malam, kami sekeluarga 'terkapar' depan televisi. Anak dan istri menonton sinetron favoritnya 'anak jalanan'. Beberapa saat kemudian, gantian istri dan anak saya yang ditonton sinetron. 

Selama TV sehat, kondisi inilah yang terjadi sepanjang tahun. Kami, terutama antara saya dan istri jarang curhat atau tukar cerita. Maklum, sebagai 'kuli tinta' seharian waktu saya, banyak habis diluar rumah. Pergi pagi (tak pagi-pagi amat sebenarnya) baru pulang sore. Sesampai di rumah pun, waktu saya habiskan untuk menulis hingga magrib tiba (NB: tak selama begitu). Intinya interaksi dengan keluarga kurang, interaksi paling sering soal 'uang belanja' habis.

Tapi, sejak TV rusak. Saya jadi lebih banyak berdiskusi dengan istri dan anak-anak, sampai mata kami, sama-sama lelah dan tertidur. Dari obrolan jelang tidur itu, saya jadi tahu, kondisi usaha gilingan yang dikelola istri. Katanya, sudah tiga bulan oli mesin penggiling belum diganti. Soal anak, saya jadi tahu, ternyata ada sumbangan rutin dari madrasah setia sabtu dan minggu Rp 1000. "Sumbangan untuk bangun ruang kelas baru," kata Rama, anak tertua saya.

Untuk si bungsu Acay, 3 tahun, saya juga baru tahu ternyata mamahnya mengeluhkan dia doyan jajan. Kata istri: Acay bangun tidur minta uang beli jajan, bakso lewat minta beli. Habis bakso, eskrim lewat minta beli, cuma waktu tidur tidak jajan."

Tapi Acay juga baik hati, tiap beli jajan ke toko di seberang rumah, Acay tak lupa membelikan jajan untuk kakaknya Rama kadang untu mamahnya. 

Dari obrolan jelang tidur itu pula, saya jadi tahu, banyak tikus suka 'bertamu' malam hari. Tempat favoritnya, tumpukan gabah, kacang dan jagung hasil panen di kebun. Tikus melubangi zak pembungkus hasil kebun kami.

Atas keluhan istri itulah, akhir pekan ini saya habiskan waktu dirumah. Mumpung agenda diluar rumah sedang sepi. Tugas pertama, ganti oli mesin. Kedua menjilit dengan semen pinggiran keramik yang dilubangi rayap dan semut. Ketiga adalah membongkar tumpukan gabah. Ternyata ada lubang dipojokan, diduga jalur tikus masuk ke rumah. Saya menutup lubang itu dengan semen. Tugas pun beres.

Untuk menghilangkan jenuh karena tak bisa nonton TV, saya biasanya pergi gardu kampung. Berkumpul dengan para tetangga: biasanya kami ngegosip tentang isu: perbegalan, narkoba dan perselingkuhan di desa kami. Selain tiga topik ini, tak layak digosipkan. 

Menjelang tengah malam, kami main gaplek sampai subuh, yang kalah harus pakai anting dari botol kratindeng. Saat main gaplek inilah, pasti ada BBM masuk: "pah, jangan malam-malam, ntar subuhnya kesiangan". EBES

Read More......

Selasa, 17 Maret 2015

Senin, 16 Maret 2015

Bidarudin, Polisi 'Raja Pantun'

Bangkalan--- Setelah heboh Bripka Komang, anggota Satlantas Polres Bangkalan 'goyang dumang' saat mengatur lalu lintas di jalanan. Kini muncul talenta unik lain di lingkungan Kepolisian Resor Bangkalan. Namanya Bidarudin, 45 tahun, pangkatnya Ajun Komisaris. Komandan pasukan sabhara ini dijuluki polisi 'raja pantun'.

"Bersihkan halaman pakai skop
jagalah sikap ramah tamah.
Kalian semua pulang ke Kokop
Semoga selamat sampai dirumah"

Inilah salah satu pantun yang disampaikan Bidarudin kepada ratusan warga Kecamatan Kokop yang berunjuk rasa ke gedung Kejaksaan Negeri Bangkalan, Senin, 16 Maret 2015. Melihat polisi berpantun, suasana tegang pun cair. Para pendemo hayut dalam tawa.

Menurut Bidarudin, kebiasaannya berpantun dimulai saat dia menjadi Kepala Polsek Konang. Empat setengah tahun  jabat kapolsek membuat Bidarudin tidak betah dan ingin dimutasi. Lewat pantun dia pun menyampaikan isinya hatinya dan akhirnya dimutasi menjadi Kepala Satuan Sabhara.

"Saya ingin belajar berenang
Berenangnya di sungai musi
Empat setengah tahun saya di konang
Kapan saya dimutasi"

Selain untuk menghibur diri, pantun Bidarudin kebanyakan juga banyak bermuatan pesan moral.
Dia menganggap menyampaikan pesan lewat pantun, lebih diperhatikan oleh orang yang mendengarkan. Awal maret lalu, saat pasukannya berhasil menggrebek pabrik rumahan miras oplosan, dia berpantun.

"Berburu kucing ke hutan rimba
Bersama satuan fungsi sabhara
Apa guna pakai miras dan narkoba
Bikin hidup jadi sengsara".

Meski ahli berpantun, Bidarudin mengaku tidak setiap waktu berpantun. Dia hanya berpantun pada situasi yang tepat, misalnya saat ada demo atau saat memberikan arahan kepada anak buahnya. "Saya berpantun hanya untuk menghilangkan stres dan penat," pungkasnya. MUSTHOFA BISRI

Read More......

Minggu, 15 Maret 2015

Acay Ulang Tahun Ke dua

Haekal Ghozi, putra keduaku berulang tahun yang ke dua tahun 3 Maret 2015 lalu. Tidak ada perayaan khusus untuk Haekal. Aku hanya menjanjikan akan mengajaknya jalan-jalan, tapi janji itu tak bisa aku tepati karena begitu banyak pekerjaan. Aku baru pulang jelang magrib.

Agar tak kecewa, selepas magrib, saya mengajak seluruh isi rumah jalan-jalan naik pikap espass kesayangan. Tujuannya ke stadion gelora bangkalan. Pada malam hari, halaman stadion dipenuhi aneka arena permainan anak sederhana macam odong-odong dan taman pancing. Aku ingin Haekal dan kakaknya Rama puas bermain sebagai hadiah ulang tahun. 

Sebelum sampai stadion, saya ajak istri dan anak-anak silaturrahmi ke rumah Umar di perumahan Soka Park. Umar reporter radio RRI. Dia juga buka usaha Laundry bernama Tasya Laundry. Karena keasikan mengobrol, agenda ultah nyaris terlupakan. Jam 10.00 malam pamit pulang.

Sampai di stadion sudah kemalaman. Arena permainan sudah bubar. Hanya ada penjual kopi dan nasi goreng buka lapak. Saya belikan acay segelas capuccino agar tidak kecewa. Kami pun pulanh setelah mengisi perut dengan lalapan ikan lele.

Read More......

Polisi 'Goyang Dumang'

Namanya Bripka Komang,  anggota satlantas polres bangkalan. Belakangan dia hebohkan publik karena melakukan aksi goyang dumang saat bertugas mengatur lalu lintas di perempatan junok kota Bangkalan.

Read More......

Senin, 14 Mei 2012

Sekolahku Bekas Kandang Ayam

Sumenep---Muslim tak bisa tenang belajar, keringat yang mengucur dan membasahi seragam sekolah merah putih, membuatnya tidak focus mendengarkan penjelasan guru di depannya. Buku yang mestinya menjadi tempat menulis pelajaran, sesekali dijadikan kipas angin untuk menyejukkan badannya. “Dengan kondisi sekolah yang seperti ini, sulit konsentrasi belajar,” kata siswa SDN Pagar Batu 3, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, Rabu 2 Mei 2012, kepada Tempo. Sekolah yang dimaksud Muslim bukanlah gedung sekolah berlantai keramik. Meliankan sebuah gudang yang separuh dindingnya berdinding batu bata dan selebihnya berdinding gedek dari ayaman bambu. Bila matahari sedang terik, hawa panas akan sangat leluasa menembus ruangan. Agar cukup menampung puluhan siswanya, gudang itu disekat menjadi tiga kelas. “Dulu gudang ini bekas kandang ayam,” kata Kepala Sekolah SDN Pagar Batu 3, Tola Izzi. Sudah dua tahun, murid dan guru di SDN Pagar Batu 3 terlantar. Sejak sekolah disegel, kegiatan belajar mengajar sudah berpindah tiga kali. Mereka sempat menumpang diteras rumah warga, menumpang di gedung sebuah madrasah diniyah dan terakhir di gudang bekas kandang ayam itu. Menurut Izzi karena terlalu lama terlunta-lunta, banyak siswanya yang memilih pindah ke sekolah lain. Sebelum disegel, siswa SDN pagar batu 3 berjumlah 68 orang, namun kini hanya tersisa 45 siswa. “ada 23 yang pindah karena tidak betah,” tutur Izzi. Penyegelan gedung sekolah SDN Pagar Batu 3 terjadi Juni 20120 lalu. Pelaku warga sekitar sekolah bernama Syaiful Bahri. Dia mengaku sebagai ahli waris pemilik lahan sekolah. Syaiful mengaku penyegelan dilakukan karena pemerintah kabupaten Sumenep telah ingkar janji. Saat ayahnya menyerahkan tanah itu untuk dijadikan sekolah tahun 1984, pemerintah, kata dia, berjanji akan mengangkat pemilik tanah sebagai pegawai negeri sipil. Namun setelah 26 tahun menunggu, janji itu tidak juga ditepati. "Sekarang kami tidak menuntut diangkat PNS, kami minta ganti rugi saja," katanya. Dinas Pendidikan Sumenep dan pihak Syaiful Bahri sudah beberapa kali menggelar pertemuan untuk menyelesaikan sengketa. Dinas pendidikan sempat bersedia mengganti rugi lahan, namun karena harga yang dipatok penyegel dinilai terlalu mahal, perundingan tak kunjung menemukan titik temu. Kepala Dinas Pendidikan Sumenep, Achmat Masuni meminta siswa dan guru tetap semnagat belajar dan mengajar ditengah kondisi yang memprihatinkan. Masuni mengatakan pihaknya telah menyiapkan kado special di hari pendidikan nasional yaitu pembangunan gedung sekolah baru SDN pagar batu. Rencananya peletakan batu pertama akan dilakukan agustus mendatang. ”kami sudah bebaskan lahan, lokasi tidak jauh dari gudang itu,” katanya. Dia menjelaskan, pihaknya telah menyiapkan dana sebesar Rp 430 juta yang bersumber dana alokasi khusus. Dengan rincian Rp 70 juta untuk pembebasan lahan dan Rp 360 juta sisanya untuk Ruang Kelas Baru. Data Komisi Pendidikan DPRD Sumenep menyebutkan sengketa lahan memang momok bagi kemajuan pendidikan di Sumenep. Selain SDN Pagar Batu 3, ada 11 sekolah lain baik di wilayah daratan dan kepulauan yang menjadi obyek sengketa kepemilikan lahan. “di APBD sudah dianggarkan dana Rp 560 juta untuk menyelesaikan sengketa lahan tersebut,” kata Anggota Komisi Pendidikan DPRD Sumenep, Nur Asyur. MUSTHOFA BISRI

Read More......

Jumat, 19 Agustus 2011

Lukas Pemanggil Ikan

LAKI-laki itu berdiri di tubir pantai Bakaro. Berkaus dan celana sedengkul, Lukas Awiman Barayap meniup peluit sambil melempar-lemparkan rayap pohon ke tengah laut. Cuaca sedang bagus pada Jumat pagi pekan kedua Desember lalu. Angin sepoi-sepoi membenturkan ombak ke karang dan pasir putih, setelah malam tadi gerimis menyiram Manokwari, ibu kota Papua Barat. Lukas terus meniup peluit. Semakin melengking, semakin melengking. Tatkala seperempat rayap di tangannya telah ia lempar ke laut, ajaib, perlahan-lahan ombak membesar. Padahal angin bersepoi tak bertambah kencang. Lidah laut yang tadi tenang-tenang menyentuh lututnya itu kini mengubur Lukas hingga pinggang. Terjangannya membuat laki-laki 50 tahun ini pasang kuda-kuda. Sesekali ia terdorong dan mundur dua langkah.

"Lihat, ikannya sudatang," tiba-tiba ia berteriak. Lukas meniup peluit dan melemparkan rayap kian keras.

Laut di Teluk Doreri yang hijau dan tembus pandang hingga dasar itu mempertontonkan keajaiban lain. Air berubah warna-warni. Itu warna pelbagai jenis ikan yang berebut menyantap rayap yang dilempar Lukas. Ada juga yang menumpang ombak mendekat ke kakinya, berkecipak seperti bersuka- cita.

Melihat ikan-ikan sebesar lima jari tangan itu mendekat, Lukas membungkuk dan mencelupkan rayap ke dalam air. "Katakan pada teman-temanmu, ada makanan di sini," katanya. Ia meniup peluit kian keras. Prit..., prit..., priiit..., priiit..., priiit.....

Lukas keluar dari air lalu memanjat tebing yang lebih tinggi, meniup peluit lebih keras, merentangkan tangan, dan melemparkan rayap terakhir di genggamannya. "Itu ikan bulanak, yang ini ikan kapas, babara, kakatua, dan yang ujung ikan hias," katanya, menunjuk ikan-ikan yang berkecipak di bawahnya.

Ia masih memandangi ikan-ikan itu sejenak sebelum balik badan. Satu-satu rombongan ikan menghilang, kembali ke tengah laut, kembali menyelinap ke balik-balik karang. Ombak juga kembali tenang.

l l l

KEMAMPUAN Lukas memanggil dan berkomunikasi dengan ikan dan semua penghuni laut di Teluk Doreri ini dimulai pada 1995. Syahdan, waktu itu kawasan pantai Bakaro masih terisolasi. Terselip di antara lekuk pulau-pulau kecil di sekitarnya, pantai yang bersambung langsung ke Samudra Pasifik itu tak dikenal banyak orang. Jalan masih tanah, listrik belum menyala.

Namun pantai yang belum terjamah pariwisata itu menyimpan pesona dan daya tarik bagi nelayan. Ikan dan terumbu karang bisa dilihat dari atas perahu saking jernih dan bersihnya air laut di sana. Lalu periode memangsa penghuni laut pun dimulai pada 1990. Nelayan yang tak sabar mulai memakai racun potasium untuk menjala dan menangkap ikan. "Kalau pagi di sini seperti perang dunia saja, bom meletus dari ujung ke ujung," kata Lukas.

Maka, ketika siang, ikan-ikan mengambang, terumbu karang rusak, laut jadi kotor. Lukas, yang sudah tinggal di sana sejak 1979, geregetan dengan keadaan itu. Orang Merauke ini tahu, perusak laut di depan rumahnya itu bukan orang-orang Bakaro. Nelayan Bakaro menangkap ikan hanya dengan kail dari atas perahu. Hasilnya pun untuk makan sehari-hari. Dijual ke pasar jika ada lebih saja. Sebagai guru jemaat, Lukas kerap mewanti-wanti dalam khotbahnya agar penduduk di sana menjaga kelestarian pantai Bakaro.

Kedatangan nelayan luar yang merusak keindahan pantai itu membuat Lukas terpikir mencegahnya. Tapi ia hanya seorang diri, tak akan mampu melawan puluhan nelayan yang membawa bom. Tak mungkin juga ia mendatangi mereka lalu berceramah tentang pentingnya menjaga kelestarian alam. Ide nyeleneh pun muncul pada 15 Desember 1995 malam. Lukas akan mengumpulkan ikan-ikan itu di dekatnya ketika para nelayan memasang potasium.

Lukas percaya, manusia bisa berbicara dengan binatang, seperti firman Tuhan dalam Injil Kitab Kejadian Pasal 1 ayat 26-28. "Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut, burung-burung di udara, ternak, atas seluruh bumi, dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi. Hal yang sama juga ada dalam Al-Quran amsal Nabi Sulaiman, yang bisa berbicara kepada semua binatang," katanya.

Maka esoknya Lukas berjalan ke tepi laut. Rumahnya hanya 200 meter dari pantai. Di salah satu tebing karang ia duduk menghadap laut. Matanya terpejam dan berdoa: "Tunjukkanlah apa yang tersurat dalam suara Bapa melalui nabi dan rasul, tunjukkanlah, tunjukkanlah...." Hening. Hanya debur ombak yang terdengar pada pagi buta itu.

Dengan konsentrasi penuh, Lukas terus merapal doa itu. Tiba-tiba ia mendengar seseorang berteriak dari belakangnya, jauh dari arah gunung. "Coba pakai rayap...." Jelas, itu suara laki-laki. Lukas membuka mata dan menoleh ke belakang. Tak ada sesiapa. Pagi masih hening. Belum ada satu pun orang Bakaro yang keluar rumah. Ia kembali menghadap laut dan memejamkan mata.

Dalam hati Lukas kembali berdoa agar ditunjukkan cara memanggil ikan untuk niat baik menyelamatkan mereka. "Lalu saya mendengar suara roh agar saya memakai apa-apa yang ada di sekeliling saya," katanya. Ia mengambil batu dan mengetuk-ngetukkannya ke batu karang. Keajaiban pun muncul. Ombak perlahan-lahan membesar membawa ikan-ikan ke dekatnya. Ikan-ikan bertambah banyak seiring dengan ketukan batu. Lukas takjub akan apa yang dilihatnya.

Tapi ikan-ikan itu hanya sebentar berkumpul. Mereka kembali ke tengah laut ketika Lukas hanya diam terpaku. Ia pun bergegas kembali ke rumah. "Mungkin mereka kecewa karena saya tak memberi makanan," katanya. Ia pun mencari-cari rayap seperti saran suara yang ia dengar tadi. "Siapa tahu mungkin memang itu petunjuk," katanya.

Lukas kembali dengan segenggam rayap pohon. Ia mengetuk-ngetukkan batu sambil melempar rayap-rayap itu. Kini ikan-ikan yang mendekat berebutan memangsa rayap yang dilemparnya.

Hari ke hari ia kian takjub dengan kemampuannya sendiri memanggil ikan di laut. Esok dan seterusnya Lukas tak lagi merapal doa seperti pada pemanggilan pertama. Ia langsung mengetukkan batu dan melempar rayap. Ikan-ikan tak sungkan menghampiri.

Ia masih penasaran apakah rayap satu-satunya makanan yang disukai ribuan jenis ikan di sana. Lukas pun menyelam sambil menyebarkan makanan: nasi, singkong rebus, dan rayap. "Ternyata memang hanya rayap yang mereka makan," katanya. Setiap pagi Lukas memberi makan ikan-ikan itu ketika puluhan nelayan melautkan perahu dengan jaring dan bom.

Sembari memberi makan itulah, Lukas kerap berbicara kepada ikan. "Beri tahu teman-temanmu, ada makanan dan berkumpullah di sini setiap pagi." Selain dengan batu, ia pernah mencobanya dengan peluit. Dan mereka tetap datang. Sejak itu, peluit dan rayap ia pakai untuk memanggil ikan di Teluk Doreri.

Bunyi peluit yang melengking pagi-pagi tentu saja membuat orang-orang di Bakaro penasaran. Mereka berkerumun dan takjub melihat Lukas bisa memanggil dan bercengkerama dengan ikan. Cerita pun menyebar dari mulut ke mulut. Kemampuan Lukas menjadi tontonan orang sekampungnya dan tersiar kabar bahwa ia punya ilmu khusus memanggil ikan.

Lukas selalu menolak jika kemampuannya disebut sebuah ilmu. "Ini karunia. Saya hanya percaya kepada Allah," katanya. Karena itu, ia yakin setiap orang bisa melakukan apa yang dilakukannya asal percaya pada karunia dan kekuatan itu. Dalam setiap doa ia menyelipkan agar karunia itu diberikan pula kepada istri dan dua anaknya. "Asal hati kita bersih, tak curiga bahwa ini ilmu hitam," katanya.

Dan doa itu manjur. Marta Barayap, istri Lukas, bisa meniru apa yang dilakukan suaminya. Perempuan 48 tahun itu pun bergiliran dengan Lukas memberi makan ikan di Teluk Doreri, juga dengan peluit dan rayap, setiap pagi. Belakangan, Musa dan Helena Barayap bisa melakukan hal serupa. Anak 10 dan 8 tahun itu bisa mengumpulkan ikan ke dekatnya.

Namun doa itu manjur hanya bagi keluarga Barayap. Sebab, tetangga dan pengunjung pantai banyak yang mencoba meniru tapi tak berhasil. Tempo pun mencoba meniup peluit itu berkali-kali, tapi ombak tak membesar, ikan tak satu pun yang muncul. Pengunjung biasanya juga menjajal peluit itu, seperti Jhonal Thio.

Pemuda 25 tahun yang tinggal di Manokwari ini pernah menguji keampuhan tuah peluit. Ia berdiri di pantai dan meniupnya seraya melemparkan rayap, persis apa yang dilakukan Lukas. Dan orang tua ini membiarkan kesombongan Jhonal seraya tersenyum. "Sampai jengking-jengking, trada datang ikan-ikan itu," katanya.

l l l

LUKAS Barayap segera terkenal ke luar Bakaro. Orang-orang mulai datang untuk melihat kemampuan Lukas memanggil ikan. Tak hanya dari sekitar Manokwari, tapi juga dari luar pulau, bahkan turis dari lain negara. Sebab, setelah 1995, jawaban orang Manokwari kepada orang asing yang bertanya tentang keunikan ibu kota provinsi yang baru dimekarkan itu adalah, "Lihat pemanggil ikan di pasir putih."

Seperti tertuang dalam dua buku tamu tebal yang tersimpan di rumah Lukas, para pengunjung takjub melihat kemampuan guru jemaat yang ramah dan rendah hati ini. Ratusan testimoni dimulai dengan kalimat, "Puji Tuhan, ini keajaiban...."

Keajaiban itu membawa berkah bagi Bakaro. Pantai yang rimbun dengan pohon kelapa dan bakau ini kembali bersih seperti semula. Lukas melarang siapa pun menangkap ikan di sana, terutama ketika ikan sedang ia kumpulkan untuk diberi makan. Nelayan pun kini menjala ikan hanya dengan kail. Tak ada lagi yang berani melaut dengan bom. Selain tak dapat ikan, mereka segan dengan kemampuan Lukas.

Anak-anak riuh adu tangkas berselancar. Di sini anak umur satu tahun telah dikenalkan pada teknik berenang dan menyelam. Maka, sepulang sekolah, anak-anak menghambur ke pantai dan menjajal ombak yang mendebur tak henti. Atau menyongsong ayah dan ibu mereka yang pulang melaut. Air laut begitu jernih hijau dan biru, menunjukkan pelbagai jenis ganggang dengan ikan berseliweran.

Pada 1996, Gubernur Papua Jacob Pattipi mengunjungi Lukas untuk menyaksikan langsung kemampuannya memanggil ikan. Kedatangan Gubernur diikuti dengan perbaikan infrastruktur. Jalan sambung dari Manokwari segera diaspal karena pejabat lain ikut penasaran. Dua tahun kemudian 112 keluarga di Bakaro untuk pertama kalinya menikmati listrik. Guru juga bisa didatangkan ke sekolah untuk mengajari anak-anak membaca dan menulis.

Pengunjung kian banyak dari waktu ke waktu karena akses ke sana jadi mudah. Hanya 20 menit naik mobil dari pusat Kota Manokwari ke selatan. Apalagi di teluk ini juga ada Pulau Mansinam, tempat Injil pertama dikabarkan di Papua, yang ramai diziarahi setiap 5 Februari. Pemerintah kabupaten dan provinsi membangun gazebo-gazebo untuk persinggahan turis. "Ini benar-benar berkah untuk kami di sini," kata Lukas, yang juga menjabat sekretaris desa.

Ia tak pernah menolak jika ada pengunjung memintanya memanggil ikan. Alumnus Sekolah Pendidikan Guru Jemaat di Manokwari ini juga selalu bersemangat mengulang cerita pengalaman spiritualnya pada 1995 itu. "Sekali lagi ini bukan ilmu, Anda juga bisa melakukannya," katanya. "Saya selalu berdoa agar setiap orang bisa melakukan ini, demi keselamatan dan lingkungan yang baik."

Lukas percaya, jika kita bisa berkomunikasi dengan binatang, kita akan menyayangi dan melindunginya. Manusia, kata dia, menjadi jahat kepada alam dan binatang karena tak mengerti apa yang sudah mereka berikan kepada kita. Ia tak meminta bayaran jika ada yang memintanya meniup peluit dan mengumpulkan ikan. Kalaupun ada turis yang memberinya uang, ia akan menyumbangkannya untuk kegiatan gereja.

Namun, karena sehari-hari bekerja di gereja dan kantor desa, tak setiap hari Lukas siap memanggil ikan. Tempo, yang datang pada Jumat, mesti mengontaknya lebih dulu. Melalui Silas Inuri, seorang intel di Kepolisian Resor Manokwari, Lukas diminta menyiapkan rayap. Sebab, memanggil ikan paling baik pagi-pagi. "Ombak sedang bagus," katanya. Bagja Hidayat

Read More......

Selasa, 26 Juli 2011

Wanita Tua Tinggal Satu Atap dengan Itik

TEMPO Interaktif, Pamekasan - Mistani, warga Desa Murtajin, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan, terpaksa harus tinggal satu atap dengan itik.Selama bertahun-tahun, wanita 90 tahun ini harus berbagai ruangan dengan sepuluh ekor itik miliknya. "Itik-itik ini tidur di bawah ranjang saya," kata Mistani, Rabu, 20 Juli 2011.

Semua bermula dari keinginan Mistani ingin hidup mandiri. Dia yang tinggal sebatang kara, sejak suaminya wafat dan anaknya pergi meninggalkannya, tidak ingin tergantung terus dengan tetangga-tetangganya.

Namun, tubuhnya yang renta tak memungkinkan dia bekerja. Ide pun datang, yaitu memelihara itik. Bagi Mistani, memelihara itik bisa menghasilkan uang tanpa memerlukan banyak tenaga. "Saya jual telur itik, lumayan uang buat kebutuhan sehari-hari," ujarnya.

Karena tak punya kandang, Mistani tak punya pilihan lain. Dia harus berbagai ruang dengan itiknya di sebuah gubuk reot berukuran 3x4 meter.

Di gubuk yang dibangun dari bantuan warga itu, Mistani menghabiskan waktunya bersama itik-itik kesayangannya. Ranjang, tempat baju, dapur, hingga kegiatan buang air menyatu dalam gubuk yang terbuat dari bambu tersebut.

Mistani tak hanya berbagi tempat dengan peliharaannya itu. Bila pakan itik habis, dia bahkan rela memberikan nasi jatahnya untuk itik-itik itu. "Kalau itik lapar, tidak bertelur, saya jadi tidak punya uang. Jadi yang penting itik kenyang, saya lapar tidak apa-apa," ujarnya.

Bila melihat kehidupan di sekitarnya, Mistani mengaku ingin punya rumah yang layak huni. Namun, kini ia tetap bersyukur dengan apa yang didapatnya. "Tapi hanya gubuk adanya, tidak apa-apa," katanya.

Mistani juga beruntung karena dia bertetangga dengan orang-orang yang baik dan peduli. Wati, 55 tahun, misalnya selalu mencucikan baju Mistani. "Saya membayangkan dirinya. Kalau sudah tua, anak-anak tidak peduli, saya takut. Makanya saya iba sama Bu Surya (Mistani)," ujarnya.

MUSTHOFA BISRI

Read More......

Minggu, 03 Juli 2011

Nasi Kobal, Sangu Nelayan Yang Dimakan Jendral

Sampang--- Unik dan murah meriah, itulah Nasi Kobal, makanan khas asal Desa Tambaan, Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang. Unik karena cara memasaknya tidak biasa, murah meriah karena untuk menikmati seporsi nasi kobal anda cukup menyediakan uang receh Rp 4 ribu.Agak susah untuk mencari warung yang menjual nasi kobal karena hanya dijual dipagi hari,
Tapi ada satu warung Nasi Kobal yang buka hingga sore. Letaknya tepat disamping Puskesmas Camplong. Pemiliknya bernama Makiyatun.

Sudah 12 tahun, Ibu Makiya berjualan nasi kobal. Menurut wanita berusia 60 tahun ini, nasi kobal adalah sangu wajib nelayan saat pergi melaut. Makanya harganya murah meriah, seukuran kantong nelayan. Tapi jangan salah, meski hanya sangu nelayan "Orang Koramil sini kalau ada pangdam datang, pasti memesan nasi kobal buatan saya sebagai hidangan," ujarnya bangga.

Menurut Makiyah, kesitimewaan nasi kobal ada pada sambal kelapanya yang mirip serondeng. Rasanya gurih dan aromanya menggugah selera. Cara memasak sambal kelapa ini sangat unik, tidak perlu memakai nyala api pada tungku atau kompor. Cukup pakai pecahan cobek yang dibuat dari tembikar dan telah dipanaskan hingga menjadi bara.

Kepada Tempo, Senin, 4 juli 2011. Makiyah mempraktekkan cara membuat sambal kepala kobal. Pertama sediakan kelapa yang sudah diparut, kemudian selanjutnya meracik bumbu. "Bumbunya cuma ketumbar, bawang merah, bawah putih, laos, kencur, daun jeruk dan cabai merah besar," terang wanita beranak tiga ini.

Setelah diulek, kelapa yang sudah diparut dimasukkan ke dalam cobek dan diaduk hingga seluruh bumbu merata sampai berwarna kemerahan. Setelah itu, kata Makiyah, panaskan pecahan cobek seukuran 10 centimeter persegi dalam tungku, setelah menjadi bara, diambil dan dimasukkan ke dalam cobek berisi kelapa yang sudah diparut tadi. kemudian kelapa diaduk ke bara tembikar, sampai merata berubah warna dan beraroma. "Kalau tembikarnya bukan cobek, genting misalnya, rasa berbeda, jadi harus pakai pecahan cobek," katanya lagi.

Seiring modernisasi, hidangan nasi kobal juga ikut perkembangan zaman. Selain ikan tongkol, bisa dengan ayam kuah, telur dan empal. "Tapi saya tetap bertahan pakai tongkol, ini yang asli dari dulu," tutur Makiyah.

Ahmat Jazuli, warga Kabupaten Bangkalan yang lumayan sering menikmati nasi kobal sepulang dari menyupir, berbagi tips cara menikmati nasi sangu nelayan saat melaut ini. "semua lauk nasi kobel harus diaduk menjadi satu, baru sangat nikmat," pungkasnya. MUSTHOFA BISRI

Read More......

Sabtu, 02 Juli 2011

Rujak Karaoke dalam Buah Mentimun

TEMPO Interaktif, Pamekasan - Mendengar namanya, bingung membayangkan rasanya. “Rujak karaoke”, begitu warga di Pamekasan, Jawa Timur, menyebut salah satu makanan khas kabupaten di Pulau Madura ini. Sebagai jajanan warisan leluhur, rujak karaoke termasuk makanan langka. Tidak banyak orang yang menjualnya. Satu-satunya yang masih melestarikan jajanan ini adalah Riskiyah, 43 tahun, warga Kelurahan Jungcang-cang, Kecamatan Kota Pamekasan. Mencari warung Riskiyah agak sulit. Untuk menuju ke sana harus melewati beberapa gang kecil dan berkelok.

Bagi Sandi, mesti susah menemukan warung Riskiyah, penikmat kuliner asal Kenjeran, Surabaya, ini mengaku tetap memburunya. Ia pun mendapatinya. “Yang penting bisa menyantap makanan langka," ujar pria 27 tahun, Minggu 3 Juli 2011.

Sandi yang bekerja di perusahaan pembiayaan itu sebenarnya sudah lama mendengar nama rujak karaoke. Pada liburan sekolah saat ini, ia manfaatkan mengajak istri dan anaknya bertandang ke Pamekasan. “Bener-bener kayak orang sedang karaoke,” ucap Sandi sambil tertawa.

Keunikan rujak ini terletak pada cara penyajiannya. Jika rujak pada umumnya dihidangkan dalam piring, untuk rujak karaoke disajikan dalam buah mentimun. Proses pembuatannya juga unik. Setelah semua bumbu diulek, diambillah satu buah mentimun besar. Bagian ujungnya dipotong, lalu isinya dikeluarkan. Seluruh isi mentimun kemudian dicampur dengan bumbu yang telah diaduk tadi.

Dari buah mentimun yang tersisa kulitnya, di situlah bumbu rujak dimasukkan. Rujak karaoke ala Riskiyah langsung bisa dinikmati. Dinamakan rujak karaoke karena cara makannya seperti orang sedang memegang mikrofon. “Kesulitannya satu, mengeluarkan isi metimun dan menjaga agar kulitnya tidak bocor,” ucapnya.

Rujak karaoke murah meriah. Satu porsi Rp 2.000. Ketika menyantap, di warung Riskiyah tersedia handset untuk menikmati musik dengan pilihan mulai pop sampai kidungan. Menurut Riskiyah, istilah karaoke baru belakangan diberikan. Nama asli rujak ini adalah rujak curek.

Karena cara makannya yang mirip orang sedang karaoke, untuk memudahkan mengingatnya pembeli menyebut rujak karaoke. “Saya sudah 30 tahun jualan rujak. Ini warisan ibu,” tuturnya.

Menurut wanita beranak tiga ini, cara membuat rujak karaoke amat sangat mudah, bahkan bahannya nyaris sama dengan rujak lainnya seperti rujak cingur. Sebut saja kacang goreng, penyedap rasa, petis, gula, dan cabai. “Lalu diulek sampai halus,” kata Riskiyah membuka resep. Mau?

MUSTHOFA BISRI

Read More......

Sabtu, 25 Juni 2011

"Saya Ingin Ibu Dibebaskan..."

Sudah tak kenal ayah sedari lahir, Ali Ridho pun terancam kehilangan ibu, yang tak dilihatnya selama 12 tahun. Remaja 16 tahun itu gelisah menahan kerinduan yang tersumbat. "Saya ingin ibu saya dibebaskan, supaya bisa kumpul lagi sama keluarga," kata Ali di rumahnya di Desa Mertajesah, Kecamatan Kota, Kabupaten Bangkalan, Madura, kemarin. Harapan Ali mungkin terlalu melambung. Soalnya Siti Zaenab, sang ibu, justru menghadapi hukuman mati di Arab Saudi lantaran membunuh majikannya. Mestinya Zaenab dipancung pada 1999. Eksekusinya tertunda karena anak majikannya belum akil balig, jadi belum bisa dimintakan pengampunan.
"Kalau anaknya tidak memberi maaf, bisa habislah dia," kata Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi, Gatot Abdullah Mansur, di Dewan Perwakilan Rakyat pada Kamis lalu.
Ali dan keluarganya tak ingin Zaenab senasib dengan Ruyati, tenaga kerja yang dieksekusi pada Sabtu pekan lalu. "Kami berharap pemerintah segera memberikan bantuan hukum," kata Mohammad Hasan, sepupu Zaenab.
Kegelisahan juga menyeruak di antara anggota keluarga Hasyim dan Sabatun, dua terpidana kasus pencurian emas di Arab Saudi. Kedua orang asal Madura itu sedang menanti eksekusi potong tangan.
Demi pembebasan dari hukuman itu, keluarga siap menggalang dana tebusan sebesar Rp 250 juta. Tapi mereka meminta pemerintah bergerak cepat menghubungi mahkamah karena diduga Hasyim dan Sabatun akan segera dieksekusi. "Mereka sudah memindahkannya ke penjara gelap," kata Ajum, adik ipar Hasyim, gelisah.
Setelah kasus Ruyati, kegelisahan keluarga tenaga kerja Indonesia memang memuncak. Bukan hanya keluarga mereka yang menanti hukuman, tapi juga keluarga tenaga kerja yang nasibnya terkatung-katung di negeri orang.
Salah satunya adalah Bejo, lelaki 32 tahun asal Madiun, Jawa Timur. Sudah tiga setengah tahun dia berjuang memulangkan istrinya, Susianti, 26 tahun, dari Arab Saudi.
Empat ekor sapi sudah dilego dan jutaan rupiah dikeluarkan untuk membiayai perjalanan bolak-balik Jakarta-Madiun untuk menemui perusahaan pengerah tenaga kerja serta Badan Nasional Perlindungan dan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia. Hasilnya nihil.
Bejo khawatir istrinya gelap mata dan terlibat kasus seperti Ruyati, lantaran gajinya belum pernah dibayarkan sejak berangkat ke Arab Saudi pada Desember 2007. "Yang penting cepat pulang dan saya sarankan tidak usah kembali jadi TKI di Arab," katanya, gelisah. MUSTHOFA BISRI | FRANSISCO ROSARIANS | ALWAN RIDHA RAMDANI | ISHOMUDDIN | DEDDY S

Read More......

Selasa, 15 Maret 2011

Petung Sewu

Sabtu, 12 Maret lalu, saya ke Petung Sewu. Letaknya di lereng gunung kawi, Kecamatan Dau, Sekitar setengah jam dari terminal Arjosari, Malang. Guna menghadiri undangan pelatihan wartawan lingkungan yang digelar SIEJ dan ProFauna Indonesia.
Saya naik sepeda motor dari Bangkalan, Madura. Sampai di terminal Bungurasih, menitipkan sepeda di tempat penitipan sepeda 24 jam. Biayanya Rp 200 perjam. Lalu melanjutkan perjalan dengan bis patas menuju terminal Arjosari Malang, sekitar dua jam perjalanan.

Naik bis patas (AC) lebih baik dibanding naik bis biasa (tanpa AC). Selain harganya murah, bungurasi-arjosari cuma Rp 15 ribu, bus patas tidak pakai ngetem. Berbeda dengan bis biasa yang sering ngetem menunggu penumpang. Membuat perjalanan lebih lama.

Sampai di Terminal Arjosari, saya naik ojek menuju Terminal Landungsari, disana ada sopir yang menjemput. Disini harus tawar menawar ongkos ojek, biasanya pengojek minta Rp 25 ribu, saya tawar Rp 15 ribu. Sebenarnya ada angkutan kota ke Landungsari, namun karena baru berangkat setelah penumpang penuh, sementara saya terburu-buru, saya pilih naik ojek.

Jarak landungsari ke petung sewu 30 menit, melewati jalan sempit padat perumahan. Jalan berkelok. Tapi pemandangan indah sekali, sawah terhampar mengikuti lekuk bebukitan, petani panen kubis, masyarakatnya ramah.

Di puncak bukit, di petung sewu, ada pintu gerbang bertulis Petungsewu Wildlife Education Centre (P-Wec). Ini adalah "anak perusahaan" organisasi ProFauna Indonesia yang berpusat di Malang. P-wec adalah kawasan konservasi binatang liar yang hampir punah. Disini hewan langka seperti Lutung Jawa sitaan dari pemburu, dirawat dan kembang biakkan sebelum dilepas ke habibat aslinya.

Asep Rahmat dari ProFauna mengatakan P-Wec berbeda dengan kebun binatang. Dalam istilah ilmiah, lokasi konservasi binatang liar disebut In Situ, sedang kebun binatang disebut ex situ.

Lokasi P-Wec sangat unik, bangunan dibentuk mengikuti bentuk bebukitan. Isinya, ada kandang lutung jawa, asrama, kantin, tempat kemah dan outbond. Pelatihan ini diikuti 18 wartawan mulai dari cetak, online, TV dan radio. Mulai Dari Madura sampai Jember. Kami diberi materi tentang satwa liar oleh Asep Rahmat dari ProFauna dan bagaimana menulis masalah lingkungan oleh IGG Maha Adi, mantan Wartawan Tempo dan Editor di Majalah National Geographic.

Ada catatan penting dari pelatihan ini. IGG Maha Adi bilang, media di indonesia masih belum pro lingkungan. Indikasinya jarang sekali, ada halaman khusus soal berita lingkungan, singkatnya isu lingkungan bukan berita menarik.

Sejumlah wartawan juga mengeluh, tulisan mereka soal lingkungan sulit dimuat. Solusinya, IGG Maha Adi berjanji akan membolehkan anggota SIEJ untuk menulis di situs SIEJ.

Hari minggu, hari terakhir pelatihan, diisi dengan melihat langsung lutung jawa. Saya beruntung karena enam hari lalu, seekor bayi lutung jawa lahir, diberi mendi. Warganya orange, setelah enam bulan akan berubah hitam sepeti induknya.

Setelah puas melihat lutung, kami ngopi dikantin lalu outbond. Dan foto-foto berbagai pose di berbagai lokasi sebagai kenang-kenangan. Satu yang kurang saya suka dari Petung Sewu. Udaranya dingin sekali. Air kamar mandi seperti es. MUSTHOFA BISRI

Read More......

Senin, 14 Maret 2011

Bocah Dua Tahun Ini Ketagihan Rokok, Sabun, dan Bedak

TEMPO Interaktif, Pamekasan - Usia Morgan baru dua tahun. Meski tergolong balita, warga Desa Rampenang, Proppo, Pamekasan, Jawa Timur ini punya kebiasan aneh, memakan segala. Anak ketiga dari Subaidah, 35 tahun dan Abdul Latif ini, gemar merokok sejak berusia satu tahun. ”Awalnya menghisap puntung rokok yang dibuang ayahnya,” kata Subaidah, ibu Morgan Senin (14/3). “Lama-lama ketagihan. Sekarang setiap ayahnya pulang (me)narik becak, dia merengek minta rokok, kalau tidak diberi nangis dan gigit tangan ayahnya."

Tak hanya merokok kebiasaan Morgan. Ia suka makan dan minum. Jangan berfikir nasi atau susu, seperti umumnya anak berusia dua tahun. Morgan suka makan sabun dan bedak, dan terkadang minum minyak kayu putih.Kebiasaan ‘makan-minum’ ini dilakukannya saat selesai mandi.

Kalau sedang merokok, Morgan tak mau sembarang rokok. Ia memilih rokok filter. Selama ada filternya, Morgan tak mau menolak, meski harganya seribu atau belasan ribu per bungkus. "Rokok kretek tidak mau," Subaidah menambahkan.

Kini Subaidah dan Abdul Latif berharap anaknya menghentikan kebiasaan buruk itu. Sudah berbagai cara dilakukan namun masih gagal. "Saya khawatir dengan kebiasaan buruknya, meski sejauh ini dia belum pernah sakit," Latif menuturkan.

MUSTHOFA BISRI

Read More......

Selasa, 08 Maret 2011

Orang Ini Punya Kesukaan Makan Batu

TEMPO Interaktif, Pamekasan-- Berita orang makan sabun sudah pernah kita dengar. Bocah minum bensin juga sudah pernah terjadi. Tapi, kalau ada orang camilan sehari-harinya batu, itu baru aneh. Orang yang punya kebiasaan makan batu itu adalah Syafii, 39 tahun, warga Desa Toronan, Kecamatan Kota Pamekasan, Jawa Timur.
Sudah 10 tahun ini Syafii punya hobi aneh makan batu yang biasa digunakan untuk pondasi rumah itu. Ketika ditemui wartawan dirumahnya, Syafii tampak asyik menyantap batu gunung sambil sesekali menghirup dalam rokok kretek kesukaannya. "Batu yang saya makan bercitarasa biskuit," ujarnya sambil tersenyum.

Kebiasaan ngemil batu ini, kata Syafii, bermula dari wangsit. Suatu hari, saat pikirannya kacau karena divonis menderita penyakit komplikasi, tiba-tiba muncul petunjuk agar dia memakan batu untuk menyembuhkan penyakit. Ditengah kekalutannya, karena pengobatan media dan alternatif tak mampu menyembuhkan, dia pun menuruti wangsit itu. Pertama kali batu yang diambil adalah batu gunung di sungai yang terletak dibelakang rumahnya.

"Alhamdulilah penyakit saya sembuh, agar tak kambuh lagi saya makan saja sampai sekarang," tuturnya.

Sebelum disantap, batu sungai atau gunung terlebih dahulu dicacah dengan palu hingga sekecil batu koral. Kemudian, batu-batu itu dibakar hingga kering dan terasa keras. "Ditaruh diwadah dan lalu bisa dimakan," katanya.

Kini, selain menyantap nasi, batu juga menjadi menu wajib pencuci mulut tiga kali sehari bagi Syafii. Bahkan diwaktu senggang, hidangan batu gunung sangrai jadi camilan wajib mengisi waktu luangnya.

MUSTHOFA BISRI

Read More......